My Different Wife

My Different Wife
Rasa Yang Berbeda



Victor terbangun dari tidurnya. Dan mencoba bangkit dari atas ranjangnya, dia menoleh dan mendapati seorang wanita yang di gempurnya habis habisan hingga terkulai lemas tak berdaya.


Wanita itu sungguh menikmati hujaman Victor yang begitu mendominasi, kasar dan begitu perkasa. Ah... Nikmat sekali malam itu.


Victor membuang wajahnya malas, dia mengharapkan Venuslah yang dinikmatinya malam kemarin. Dia yakin tubuh Venus pasti lebih memuaskan dan dia akan semakin di mabuk oleh dominasi harum tubuh Venus. Ck.


But well, it's not bad. Saran Hamdan ada benarnya, berhubungan intim dengan wanita sedikit menaikkan mood walaupun bukan bersama pasangan yang di harapkan.


Victor bangkit dari atas ranjangnya namun kemudian wanita itu menahannya. Wanita itu bergerak di antara kaki Victor dan memposisikan dirinya ada di tengah tubuh perkasa lelaki itu.


Wanita itu mengelus paha Victor dan mengarahkan pandangan pada milik Victor yang begitu menggodanya, "Lakukan lagi sayang..."


Victor tak berminat lagi dengan wanita murahan ini. Kalaupun dia ingin melakukannya lagi dia akan mencari wanita lainnya untuk pemuas barunya. Dia takkan mau dengan wanita yang sama, kecuali itu Venus.


Victor tersenyum miring, "Yang ingin di puaskan itu aku, bukan kau. Dasar bodoh."


Victor membalikkan tubuhnya hingga dia menindih wanita itu, "Tubuhmu sama sekali tak membuatku merasa tertantang. Apa kau sebut dirimu wanita pemuas? Cih. Sangat di sayangkan. Aku bahkan menyesal menidurimu. Dasar sampah."


Deg!


Kata kata Victor menusuk dalam jiwanya dan sangat ngengat di telinganya.


Victor beralih dan mengambil handuk, dan kemudian mencampakkan sesuatu.


Srekk


Beberapa lembar uang merah bersurai di udara, Victor menoleh dan menatap tajam wanita itu, "Pergilah ******. Aku tak membutuhkanmu lagi."


Wanita itu membuang wajahnya dan berdecih. Bahkan lelaki itu kemarin sangat memanjakannya kenapa jadi sangat arogan seperti ini?


Dasar lelaki sialan.


Tapi kemudian wanita itu mengedikkan bahunya malas, toh juga dia dapat uang bukan? Oleh karena itulah dia memuaskan orang.


Wanita itu mengutip uang Victor dan segera pergi setelah mendapat uang itu.


***


Steve bangkit dari tempat tidur. Dia mengeluh dan mengusap wajahnya, sulit sekali rasanya tidur. Padahal ini sudah pukul 1 pagi tapi sedari tadi dia masih saja belum bisa tidur.


Steve merasa lelah tapi tak bisa merasa tenang untuk terlelap. Karena penat mencoba menenangkan diri dia pun berfikir untuk keluar kamar sejenak untuk meneguk beberapa gelas air putih sebelum tidur.


Steve beranjak dari kamarnya menuju dapur, meminum beberapa gelas air putih sambil duduk di meja makan.


Lagi lagi Steve mengusap wajahnya, dia masih tak dapat tidur.


Steve melipat kedua tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya di atas lengannya itu. Mendengus kesal dan jengkel.


"Steve?" Panggil seseorang membuat Steve mendongongakkan kepalanya, "Venus." Kata Steve merasa senang Venus ternyata belum tidur.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Steve melihat Venus juga masih terlihat belum menganguk.


Venus duduk di sebelahnya, "Nonton drama serial tadi. Keseruan nonton jadi lupa tidur." Kata Venus jujur.


Steve terkekeh dan mencubit pipi Venus, "Ternyata belum dewasa seutuhnya kamu. Masih kebanyakan nonton drama."


Venus meringis dan memegangi pipinya, "Seru tau.. itu karena kamu belum coba nonton aja. Kalau kamu sekali coba kamu pasti ketagihan." Kata Venus antusias.


"Oh ya? Coba mana?" Steve menerimanya tantangan.


Venus tersenyum miring, "Bener ya. Aku ambil sekarang kasetnya."


Venus segera mengambil kasetnya dan menarik tangan Steve, "Kita tonton di ruang tv. Kamu pasti baper nontonnya."


Steve tersenyum kecil. Tak apa sedikit kebiasaan kekanak kanakan Venus tetap melekat padanya, dia menyukai Venus apapun itu. Steve bangkit berdiri dan tersenyum, "Baiklah."


Steve dan Venus pun berjalan ke ruang tv dan Venus segera menghidupkan kasetnya. Setelah itu Venus kembali pada Steve dan menarik Steve duduk di sofa bersamanya, "Kita mulai dari episode pertama." Kata Venus riang.


