My Different Wife

My Different Wife
Bukan Miliknya



Venus pulang sesegera mungkin agar tak berjumpa dengan Victor, dia tak mau ambil pusing dan tak mau menyusahkan dirinya sendiri.


Victor yang hendak melanjutkan perjalanannya menuju rumah Venus kembali mendapat hambatan, "Ck, ngapain kau ke sini?" Kesal Victor mendapatkan wanita yang tiba tiba mencegatnya.


"Ya mau belanja," Melodi menarik tangan Victor, "Ikut aku," ajak Melodi namun segera di tepis oleh Victor.


Victor memutar bola matanya, Victor tau apa yang menyebabkan Melodi ke sini. Melodi bukan mau belanja, tapi merusak rencananya mendekati Venus.


Ya, Melodi mendapatkan informasi bahwa Steve baru saja ke luar negeri karena urusan pekerjaan. Oleh sebab itu Melodi harus lebih protektif lagi terhadap Victor mulai hari ini


"Mel, kau sengaja kan ke sini. Udah, pergi sana." Victor yang tak suka kehadiran Melodi pun segera menyingkirkan wanita penghalang ini.


Melodi segera mengejar Victor dan menahan tangannya, "Iya memang aku sengaja. Susah ku katakan padamu untuk jauhi dia."


Victor berdecak kesal, Melodi jadi mengulur ngulur waktu berharganya,  "Kita batalkan perjanjian. Dan ikatan kita berakhir. Sudah sana!"


"Tidak bisa, perjanjian sudah berjalan dan harus tuntas!" Melodi berkeras.


Victor mengusap wajahnya gusar, "Apa kau tak mengerti?


Mel, kau tau, aku sangat mencintai Venus. Dia membutuhkan ku dan aku membutuhkan dia. Tak ada yang bisa menghalangiku, apapun itu, termaksud kau," kecam Victor dengan tajam.


"Tidak kau salah!"


"Aku? Salah? Kau yang salah. Kau pikir kau hebat dengan berfikir kau bisa memberikan kebahagiaan padaku? Hey, lihatlah dirimu!"


Victor menunjuk Melodi, "Kau bahkan tak bisa mengurus hidupmu untuk mencapai kebahagiaan, dan kau malah berusaha untuk membahagiakan orang? Bangun, buka matamu."


Victor melipat kedua tangannya di dada memandang Melodi, "Aku tau, kau punya banyak masalah kan? Mengenai panti bodohmu itu. Kenapa tak kau tanganin dulu kehidupanmu, huh?" Hina Victor.


Victor yang selama ini terusik dengan kehadiran Melodi segera mencari kekurangan wanita ini. Dia pun mendapati kalau Melodi sedang dalam keadaan di ujung tanduk, dia harus memilih membayar hutang ibu pantinya atau dia harus menikahi seorang lelaki tua yang menjijikan.


Deg!


"Kau?"


"Iya aku tau. Aku tau semuanya.


Cih, kau bilang kau akan mencari kebahagiaanku? Sekarang ku tanya balik, mana kebahagiaanmu bodoh?" Sindir lelaki itu kasar.


Melodi kembali tertusuk akan kenyataan.


Victor berdecih dengan senyuman merendahkan, "Pikirkan saja bagaimana kau bisa menjalani hidup sebelum kau coba mencampuri urusan orang." Victor mendorong bahu Melodi dengan bahunya meninggalkan Melodi yang masih terdiam seribu bahasa.


Melodi yang selalu berusaha melakukan hal terbaik untuk Victor dengan menyingkirkan keluh kesahnya sendiri malah mendapatkan kepahitan.


Sungguh malang.


***


Victor telah sampai di rumah Venus. Dan pagar rumah Venus tertutup rapat, membuat Victor mau tak mau keluar mobil, Victor menghidupkan bel rumah dan keluarlah satpam dari balik pagar, "Ada apa pak?" Tanya sang satpam.


"Saya cari Venus," jawab Victor.


Sang satpam seperti mengenal lelaki ini. Dia sebelumnya juga pernah datang ke rumah ini dan Majikannya terlihat tak menyukai kedatangannya.


Barulah sang satpam teringat kata Steve sebelum dia pergi, jangan biarkan orang masuk ke dalam rumah selagi dia pergi kecuali dengan persetujuan Venus.


"Maaf pak sebelumnya, nama bapak siapa?" Tanyanya lagi.


"Victor."


"Baik, Saya izin ke dalam dulu," izinnya dan segera masuk ke dalam rumah.


"Bu, ada tamu, nama bapak itu Victor." Kata sang satpam membuat Venus segera meninggalkan pekerjaannya.


"Jangan pernah izinkan dia masuk. Dan katakan bahwa saya tak punya urusan dengannya." Venus menjawabnya.


