My Different Wife

My Different Wife
Rekan Kerja



Apa yang di katakan Victor itu sudah dapat di gubris lagi. Dia sudah tak tahan jika terus menunggu. Karena menunggu adalah hal paling melelahkan dan menjengkelkan bukan?


Steve tersenyum miring, "Milikmu?"


"Tentu."


Steve terkekeh geli dan kembali menatap Victor tajam, "Apa yang kau sebut milikmu tadi adalah milikku. Dan kau sama sekali tak ada hak atas milikku itu." Kecam Steve dengan arogan. Bagi Steve terlalu lama diam dan bersabar juga bukan hal yang bisa di nikmati bukan? Steve juga perlu bertindak untuk membasmi manusia yang memiliki sifat seperti virus yang merusak seperti Victor.


Victor terkekeh dan kemudian berdiri di sebelah Steve, "Jangan banyak bicara Steve. Aku yakin Venus akan meninggalkanmu sebentar lagi." Victor menepuk pundak Steve dan tersenyum ramah.


"Dalam mimpimu." Singkat Steve.


"Penjaga!" Jerit Steve dengan suara nyaring.


Beberapa penjaga lainnya pun datang, "Suruh dia keluar sekarang!" Perintah Steve.


Kemudian saat mereka ingin menarik Victor salah seorang penjaga mengatakan, "Maaf pak sebelumnya. Beliau adalah tamu khusus yang akan berjumpa dengan Tuan Besar Ayah Bapak."


Steve terdiam sedangkan yang di bicarakan terkekeh singkat dan menepuk pundak Steve beberapa kali, "Tamu kehormatan." Ucapnya dengan senyuman miring.


Steve menahan geram dan di saat yang bersamaan datanglah Papa Steve, "Selamat pagi Victor."


Dengan senyuman manis Victor menyalam Papa Steve yang membuat Steve muak. "Pagi Om."


"Steve perkenalkan ini Victor. Anak dari teman Papa. Kamu kenal kanĀ  dengan Pak Davin Bastara, Victor ini anaknya, pewaris tunggal perusahaan dan kini menjadi rekan bisnis kita."


Jelas Papa Steve.


Steve jelas saja tak terima, namun Steve tau bagaimana perusahaan orang tua Victor sangat berpengaruh dalam kemajuan setiap perusahaan. Beliau sangat berpengaruh dan sebenarnya sangat beruntung bagi perusahaan yang di ajak kerjasama. Tapi tidak. Ini bukan hal yang baik jika Victor ada dalamnya.


"Maaf sekali tuan Victor yang terhormat. Kami tak bisa melakukan kerjasama dengan anda. Terima kasih." Pangkas Steve.


Papa Steve melihat ke arah Steve terkejut, dia tau jika anaknya bukanlah seorang yang bodoh, tapi kenapa kesempatan emas ini malah di sia siakan?


"Maaf tuan Steve yang amat angkuh, perusahaan anda sudah menandatangani perjanjian dengan Ayah saya jauh jauh hari. Dan itu pun atas persetujuan anda. Anda mengerti hukum bukan?" Jelas Victor dengan senyum kemenangan.


Sial. Kalau saja Steve tau anak dari Tuan Davin adalah Victor dia takkan mau menyetujui penandatangan kontrak.


"Kita adalah rekan bisnis Tuan. Mohon kerjasamanya." Victor tersenyum licik.


***


Steve menghembuskan nafas berat saat mengendarai mobilnya menuju kampus Venus. Saat melihat istrinya seketika lelahnya berkurang. Venus masuk ke dalam mobil dan segera mendapatkan hadiah pelukan, "Sayang..." Panggil Steve manja.


Venus terkekeh, tak biasanya Steve langsung manja seperti ini, "Kenapa sayang? Ada masalah di kantor?"


Kena banget. Rasanya Venus selalu saja punya feeling yang kuat terhadap dirinya. Tapi Steve tak mau ambil pusing dan menyusahkan pikiran sang istri nantinya, dia tak mau Venus merasa terbebani jika mengatakan bahwa Victor adalah rekan kerjanya sekarang.


"Gak ada. Aku kangen aja. Cium aku dulu dong," manja Steve.


Venus terkekeh dan mengecup singkat pipinya membuat kini seluruh beban Steve hilang. "Makasih sayangku..."


Venus tersenyum.


"Angkasa udah sampai dirumah?" Tanya Venus.


Steve mengangguk, "Udah di jemput sama mang Gayus tadi."


Venus mengangguk. Venus menelpon Bibi yang merawat Angkasa di rumah, "Bi gimana Angkasa? Udah makan siang Bi?"


