My Different Wife

My Different Wife
Keheningan Cinta



Steve terdiam.


Venus menepuk bahu Steve, "Aku ke dapur dulu ya. Mau ambil minum untuk kamu." Tanpa menunggu jawaban Steve Venus keluar kamar dan berjalan ke dapur. Sebenarnya hatinya sungguh sangat sesak saat mengatakan itu. Tak tau mengapa tapi itu yang dia rasakan. Dia bahkan sudah sangat keras melupakan Steve tapi kenapa jiwa bodohnya selalu saja menetapkan Steve pada hatinya? Kenapa ada ruangan yang selalu di isi oleh Steve? Kenapa itu tidak bisa hilang!


Venus memegang meja dapur dan kemudian tersungkur duduk di lantai. Kenapa rasanya ini begitu sakit?


Venus menepuk dadanya yang sesak dan menarik nafas dalam dalam, dia harus bisa menghadapinya, kehidupan memang tak bisa di mengerti dan akan sulit untuk di pahami jika kau berharap itu akan berjalan dengan baik. Tidak! Dunia tidak seindah drama dan tidak sebahagia cerita yang kau baca.


Venus kembali bangkit berdiri dan mengusap air matanya. Dia berjalan Vie wastafel dan membasuh wajahnya. Dia harus bisa.


Venus mengambil teko berisikan air minum dan kemudian kembali ke kamar Steve. Steve tengah melamun dan pandangannya berpusat pada dinding yang ada di hadapannya.


Dia bahkan sangat shock dengan kalimat Venus. Sungguh menusuk hati dan jiwanya. Inikah yang namanya karma percintaan? Mungkin iya.


Steve sungguh sudah serasa mati saja. Dia merasa sangat tercekat dan tenggelam dalam lautan yang sesak.


Tak ada harapannya lagi.


"Steve, aku akan ada di ruang tv, jika kamu membutuhkanku-"


"Baiklah. Lakukan sesukamu." Kata Steve dan kemudian kembali berbaring.


Siapa yang dia benci sekarang? Venus? Atau dirinya sendiri? Dia bahkan tak tau siapa yang perlu di salahkan lebih dalam.


Dia hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Venus karena kesalahannya dulu yang tak mempercayai Venus akan berubah. Bukankah Venus pun pernah melakukan kesalahan besar dengan selalu mengancamnya selama bertahun-tahun menekan Steve hingga tak memiliki kebebasan? Apa salahnya jika Steve mencoba memperbaikinya sekarang? Tapi kenapa ini semakin hancur saja?


Venus menunduk dan kemudian mengangguk, "Hm, baiklah aku akan ada di sana." Venus pergi meninggalkan Steve sendirian di kamarnya.


Steve rasanya ingin menangis sejadi jadinya. Namun air matanya kini telah kering dan tak akan berguna lagi untuk apapun.


***


Steve terbangun di tengah malam. Rasanya badannya kini lebih baik setelah tidur dalam waktu yang lama. Lihatlah keringatnya pun telah membasahi seluruh badannya dan bahkan seprainya.


Steve segera bangkit berdiri dan membersihkan dirinya begitupun dia mengganti seprainya dengan yang baru dan meletakkan segera pakaian kotornya ke dalam keranjang. Besok pun pembantunya akan datang mencuci pakaian kotornya.


Steve berjalan ke dapur untuk mengambil makan malamnya, dia tak mau menganggu Venus lagi.


Steve melihat segala makanan sudah di siapkan dan bahkan sekarang buburnya masih terasa hangat. Itu artinya semuanya baru selesai di kerjakan Venus.


Steve melihat Venus tengah tertidur pulas di atas sofa dan masih dengan pakaian yang sama dengan pakaiannya tadi pagi. Gadis itu sedari tadi menunggu Steve dan menjaganya kalau kalau dia membutuhkan Venus.


Steve merasa sedih dan hancur setiap kali melihat Venus. Namun dia tetap tak bisa melupakan gadis itu.


Steve berjalan ke arah Venus dan menggendongnya. Venus yang masih tertidur karena kelelahan tak menyadari Steve menggendongnya.


Steve berjalan ke kamar Venus dan membaringkan Venus di sana. Rasa sedih kembali menghampiri dirinya hingga dia pun ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Venus dan memeluk Venus erat.


Mungkin ini adalah terakhir kali dia bisa memeluk Venus. Tidak ada kesempatan lainnya lagi.


Steve menatap wajah Venus dengan sendu dan mencium pucuk kepala Venus, turun ke hidung, kedua pipi dan bibirnya.


Venus adalah orang pertama yang di cium Steve dan yang terakhir. "Sayang, walaupun kamu akan akan meninggalkanku kamu akan tetap menjadi wanita terakhirku Ven. I love you so much." Ucap Steve dengan suara parau sedih.


