My Different Wife

My Different Wife
Perundingan Hantu



Langit terus memegangi boneka beruangnya erat dan sambil membenamkan dirinya dalam selimut seluruhnya.


"Jangan ganggu aku!" Jerit Langit saat mendengar suara tawaan dan angin yang terdengar sangat riuh.


"Adik kecil, ayo main bersama... Main ke rumah kakak yuk?" Suara ajakan itu menggema di ruangan sunyi ini dengan begitu menyeramkan hingga membuat siapa saja akan merinding.


Langit tak menggubris dan tetap menutup matanya seakan dia tertidur.


Suara tawaan kembali menggelegar dan membuat Langit menutup telinganya.


Setiap malam mereka selalu datang menganggu Langit dengan segala ketengilan mereka.


"Langit main yuk,"


"Langit mau di beliin es krim gak?"


"Hihihi... Sini sama nenek aja yuk ***, kita jalan jalan."


Langit mengepalkan tangannya, mereka semua adalah makhluk halus yang berengsek! Mereka sangat tak tau diri!


"Pergi!" Bentak Langit.


Mereka malah semakin tertawa dan menganggu Langit. Mereka menarik selimut Langit dan menyisahkan Langit yang memeluk bantalnya.


Langit membuka matanya, sungguh tak tahan. Ini sudah larut malam dan dia harus tidur!


"Apa bumi sudah tak mau menerima mu makanya kau tak mau kembali ke alam kubur?" Sindir Langit membuat mereka saling pandang dengan sangat kesal.


Mereka menarik seprai Langit dan mencampakkannya ke udara, "Terus kalau iya kau mau apa anak menyebalkan? Kau pikir kau hebat? Bahkan lelaki yang kau kejar saja menjauhimu!" Mereka malah balik menertawakan Langit yang di tolak mentah-mentah oleh Angkasa. Yup, mereka juga melihat kejadian tadi siang saat Langit di tolak oleh Angkasa secara langsung, namun ntah kenapa saat Langit menyentuh Angkasa mereka merasa terbakar dan memilih untuk pergi menyelamatkan diri.


Langit bangkit duduk dan menatap tajam para hantu yang berlumuran darah itu dengan geram, "Aku akan mendapatkannya, dan di pastikan kalian takkan bisa menyentuhku lagi."


"Hahaha, kau yakin? Dia bahkan tak kau sentuh!"


Dasar setan!


Langit tak memperdulikan mereka dan kembali tidur, jika di lanjutkan mereka akan membuat wajah yang menyeramkan dan bahkan akan merasuki Langit seperti dulu dulu, membawa Langit ke dalam alam bawah sadar yang sangat menakutkan.


Kembali di ganggu dengan menggoncang tubuhnya membuat Langit sedikit terlempar ke kanan dan kiri. Langit membuka matanya dan mereka menunjukkan bayangan suatu kematian yang menakutkan, bayangan kematian orang yang tak tau itu siapa namun dada Langit terasa sangat sakit dan sesak.


"CUKUP!!"


Set...


Bayangan itu menghilang sedangkan para hantu terus menatap Langit. "Kenapa kau menjerit? Kami hanya menggoncang tempat tidur mu."


Langit mencampakkan bantalnya ke arah hantu itu, "Kenapa kalian terus menggangguku dengan bayangan kematian itu lagi?! Kenapa?!"


"Terserah kalian mau menganggu dengan cara apapun, tapi tidak dengan bayangan kematian itu! Dan siapa yang kalian maksudkan itu huh?! Siapa?!" Bentak Langit. Sungguh sebenarnya yang di takuti Langit bukanlah gangguan wujud mereka, tapi dengan bayangan menyeramkan kematian itu. Langit sungguh tak tahan.


Hantu wanita yang berambut panjang dengan leher patah dan baju compang camping bermandikan darah itu menatap bingung Langit, pasalnya Langit selalu saja mengatakan mengenai bayangan kematian. Jujur saja, mereka memang bisa menganggu Langit dengan wujud menyeramkan dan juga sentuhan tak kasat mata. Tapi mengenai pikiran... Mereka sama sekali tak dapat memasukinya, "Kami sama sekali tid-"


Hantu lainnya saling bertatapan karena ucapan anak remaja itu, dia berbohong. Bukan malah menegur lelaki itu malahan mereka kemudian tersenyum jahil.


