My Different Wife

My Different Wife
Pikiran bercabang



Victor dan Melodi pun pulang bersama. Melodi tersenyum kecil melihat hadiah dari perlombaan itu. Ada dua boneka dan juga dua gelang couple.


Victor melirik Melodi, "Cuma hadiah gituan aja senang."


Melodi terkekeh singkat, "Dulu aku paling seneng kalau dapat hadiah dari perlombaan. Apapun itu, mau batang mahal ataupun murah. Karena yang aku lihat bukan harganya, tapi perjuangannya." Jelas Melodi.


Victor mengangguk, "Tak sangka rupanya kau puitis juga."


Melodi menoleh ke arah Victor, "Bukan puitis, emang nyatanya gitu."


Melodi melihat ke arah jam tangannya, sudah pukul Setengah sebelas malam. Sudah larut malam.


Saat sudah sampai di rumah Melodi, Victor mengentikan mobilnya di depan pagar, "Sampai."


Melodi mengangguk dan mengarah pandangannya pada Victor. "Ini boneka mu sama gelang couplenya." Kata Melodi sambil memberikan boneka dan gelang.


Satunya lagi Melodi letakkan di gantung di dekat pengharum mobil yang ada di depan Victor, "Ini di letakkan di sini aja. Nanti kalau kau sudah mendapatkan pasangan yang bisa membuatmu bahagia kau berikan saja." Jelas Melodi.


Victor mengangguk, "Iya tentu. Nanti aku kasih ke Venus."


"Gak. Bukan dia, yang lain. Jangan mengada ngada!" Cetus Melodi.


Victor tersenyum miring, "Kau takkan menang melawanku Mel. Gak akan ada yang bisa gantikan Venus."


"Aku pasti menang! Pasti ada!"


Victor mengedikkan bahunya acuh, "Lihat saja nanti."


Melodi pun keluar dari mobil. "Hati hati di jalan. Udah malam. Hidupkan lampu depan. Jangan ngebut dan jangan main hp nanti kecelakaan!" Perintah Melodi.


"Iya bawel." Pungkas Victor dan segera menutup jendela pintu mobil. Lelaki itu pun melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Melodi.


Melodi menghembuskan nafas. Dia tak pernah sebanyak ini bicara dengan orang lain kecuali ibu pantinya dulu. Terlalu banyak berbicara sangat melelahkan, tapi ini demi kesuksesan dirinya untuk melancarkan misi.


Melodi masuk ke dalam rumah dan kembali membersihkan diri sebelum dia beranjak ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana.


Setelah mandi, Melodi mencampakkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya yang empuk. Mencoba untuk menutup matanya dengan syahdu.


Namun alam berkata lain, hpnya bergetar dan berdering kuat membuat dia terpaksa harus membuka kembali matanya dan melihat apa yang terjadi.


Terdapat sebuah pesan yang mengirimkan gambar seseorang yang paling di sayangnya tengah tersungkur memohon di hadapan seorang lelaki tua bangka.


Melodi mengenal lelaki ini. Dia adalah rentenir yang sudah bertahun tahun di hutangi oleh ibu panti yang merawat Melodi.


Nomor itu menelpon, "Hai sayang."


Dasar lelaki sialan!


"Apa yang kau lakukan pada ibuku!" Bentak Melodi.


Terdengar suara tawa dari seberang sana, "Sayang jangan marah marah. Ibumu baik baik saja. Hanya saja hutang-hutang sangat banyak hingga dia tersungkur seperti itu sayang."


Melodi ingat bahwa ibu panti yang sudah dia anggab sebagai ibunya itu selalu menutup nutupi segala sesuatu darinya. Dia tau ibunya itu tak mau bicara apapun mengenai kesusahannya tapi malah memendamnya sendiri.


"Bukankah hutang itu telah lunas! Ibu sendiri yang mengatakannya padaku! Jangan berbohong kau!" Emosi Melodi.


"Tidak sayang. Aku tidak berbohong. Kau tanya saja pada ibumu ini." Terdengar suara gerasak gerusuk di sana seperti mengalihkan telpon pada orang lain.


"H-halo Melodi. Nak.."


"Ibu!! Ada apa Bu?! Katakan?!"


