My Different Wife

My Different Wife
Emosi yang memuncak



Catatan penulis:


Hai aku kembali!!!!


Btw mulai hari ini aku akan berusaha untuk up setiap harinya. Doain aja biar aku bisa up setiap hari yaaa...


Dan juga untuk readers ku terkasih, jangan lupa terus dukung penulis mu ini ya. LIKE COMMENT DAN VOTE YAAA.. Biar semakin semangat update cerita!!! doain semoga aku semakin sukses dalam segala karirku ya!!! Terimakasih semuanya ✨🥰🥰🥰


Happy reading guys ✨✨✨🎉🎉🎉🎉


------------------------------------------------------------------------


Victor makan malam bersama keluarga Steve dengan senyuman tak hilang dari wajahnya, wajah Venus sungguh menghipnotis dirinya. Dia sangat rindu memeluk wanita ini.


Venus melihat ke arah Victor tajam namun lelaki itu malah tersenyum, "Kamu kenapa?"


Victor menggeleng, "Gak apa."


Venus segera merapikan piring yang telah selesai di pakai. Victor segera bangkit dan memegang piringnya, "Aku aja yang bawa."


Steve sungguh tak tahan. Dia sangat membenci keadaan ini. Steve menarik piring Victor dan piringnya, "Aku saja yang bawa," Steve melihat ke arah Venus, "Aku yang bereskan semua, kamu istirahat saja di kamar."


"Tapi-"


"Venus, dengarkan kataku." Tuntut Steve dengan mata membesar marah.


Venus mengangguk dan menurut seperti anak yang kena marah ayahnya.


"Bawa juga Angkasa ke kamarnya," sambung Steve dan kemudian segera di turuti Venus.


Venus segera mengantar anaknya masuk ke dalam kamar. "Mom, Daddy kenapa tiba tiba galak?" Tanya Angkasa yang bingung. Jarang sekali ayahnya seperti ini.


Venus menggaruk tengkuknya, bingung juga menjelaskan mengenai hal cemburu pada anak kecil bukan?


"Sudah sudah. Kamu tidur saja. Besok sekolah kan? Jadi kamu harus istirahat yang cukup." Ucap Venus menyudahi pembahasan mereka.


Angkasa mengangguk dan kemudian segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Venus duduk di pinggir ranjang Angkasa dan mengecup kening Angkasa singkat, "Good night Baby.."


Angkasa tersenyum dan mengangguk, "Good night too mom.."


Angkasa segera menutup matanya dan tertidur. Venus pun keluar kamar dan pergi ke kamarnya.


Baru saja Venus hendak masuk ke dalam kamar sebuah tangan dari belakangnya membuka pintu yang seharusnya Venus yang buka.


Venus menoleh dan mendongak melihat Steve di belakangnya, "Kamu disini? Victor?"


Steve memutar bola matanya malas, "Suami kamu itu aku bukan Victor. Ck. Dia udah ku suruh pulang." Cetus Steve tak minat.


Steve segera masuk ke dalam kamar di ikuti Venus yang kemudian menutup pintu kamar.


"Kamu kenapa marah? Kan aku cuma nanya doang." Kata Venus sambil membaringkan dirinya tidur di sebelah Steve.


Steve tak menjawab. Jujur saja dia kesal ntah mengapa Venus memperbolehkan Victor untuk makan bersama dengan mereka. Sungguh merusak mood saja.


Venus memeluk Steve, "Sayang."


Steve melirik singkat Venus dan kembali membuang wajahnya.


"Kamu marah ya karena aku bolehkah Victor masuk ke rumah?"


Tanya Venus.


Steve hanya diam.


Venus mengeratkan pelukannya dan bergelayut manja sengaja untuk memadamkan emosi suaminya itu. "Hitung hitung ucapan terimakasih sayang... Dia kan udah nolong Angkasa."


"Terserah."


Venus mendongakkan kepalanya, Steve melirik Venus lagi. "Maaf sayang." Mohon Venus.


Steve tak bergeming.


Steve mengelus pipi isterinya dan mencium pipi Venus, "Intinya kalau dia udah mulai muncul kamu langsung pergi saja. Paham? Jangan ada percakapan apapun."


Venus mengangguk.


Steve tersenyum dan membalas pelukan Venus, "I love you."


"I love you too." Jawab Venus.


***


Sungguh Victor sangat menganggu. Steve harus cari cara agar bisa lepas dari kerja sama dengan perusahaan Victor.


Victor yang tengah berada di kantornya di kunjungi oleh tamu yang tak di undang. Dia melihat ada Steve yang menghampirinya, "Aku ingatkan lagi padamu. Jauhi istriku! Apa kau tak sadar huh kalau kau tak mempunyai kesempatan apapun lagi."


