My Different Wife

My Different Wife
Marry You



Sudah beberapa hari ruangan Steve tertutup rapat, Melodi tak dapat melihat apapun bahkan mengintip pun tak bisa. Penjagaan di sana sangat ketat.


"Apa yang terjadi di dalam sana?" Melodi hanya dapat menduga-duga saja. Apapun yang terjadi semoga semuanya berjalan dengan baik, walaupun itu kemungkinannya kecil.


Melodi yang bersembunyi di balik tembok merasa sangat cemas. Tapi ya mau gimana lagi, dia juga tak dapat berbuat banyak. Melodi menghembuskan nafasnya.


Set


Tubuh Melodi di tarik oleh seseorang ke bagian sudut. Orang itu menutup mulut Melodi dengan tangannya dan mendekatkan wajahnya dengan senyuman miring.


Melodi sangat terkejut melihat keberadaan lelaki itu.


Lelaki itu membuka tangannya dan kembali menutup bibir Melodi dengan jari telunjuknya, "Stt.."


Dia menarik Melodi dan membawanya ke dalam ruangan Melodi yang tak jauh dari tempat mereka. Lelaki itu menutup ruangan Melodi dan memeluk wanita itu, "Aku menepati janjiku," katanya dengan senyuman kecil.


Melodi membelalakkan matanya, "Sungguh? Steve sudah pulih?"


Victor mengangguk dengan kesal. Bagaimana bisa wanita ini lebih memikirkan Steve dibandingkan dirinya? Ck.


Melodi melompat girang. Rasanya seperti mendapatkan hadiah berharga, seperti mukjizat!


Hal yang mustahil terjadi dan kini terjadi, sangat membahagiakan!


Percayalah, kebahagiaan terbesar Melodi adalah ketika dia melihat pasiennya mengalami pemulihan dan kesembuhan. Itu sangat berarti baginya.


Melodi melingkarkan tangannya di leher Victor dan memeluknya erat sambil meloncat kegirangan. "Aa... Aku seneng banget dengernya!!!"


Victor tersenyum kecil, baru saja mau marah jadi tak jadi, melodi meluluhkan hatinya. Victor mengeratkan pelukannya di panggul Melodi. Sesenang itukah dia?


Melodi melihat wajah Victor, lelaki itu tersenyum dan mendekatkan wajahnya, "Aku sudah memenuhi janjiku. Dan sekarang kamu harus melakukan apapun yang kumau."


Deg!


Barulah Melodi tersadar jika lelaki ini pernah mengatakan sebuah perjanjian atas janjinya itu.


Victor tersenyum miring melihat wajah Melodi yang jadi kaku seketika,


Victor mencium bibir Melodi seketika itu juga, dia merindukan bibir wanita ini bertautan dengan bibirnya. Ciuman itu sangat manis dan memabukkan baginya.


Jantung Melodi berdegup kencang, dia bahkan tak sempat menghirup udara bebas karena Victor sangat ganas. Melodi mencengkram bahu Victor membuat Victor melepaskan ciumannya itu, "Mel kamu tau, ranjangku sangat nyaman. Kamu ingin mencobanya?" Bisik lelaki itu dengan suara parau sembari tangannya bergerak liar masuk ke dalam baju Melodi.


Melodi menahan tangan Victor, "Hentikan. Apa maksudmu? Jangan bertindak seenaknya Vic!"


Victor menatap dekat Melodi. "Kenapa? Karena belum menikah?"


Melodi mengalihkan pandangannya, ya jelas lah, tidak mungkin Melodi memberikan dirinya untuk kesenangan dalam satu malam.


Victor mengangguk, dia tau sikap Melodi makanya dia sudah buat suatu rencana panjang, "Aku sudah mendapat restu ibu angkat mu. Dan kapan kita mengadakan pernikahan itu terserah kamu. Sekarang juga bisa," kata lelaki itu. Oh ayolah, Victor juga sudah tak tahan.


Melodi membelalakkan matanya dan melihat Victor terkejut bercampur tak percaya.


Victor melihat ketidakpercayaan di mata Melodi mendengus kesal, "Baiklah jika kamu tak percaya, hari ini kita akan menikah. Akan aku buktikan semuanya."


Melodi semakin membelalakkan matanya. Perkataan lelaki ini sungguh gila!


Apa katanya?


Menikah?


Sekarang?!


***


Melodi sedari tadi hanya terpaku dan terdiam. Dia melihat dirinya yang sudah menggunakan gaun pengantin putih dan riasan pengantin yang beberapa jam lalu di pakaikan padanya membuat dia menganga.


Lelaki itu bersungguh-sungguh.


"Nyonya, nyonya sangat beruntung menikahi Tuan muda. Dia sangat baik, kaya dan sangat tampan." Kata perias itu.


Lelaki bertubuh lunak itu malah senyum senyum sendiri, seperti malu-malu kucing. Padahal yang menikah kan Melodi, kenapa dia yang baper? Please... Cobaan apa lagi ini.


Melodi tak tau bagaimana caranya ini bisa terjadi. Victor memang sudah gila!


Melodi memegangi kepalanya, "Tenanglah Mel, pasti yang datang juga sedikit. Kau tak perlu panik." Kata Melodi menangkan dirinya.


"Huh? Apa nyonya? Sedikit? Tentu saja tidak. Mereka sangat ramai nyonya... Semuanya sangat menanti nantikan melihat anda..." Ucap si perias itu dengan hebohnya.


"Hah?!! Serius?!!!" pekik Melodi.


