
Steve bangun dari tidurnya dan masuk berjalan menuju dapur. Tenggorokannya kering dan matanya sebab menangis tertahan semalam.
Begitu rapuhkan Steve? Dalam masalah cinta tentu iya, namun dalam hal lain dia takkan pernah melakukan ini.
Steve tak memperhatikan sekitar dan hanya mencari keberadaan gelas dan teko kaca berisikan air minuman tanpa menyadari Venus ada di dekatnya.
Venus melihat Steve dan menelisik apa yang terjadi pada lelaki itu. Bagaimana dia melihat wajah Steve yang sembab dan terlihat menyedihkan.
"Steve?" Panggil Venus seakan bertanya dalam katanya itu.
Steve membelalakkan matanya terkejut dan kemudian menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, karena tangan yang lain memegang gelas minumannya.
Venus mendekatkan wajahnya pada Steve kuatir. "Liat dulu sini." Venus menarik tangan Steve. Tapi Steve semakin menutup wajahnya.
"Sudahlah Venus, tidak ada apa apa." Jelas Steve masih menutup wajahnya.
"Steve. Kenapa sih? Buka, aku cuma mau lihat." Venus semakin gencar menarik tangan Steve.
Dengan terpaksa tangannya dia turunkan, "Tidak ada apa apa."
Wajah sembab Steve sangat kentara dan Venus menatapnya kuatir, "Kamu nangis? Kenapa?" Tanya Venus.
Steve menggeleng, "Tidak. Siapa bilang? Udahlah aku mau tidur Venus. Kamu kembalilah tidur ke kamar juga."
"Kasih tau dulu, kenapa?" Venus menjadi sangat kuatir ntah kenapa. Dia juga heran kenapa ini terjadi, tapi dia sangat takut jika terjadi apa apa dengan Steve.
"Aku- aku hanya sakit kemarin. Jadi aku menangis." Setelah mengatakan itu Steve merasa dirinya begitu bodoh. Alasan macam apa itu? Terlihat bodoh dan lemah. Arh! Terserahlah.
Venus makin panik. Steve bukan orang yang cengeng seperti itu bukan?
"Seburuk itu kah? Sakit banget?" Panik Venus dan kemudian Venus menarik tangan Steve menuju sofa yang tak jauh dari tempat mereka.
"Kamu duduk di sini aku ambil obat. Kamu sakit apa aja? Ada demam? Atau batuk? Sakit apa Steve?" Tanya Venus bertubi tubi.
Steve melihat wajah panik Venus sungguh luluh. Dia sungguh senang mendapat perhatian ini.
Steve melihat manik mata Venus dengan senyuman penuh arti, "Aku hanya butuh perhatian istriku." Kata Steve tanpa sadar.
Deg!
Venus terdiam. Hatinya serasa bergemuruh merasakan ada sesuatu yang janggal dari kalimat Steve. Apa mungkin Steve kecewa padanya? Apa Steve mengetahui kejadian kemarin? Apa dia sebenarnya menangis karena itu bukan karena sakit? Tapi kenapa? Kenapa Steve tidak memarahinya?
Steve tersadar.
"Em, maaf. Aku suka begitu jika sakit. Tidak sadar. A-aku ke kamarku saja. Sakitku sudah lebih baik sekarang." Steve bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya lalu menutup pintu.
Steve kembali menangis. Dia merasakan jika perhatian Venus itu bukan miliknya, itu hanya hal biasa di lakukan oleh setiap orang jika menghadapi orang sakit.
Rasanyanya dia begitu menyedihkan bukan?
Steve berjalan ke arah ranjangnya dan melingkarkan dirinya dalam selimut dan menutupi dirinya seutuhnya.
***
Tringg
Alarm Steve berdering dan membuat dia terbangun.
"Arkh!" Steve memegang kepalanya yang sakit sekali rasanya. Kenapa bisa sangat sakit? Apa cuma karena menangis bisa membuatmu menjadi sakit? Kenapa lemah sekali? Ck!
Steve memaksakan bangun tidur dan mandi walaupun rasanya dia ingin ambruk.
Steve menggenakan pakaiannya dan kemudian keluar kamar. Dia melihat Venus telah ada di ruang makan dan langsung berdiri saat dia datang, "Aku sudah menyiapkan sarapan."
Steve menganguk, Steve mendesis sakit saat mengangguk tadi kepalanya sakit sekali di gerakkan.
Steve menahan sakitnya dan duduk semeja dengan Venus. "Selamat makan." Ucap Steve dan kemudian mengambil sandwich buatan Venus.
Prangg
Seketika itu juga kepala Steve tak tertahankan dan kemudian menjatuhkan sandwich kembali di piring.
Venus segera memutar dan duduk di sebelah Steve, "Kamu kenap- astaga kamu panas banget!"
Steve menggeleng, "Gak. Tidak ada masalah. Hanya demam sedikit dan setelah makan nanti juga sembuh."
Venus membantu Steve bangkit berdiri berjalan menuju ke kamarnya. Steve tak dapat menolak juga karena kepalanya sungguh sakit.