Steve melepaskan pelukannya dan meninggalkan Venus.


Namun kakinya terhenti. Apakah Venus sudah makan sedari tadi?


Steve membangunkan Venus, "Venus? Venus?"


Venus melenguh bangun tidur dan merenggangkan kedua tangannya. Venus terkejut dan segera bangkit duduk.


"Aku yang mengantar kamu ke sini. Aku pikir kamu butuh tempat yang nyaman untuk tidur, jadi aku bawa ke sini. Tapi apa kamu udah makan? Jangan tidur dengan perut kosong." Jelas Steve.


"Mari makan malam bersama." Ajak Steve.


Venus mengangguk dan kemudian beranjak dari tempat tidur dan berdiri di sebelah Steve, "Kamu udah enakkan?"


Steve mengangguk, "Hm. Makasih ya."


Venus tersenyum singkat, "Baguslah."


Steve menggenggam tangan Venus untuk bersama jalan ke ruang makan. Namun segera dia lepas menyadari jika Venus pasti akan merasa tidak nyaman. "Maaf." Steve mengarahkan tangannya kedepan, "Kamu jalan deluan."


Venus mengangguk dan kemudian Steve menyusulnya.


Terjadi keheningan dalam waktu makan malam dan setelah selesai makan segera Venus merapikan piring,


Steve menahan tangan Venus, "Aku saja. Kamu sudah cukup lelah dengan merawatku tadi."


"Tidak apa. Aku bisa lakukannya, kamu yang butuh istirahat lebih banyak sekarang. Tidurlah. Lagipula piringnya tidak banyak kok." Jelas Venus.


Steve menggeleng, "Ti-"


Venus segera menarik piring Steve, "Aku saja. Jangan membantah." Tekan Venus.


Steve terpaksa mengangguk, "Baiklah. Namun setelah ini kamu segera istirahat. Jangan bergadang." Jelas Steve.


Venus menganguk, "Iya."


Steve pun meninggalkan Venus.


Di dalam kamar Steve menghembuskan nafas berat.


Rasanya sedih namun mau bagaimana lagi. Semua telah terjadi.


***


Pagi hari tiba, Steve mengantarkan Venus ke kampus dan di sana dapat di lihat lelaki yang Steve bahkan lupa namanya itu kembali menghampiri Venus saat keluar dari mobilnya.


Lelaki itu tampak cemas dan kemudian memeluk Venus. Venus tersenyum dan mencubit lelaki itu seperti sangat akrab dengannya. Tampak pembicaraan hangat yang mereka ciptakan satu sama lain, berbeda ketika bersama dengan dirinya yang tampak kaku.


Steve menghembuskan nafas berat lagi. "Jika Venus bahagia aku pun harus bahagia untuknya."


Steve menarik pedal gasnya dan segera melaju meninggalkan kampus Venus.


Venus menoleh ke belakang memastikan mobil Steve di sana. Venus menghembuskan nafas berat saat melihat mobil itu telah pergi.


'Maafkan aku hatiku yang dulu. Aku mengecewakanmu karena cintamu yang dulu takkan bisa menjadi milikmu. Kau harus buat dia bahagia Venus. Jangan siksa dia dengan tetap berada di sisimu, dia bukan milikmu dan selamanya tidak.' batin Venus mengatakan pada dirinya sendiri.


"Venus. Ayo sarapan, aku laper." Rengek Victor pada Venus memecahkan lamunan Venus. Victor tau apa yang di pikirkan Venus, dia tau Venus pasti tengah berfikir mengenai Steve. Dia benci lelaki sialan itu. Venus tidak akan bisa menjadi milik siapapun selain dirinya, titik.


Venus kembali melihat ke arah Victor, "Aku sudah sarapan." Kata Venus sambil menunduk.


Victor menaikkan dagu Venus dengan telunjuknya, "Kalau gitu temenin aku. Aku mau bareng kamu..." Kata Victor manja.


Ya jelas dia ingin di manja Venus. Semalam Venus sangat memanjakan Steve karena sakit bukan? Dia ingin Venus melupakan ingatannya mengenai Steve dan hanya berpatokan pada dirinya makanya Victor akan melakukan sesuatu untuk mengalihkan seluruh perhatian Venus padanya seutuhnya.


Venus terkekeh dan mencubit hidung Victor, "Iya bawel."


Victor terkekeh dan menarik tangan Venus dan berjalan ke arah kantin.


'Steve aku akan mengalahkanmu dalam segala hal. Dan perlu kau ingat aku takkan main main dengan perkataanku.' batin Victor dengan penekanan.