"Mel, i-bu masih memiliki hutang lainnya pada pak Harto. T-tapi tak apa nak, kamu tak perlu kuatir, tidak usah kamu pikirkan akan ibu bayar semuanya. Kamu tak perlu memikirkan apa pun masalah ini ya... Janji sama ibu."


Melodi menggeleng, "Ibu. Sudah berapa kali Melodi bilang kalau ibu ada masalah cerita ke Melodi. Ibu selalu saja begitu."


Melodi menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya, "Kembalikan sambungan ke si Br*engsek itu Bu."


"T-tidak nak. Kamu tidak perlu terlibat-" kemudian suara terputus dari sang ibu dan kembali pada lelaki tua itu, "Gimana sayang? Benar kan?"


Melodi berdecih, "Berapa hutang ibuku!"


"5 M." Ucap lelaki itu santai.


"Bagaimana mungkin?!" Melodi shock.


Lelaki itu tertawa, "Tentu saja. Ibuku sudah puluhan tahun berutang padaku. Bertahun-tahun bunganya semakin besar dan kini aku sudah tak tahan."


"Sebulan. Ku beri waktu sebulan.


Jika tidak di bayar aku akan mengambil semua tanah ibumu dan juga anak panti ini akan menjadi kepunyaanku.


Ingat... Ibumu sudah menandatangani kontrak perjanjian pengalihan miliknya padaku jika hutangnya tidak dapat di bayar.


Tapi kalau kau tak sanggup membayarnya akan ku beri kemudahan. Menikahlah denganku maka semuanya akan ku putihkan."


Melodi mengumpat dalam hati. Apa dia tak punya otak?! Lelaki tua bangka ini sudah menikah 8 kali ini memang tak tau diri!


"Aku akan membayarnya! Jadi tutup saja mulutmu!"


Melodi segera mematikan hpnya.


Melodi mengusap wajahnya gusar.


"Astaga apa yang harus aku lakukan?! Uangku tak ada sebanyak itu."


Melodi kembali melihat berapa uang yang ada di tabungannya dan semua deposito yang dia punya.


Dan semuanya bahkan hanya 3 M.


Ini sungguh gila, dia dapat uang dari mana?


Dia tak mungkin membiarkan pantinya di ambil oleh lelaki b*erengsek itu. Dia tau betapa sialannya lelaki itu.


Apa yang harus dia lakukan?


***


Melodi masuk ke dalam rumah sakit. Pikiran sangat bercabang. Semalaman dia tidak tidur dan rasanya tubuhnya sungguh sakit.


"Selamat pagi dok." Panggil seorang pasien.


Melodi merubah raut wajahnya agar tampak ceria, "Selamat pagi Bu." Melodi pun mulai melakukan pekerjaannya dalam pelayanan rumah sakit.


Di jam makan siang ini Melodi hanya tetap dalam ruangannya. Hpnya bahkan sama sekali tak di sentuhnya bahkan sekedar melihat pun tidak.


Apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan uang sebesar 5 M itu saja yang dipikirkannya.


Melodi menutup wajahnya dan mencoba untuk terus berfikir.


"Sayang!" Panggil seseorang membuat Melodi terkaget.


"Andreas." Ucap Melodi dingin.


Andreas menarik kursi dan duduk di sebelahnya, "Kamu lagi mikirin apa sih sayang?"


Melodi tersenyum dan menggeleng, "Gak ada."


"Bener?" Andreas memastikan.


"Iya gak ada."


"Ya udah kalau gitu kita makan yuk. Aku udah lapar." Kata Andreas dengan semangat.


Melodi menggeleng, "Kamu aja. Aku udah makan."


"Udah? Makan apa?"


"Makan roti tadi." Jawab Melodi singkat. Dia sungguh sedang tidak mau untuk menghibur dirinya.


"Ayolah sayang. Kamu selalu gitu. Makan sendiri sendiri, padahal kan pacar kamu ini mau makan bareng sama kamu. Gimana sih." Keluh Andreas.


Melodi tersenyum kecil, "Maaf ya. Besok aja kita makan bareng."


"Janji?!"


"Hm."


Andreas tersenyum dan memeluk Melodi. "Aku sayang kamu."


"Aku juga."