
Victor berjalan menuju ruangan sang ayah yang di bencinya. Wajahnya sangat datar dan pikirannya sangat kacau,
"Ayah." Panggil Victor saat sudah ada di depan pintu sang ayah.
Ayah Victor tak percaya apa yang di lihatnya. Untuk pertama kalinya Viandro datang menjumpainya. Sungguh mengundang banyak pertanyaan dalam benaknya.
Ayah Victor bangkit berdiri, "Victor?"
Victor mengangguk, "Bisa Victor masuk?"
"Silahkan," Ayahnya mempersilahkan dia masuk.
Dia tau anaknya ini tak pernah banyak bicara saat pernikahan keduanya terjadi. Sang ayah yang tak di karuniai anak dari pernikahan keduanya itu membuat dia menjadi sayang sekali pada Victor.
Victor masuk dan kemudian duduk berhadapan dengannya, "Ayah aku ingin mengambil segala hak milik yang sebelumnya ayah ingin serahkan padaku."
Deg!
Davin terkejut, "Kau sudah mengubah keputusanmu?" Davin amat senang akhirnya sang anak mau jadi penerusnya.
Victor mengangguk, "Ayah bisa andalkan aku."
Davin segera menghampiri sang anak dan memeluknya, "Ayah bangga padamu nak!"
Victor hanya diam.
Dia sebenarnya tak ingin mengambil ini semua. Namun situasi membuat dia terdesak dan harus mengambil ini untuk membuktikan pada Venus bahwa dia bisa lebih berkuasa dan layak menjadi cintanya.
Steve? Dia tak akan bisa menandingiku! Batin Victor dengan tatapan ingin membunuhnya.
"Ayah akan menguliahkan mu khusus untuk dunia bisnis ini. Agar dapat memudahkan mu. Dan mengenai perkuliahan kedokteran-"
"Victor akan tetap menjadi dokter dan juga akan memimpin perusahaan sesuai apa yang Ayah mau. Victor bisa mengambil jurusan bisnis bersamaan dengan kedokteran, itu bisa Victor atasi." Jelas Victor.
Sang ayah percaya dan mengangguk, "Ayah mengandalkannya padamu nak. Ayah tau kamu sangat bijaksana, ayah yakin dan percaya semuanya padamu." Sang ayah menepuk pundak Victor bangga.
Victor tersenyum singkat menghargai ucapan sang ayah.
"Baiklah, semua akan ayah atur dalam pengalihan hak kuasa. Dan kamu belajar lah baik baik, agar memperlancar kamu dalam menjalankan perusahaan."
"Baik ayah."
***
Malam harinya saat Victor telah menyelesaikan tugas kampus dan beranjak ke atas ranjang, Victor membuka hpnya, dia melihat wajah Venus yang menjadi wallpaper hpnya.
'Manis sekali,' batin Victor dengan mengulum senyuman kecil saat memandang hpnya itu.
Victor merebahkan dirinya di atas ranjang dengan posisi terlentang.
Victor tersenyum miring dalam kamarnya. Dia memandangi langit langit kamarnya, "Venus, kamu harus menjadi milikku. Akan ku hancurkan Steve dan kita akan bersama nantinya."
Victor menutup matanya.
***
Venus menjadi gelisah. Kenapa pernikahannya di percepat seperti ini?
Di luar dugaannya. Ck.
Tanpa sadar Venus menelpon Victor karena Victorlah yang dia kabari setelah kedua orang tuanya,
Victor membuka matanya dan melihat siapa yang menelponnya. Segera Victor bangkit duduk. Jantungnya berdegup kencang ingin mengatakan sesuatu, dia sangat merindukan Venus sedari tadi.
Victor mengangkat telponnya tanpa berbicara.
"Victor kepalaku pusing... Hu hu hu... Aku pusing mikirin semuanya! Pingin lepasin kepala aja! Hu hu hu..." Adu Venus meluapkan apa isi hatinya.
Victor tersenyum dan menahan geli.
Kemudian Venus berhenti berbicara mengingat kalau hari ini Victor sangat marah padanya.
Victor diam dan menunggu Venus berbicara lagi. Dia merindukan suara Venus. Sungguh.
"Aku minta maaf kalau aku salah. Tapi beneran aku gak pernah mikir yang macem macem seperti kalimat kamu tadi. Aku tidak pernah berfikir yang jahat seperti itu, aku beneran minta maaf, aku-"
"Venus, aku yang seharusnya minta maaf. Aku terlalu sensitif tadi." Kata Victor tulus.
Venus kembali menangis, "Hu hu hu... Aku bersyukur bisa mengenalmu. Kamu paling mengerti dan aku tak tau jika tidak ada kamu..."
Victor tersenyum terharu mendengar kalimat Venus. Bagaimana bisa dia menjauhkan dirinya dari Venus? Dia sungguh mencintai wanita ini.
