My Different Wife

My Different Wife
Venus is mine



catatan penulis:


maaf lama up yee. semoga part ini kalian suka yaa....


btw jangan lupa dukung terus karya aku my readers... love you 😘😆❤️❤️


Venus menggeleng. "Aku gak mau."


"Kenapa?"


"Ya, ya karena, karena aku ngak mau cinta sama cowok."


Victor menaikkan salah satu alisnya, "Jadi sekarang kau lesbi?"


Ck. Sulit sekali rasanya Venus mengucapkan sesuatu. Dia ingin mengatakan bahwa dia tak ingin lagi tersakiti oleh lelaki lain. Cukup Steve yang pernah menyakitinya, tidak ada lagi lelaki yang bisa menyakitinya sekarang.


"Ya, emang." Asal Venus agar segera selesai.


Lelaki itu menatapnya datar dan semakin mendekatkan wajahnya, "Cium aku." Victor menghentikan wajahnya di depan wajah Venus.


Venus mundur ke belakang dan menutup mulutnya. "Kau gak punya otak ya?!"


Victor menarik tangan Venus membuat wanita itu menjadi tertarik ke arahnya dan memegang pinggang Venus dengan kedua tangannya, mendekatkan wajahnya, "Ku pastikan kau akan kembali menjadi normal saat mencicipi ku." Victor menatap bibir Venus dam hendak menciumnya.


Tep


Venus menutup mulut Victor. "Gak aku normal! Sumpah!"


Victor tersenyum miring di balik tangan Venus. Sudah dia duga.


Venus mendorong Victor melepaskan pelukannya.


Victor melihat ke arah jamnya singkat dan kemudian melipat kedua tangannya di dada. "Pukul 10.00 tanggal 22 April 2022, resmi pacaran." Ucapnya singkat.


"Huh?!" Venus heran se-heran herannya


Victor meletakkan tangannya di atas kepala Venus dan mengacak rambutnya, "Kamu pulang bareng aku mulai hari ini. Dan aku akan langsung menjemputmu dari kelas. Kau takkan bisa kabur." Jelas Victor tanpa memberikan waktu untuk Venus berkomentar.


"Panggil kamu, Victor, atau sayang." Jelas Victor dan kemudian meninggalkan Venus menganga lebar.


"Aaa-gila! Apa maksudnya?! Aku bukan pacarmu! Heh!" Venus tak terima.


Venus menghentakan kakinya. Kesal sekali. Lelaki ini bertindak seenaknya. Emangnya ini sekolah bapaknya apa?!


Ish!


***


Venus berjalan dengan gusar ke dalam lokalnya.


Venus duduk dengan gusar sambil mengeluarkan buku garda dan melipat kedua tangannya di dada.


"Kenapa?" Dini bingung melihat Venus.


"Denger ya. Hari ini sungguh membuatku muak. Kau tau, karena kemarin aku membuat alasan sama ortu kalau aku banyak tugas biar ngak jadi makan malam bareng keluarga teman papaku malahan Minggu depan mereka mau datang ke rumahku dengan membawa anaknya yang super duper menjengkelkan malam ini untuk pengganti acara keluarga kemarin. Dan pagi ini aku malah di tembak sama cowok super duper aneh dan dia langsung mencapku sebagai pacarnya tanpa penolakan. Dan nanti pulang kampus tu cowok freak malah akan ke kelas untuk langsung menjemputku. Gila kannn??!!" Kata Venus dengan satu tarikan nafas mengatakan semua hal tadi dengan membolangkan matanya kesal.


Dini terdiam kemudian terkekeh. "Kesian..."


Ck. Lihatlah sahabat karibnya ini. Sungguh tidak punya hati.


Bagaimana dia bisa tertawa di atas penderita temannya?!


Ck. Sungguh tak berperikemanusiaan!


"Kau juga ngeselin!" Kesal Venus.


Dini yang menahan tawanya agar tak semakin pecah menepuk nepuk punggung Venus, "Karma mungkin sob."


"Sialan kau." Venus mengerucutkan bibirnya.


Dini mengentikan tawanya dan menghela nafas. Dia mengusap punggung kawannya itu, "Emang siapa sih cowok freak itu? Kepo aku."


Venus mencoba kembali mengingat. "Namanya Victor."


Dini langsung terdiam, "V-Victor?"


Venus mengangguk dan membolangkan matanya, "Bener banget! Ngeselin tau ngak tu orang. Arh! Ngeselin!"


