My Different Wife

My Different Wife
Berobat



Victor tersenyum mendapatkan sebuah ide, "Ini sudah jam makan siang. Bagaimana jika kita memesan makanan?" Ajak Victor.


Steve yang tadinya tersenyum kembali memasang wajah datar. "Kau pergilah membeli makanan mu. Aku akan mencari makananku sendiri."


"Oh tentu saja tidak bisa. Sesama rekan harus saling menjalin hubungan juga bukan?" Ungkap Victor dengan senyum miring, "Oh ayolah, hanya makan siang. Kenapa kau begitu kuatir?"


Steve memutar bola matanya malas dan memilih untuk tidak menjawab kalimat lelaki payah ini.


Steve meninggalkan Victor membuat sang lawan bicara menjadi jengkel seketika. Berani beraninya dia menolak tawaran baik Victor.


Victor mengikuti Steve dan menyamakan langkahnya, "Kita akan makan siang bersama. Aku juga ingin membahas sesuatu tentang pekerjaan nanti." Pungkas Victor tak mau tau.


Steve menghentikan langkahnya, "Jangan menggangguku." Segera Steve pergi meninggalkan Victor.


Victor memutar bola matanya malas. Sungguh memuakkan.


***


Victor pulang dari kantornya dan mengendarai mobilnya klub malam. Baru saja beberapa kilometer rasanya kulit Victor begitu gatal.


Terasa begitu aneh. Bersamaan dengan itu kepalanya terasa pusing. Apa yang terjadi padanya?


Victor memilih untuk singgah ke rumah sakit untuk mengecek keadaan nya. Setelah sampai Victor segera melakukan pendataan, pemeriksaan tanda tanda vital dan di tuntun ke ruangan dokter untuk segera di periksa lebih lanjut.


Kepala Victor begitu pusing sekarang dan seluruh tubuhnya gatal terutama bibirnya.


"Selamat malam dok." Ucap sang suster dengan membawa data Victor. Sang dokter membalikkan badannya dan seketika perut Victor seakan tergelitik,


"Kau? Dokter? Hahahaha," Kekeh Victor. Dia tak percaya jika yang di hadapannya ini adalah Melodi.


Melodi memutar bola matanya malas, "Bawa dia ke ruangan lain." Melodi sungguh malas menangani orang gila seperti Victor.


Victor tersenyum miring, kemudian menuntun sang suster untuk keluar, "Tenang, dia saya yang atur. Kamu kembali saja kerja."


"Tapi pak!"


Segera Victor menutup pintu dan menguncinya.


"Well, bener bener tak di sangka ya. Sekarang kau sudah sukses hm. Hahaha..." Kekeh Victor sambil berjalan ke arah Melodi dan duduk di bangku yang berhadapan dengan Melodi.


"Pantas saja kemarin kau begitu sombong. Ternyata karena sudah bergelar rupanya..." Sindir Victor.


Melodi hanya memasang wajah datar ala nya. "Pergi."


Victor tersenyum kecil, "Hei paling tidak sembuhkan aku. Kau dokter bukan, bekerja dengan tuluslah dalam melayani."


"Aku dokter, bukan pelayan. Lebih baik kau pergi." Kecam Melodi membuat Victor kembali terkekeh membuat Melodi geram.


Victor melihat wajah Melodi dengan intens sambil menyandarkan dagunya pada tangannya, "Gak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu, tinggi hati dan bermulut pedas. Ck, sungguh di sayangkan."


"Kau tadi makan apa?" Tanya Melodi tiba tiba membuat Victor teralihkan pikirannya.


"Hm.. banyaklah. Mana ingat."


"Rasa gatalnya sejak kapan?"


Victor berfikir beberapa saat, "Tadi siang tadi udah gatal, tapi ntah kenapa makin gatal aja sekarang."


"Makan apa tadi siang?"


"Udang," jawab Victor.


"Ada riwayat alergi makanan sebelumnya?"


Victor menggeleng. "Gak."


Melodi bangkit berdiri dan duduk di sebelah Victor. "Buka mulutmu."


Victor menurut dan membuka mulutnya, "Udah?"


Melodi mengangguk, Melodi mulai menulis sesuatu dan memberikannya pada Victor. "Itu resep obatmu berikan pada apoteker di lantai bawah dan pergilah."


Victor terkejut, "Sudah?"


"Hm."


Victor tersenyum, salut juga. "Emang aku sakit apa?"


"Alergi."


"Alergi?" Ulang Victor. "Aku pikir alergi timbul waktu kecil dan berkelanjutan sampai besar."


Melodi mengangguk, "Ada jenis alergi yang timbul saat kecil, dan ada juga saat dewasa."