Tentu saja, ternyata Langit lebih menakuti bayangan aneh dalam pikirannya di bandingkan dengan wujud mereka bukan? Jadi ini akan menjadi kekuatan mereka untuk menaklukkan Langit.


"Kau tak bisa mencegah kami dasar anak nakal! Kau harus membantu kami jika kau mau kami menghilangkan pikiran menyeramkan itu dari padamu." Kata seorang lainnya.


"Apa mau kalian?!" Tanya Langit dengan emosi dan nafas memburu.


"Kami mau kau memenuhi permintaan kami yang belum sempat kami lakukan sebelum kami meninggal!"


Langit menggeleng, mereka mencari kesempatan dalam kelemahan dirinya. Sungguh dia tak mau di perdata, "Tidak! Aku takkan mau menjadi kaki tangan kalian! Tidak sama sekali!"


Dengan kecepatan seperti angin lelaki remaja itu mendekat dan memasang wajah yang sangat kacau dan hancur berlumuran darah di hadapan Langit, "Bantu kami!!!"


Langit menutup wajahnya. Sungguh dia takkan tahan jika terus begini, "Jika aku telah membantu kalian, kalian harus berjanji untuk pergi dari hadapanku selama lamanya!"


Lelaki itu mengembalikan wajahnya menjadi lebih baik tanpa lumuran darah. Dia tersenyum miring, "Tentu saja," katanya dengan santai.


Langit melihat sekelilingnya. Lima, mereka hanya berlima. Tentu bisa dia tangani, "Cukup kalian saja bukan?" Tanya Langit memastikan.


"Tentu saja, tidak ada yang lain!"


Langit menyipitkan matanya, "Jika kalian berbohong kalian akan tau akibatnya," ancam Langit membuat para hantu tertawa.


"Hahaha, apa rupanya yang akan kau buat kalau kami tak menempati janji?"


Langit menatap mereka dengan wajah datar, "IQ ku 160. Sekedar mengingatkan."


Ucapan Langit membuat mereka meneguk air liur, tersadar kalau Langit bukan anak sembarangan, dia memiliki pikiran yang jauh melebihi mereka dan mungkin saja akan terjadi sesuatu yang buruk pada orang yang mereka sayangi nantinya.


"Baiklah. Kami berjanji!" Ucap mereka serempak.


Langit mengangguk, "Kita mulai saja besok." Langit kembali membaringkan tubuhnya dan tertidur.


Mereka pun pergi satu per satu dan terakhir adalah seorang wanita yang sempat hampir membeberkan yang sebenarnya kalau mereka tak memiliki kemampuan untuk membuat bayangan menyeramkan yang ada di kepala Langit.


Dia duduk di sebelah Langit dan menaruh selimut yang sempat di tarik oleh teman temannya itu.


Rara, itu namanya. Dia ingin sekali memberitahukan Langit yang sebenarnya, namun dia hanyalah hantu biasa yang ingin di tolong juga, dia merasa dirinya adalah orang yang egois, namun dia pun ingin masalahnya segera selesai. Maka dari itu dia tetap diam.


Wanita itu seketika berubah menjadi normal layaknya manusia. Melihat Langit rasanya dia seperti merindukan anaknya dahulu, anak yang dia besarkan kini terpisahkan darinya setelah kecelakaan tunggal dirinya bersama anaknya itu.


Mereka kabur dari rumah untuk lepas dari jerat mematikan sang suami yang akan menjual anaknya karena di anggap adalah anak haram.


Pikiran yang ada oleh suaminya adalah bahwa Rara telah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Oleh sebab itu Sang suami sering marah dan tempramental sampai anaknya berusia 10 tahun lebih.


Mereka sama sekali tak pernah mendapat keadilan sebagai hak untuk perempuan dan anak. Tidak! Mereka sama sekali tak mendapatkannya!


Tujuan Rara di sini adalah untuk satu hal. Mencari di mana anaknya, apakah dia mati sepertinya atau tidak.