"Sudah Bu, sudah makan siang, tidur siang dan sekarang lagi main Bu. Saya yang jaga sambil main bareng angkasa Bu." Jelas Bibi.


Venus mengangguk. "Baguslah, saya tutup telponnya ya bi."


"Iya Bu."


Venus mematikan ponselnya dan merasa lega.


Venus mengangguk, "Boleh. Makan di jalanan tanah lapang aja gimana? Sekaligus jalan jalan lihat pemandangan sore."


Steve mengangguk, "Bisa."


Mereka pun pergi menuju taman dan kini tengah memarkirkan mobilnya di di parkiran dan sekarang berjalan jalan santai sore.


Steve terus menggandeng tangan Venus seakan takut sang istri akan hilang dan pergi meninggalkannya, "Yang jangan pergi jauh jauh. Pegang tangan aku aja udah." Kata Steve.


Ntahlah. Steve teringat saja terus dengan Victor. Dia takut Venus meninggalkannya dan bersama Victor.


Venus terkekeh, "Ya ampun. Aku ngak akan ilang tau."


Steve tersenyum, "Gak akan ilang kalau ada aku. Makanya jangan jauh jauh."


Venus mengangguk dan mengenggam tangan Steve erat, "Gak akan lepas. Janji." Kata Venus membuat hati Steve semakin luruh.


Kemudian beberapa saat berjalan dengan Venus ponsel Steve berdering.


Tak tau nomor siapa jadi Steve matikan saja. Dasar mengganggu.


Kemudian ponselnya kembali berdering bahkan kini sudah sampai ke tiga kalinya.


"Angkat aja dulu sayang. Mana tau penting."


Steve menghembuskan nafas berat dan terpaksa mengikuti kalimat istrinya, Steve mengangkat telponnya.


"Selamat sore Tuan tersombong. Rekan kerjamu ini sedang mencarimu dan kau malah tak memperdulikannya." Terdengar suara seseorang di seberang sana yang pastinya membuat telinga Steve muak. Siapa lagi kalau bukan Victor.


"Ini bukan jam kantor dan diamlah." Steve mematikan ponselnya membuat yang menelpon tadi menggerutu kesal.


"Sialan." Maki Steve.


"Siapa Steve?" Tanya Venus membuat Steve tersadar jika dia tengah bersama sang istri.


Steve menggeleng dan mengelus kepala Venus, "Tidak ada. Hanya orang iseng dan bodoh." Jawab Steve.


"Ah iya. Kamu ngak mau makan sate? Atau apa gitu?" Tanya Steve mengalihkan pembicaraan.


Venus melihat sekitar mencari pedangan kaki lima yang ingin dia cicipi. "Aku mau itu..." Venus menunjuk jualan minuman cendol. Akan terasa nikmat bukan jika makan cendol di sore sore seperti ini.


Steve mengangguk, "Ayo kita ke sana."


Baru saja beberapa langkah menuju tempat tujuan ada tangan yang menarik Steve membuat Steve menoleh, "Selamat sore Tuan. Saya mencari anda tapi malah di anggurin aja." Ucap orang itu dengan senyuman miring.


Steve membelalakkan matanya mendapati Victor tersenyum singkat dan menyamakan dirinya di hadapan Steve, "Rekan macam apa kau ini. Tidak tanggung jawab."


Venus bahkan terkejut juga melihat Victor, "Victor?"


Betapa senangnya Victor ternyata dia masih di ingat oleh pujaan hatinya. Namun dia harus bermain cantik bukan?


"Hai Venus." Sapa Victor balik. Victor melihat ke arah Steve dan Venus secara bergantian, "Bahagianya. Seneng aku lihatnya." Ucap Victor dengan senyuman yang lebar.


Venus melihat ke arah Steve, lelaki itu tetap saja geram melihat Victor yang bermuka dua seperti ini.


Venus menggenggam tangan suaminya, "Ya, senang juga bertemu denganmu. Maaf kami ada urusan, kami pergi dulu."


Victor menahan tangan Venus, "Tunggu." Kemudian Victor melepaskan tangannya, "Aku boleh singgah ke rumah kalian? Ya... Gak salah kan jalan jalan ke rumah rekan kerja. Ya kan Steve?" Tanya Victor melihat ke arah Steve.


Steve membuang wajahnya malas, "Gak. Pulang saja ke rumahmu sendiri. Punya rumahkan?" Sinis Steve.


Victor terkekeh, "Hm.. baiklah. Mungkin tidak hari ini. Tapi aku akan tetap singgah sewaktu waktu." Victor tersenyum aneh penuh arti.


"Bye," Victor melambaikan tangannya pergi meninggalkan Venus dan Steve.