
Tidak menganggu Langit rasanya seperti kurang lengkap bagi Rian. Rian muncul di sebelah Langit saat Langit duduk sendiri di pinggir halaman lapangan bola.
Rian menghembus telinga Langit membuat Langit segera menoleh ke arah Rian, "Ayo cari clue lain. Aku bosan menunggu."
Langit memutar bola matanya malas, "Apa kau tak lihat aku sedang sekolah. Bisa-"
"Heh apa kau tak bisa sopan padaku? Aku ini seniormu!" Kesal Rian pada Langit yang selalu saja memarahinya.
"Aku pun sebentar lagi akan menghilangkan ketika misiku terpenuhi, jadi kau harus berlaku baik padaku!"
Langit memutar bola matanya, "Apa urusanku, sudah berapa kaliku katakan aku membenci orang bodoh, dan kau bodoh."
Dasar anak ini menyebalkan. Rian segera memeluk Langit erat, "Karena kalau aku menakutimu kau takkan ketakutan maka aku akan mencium mu!"
Langit membolangkan matanya dan menoleh ke arah Rian. Lelaki itu tersenyum melihat wajah kaget ala Langit yang memang sangat jarang dia lihat. "Cium..mu mu mu..," Rian mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi Langit yang tembam.
Langit mendorong Rian sambil bangkit berdiri membuat lelaki itu terjungkal ke belakang. Langit menunjuk Rian dengan emosi, dan mengambil batu untuk di lemparkan ke arah Rian. "Kau-!"
"Sedang apa?" Tanya seseorang di tengah kemarahan Langit. Langit menoleh ke arah suara itu, itu adalah Angga.
Langit kembali melihat ke arah Rian untuk menuntaskan marahnya dengan melemparkan batu. Tapi lelaki itu malah kabur dan mengejek Langit, "Coba aja kejar."
Langit geram sekali dan mencampakkan batu itu ke bawah. Langit melihat ke arah Angga sinis, "Ini semua karena mu! Kalau saja kau tak menegurku aku pasti sudah-"
Kalimat Langit di gantung membuat Angga penasaran, "Sudah apa?"
Langit mengalihkan pandangannya dan pergi meninggalkan Angga.
Langit masuk ke gudang belakang sekolah. Langit menutup pintu saat di rasanya sudah aman tanpa gangguan, "Aku membenci diriku! Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa aku harus bisa memiliki kutukan ini dalam hidupku! Kenapa aku harus bisa melihat mereka?! Apa yang Tuhan mau dariku?! Arhh!!"
Langit menjambak rambutnya dengan emosi dan mengambil bola basket lalu melemparkannya ke segala arah. "Dasar setan brengsek!"
Langit terduduk dan kemudian menangis, dia lelah, dia tak suka dengan keadaan ini, ini sungguh membuat batinnya tersiksa.
Rian melihat Langit. Dia merasa dia sudah cukup keterlaluan. Lelaki itu duduk di sebelah Langit, "Maafkan aku. Aku hanya bercanda tadi."
Langit mendorong Rian, "Bercanda mu tidak lucu. Pergi sana!"
Langit berlari keluar gudang. Sebenarnya itu bukan karena Rian saja yang bertingkah membuatnya emosi, tapi seluruh hantu yang dia jumpai mereka semua selalu saja menganggunya. Di dunia nyata bahkan tak ada yang bisa di ajak untuk berbicara, semuanya malah menganggap dirinya memiliki kelainan saraf di otaknya hingga membayangkan hal aneh seperti itu.
Tidak ada! Dia lebih baik mati saja!
Langit melihat ke arah jalan raya, di sana ada mobil yang melaju dengan kencangnya seberang jalan sana. Langit menatap itu dengan tatapan datar,
Pikirannya kosong dan yang ada di benaknya adalah mati menjadi keuntungan baginya di banding hidup dengan cara seperti ini.
Langit bersiap melangkah saat mobil itu mendekat untuk menabrakkan dirinya,
Satu
Dua
Tiga
Langit melompat ke arah mobil itu,
Citt
Mobil itu mengerem secara mendadak tapi Langit lebih dahulu melompat ke depannya.
