My Different Wife

My Different Wife
Harmonis



Steve dan Venus telah sampai di rumah. Venus keluar mobil bersama dengan Steve juga. Venus melihat ke arah Steve, "Aku ke kamar ya. Banyak tugas kampus yang numpuk." Kata Venus di balas anggukan oleh Steve.


Venus pun masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Setelah selesai dia keluar kamar dan melihat Steve duduk di atas kursi belajarnya, "Eh Venus. Maaf langsung masuk ke kamar, tadi aku mau ambil beberapa barang aku di sini, tapi rasanya aku harus minta izin ke kamu dulu." Kata Steve sambil bangkit dari kursinya.


Venus merasa tidak enak dengan Steve. Bukankah seharusnya ini memang kamar Steve.


"Em. Kamu kalau mau ambil sesuatu ambil aja langsung gak apa kok. Lagipula ini juga kamar kamu."


Steve tersenyum, "Bagaimana pun aku harus minta izin ke kamu."


Steve duduk di pinggir tempat tidurnya yang dulu ini, "Kamarnya jadi terlihat lebih cerah ya kamu tempati." Kata Steve dengan menampilkan deretan giginya.


Venus duduk di sebelahnya, "Cerah dari mananya? perasaan sama saja." Kata Venus kembali menelisik perbedaan kamarnya.


Steve menunjuk madding kecil Venus dan di isi juga dengan lampu lampu kecil di sana, "Kelihatan banget ambis belajarnya. Padahal aku pikir kamu nonton drama mulu." Kekeh Steve.


Venus melipat kedua tangannya di dada, "Makanya... Kamu jangan sepele sama aku. Gini gini aku rajin tau." Kata Venus dengan sombong.


"Iya iya.."


Steve menatap mendekatkan wajahnya pada Venus, "Kamu tau, selain kamar kamu ada juga yang kamu ubah jadi terlihat lebih cerah."


Venus menyerngitkan dahinya, "Apa?"


Steve terkekeh singkat dan kemudian memeluk Venus, "Hati aku."


Venus tersenyum, "Kamu tuh ya. Makin lama makin pandai gombalin perempuan. Udah berapa buku kamu baca huh?" Ledek Venus.


Steve bergelayut manja, "Dih di katain mulu. Padahal beneran dari hati loh ngomongnya."


Mereka tertawa renyah beberapa saat.


"Kamu tau gak. Aku jadi merasa gak suka gitu sama kata aku kamu." Kata Steve tiba tiba.


"Kenapa?"


Steve mengedikkan bahunya, "Ya... Kaya asing aja."


"Terus?"


Steve mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Venus dengan tatapan yang mendalam, "Pinginnya panggil sayang sayang gitu."


Venus tersenyum kecil, sejak kapan seorang Steve jadi seperti ini. "Panggil sayang?" Tanya Venus ulang.


Steve mengangguk, "Sayang.."


Venus melepaskan pelukan Steve dan menghadap Steve membuat Steve pun menghadapnya. "Kamu lagi laper ya?"


Steve menaikkan salah satu alisnya, "Laper?"


"Iya. Soalnya kalau orang yang lagi laper biasanya tingkahnya rada aneh aneh. Ya... Kaya kamu sekarang gini." Kata Venus polos.


Steve mendengus dan kemudian memeluk Venus, "Iya memang aku laper."


"Tuh kan. Apa aku bilang." Venus membenarkan stigmanya.


"Laper mau makan kamu. Hap" Kata Steve lagi dengan gerakan mulut ingin memakan Venus. Kesel soalnya lihat Venus yang tidak peka.


Venus terkekeh menyadari kekesalan Steve, "Iya sayang... maaf ya aku becanda mulu."


Steve mengerucutkan bibirnya, "Hm."


"Iya sayang..."


"Aku tidur di sini boleh ya. Di kamar tamu gak enak, panas, ac-nya mati." Alasan Steve padahal mah enggak.


Venus memiringkan kepalanya, "Oh ya? Udah berapa lama rusaknya? Kok kamu gak bilang?"


Steve membuat ekspresi wajah sesedih mungkin, "Udah lama bahkan sebelum aku tidur di situ."


Venus jadi merasa iba, "Maaf ya karena aku kamu jadi tidur gak nyaman di sana." Venus merasa bersalah.


Steve menahan senyumnya, dia yakin Venus pasti akan memperbolehkan dia tidur bersamanya mulai hari ini.


"Ya udah kamu tidur di sini aja." Kata Venus membuat Steve jadi sangat riang.


"Sungguh?!" Steve memeluk Venus erat dan sedikit menggerakkan tubuh Venus ke kanan dan ke kiri. "Makasih sayang..."


Venus mengangguk, "Tentu. Dan sekarang aku aja yang tidur di kamar tamunya."


Lah?.... Steve lemas.


Kenapa jadi gak sesuai ekspektasi?


"Jangan dong. Kita tidur sama aja. Di sana ngak enak tau... Ngapain juga di sana. Ada kecoa, laba laba tikus, banyak debu dan gelap karena beberapa lampunya mati." Kata Steve berlebihan.


Venus bergidik ngeri, itu kamar atau gudang? Serem banget.


"Ya udah kalau gitu aku tidur di ruang tamu aja. Besok aku akan bersihkan kamar tamu itu dan tidur di sana untuk hari berikutnya." Ide Venus.


"Ish.. jangan juga dong. Di ruang tamu itu kalau malam malam serem. Kamu berani memang?" Steve tak mau kalah. Pokoknya dia harus cari cara agar Venus tidur bersamanya.


Venus kembali bergidik ngeri, dia memang penaku. Tidak mungkin juga dia mau tidur di ruang tamu yang gelap kan?


"Ya udah deh. Aku tidur bareng kamu. Tapi besok aku-"


"Sayang... Kenapa sih gak mau tidur bareng terus? Toh juga kan kita udah suami istri sayang... Apa yang salah?" Rengek Steve akhirnya. Sudahlah dia kehabisan akal untuk membuat Venus bersamanya selalu.


Venus menunduk, "A-aku hanya takut. Maksudnya... Em, sulit untuk ku jelaskan Steve." Kata Venus.


Steve mengangguk mengerti, "Hm. Aku mengerti Venus." Steve mengeratkan pelukannya, "Kalau kamu belum siap aku juga ngak maksain kok. Aku takkan melakukan apapun terhadap kamu kalau kamu belum mau melakukannya." Kata Steve dengan penuh pengertian.


Venus tersenyum dan mengangguk, "Terimakasih pengertiannya Steve."


Steve mengangguk, dia juga tak mempersalahkan itu selama Venus merasa lebih nyaman. "Iya sayang.."


"Jadi... Bukankah sekarang waktunya makan malam? Aku sungguh lapar." Kata Steve mencairkan suasana.


Venus mengangguk, "Ah iya. Aku sampai lupa."


Steve tersenyum dan mengangguk. "Malam ini aku yang masak. Aku akan masak masakan spesial untuk kamu."


Venus tersenyum, sungguh Steve sangat bisa membuatnya merasa lebih baik di antara kecanggungan yang terjadi. "Hm.. Aku tak sabar."


Steve bangkit berdiri.


Tep


Venus menahan tangan Steve, "Aku ikut, akan terasa sangat bosan jika menunggu."


"Baiklah."