"Huh? Bukannya kamu udah nonton beberapa episode tadi? Sia sia dong yang kamu tonton tadi." Kata Steve membayangkan betapa lelahnya dan bosannya jika menonton dari awal lagi. Well, kalau Steve pasti akan bosan tapi tidak dengan Venus bukan?


"Gak apa. Masih sedikit juga tadi nontonnya." Kata Venus.


Steve menyerngitkan dahinya, "Udah episode berapa tadi kamu tonton?"


"Tiga puluh" Kata Venus polos.


"T-tiga puluh? Dan kamu mau ulang lagi?" Tanya Steve tak percaya dengan pola pikir Venus.


Steve menggeleng tak percaya.


"Udah udah. Mending kita langsung nonton." Kata Venus langsung memulai episode pertama.


Venus bersender pada punggung sofa dan menyaksikan dengan wajah penasaran.


Steve memijat kepalanya. Astaga, apa semua wanita seperti ini?


Steve pun menonton terpaksa ikutan menonton.


Saat satu kejadian yang terlihat lumayan seru dan sedikit kocak tanpa sadar Venus memeluk Steve dan tertawa-tawa riang,


Deg!


Steve terdiam dan kemudian menoleh ke arah Venus. Ini sungguhan, Venus memeluknya.


Steve tersenyum kecil dan kemudian melingkarkan tangannya di belakang kepala Venus sambil mengelus rambut Venus.


Bahagia sekali tak terhitung jumlahnya di hati Steve.


"Hahaha... Bego banget memang. Untung ganteng. Wkwk. Ya kan Steve?"


Steve terkekeh, "Oh jadi kamu cuma liat cowo ganteng doang nih?"


Venus mendongak, "Jelas dong. Kalau actornya ganteng pasti dramanya makin seru!"


Steve melepaskan pelukan Venus yang melingkar di perutnya dan di arahkannya pada bahunya. Sedangkan tangan Steve sekarang yang beralih ke pinggang Venus, "Gantengan aku apa actor itu?"


Venus menelisik wajah Steve dan kemudian tersenyum, "Ya pasti kamu lah." Kata Venus membuat Steve tersenyum senang. "Yang lebih kalah di bandingkan actornya. Jelas jelas Actor itu lebih ganteng." Lanjut Venus membuat Steve kesal.


Venus menunjuk tv yang masih memutarkan drama, "Lihatlah dia. Tampan sekali, seksi lagi... Astaga...." Kata Venus menatap sang idol dengan mata berbinar.


"Terus aku?" Tanya Steve tak terima.


Venus menoleh ke arah Steve dan memegang dagunya berfikir, "Gantengnya biasa aja."


Steve membolangkan matanya, "Biasa aja hm? Aku lebih tampan dari actor alay itu. Aku bahkan lebih seksi darinya."


Venus tertawa terbahak bahak, "Mana mungkin Steve. Jangan mengada ada."


Venus melepaskan pelukannya dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan, "Udah lanjutin aja-"


Drebb


Steve memeluk Venus secara posesif, "Gak mau. Katakan aku yang lebih tampan dan seksi. Aku tak mau tau."


Deg!


Tak mungkin Venus mengatakan bahwa yang di katakan Steve memang benar adanya. Jelas jelas Steve lebih dan sangat tampan dan seksi di bandingkan actor cerita telenovela itu. Tapi kemana harga diri Venus nantinya?


Steve semakin mendekatkan wajahnya menatap mata Venus semakin dekat. Menunggu jawaban yang di berikan wanita itu dengan tatapan serius.


"Steve. Dramanya akan terlewat nanti.."


"Gak, katakan dulu."


Bahkan kini posisi Steve Hampir menindih Venus, "I-Iya. Kamu yang ganteng dan seksi. Bukan aktor itu." Kata Venus kalah.


Steve tersenyum lebar dan kemudian memeluk erat Venus hingga wanita biru tenggelam dalam dada bidangnya, "Haha. Aku bercanda sayang. Kalau kamu suka sama aktor itu ya gak masalah. Intinya kan kamu tetap istri aku, kamu milik aku, untuk apa aku harus takut."


Venus tersenyum di balik pelukan itu.


Steve membuatnya menjadi merasa sangat malu dan juga senang juga kesal dan lucu bercampur jadi satu. Lelaki ini mampu membuatnya merasa hal yang tak pernah di rasakan nya pada siapapun. Sungguh mengesalkan.


Steve melemahkan dekapan dan melihat wajah Venus dekat, "Aku pikir aku sudah menemukan obat tidur yang mutahir Venus." Kata Steve,


"Huh?" Venus bingung.


"Menonton drama membuatku sungguh sangat mengantuk sekarang." Kekeh Steve dan kemudian menenggelamkan wajahnya pada bahu Venus, "Kamu lanjut aja nontonnya dan aku lanjut tidur." Kata Steve sambil menguap dan segera tertidur.


Memeluk Venus adalah hal paling nyaman dan sekaligus menenangkan yang pernah di rasakan Steve. Membuat apapun kesulitan yang di hadapinya sekarang akan menjadi ringan dan seakan akan mengulang ntah kemana.


Venus mengelus kepala Steve dan ikut tidur bersamanya.