Victor terkekeh, "Baru datang sudah cari masalah. Sudahlah, ini bahasan pribadi, tak perlu jadi penganggu pekerjaan."


"Jelas ini menganggu! Kau selalu datang ke tempatku dan sangat mengusik kehidupan kami! Pergilah! Jika kau tak memiliki seseorang untuk berbagi aku bisa mencarikan kau wanita lainnya! Tapi bukan istriku!"


Bentak Steve.


Victor tersenyum miring, bagaimana jika dia hanya mau Venus? Jangan pernah memaksanya untuk apapun karena Victor tak butuh saran.


Victor memilih diam dan kembali membaca dokumen yang baru diberikan bawahannya tadi.


Steve datang menghampiri mejanya dan duduk di sebelahnya, "Apa kau dengar!"


Victor bangkit berdiri, "Sudah ku katakan. Aku akan mendapatkan apa yang ku mau. Dan yang ku mau adalah Venus. Aku yang dulu selalu ada untuknya, bukan kau! Kau cuma orang yang egois yang menariknya untuk mencintaimu setelah kau  mencampakkannya. Apakah itu yang kau maksud dengan cinta?


He! Sadarlah!"


Steve menarik kerah baju Victor, "Kau tak tau apapun!"


Victor menepis tangan Steve dan bersamaan dengan itu pintu ruangan Victor terbuka dan menampakkan sepasang kekasih.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Andreas dengan tatapan dingin. Dia tak suka ada pergaduhan yang membuat keributan.


Melodi melihat ke arah Victor dan Steve bergantian. Dia tau siapa yang pastinya membuat huru hara. Melodi mendekati Victor dan menatapnya tajam, "Jangan buat masalah baru bisa kan? Kau baru datang tapi sungguh sangat merusak." Sinis Melodi.


Victor tersenyum miring, "Bukan urusanmu ibu pejabat... Kau tak ada hubungannya denganku ataupun urusanku. Paham?" Puji Victor bernada menyindir.


Melodi memutar bola matanya. Sudah sekali bicara dengan orang bebal lagi keras kepala seperti Victor. Apa doa bodoh atau idiot?


Andreas melihat ke arah Melodi, yang dia tau Victor hanyalah pasien yang pernah di urus Melodi, tapi kenapa sekarang terlihat seperti sudah laba kenal?


Andreas melihat ke arah Victor tajam. Dia tak suka jika ada lelaki lain yang lebih dekat dengan Melodi selain dirinya.


Andreas mengangkat tangannya, "Well, sekarang kau yang salah paham Dre... Aku tak ada hubungannya dengan wanita es ini, aku juga membencinya. Intinya kau bawa saja dia jauh dari sini karena sangat menganggu. Syuh syuh, aku banyak kerjaan." Usir Victor dengan tatapan acuh.


Andreas menggenggam tangan Melodi dan membawanya keluar, ada banyak hal yang mau di tanyakannya. Masalah Victor yang mau buat keributan pun di lupakannya.


Steve membuang muka muak, lebih baik dia pergi juga dari sini dari pada dia naik pitam. Dia harus bisa menjaga istrinya lebih protektif lagi.


Andreas membawa Melodi ke suatu tempat dan menyudutkannya, "Kamu kenal Victor di mana? Kenalnya gimana? gimana bisa kenal? Kamu pernah pacaran sama dia? Kamu.."


Andreas kehabisan kata kata. Dadanya naik turun menahan gejolak cemburu. Baru kali ini dia cemburu buta dalam hal pacaran seperti ini.


Melodi menghembuskan nafas berat, "Aku kenal sewaktu SMA, di jalan, aku gak ada apa apa sama dia. Udah kan? Ngak ada yang spesial." Jelas Melodi sangat singkat.


"Sayang..." Ucap Andreas lesu. Jawaban itu belum membuatnya puas.


Sekali lagi Melodi menghembuskan nafasnya. Namun kali ini dia lanjutkan dengan memeluk Andreas, ck. Sebelahnya ini bukan tipe Melodi. Tapi ini agar lelaki ini diam dan berhenti berceloteh, "Ngak sayang. Aku sama dia gak ada apa apa."


Andreas yang mendapatkan pelukan hangat sangat kaget, jarang dan sepertinya hampir tak pernah Melodi yang memeluknya deluan. Ini kejadian yang langka.


Andreas tersenyum dan membalas pelukan Melodi dengan erat, "Iya sayang... Maafin ya banyak nanya."


"Iya tak apa."