Venus membaringkan Steve di atas ranjang. Steve menutup matanya, "Rasanya seperti dunia ini berputar Venus. Pusing.." keluh Steve akhirnya.
"Sebentar, aku akan buatkan bubur dan mengambil obat kamu. Sebentar ya sebentar." Kata Venus dan segera pergi ke dapur menyiapkan bubur dan sambil menunggu dia mengambil pula p3k yang berisikan juga berbagai obat obatan di sana.
Setelah beberapa menit bubur masak dan segera Venus letakkan di atas piring dan kemudian dia menyiapkan air hangat dan membawa semuanya dalam nampan dan mengantarkannya ke kamar Steve.
Venus meletakkan semuanya di atas meja dan kemudian duduk di tepi ranjang dan mengambil piring berisikan bubur, mendinginkannya dan menghembusnya, "Makan ini Steve,"
Steve mengangguk dan kemudian memakan makanan yang di berikan Venus padanya.
Semua di makan Steve bahkan obat pait yang tak di sukainya itu.
"Makasih." Ucap Steve.
Venus mengangguk,
"Tunggu, kamu bukannya harus kuliah? Kamu pergilah. Aku tak apa di rumah sendiri. Aku bisa kok." Kata Steve tersenyum lemah.
Venus menggeleng, "Gak. Nanti kalau kamu kenapa kenapa siapa yang menolong kamu nanti?"
"Aku akan menelpon seseorang nanti yang akan mengurusku. Kamu harus ke kampus, kamu bisa ketinggalan pelajaran." Jelas Steve.
Venus sekali lagi menggelengkan kepalanya tegas, "Steve aku ini istri kamu, aku yang harus merawat kamu."
Deg!
Untuk pertama kalinya Venus mengatakan kalimat itu.
Istri kamu..
Venus pun tak percaya dengan apa yang di katakannya membuat dia terdiam seribu kata dengan saling berpandangan dengan Steve dalam keheningan.
Bahkan kini Steve tak dapat menahan air matanya dan kemudian memeluk Venus, "Maafin aku yang terus nyusahin kamu ya Venus. Besok besok aku ngak akan sakit lagi dan selalu jaga kesehatan, jadi kamu ngak perlu repot repot begini."
Seperti ada desiran kehangatan sekarang dalam diri Venus, hingga membuat dia tersenyum kecil dan hendak mengelus kepala Steve.
Drett
Hp Steve bergetar dan kemudian membuat suasana kembali canggung bagi Venus saat melihat nama yang ada di kontak itu.
Lisa
Steve menoleh ke arah ponselnya dan mengangkatnya, "Ada apa? Bukankah aku sudah menga-"
"Steve ibuku sakit. Dia sakit keras aku takut sekali!" Terdengar nada ketakutan dari orang di seberang sana.
Steve bukanlah seseorang yang tidak memiliki empati, dia turut merasakan kesedihan juga mengingat ibu Lisa sangat baik padanya.
"Apa penyakitnya kambuh lagi?" Tanya Steve iba.
Lisa mengangguk dan semakin menangis, "Aku takut Steve. Aku tak tau harus apa... Steve tolong datanglah."
Venus melihat kejadian ini jadi merasa semakin asing, terutama mengingat dia bukanlah bagian dari diri Steve baik hati maupun pikirannya.
Steve menghembuskan nafas berat.
Venus melepaskan pelukan Steve membuat Steve mendongak kepalanya melihat Venus, "Venus jangan pergi. Ku mohon..." Pinta Steve.
Sedangkan yang di seberang sana Lisa mengeraskan rahangnya mendengar nama Venus di sebutkan. Sungguh cemburu rasanya.
"Lisa aku akan menelponmu nanti. Aku sedang sakit hari ini dan aku tidak bisa pergi kemana mana sekarang. Maafkan aku." Jelas Steve yang kemudian mematikan hpnya.
Steve menarik kembali tangan Venus dan memeluknya. "Aku sudah putus dengannya. Jangan salah paham, dia menelpon juga karena ibunya yang sedang sakit Venus, bukan karena hal lain. Maafkan aku membuat kamu-"
"Em. Aku tak apa. Lagi pula apa masalahnya bukan? Tidak seharusnya aku bisa marah padamu karena dia memang kekasihmu." Venus menatap Steve dengan mata sendu, "Tak perlu putus dengannya jika kamu belum siap putus. Aku tau kamu mencintainya dan terpaksa melakukan itu karena kamu telah menikah denganku. Tak apa Steve aku tak keberatan kamu melakukan. Dan juga aku yakin pernikahan kita tidak akan bertahan lama, kita akan bercerai sesegera mungkin Steve karena aku yakin itu yang terbaik."
Deg!
Tangan Steve yang memeluk Venus erat tadi terlepas dan matanya menjadi sangat kosong sekarang. Seperti suatu batu besar jatuh dan menghantam dirinya. Dia sangat hancur.
"Kita akan menjumpai kebahagiaan jika kita tidak bersama. Kita bukan jodoh yang tepat Steve. Kita tidak di lahirkan menjadi suatu pasangan."