Sang satpam mengangguk, berarti benar dugaannya antara lelaki itu dengan keluarga pak Steve punya hubungan tak baik, pikirnya.


Victor mengeraskan rahangnya, rasanya dia kesal mendapatkan penolakan dari Venus. Jika tidak segera berusaha untuk mendapatkan Venus sekarang, kapan lagi?"


Victor tak perduli dan tetap mencoba masuk ke dalam rumah. Pak satpam segera mengahadang Victor, "Maaf pak. Bapak tidak bisa sembarangan masuk. Saya bisa melaporkan tindakan bapak ke pihak berwenang." Tekan sang satpam tegas.


Victor mendorongnya dan berdecih, "Kau mengancamku?"


"Saya bekerja sesuai ketentuan."


Victor memutar bola matanya, dan mulai berteriak, "Venus! Aku mau bicara!"


Venus yang di dalam rumah tak perduli. Namun segera dia bersiap siap untuk bertindak jika Victor mulai bertindak di luar batas.


"Venus!" Panggil Victor lagi.


Tak mendapatkan jawaban dari Venus membuat Victor geram. Victor segera menatap tajam sang satpam, "Dasar kau tak berguna!" Bentak lelaki itu meluapkan emosinya jadi pada si satpam.


Victor meninggalkan rumah Venus dan kembali ke rumahnya. Sungguh kacau.


***


(Esok harinya)


Setelah mengantarkan Angkasa ke sekolah dan kini saatnya Venus berangkat menuju kampus. Di sana dia memarkirkan mobilnya dan segera berjalan masuk.


Betapa terkejutnya Venus melihat Victor tengah berdiri di sana dan tersenyum padanya.


Venus berbalik badan dan segera hendak pergi meninggalkan Victor melalui jalan lain ke ruangan kelasnya.


"Ven!" Victor segera mengejar Venus dan menggenggam tangannya.


Venus melepaskan tangan Victor dan menatapnya tajam, "Ada apa? Jangan membuang waktuku." Venus berkata dengan cetus.


Victor tersenyum kecil, "Maaf, tapi aku cuma mau kita kembali ke hubungan lebih baik lagi saja Venus. Jadi jangan jauhi aku."


"Tak ada yang perlu di bahas, jika aku menjauhi mu juga itu tidak seharusnya jadi masalah."


Victor menggeleng, "Bukan begitu, setidaknya kamu jangan-"


"Aku ada kelas. Jadi aku harus pergi. Maaf." Sela Venus tak menunggu kalimat Victor dan pergi begitu saja.


Victor menggenggam erat tangannya. Geram sekali rasanya, kenapa dia kembali acuhkan.


Victor kembali menarik tangan Venus, "Baiklah kalau kamu sudah menyadarinya. Iya, aku masih cinta sama kamu, aku cinta banget sama kamu Venus. Aku tidak akan mau putus hubungan denganmu dan aku ingin kita kembali menjalin hubungan. Ku mohon sayang, aku sangat mencintaimu."


Pinta Victor.


Venus menghembuskan nafas berat, "Victor aku mencintai Steve, bukan kamu. Jangan berharap cinta dariku karena aku bukan cintamu.


Mungkin dulu kita pernah bersama dan saling menyayangi satu sama lain, tapi sayang itu bukanlah cinta, aku menyayangimu karena kamu adalah temanku sekaligus kakakku. Dan itu takkan pernah berubah sekali pun kamu menyangkalnya.


Cinta tak bisa kamu kendalikan Vic. Cintaku hanya untuk Steve.


Aku tau ini menyakitkan hatimu, tapi kamu tidak bisa memiliki hati yang sudah miliki. Kamu tak bisa Vic.


Aku mencintai Steve dan hatiku hanya untuknya. Jadi berhentilah mencintaiku karena itu akan menyakitimu. Ku mohon berhentilah." Setelah mengatakan itu Venus pergi hendak meninggalkan Victor,


Victor menahan tangan Venus, "Venus kumohon-"


"Ku mohon hentikan. Aku tak mau jadi membencimu hanya karena kamu tak menerima kenyataan kalau aku hanya mencintai Steve." Venus menepis tangan Victor tanpa menoleh ke arahnya dan meninggalkan Victor.


Dadanya sesak mendengar Venus sungguh tak merubah pikirnya sama sekali tentang dirinya. Venus tak pernah bisa mencintainya, itu kalimat yang sangat membekas pada hati dan pikirannya.


Sia sia, semuanya sia sia. Cinta sungguh sangat kejam menyiksanya.


Dengan panas emosional dan hati yang sangat tersayat pilu Victor memutuskan untuk pergi.


Victor masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai dengan kecepatan tinggi, "AAA... BRENGSEK!!" umpat Victor meluapkan kegeramannya.