
Setelah makan malam Victor pun langsung mengantar Melodi sampai ke rumahnya,
Melodi melepaskan sitbeltnya saat mobil Victor sudah berhenti tepat di depan rumahnya, "Makasih. Dan hati hati di jalan," kata Melodi mengakhiri pertemuan.
Victor menganguk, "Malam."
"Malam."
Melodi keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Victor melanjutkan perjalanan pulang.
Setelah sampai Victor mengganti pakaiannya dan kembali ke meja kerja. Victor melanjutkan kerja untuk mengalihkan pemikiran yang kosong dan juga moodnya yang buruk.
Sedari tadi pagi Victor benar benar tak berekspresi apapun sebelum bertemu dengan Melodi. Jadi dia cukup terbantu oleh Melodi tadi.
Karena Melodi harinya jadi tak terlalu kosong melompong dan setidaknya bisa tersenyum walaupun sebentar.
Victor bekerja sampai jam 4 pagi, barulah dia merasa letih dan juga mulai di kuasai kantuk. Victor bangkit dari kursinya dan beralih ke tempat tidur yang nyaman.
***
Victor terbangun setelah mendengar deringan alarm yang sudah berbunyi ntah berapa kali.
Victor melihat ke arah jam menunjukkan pukul setengah delapan. Victor mengusap wajahnya, dia pasti akan terlambat.
Victor segera bangkit dan mandi dengan cepat. Tak perlu sarapan dan langsung berangkat ke kantor. Lupakan menggunakan mobil karena ini jam padat kerja, Victor memilih untuk menggunakan sepeda motor agar dapat menyalip kendaraan yang ada di depannya.
Dan ya, perkiraan waktu dan rencananya berjalan lancar. Dia sampai jam 8 tepat. Jika di tanya mencari jalan tercepat Victor lah solusinya. Dia sudah jenius dari kecil bukan?
Victor masuk ke dalam ruangan kantor dan kemudian mulailah berdatangan orang yang memiliki urusan dengannya, beberapa karyawannya dan juga partner kerja lainnya.
Hari ini memiliki banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Walau badannya terasa berat dan sedikit pusing, Victor tetap mengerjakan semuanya secara profesional.
Jam tiap jam berlalu dan saatnya makan siang. Victor sama sekali tak selera makan dan memilih untuk menyenderkan tubuhnya di kursi dan menutup matanya.
Mata Victor spontan terbuka saat hpnya bergetar, Victor melihat ke arah hpnya dan menyerngitkan dahinya, "Melodi?"
Victor mengangkat telpon, "Kenapa Mel?"
"Gak apa. Gabut aja," kata Melodi enteng.
Victor mengusap wajahnya, lagi lagi cari masalah. "Ya ampun," dengus Victor.
"Teringatnya bubur sumsum kayaknya enak ya di makan siang siang," kata Melodi memulai pembicaraan.
Victor jadi teringat juga mengenai bubur sumsum. Memang rasanya enak, tapi itu bukannya untuk sarapan? "Salah, bubur sumsum enak di makan pagi."
"Oh ya? Kayaknya siang enak juga, lumayan ganjal dan juga terasa nyaman di perut kalau di makan siang siang. Apa lagi kalau lupa sarapan, aku sering makan itu sih."
Victor kembali membayangkan bubur sumsum, lumayan tertarik juga, "Tapi di sini ngak ada bubur sumsum."
"Pesan online saja, aku kirim link rumah makannya, jadi tinggal pesan. Kalau kau mau."
Victor mengangguk, "Hm. Boleh, kirim linknya."
Melodi tersenyum kecil di balik telpon. Rencananya berhasil. Melodi tau kalau Victor pasti belum makan sejak pagi, psikologisnya masih terganggu, jadi seseorang harus mengingatkannya.
Bukan secara to the point, tapi dengan cara yang cantik. Awalnya seperti tak perduli lama kelamaan jadi merasuki. Dan pasti berjalan lancar.
Victor pun mendapat link yang dikirim Melodi. Setelah memesan Victor tersadar, kenapa dia malah memesan makanan? Bukannya tadi dia sama sekali tak selera makan?
Victor tersenyum kecil, "Dia sengaja menelponku ternyata." Victor baru tersadar.
***
Setelah sampai di rumah Victor masuk ke dalam kamarnya, membersihkan dirinya dan segera duduk dimeja kerjanya. Dalam pikiran Victor hanya bekerja saja dan lebih dari situ sepertinya sulit untuk di kerjakan.
Pukul menunjukkan jam 7 malam, dan Victor masih saja berkutat di meja kantornya. Seperti robot bernyawa saja.