Seketika itu juga Dini menjewer Venus, "Bego! Itu cowok ganteng banget anjir! Gila kau ya!"


"AW AW. Lepas lepas. Sakit!"


"Kalau aku jadi kau aku bakalan terbang ke awang-awang Venuss... Dia itu cogan napa malah kau hina. Udah gitu tu orang tajir melintir tau ngak!" Dini semakin menguatkan jewerannya.


"Eh! Copot nih kuping ku!" Kesal Venus.


"Apa si! Emang aku salah di mana?"


Dini merangkul Venus, "Denger ya say. Aku kasih tau mengenai Victor.


Victor itu anak tunggal dari keluarga papan atas Bastara. Dingin dan sangat anti sama setiap orang yang mendekat padanya. Dan perlu kau ketahui, bahkan salah satu investasi ayahnya itu kampus ini. Ini kampus milik bapaknya, budheee... Bukan kaleng kaleng. Kau tau kan betapa terkenal dan favoritnya kampus ini? Ini cuma sebagian kecil miliknya saja."


Venus ternganga, "Serius?"


Dini mengangguk.


Venus jadi semakin takut saja. Dia takut lelaki itu akan semakin memperalatnya saja.


"Sangat langka ada orang yang dekat sama dia, dan kau.. kau bisa jadi pacarnya itu suatu keajaiban dunia ke 8!" Ucap Dini berlebihan.


Waduh. Ini pasti akan semakin sulit. Venus jadi makin bingung harus apa. Dia harus segera menyingkirkan lelaki itu dari hidupnya jika dia masih ingin sejahtera dalam menjalani kehidupan.


Semakin dia berhubungan dengan orang yang berpengaruh semakin banyak pula nanti masalahnya bukan?


Tidak! Venus masih ingin hidup tenang!


Apapun caranya dia harus membuat lelaki itu menjauh darinya!


"Din."


"Ha. Kenapa?"


Venus menatap Dini lekat, "Apa yang paling di benci olehnya?"


Dini memegang dagunya berfikir, "Hm. Kurang tau Ven. Dia bahkan benci semua orang. Makanya aku bingung kenapa dia bisa secepat itu jadi pacarmu. Apa jangan jangan..."


"Jangan jangan apa?"


"Kau pakai susuk ya?!"


Pletak


Venus menoyor kepala Dini. "Bego! Mana mungkin aku melakukan itu!"


Dini mengusap kepalanya sambil tersenyum bodoh, "Mana tau ya kan."


"Mau aku toyor lagi?"


Dini segera menggeleng, "Becanda becanda. Serius amat sih."


Venus memutar bola matanya malas.


Venus harus berfikir sesuatu.


Dia harus lepas darinya.


***


Yang benar saja. Victor sudah menunggunya di depan pintu kelasnya saat bel pulang berbunyi.


Semua kelas heboh. Saling berbisik kira kira siapa yang di tunggu Victor.


Venus berjalan mengendap endap di tengah keramaian dan hendak melarikan diri.


Melihat Victor tengah bermain ponsel Venus segera berjalan membungkuk dan dengan cepat menyisip di antara rombongan yang padat.


Tep


Bahu Venus di tahan oleh seseorang.


Venus mendongak. Victor melihat Venus dingin, "Mau kabur?"


Venus menggeleng, "Gak, cuma-"


Venus tak tau alasan apa yang tepat untuk Victor.


Victor menggenggam tangan Venus dan membawanya ke menjauh dari kerumunan.


Semua mata tertuju pada mereka. Ck. Sungguh sangat merusak matanya saja.


Victor menoleh ke arah Venus, Venus menunduk karena tak suka dengan tatapan orang padanya.


Victor mendongak dan melihat sekitar dengan tajam. Tatapan tajam itu mengancam sekali bagi orang yang mencoba menatap pacarnya lebih lama. Semua orang yang melihat Victor menunduk takut.


Victor kembali melihat ke arah Venus. Wanita itu tampak sangat tak nyaman.


Dia sebenarnya tak tau bagaimana cara pacaran sama sekali. Hanya saja dia ingin memiliki Venus, dan tak ingin ada yang lain yang memilikinya selain dirinya. Bukankah cara menangani perasaannya itu dengan menjadi pacarnya? Tentu. Dia harus mendapatkan apa yang dia mau. Itu komitmen yang di pegangnya seumur hidup.