"Akh!" Jerit seseorang membuat Langit menoleh ke arah belakangnya.
Langit terkejut mendapatkan Rian yang menolongnya hingga dia tak terkena lecet sedikit pun.
Langit melihat ke arah Rian yang meringis kesakitan di lengannya yang tak berdarah. Langit bangkit duduk dan memutar bola matanya, "Kenapa kau menolongku? Aku mau mati!"
Rian berhenti meringis dan duduk menyamankan pandangannya dengan Langit yang duduk dan melihat Langit emosi, "Apa kau bodoh? Kenapa kau malah mau bunuh diri?! Dasar idiot!"
"Kau yang idiot! Kau tak tau apapun-"
"Aku apa yang terbaik! APA KAU MAU MATI MENGENASKAN SEPERTIKU?! JAWAB!!"
Langit tak melanjutkan bicaranya.
Rian memeluk Langit, "Mungkin aku memang nakal, maaf soal itu, aku hanya ingin menyelesaikan misiku bersama kau dengan hubungan yang baik."
Langit melepaskan pelukannya, "Bukan hanya kau, tapi semua, mereka, penglihatanku ini sangat menganggu dan sungguh aku tak tahan! Jadi jangan halangi aku-"
"Untuk bunuh diri? Oh baiklah jika itu keinginan mu. Setelah kau mati kau takkan bisa lepas dari ku, kita akan menikah dan akan ku buat kau candu denganku." Kata Rian tak ada pilihan lain, dia tak tau mau mengatakan apa lagi, wanita ini sangat keras kepala.
Langit menyerngitkan dahinya, "Apa kau gila?!"
"Tentu saja yang kukatakan ini benar. Jika kau lihat aku ini seperti hantu gila apa lagi hantu lelaki di luar sana yang lebih gila dari padaku. Kau akan lebih di kelilingi lelaki gila sepertiku."
Jawab Rian santai.
Lelaki itu segera medekatkan wajahnya pada Langit dan tersenyum miring, "Bagaimana jika kita pemanasan dulu sebelum kau hidup bersamaku selamanya?"
Par!
Langit menampar Rian kencang, "Aw!"
"Aku tak mau!"
"Tentu kau harus mau!"
"Tidak!"
"Ayo!"
"Tidak!"
Rian semakin mendekat, "Ayolah..."
Langit menahan dada Rian dengan kaki, "Aku takkan mau bersamamu dan aku takkan mau mati!"
Ryan ingin sekali tertawa melihat Langit yang kalah mental.
"Oh ayolah, apa kau tak tertarik menikah dengan hantu pria tampan sepertiku?"
"TIDAK!" tolak Langit mentah mentah.
Ryan tertawa geli dan kemudian mengacak rambut Langit, "Baiklah. Intinya kau harus menepati janjimu untuk menyelesaikan misiku."
Rian kembali menegakkan badannya, "Kau tau, aku pun sebenarnya sangat bosan dengan dunia perhantuan ini. Tak ada hal lain yang ku kerjakan selain mengganggu orang dan juga bergentayangan. Tak ada arah dan ujungnya.
Aku ingin segera masalahku selesai dan pergi dengan tentram." Langit duduk sambil mendengarkan Ryan berbicara.
"Kau tau, ini terasa begitu menyebalkan." Rian menghela nafas berat sebelum dia kembali melanjutkan kalimatnya, "Kadang aku merasa ketakutan ntah kenapa, kadang aku marah tiba tiba dan setelahnya aku kembali teringat akan mantanku dengan hati yang pilu."
"Tunggu," potong Langit, "Apa maksudmu dengan pilu? Bukankah kau yang memutuskan dia? Kenapa kau yang sedih?"
Rian menggeleng, "Aku tak tau. Selain aku tak mengingat bagaimana caranya aku mati, aku pun tak mengingat hal hal mendasar dari hidupku seperti orang tua atau pun tempat tinggal. Aku hanya mengingat rasa sakit, takut dan mantanku saja."
Langit kembali berfikir, ini sangat aneh.