Teng nong
Victor menengadahkan kepalanya saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi, "Pasti tak penting."
Victor kembali mengerjakan tugasnya. Lagi pula ini sudah malam dan pasti sang tamu tak di undang itu akan segera sadar dan pulang karena diacangi.
Bel itu masih terus berbunyi. Dan tak lama setelahnya Hp Victor bergetar.
Dan barulah Victor sadar siapa yang datang ke rumahnya, "Vic keluar, ada yang mau ku bicarakan."
Victor mengembuskan napas panjang, tak mungkin juga menolak. "Iya sabar," sambung Victor.
Victor turun ke bawah dan mendapati Melodi sedang berdiri di teras rumahnya,
"Ngapain?"
Melodi melipat kedua tangannya di dadanya, "Ada buka pasar malam di tanah lapang kota. Dan kau harus temenin aku."
"Ah, udah malam Mel, ngapain juga sih sana. Ingat umur. Udah aku mau masuk, kau pulang saja."
"Pokoknya harus ikut. Jangan mengada ada. Aku sudah menemani mu sampai sehat dan kau menolak permintaanku? Oh, biar aku tau aja sih," Melodi membalikkan badannya acuh hendak meninggalkan rumah Victor.
Kata kata Melodi jadi membuat Victor jadi merasa bersalah, Victor kembali menarik tangan Venus, "Ya usah sih Mel. Apaan sih ngambek."
Melodi memutar bola matanya, "Gak perlu, aku mau pulang. Udah males juga."
Victor kembali menahannya, "Mel, jangan gitu lah. Maaf ya tadi. Ya udah kau mau kemana aku temenin sekarang juga."
Melodi melihat Victor dari sudut matanya jutek, "Sungguh?"
"Iya.."
Senyuman Melodi kembali terbit dan Melodi langsung menarik tangan Victor, "Ya udah jadi ke pasar malam."
Ya terpaksa Victor mengikuti keinginan Melodi.
Melodi menyetir mobil dan menuju pasar malam yang sedari tadi di tuju Melodi.
Setelah memarkirkan mobilnya Melodi, mereka keluar dan segera mencari permainan. Dan perlu di catat, Melodi lah yang paling girang sekarang.
"Vic main tembak tembakan. Siapa yang paling banyak pointnya dia yang di traktir!" Kata Melodi dengan semangat.
Victor mengembuskan napas panjang, dia malas sekali bermain seperti anak anak. "Kau saja yang main, tenang aja, kalau mau makan nanti aku traktir."
Kata Victor, dia ingin untuk segera selesai dan kembali ke rutenitasnya.
Melodi menggeleng, "Gak! Harus ikut! Kalau kau kalah berarti kau pecundang! Dasar lemah!" Ledek Melodi membuat Victor memutar bola matanya,
Melodi tak perduli dan mulai berjalan sedikit ke tempat tembak tembakan.
"Mas mana tembaknya?" Tanya Melodi ke tukang toko itu.
"Oke mbak. Ini..."
Melodi segera mengambil mainan pistol. "Mas lihat ya, saya pasti menang melawan teman saya yang lemah ini," kata Melodi pada sang penjaga tempat mainan tembak tembakan ini sambil me menyindir Victor.
Victor hanya menggeleng melihat tingkah konyol Melodi.
Melodi mulai membidik dan bersiap untuk menembak. Tepat di bidikkan pertama dia tepat mengenai sasaran. Dan mendapatkan tepuk tangan oleh si Masnya, "Wah. Mbaknya hebat, bisa sekali coba."
Melodi tersenyum bangga "Tentu saja," Melodi melihat ke arah Victor, "Kalau dia mah ngak mungkin bisa," Melodi meledek Victor lagi.
Victor memutar bola matanya dan menarik senapan Melodi, "Sini, kalau begini saja aku juga bisa."
Victor mencoba membidik dan menembak.
Melodi menahan tawanya, "Gagal ni yee..." Kekeh Melodi.
Victor menatap tajam Melodi. Dan kembali mencoba, tapi isinya pistolnya habis. "Mas ini udah habis," adu Victor.
"Oh iya mas, sebentar saya ambil yang baru." Sang penjaga permainan itu pun memberikan yang baru. "Ini mas," kata penjaga itu.
Victor memberikan uangnya kepada penjaga itu, "Ini bayarannya."
Sang penjaga itu melihat uang itu dan kemudian melihat Victor, "Mas ini uangnya kebanyakan."
"Udah ambil saja kembaliannya," jawab Victor singkat karena dia mulai membidik.
Victor melepaskan tembakannya dan dan meleset lagi.
Melodi tersenyum miring meremehkan,
Victor merasa jengkel. Dan kembali membidik, tembakan pun di lontarkan.