Sang perias terkaget mendengar teriakan Melodi. Lelaki lembut itu mengusap dadanya bersabar, untung saja dia calon istri orang kaya, kalau tidak pasti sudah di geplaknya.


"Iya nyonya. Untuk apa juga saya bohong."


Melodi seketika lemas. "Astaga, bagaimana ini?"


***


Acara pernikahan yang super duper mewah ini berlangsung sangat meriah. Semua orang berbahagia untuk Victor sang raja player kini menikah, bahkan mereka terkejut saat melihat calon istri Victor yang tampak begitu cantik dan manis yang dia dapatkan. Sungguh beruntung lelaki itu.


Acara pernikahan pun telah selesai dan kini saatnya untuk pesta setelah pernikahan. Musik di mainkan dan semuanya semakin menikmati pesta pernikahan Victor.


Segera Victor menatap tajam Zack, "Apa kau ingin aku mencongkel bola matamu?"


Zack tertawa, baru kali ini Victor memarahi dirinya karena memuji seorang wanita.


Victor menggeleng malas.


Raider juga memperhatikan istri Victor. Memang tak salah pilih temannya itu, wanita itu terlihat sangat cantik.


Boby juga berfikir sama. Kalau saja dia yang lebih dahulu berjumpa Melodi mungkin dia takkan pernah melepaskan wanita itu.


Victor melihat ke arah semua temannya yang menatap Melodi dengan lapar. Damn! Itu istrinya, kenapa jadi pencuci mata mereka?!


Victor meletakkan botol minuman mereka ke meja dengan keras seketika membuat pandangan mereka teralih ke Victor, "Apa yang kalian lihat hm?"


Mereka yang melihat Victor memanas malah terkekeh. Ini jarang sekali terjadi, termasuk keajaiban dunia melihat Victor cemburu.


"Tenanglah... Kami sadar kok itu istrimu." Boby tertawa.


Victor memutar bola matanya malas. Dasar teman lucknut.


Victor bangkit berdiri.


"Hei kau mau kemana?" Tanya Zack.


Victor menoleh ke arah mereka dengan malas, "Menjumpai istriku."


Teman-temannya tersenyum kecil, "Hee... Dasar bucin!"


Tawa mereka bersamaan. Bodo amat, dia tak suka jika istrinya jadi pusat perhatian semua lelaki di sini.


Victor menarik tangan Melodi, "Sayang aku lelah. Ayo ke kamar..."


Melodi terbelalak, "Ini masih ramai orang Vic. Acara belum selesai, tidak mungkin kita tinggalkan."


Victor merengek dan memeluk Melodi dari belakang, "Tapi aku udah capek yang... Suruh aja mereka pulang."


Aduh, kenapa Victor jadi seperti anak kecil begini?


"Vic gak boleh gitu, ini tamu masih banyak."


Victor menatap Melodi dengan cemberut saat Melodi melepaskan pelukan Victor, "Jangan. Nanti di lihatin orang."


Victor berdecak kesal. Sungguh menyebalkan.


***


Acara telah selesai dan kini Victor dan Melodi pun sampai di rumah pribadi Victor.


Melodi semakin jantungan, memikirkan hal-hal yang akan terjadi nanti. Dia pernah dengar dari teman temannya kalau malam pertama itu rasanya sangat sakit.


Melodi mengusap dadanya, dia takut sekali.


Saat sudah masuk ke dalam rumah Victor memeluk Melodi erat dari belakang Melodi, menciumi pipi Melodi hingga leher jenjangnya. Jantung Melodi semakin bertambah kencang berdetak.


Melodi menahan wajah Victor hingga mengentikan ciuman Victor, "K-kita mandi dulu ya," usul Melodi, maksudnya adalah untuk mengulur waktu. Rasanya dia belum siap.


Victor tersenyum miring, "Baiklah, kita mandi bersama di kamar aku saja."


Melodi hampir saja memekik shock. Itu sama saja bohong.


"Ah itu, m-mandinya sendiri sendiri saja. Rasanya akan lebih baik jika mandi di kamar mandi terpisah." Kata Melodi kaku.


"Kenapa? Air malam ini dingin, tubuhku akan menghangatkanmu," kata Victor enteng sambil menggendong Melodi.


Oh yang benar saja.


Victor masuk ke dalam kamar dan menurunkan Melodi untuk mengunci pintu.


"Vic, k-kita lebih baik mandi terpisah sayang. Jika kita berdua dalam satu kamar mandi pasti akan lama. Lebih baik kita mempercepat mandi dan memperlamanya di atas ranjang." Melodi merutuki dirinya sendiri. Kenapa jadi terdengar mesum?!


Victor menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum miring. Lelaki itu wajah Melodi yang seketika menjadi panik dengan kata-katanya sendiri.


"M-maksudnya b-bukan gitu. Aku- itu- maksudnya." Melodi semakin merasa pusing harus berkata apa.


Victor menarik tubuh Melodi dan menindihnya di atas tempat tidur, "Bagaimana kalau langsung mulai saja?"


Deg!


Victor juga sudah tak tahan. Sedari tadi dia terus menahan diri untuk ini dan rasanya harus di tuntaskan sekarang juga.


Victor mencium Melodi sambil membuka pakaiannya juga Melodi dengan mudah.


Hei, Victor itu pintar bukan? Tentu saja dia sudah meminta desainer berkelas untuk merancang baju yang semudah mungkin untuk di buka saat malam pertama.


Melodi menahan tangan Victor, "Vic, lebih baik mandi dulu. Rasanya tak nyaman," tahan Melodi membuat Victor menutup matanya pasrah.


Astaga, baru saja mulai sudah ada saja halangan.