My Different Wife

My Different Wife
Ulang Tahun



Setelah selesai bekerja Melodi pun segera keluar ruangan. Namun tangannya di tahan oleh seseorang.


"Sayang!" Sapa orang itu.


Melodi menoleh dan melihat ke arah Andreas yang kini tersenyum. "Pulang bareng aku ya?"


Astaga, dia sungguh tak minat sore ini. Kenapa masih saja ada gangguan?


Melodi ingin menolaknya dengan halus dan bilang kalau dia tengah sakit. Tapi kalau dia bilang itu Andreas akan lebih memperhatikannya dan tak ada waktu untuknya menenangkan diri dan berpikir.


"Ya udah." Ucap Melodi pasrah.


Andreas merasa senang dan kemudian menggandeng Melodi sambil berjalan menuju parkiran, "Yang, besok aku jemput ya. Kan mobil kamu di sini."


Melodi mengangguk tanpa menjawab.


Andreas mengembuskan napas panjang, tak tau apa yang dipikirkan Melodi. Dia selalu diam dan tak mau terbuka mengenai apapun padanya. Bahkan Andreas tak tau apakah wanita ini sedang dalam kesulitan atau tidak. Wajahnya sangat datar untuk di terka.


Melodi masuk ke dalam mobil Andreas begitu pun Andreas, "Kita makan malam dulu ya yang. Kamu mau makan apa?"


Melodi tak menjawab dan hanya melamun.


"Sayang?"


Masih tak menjawab.


Okey, kali ini sungguh terasa lebih beda dari pada biasanya. Melodi memang dingin, bukan suka melamun.


Andreas mengusap pipi Melodi, Melodi terlonjak kaget dan memegang dadanya shock.


"Iya kenapa?" Tanya Melodi ulang.


Andreas tampak sangat bingung bercampur kuatir, "Kamu beneran ngak apa yang?"


Melodi menggeleng, "Aku ngak apa."


"Tapi-"


"Em. Kayaknya aku mau makan sesuatu deh. Em... Makan bakso aja gimana? Nanti setelah itu kita langsung pulang ya. Cape banget hari ini banyak pasien tadi." Jelas Melodi memasang wajah ceria. Namun sangat kentara sekali dia sedang dalam keadaan sebaliknya.


"Yang jangan tutupi sesuatu dari aku."


Ucap Andreas dengan tatapan mendalam.


Melodi menghembuskan nafas panjang dan menggenggam tangan Andreas, "Gak ada apa apa sayang. Bener."


Andreas mengeratkan genggaman tangan Melodi, "Aku kuatir kalau kamu kenapa kenapa yang. Please kasih tau aja kalau ada sesuatu."


Melodi menggeleng, "Gak ada masalah apapun."


Andreas mengangguk, "Baiklah kalau gitu."


Andreas melajukan mobilnya.


Setelah makan bakso dan akhirnya Andreas mengantar Melodi ke rumahnya.


"Aku pulang dulu ya sayang." Kata Andreas sambil mengusap pucuk kepala Melodi.


Melodi mengangguk, "Iya. Hati hati."


"Iya sayang."


Andreas pun kembali masuk kedalam mobilnya dan kemudian pulang.


Melodi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Karena sudah lama tak membuka hpnya seharian Melodi berniat untuk membuka hpnya.


Melodi tersadar bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Victor. Wanita itu sudah menyetel pengingat di Hpnya untuk mengadakan acara ulang tahun Victor hari ini.


Melodi tersenyum miris, "Ingin membahagiakan seseorang malah diri yang menderita."


Tapi dia sudah berjanji maka janji itu harus di tempati.


Melodi pun masuk ke dalam rumah untuk membersihkan dirinya dan segera berangkat.


Melodi menghentikan langkahnya. "Kalau dia ngak ada di rumah gimana?"


Melodi berinisiatif untuk menelpon Victor dahulu. "Di mana?"


"Huh?!" Tanya Victor dengan suara parau. Di sana pun tersengat suara dentuman musik yang sangat kuat. Sepertinya Melodi tau Victor di mana.


Victor tertawa, "Hahahah... Iya! Sini yuk Mel! Seru!!!" Teriak Victor seperti orang mabuk.


Ck. Lelaki itu menyusahkan saja. "Gak!" Tolak Melodi mentah mentah. Untuk apa juga di sana.