Damn it! Dia gagal lagi. Kenapa bisa gagal?!
Victor kembali hendak menembak tapi pelurunya habis karena memang isinya hanya dua,
Victor melihat ke arah penjaga, "Isikan lagi. Cepat." Desak Victor karena masih gagal.
Pistol Victor kembali di isi dan segera memberikan uangnya. Intinya dia harus menang sekarang juga.
Victor menarik nafasnya dan mencoba fokus, dan tembakan di lancarkan.
Ctas!
Tepat mengenai sasaran. Victor tersenyum menang, dan melihat ke arah Melodi. Tadinya dia mau sombong, tapi mengingat Melodi dapat menembak dalam satu tembakan membuat dia kembali kesal. Tentu saja dia tetap merasa kalah, dan lihatlah, Melodi pasti akan semakin sombong.
Tapi di luar dugaan, Melodi tersenyum kecil dan mencubit pipi Victor, "Hebat."
Rasanya pipi Victor seketika memanas, ntah itu karena malu atau karena jantungnya yang tiba tiba tak karuan.
Victor mengalihkan wajahnya dari Melodi, "Mau main apa lagi? Cepatlah. Aku sudah ngantuk."
Melodi terkekeh dan langsung menarik tangan Victor. Victor melihat tangannya yang di genggam Melodi sambil terus berlarian. Tangan itu hangat dan terasa nyaman dalam genggaman.
Lamunan Victor seketika buyar saat Melodi berhenti tiba tiba,
"Kenapa?" Tanya Victor.
Melodi menoleh ke belakang dan kembali melihat ke depan,
Komedi putar, "Itu, kita naik itu yuk."
Victor melihat ke arah pandangan Melodi, Victor memutar bola matanya berdecak malas, "Itu wahana yang paling membosankan. Udahlah, mending pulang saja."
"Ih jangan. Aku mau naik itu, udah lama ngak naik komedi putar. Rindu."
Pinta Melodi.
Victor terpaksa mengangguk dan akhirnya mereka pun naik. Dan benar saja, ini terasa begitu membosankan.
Beda dengan Melodi yang tampak sangat bahagia. Melodi melihat ke arah luar dan tersenyum lebar, "Cantik banget."
Lampu kelap kelip membuat mata melodi sangat di puaskan. Victor melihat ke arah wajah Melodi, tampak di terpa angin malam dan juga cahaya lampu dan rembulan, baru kali ini Victor menyadari Melodi memiliki kecantikan yang menawan.
Jauh dari kata dingin dan judes yang di miliki Melodi. Malam ini dia terlihat begitu berbeda.
Melodi melihat ke arah Victor dan tersenyum lepas, "Aku menyukainya."
Senyuman Melodi mampu membuat dirinya pun tersenyum,
"Aku pernah sekali ke tempat seperti ini." Kata Melodi senang, namun kemudian wajahnya kembali berubah, "Dan setelah itu tidak lagi."
Victor menatap Melodi dengan tanya,
"Kenapa?"
"Karena aku benci keramaian." Melodi mengalihkan pandangannya, "Lupakan saja, apa kau suka malam ini, hm?" Tanya Melodi mengalihkan pembicaraan.
"Lumayan," jawab Victor membuat Melodi terkekeh.
"Kau sangat menjengkelkan kau tau, aku mengharapkan jawaban yang lebih dari itu." Melodi menggelengkan kepalanya masih dengan tertawa ringan.
Malam ini Melodi bahkan sudah tersenyum lebih dari sekali dan senyuman itu terlihat sangat lepas, percayalah, Melodi terlihat sangat cantik dan manis jika terus seperti ini.
Victor terkekeh, "Baiklah, aku akan Mengatakan malam ini sungguh spesial bagiku."
"Oh ya? Katakan kenapa?" Melodi menunggu jawaban Victor dengan senyuman.
"Kau. Kau alasan kenapa ini jadi spesial," sambung Victor membuat Melodi semakin tersenyum.
"Berarti aku berhasil," kata Melodi. Melodi mengusap rambut Victor ke belakang dan mencubit pipinya, "Aku berhasil membuat mu bahagia. Dan aku ingin kau selalu begitu. Jadi teruslah bahagia." Kata Melodi membuat Victor tersenyum dan mengangguk.
"Jangan bilang kau masih mengingat perjanjian itu."
Melodi tersenyum, "Tentu saja, apa yang ku mulai harus ku selesaikan. Dan lihatlah, kau mendapatkan kebahagiaanmu kan?"
Victor mengangguk, "Kau benar, terimakasih untuk semuanya."
"Sama sama."