Victor mengangguk.


Victor tersenyum miring, "Malam ini ada acara?" Tanya Victor ingin menawarkan makan malam bersama. Sekaligus reunian dengan musuh bukan?


"Ada."


Victor berdecak, "Oh ayolah. Jangan berbohong."


"Kalau aku bilang ada, ya ada. Kau bisa pulang sekarang."


Victor memutar bola matanya malas. "Terserah. Aku juga gak niat juga mau mengajak wanita seperti mu. Udah jelek, galak, dan tak menarik sama sekali."


Melodi tak memperdulikan ucapan Victor. Diam seribu bahasa.


Victor bangkit berdiri dan meninggalkan Melodi dengan kekesalan.


Baru saja Victor melangkahkan kaki, Victor terkejut dengan kehadiran Abang sepupunya, "Bang?"


Andreas tersenyum kecil, "Vic, ngapain ke sini?"


"Berobat bang. Kalau Abang?"


"Ngapelin pacar Abang dong." Kekeh Andreas.


"Pacar? Siapa?" Victor tersadar mengetahui suatu dugaan, "Jangan jangan si ngeselin itu?"


Andreas terkekeh, "Namanya Melodi. Dia gak ngeselin tau. Awas aja kau ngejek dia lagi."


Victor menggelengkan kepalanya tak percaya.


Andreas tersenyum. Memang dia akui pacarnya ini sedikit menyebalkan, tapi itu yang membuatnya penasaran.


Andreas berjalan ke meja Melodi dan mencium pipinya, "Miss you."


Sangat sulit untuk mendapatkan hati Melodi. Kau tau bahkan Andreas kewalahan untuk mencari cara mendapatkan wanita cantik ini. But well, kini dia telah memilikinya, dan di pastikan takkan mau melepaskan wanita ini.


Victor terkekeh. "Heh, tu orang best player kau tau. Cuma mau mengingatkan saja." Victor menyindir sepupunya.


Melodi dengan wajah datarnya menoleh ke arah Andreas, Andreas tersenyum miring dan kembali mencium pipi Melodi, "Dulu. Sekarang aku miliknya seutuhnya." Bisik Andreas di telinga Melodi membuat Melodi terkekeh dingin singkat.


Oh astaga, bukan Melodi tak tau lelaki ini playboy, hanya saja terkadang lelaki ini memiliki satu hal yang tak di miliki lelaki lain dan tak terduga. Misalnya dia ternyata memiliki hati yang besar untuk melakukan sumbangan terhadap anak yatim tanpa di ketahui orang lain.


Andreas dag dig dug sendiri melihat senyum Melodi. Oh astaga... Kalau saja Melodi memperbolehkan dirinya melakukan lebih dari kecupan di pipi pasti dia akan mencium rakus bibir wanita ini sampai puas.


Victor terkekeh aneh melihat pasangan di hadapannya itu. Ntahlah sama sama absurd, Victor membalikkan badannya dan meninggalkan pasangan itu.


"Kamu dari tadi belum makan kan? Ayo makan." Ajak Andreas.


"Gak lapar. Deluan aja kalau mau makan."


Andreas mendesis sedikit kesal. Sudah 2 Minggu pacaran Andreas tak pernah mendengar Melodi memanggil namanya dengan sebutan kamu, sayang atau kata kata romantis lainnya.


"Sayang." Panggil lelaki itu.


Melodi menoleh, "Hm?"


"Panggil aku sayang dong. Atau kamu aku... Atau apa gitu... Yang aku pingin tau denger panggilan sayang dari kamu..." Keinginan Andreas dengan membesarkan matanya memohon.


"Harus?"


Andreas mengangguk. Jika dia bilang terserah pasti Melodi takkan mau mengatakannya.


Melodi menghela nafas, "Sayang."


Sesingkat itu. Udah.


Andreas menepuk jidatnya dan menatap Melodi dengan lesu, "Ya udah deh. Terserah kamu kalau ngak mau bilang sayang juga gak apa."


Melodi melihat ke arah Andreas yang tampak musam.


Melodi mengusap pipi pacarnya itu membuat Andreas kaget, baru pertama kali Melodi menyentuhnya dengan inisiatifnya sendiri.


"Aku sayang kamu, Andreas Prayoga ku..." Kata Melodi dengan senyuman kecil.


Rasanya jantung Andreas ingin meledak. Kan bener, Melodi selalu tak terduga.


Andreas tersenyum dan mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Melodi sebelum tangan Melodi menahannya, "Sekali coba aneh aneh kita putus."


Sayang sekali Andreas, kau belum beruntung, hahaha.


Catatan author:


Jangan lupa like comment dan vote ya... jangan jadi pembaca gelap say...