Victor kesal, "Kau tu ya! Gak seru! Ya usah terserah! Di sini ada Venus! Aku mau deketin dia sekarang! Kalau kau lama datang jangan harap aku bisa kontrol diri untuk tidak menidurinya!"


Melodi membelalakkan matanya. Dasar bedebah!


"Share loc!!"


Victor tersenyum kemenangan, "Oke! 10 menit ku tunggu!"


Melodi berdecak kesal dan kemudian segera berangkat.


Dengan terburu-buru Melodi berangkat dan kemudian masuk ke dalam Club. Ribut sekali suaranya dan di sana Melodi akhirnya berjumpa dengan Victor yang tengah duduk bersantai sambil tersenyum melihatnya.


Melodi celingak celinguk mencari keberadaan Venus. Dan!


"D*amn!" Melodi menepuk jidadnya menyadari kebodohannya sendiri. Mana mungkin Venus ada di tempat seperti ini. Dia telah di tipu lelaki menjengkelkan itu.


Melodi menatap tajam Victor yang tak jauh darinya. Kemudian berbalik hendak meninggalkan Victor.


Beberapa langkah meninggalkan tempat ini tangan Melodi di tahan oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Victor.


"Kenapa pulang?! Baru sampai juga!"


"Diem! Kau berbohong padaku! Aku mau pulang!"


Victor menarik tangan Melodi dan menggandengnya, "Aku gak bohong. Memang ada Venus. Itu..." Victor menunjuk seorang wanita yang tengah duduk tak jauh dari tempat duduknya tadi,


"Dia namanya Venus. Kami baru kenalan tadi. Aku gak bohong." Kekeh Victor.


Melodi menghembuskan nafas kasar dan menjewer Victor keluar dari Club' menyeret lelaki itu sampai akhir tepat di depan tempat ribut itu.


"Pulang sekarang!"


"Gak! Aku baru minum 4 botol!"


Melodi menoyor kepala Victor. "Kau mau mati muda ya?! Jangan mengada ngada! Pulang!"


Seperti emak yang merepet pada anaknya itulah yang di lakukan Melodi sekarang. Melodi menyeret sampai ke bahu jalan dan memberhentikan taksi. Mereka pun pulang ke rumah Victor.


Menyesal juga Victor menyuruh Melodi datang. Dia jadi tidak bisa bebas sekarang. Ck.


Melodi kembali menjewer Victor sampai masuk ke dalam rumah dan mendudukkannya di kursi. "Diem di situ."


Victor mengerucutkan bibirnya kesal.


Melodi mengambil air putih dan memberikannya pada Victor. "Minum!"


Victor meminum air itu.


Setelahnya Victor menutup matanya dan memegang kepalanya. Kepalanya terasa sangat sakit dan badannya panas. Dia masih dalam pengaruh minuman alkohol, antara setengah sadar dan tidak.


Melodi duduk di sebelahnya. "Kenapa sih harus mabuk mabukan? Gimana mau dapat wanita yang bagus kalau perilakumu seperti ini?! Bodoh."


Victor kembali mengingat Venus dan rasanya dia terbawa suasana. Dia merasa kecewa dan sedih kenapa Venus harus berpisah dengannya. Victor memeluk Melodi.


"Mel... Rindu Venus... Aku rindu dia... Hu hu hu..." Tangis Victor seperti anak kecil.


Tadinya Melodi ingin marah, tapi melihat Victor seperti ini dia jadi kasian.


"Gak perlu pikirkan dia. Banyak wanita lain yang bisa kau pikirkan, kenapa harus dia hm?"


Victor mendongakkan kepalanya dan menatap Melodi. Melodi mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata. "Hari ini kamu harusnya senang. Gak perlu pikirkan kesusahanmu hari ini. Karena hari ini adalah ulang tahunmu. Kau harus semangat!"


Victor tersenyum. "Begitu kah?"


Melodi mengangguk. "Coba pikirkan suatu hal yang lain. Selain dari dia."


Victor mendekatkan wajahnya pada Melodi. Ntah kenapa wajah Melodi tampak cantik malam ini. "Aku pikirin kamu."


Melodi terdiam.


Victor mendekatkan wajahnya dan menenggelamkannya pada ceruk leher Melodi. Victor memeluk erat gadis itu dan menghirup aroma tubuh Melodi. Serasa sangat sensual.


Sangat menghipnotis dirinya.