"Venus, bagaimana keadaanmu? Rencana pernikahanmu?" Tanya Victor.
Venus menggeleng, "Kepalaku sakit memikirkannya. Mama, aku tidak bisa menolaknya karena dirinya sangat berharap lebih padaku Vic, aku gak ngerti lagi."
Victor mengangguk, "Baiklah, aku ingin berbicara sesuatu padamu. Tapi tidak dari telpon. Kita berjumpa langsung, bisa?"
Venus menganguk, "Iya aku bisa! Kita berjumpa di mana?"
"Aku akan menjemputmu. Kamu tunggulah di rumah."
Venus terbelalak dan menggeleng, "Tidak, di sini ada kedua orang tuaku dan Keluarga Steve. Mereka membahas pernikahan, sedangkan aku di kamar karena alasan sakit."
Victor mengerutkan keningnya, "Bukannya tadi kamu bilang bisa keluar? Kan kamu udah beri alasan sakit."
"Iya Victor. Aku akan keluar dari jendela pakai tangga, tadi siang sudah aku siapkan sengaja. Aku pikir tadi aku mau kabur meninggalkan rumah sebentar untuk menenangkan pikiran."
Venus mengangguk, "Baik! Aku akan bergerak sekarang. Aku matikan telponnya ya."
"Hm. Hati hati."
"Iya."
Venus segera keluar dari kamarnya dengan mengendap endap. Melihat sekeliling dan sekarang sudah sampai di dapur,
'Sebentar lagi sampai..' batin Venus.
"Venus."
Deg!
Venus membalikkan badannya perlahan dan melihat Steve ada di belakangnya.
"Kamu sedang apa?" Tanya Steve.
Venus gelagapan dan kemudian tersenyum kikuk, "Mau ambil minuman."
Deg!
"kamu sakit kan? Kembalilah ke kamarmu, akan aku ambilkan," Kata Steve sambil mengambil gelas.
Venus menggeleng dan menarik gelas yang ada di tangan Steve, "Aku saja. Toh juga aku udah sampai di sini kan? Kamu kembalilah ke sana."
Steve menggeleng, "Mereka tengah pergi sebentar, ada yang perlu mereka urus. Jadi kita tinggal berdua di sini."
Deg!
Gawat.
"O-oh gitu. Hm, kamu tunggu di ruang tamu saja. Tidak baik jika kita berduaan seperti ini." Alasan Venus.
Steve tersenyum singkat dan kemudian mengelus rambut Venus, "Aku akan menjaganya sampai kita menikah nanti. Jangan kuatir."
Apa apaan ini? Kenapa jadi mesum?
Astaga Venus..
Venus berdebar sendiri dan wajahnya memerah, "Aku akan kembali ke kamar." Venus berjalan cepat sambil menunduk.
"Venus!" Panggil Steve,
Venus berhenti dan menoleh, "K-kenapa?"
"Gelas kamu masih kosong." Kata Steve membuat pipi Venus semakin merona. Ini sangat memalukan.
Venus segera kembali berjalan ke arah Steve, menuangkan air putih dalam gelasnya dan segera pergi.
Steve tersenyum melihat tingkah Venus yang menggemaskan.
Namun tingkah Venus sangat mencurigakan, tadi saat dia memegang rambut Venus dan sedikit menyentuh dahinya tidak teraba panas. Padahal katanya dia tadi demam.
Sangat aneh.
Steve pun kembali ke ruangan tamu.
***
Victor telah sampai di rumah Venus. Lama menunggu wanita ini sampai di belakang. Dia sudah di gigiti nyamuk.
Venus yang baru sampai di kamarnya segera ingin menelpon Victor namun Victor lebih dulu menelpon.
"Kamu di mana?" Tanya Victor.
"Tadi aku sudah sangat dekat dengan pintu belakang, tapi Steve datang. Dan ternyata di sini tertinggal hanya aku dan Steve, Mama Papa dan Om Tante pergi sebentar." Kaya Venus.
Victor berdecak kesal.
"Tapi tenang! Aku akan tetap datang!" Kata Venus.
Dia pikir dia memang harus menggunakan tangga. Namun tidak akan di beritahukannya pada Victor, karena nanti Victor akan marah.
"Caranya?" Tanya Victor.
"Tenang saja. Kamu tunggu saja di sana."
Venus mematikan ponselnya.
Venus segera turun dari kamarnya melalu tangga.
Perlahan semakin mendekati bawah dan akhirnya sampai. Dia masih selamat dan tidak terjatuh.
Saat Venus turun tadi Steve yang ada di dalam rumah melihat bayangan Venus namun tak tampak itu siapa?
Steve mengikuti bayangan itu dan pergi ke luar rumah.
Venus berjalan mengendap endap ke belakang dan kemudian berjumpa Victor, "Victor.." panggil Venus dengan berbisik.
Victor menoleh dan tersenyum melihat Venus.
"Kita berangkat?"
"Ayo!"