My Different Wife

My Different Wife
Kata hati



Hari ini Andreas mempersiapkan dirinya setampan mungkin untuk menjemput kekasihnya. Mereka hendak makan malam berdua.


Andreas sangat senang hari ini. Dia bahkan terus tersenyum dari tadi.


"Mau jumpa siapa?" Tanya seseorang membuat Andreas menoleh. Sedetik kemudian wajah Andreas menjadi datar dan dingin.


"Bukan urusanmu." Balas Andreas singkat.


Lelaki itu terkekeh dan merangkul Andreas, "Sinis amat astaga... Masih memikirkan yang terjadi tadi pagi hm? Ya ampun... Aku ngak mungkin lah mau rusak hubunganmu dengan dia, lagi pula Melodi itu bukan tipe ku, santai bro. Gak akan aku tekong."


"Diamlah Vic! Kau sangat menganggu!" Lontar Andreas pada Victor.


"Sejak kapan kau datang? Kenapa tak izin dulu sebelum masuk ke kamar ku? Dasar gak sopan." Komentar Andreas.


Victor mendelik, "Biasanya juga gini kok. Ah... Aku tau, lama lama Abang udah sama kaya si penyihir itu. Bawaannya sinisss mulu. Ckckc. Hati hati loh."


Andreas memutar bola matanya, "Terserah."


Victor menunjuk heboh, "Kan bener. Udah ketularan tuh."


"Udah lah. Aku mau pergi. Kau mau tetap di sini apa gimana?" Tanya Andreas.


"Yah mau pergi? Sia sia dong aku ke sini." Gerutu Victor.


"Rupanya mau ngapain? Penting?" Tanya Andreas balik.


Victor menggeleng, "Gak juga sih. Cuma gabut aja makanya ke sini. Eh gak deng, sebenarnya aku mau ajak Abang ke club. Lumayan hiburan."


"Gak bisa, ada hal yang lebih penting. Mending kau aja yang kesana sendirian." Tolak Andreas dan pergi meninggalkan Victor.


Victor berdecak kesal, rencana mau hiburan jadi malah makin bosen.


Andreas segera ke rumah Melodi. Saat tepat di depan pagar Andreas menelpon Melodi. "Sayang kamu di mana? Aku udah di depan."


"Sebentar aku datang." Jawab Melodi.


Melodi keluar rumah dan menjumpai Andreas yang tengah bermain ponsel, "Aku sudah siap." Ucap Melodi membuat Andreas menoleh. Segera senyum terbit dari bibir tebal Andreas.


Tampilan simpel tapi menawan yang di tampilkan Melodi. Dress biru selutut dengan tas hitam kecil yang di cantingnya sangat padu dengan polesan make up tipis membuat siapa saja akan terpana melihat Melodi.


Andreas berjalan ke arah Melodi dan berbisik, "Cantik."


Melodi tersenyum singkat, "Terimakasih."


Andreas menggandeng tangan pacarnya itu dan di tuntunnya masuk ke dalam mobil.


Tak ada pembahasan di dalam mobil, Melodi sendiri sibuk dengan ponselnya sambil terus mengotak-atik pesan kepada seseorang.


"Siapa?" Tanya Andreas memperhatikan Melodi yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.


"Ini, ada pasien yang konsultasi." Jawab Melodi.


Andreas memutar bola matanya, "Gak perlu di tanggapi lah. Kan udah gak jam kerja juga." Jelas Andreas.


Melodi tersenyum ringan, "Selagi bisa menolong orang kenapa harus di tunda." Tulus Melodi.


Andreas mengangguk, "Iya... Tapi bukan berarti kamu jadi gak punya waktu untuk diri kamu sendiri kan?"


Andreas mengambil hp Melodi dan mengantonginnya, "Aku yang bawa. Jangan membantah." Jelas lelaki itu.


Terpaksa Melodi mengikuti kalimatnya.


Sesampainya di rumah makan Andreas keluar deluan hendak membukakan pintu untuk Melodi nantinya, tapi Melodi terlalu mandiri untuk itu, Melodi sudah membuka pintunya dan keluar.


Lagi lagi sikap mau romantis jadi tak terwujud.


Andreas menggandeng tangan Melodi dan masuk ke dalam restoran.


Mereka memesan makanan dan saat masakan itu telah selesai maka di hidangkanlah makan yang mahal mahal itu.


Mereka makan malam dengan tenang dan setelahnya makan makanan penutup, mata Andreas tak berhenti melihat Melodi. Manis sekali seperti makanan penutup ini.


Rasanya sedikit kesal karena Melodi selalu tak bisa tersentuh olehnya, sulit untuk bermesraan dengan Melodi. Selain Melodi yang selalu menolaknya wajah Melodi juga sangat datar, Andreas tak bisa tau apa yang dipikirkan Melodi. Sungguh misterius.


"Sayang." Panggil Andreas membuat Melodi melihat ke Andreas.


"Pulang." Jawab Melodi singkat.


Andreas mengembuskan napas berat, "Udah? Cuma sampai sini aja kita berduaan?" Tanya Andreas dengan mata berbinar ingin agar pacarnya peka.


"Jadi kamu mau kemana?" Tanya Melodi balik.


"Ya udah kalau gitu. Kita pulang." Andreas mulai males.


Melodi mengangguk, dia juga mau pulang, cape rasanya seharian bekerja dan kalau malam ini terus di lanjutkan akan menghabiskan waktu istirahatnya.


Andreas mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan dan membayar semuanya.


Melodi meneguk minumannya yang ada tersisa sedikit sambil melihat ke kanan kiri.


Matanya terpaku pada suatu pemandangan. Pemandangan yang indah dan menyejukkan hati.


Kedua orang tuanya tertawa lepas saat anaknya melakukan hal lucu dan polos. Andai saja dia memiliki keluarga seindah itu.


Tapi di sisi lain Melodi kembali teringat akan kesusahan hidupnya dulu, sungguh menderita. Dia tak mau ada yang menderita hal yang sama yang dia rasakan dulu.


Melodi pun teringat pada Angkasa. Anak dari Steve dan Venus. Anak itu akan menderita seandainya kedua orang tuanya jadi bertengkar karena ulah Victor bukan?


Anak yang polos itu akan mengalami hal buruk nantinya jika Victor terus menerus mengganggu hubungan orang tuanya. Hal itu membuat Melodi menjadi iba, apa yang harus dia lakukan.


Tapi, memangnya kenapa dia harus perduli sama keluarga itu? Bukankah yang di katakan Victor ada benarnya, dia bukan siapa siapa dan tak perlu ikut campur.


Melodi menggelengkan kepalanya, "Seharusnya aku tak perlu perduli. Lebih baik aku urusi saja kehidupanku."


Melodi membuka hpnya sambil melihat lihat galeri foto. Melodi melihat foto seseorang yang paling berharga di sana, foto ibu panti asuhan yang selama ini merawatnya.


"Ibu pernah bilang hidup itu akan lebih berharga kalau kita berguna bagi orang lain,"


Terbesit di ingatan Melodi, dia bisa hidup juga karena pertolongan orang lain yang perduli padanya. Seharusnya dia pun berbuat hal yang sama untuk membuat orang lain merasa bahagia juga.


"Sayang, kamu lihat apa?" Panggil Andreas membuat Melodi tersadar.


Melodi menggeleng, "Bukan apa apa."


Andreas mengangguk, "Ya udah ayo pulang."


Melodi mengangguk tanda jawaban iya.


Andreas menggandeng tangan Melodi sampai mereka tepat di depan pintu mobil, "Sayang beneran kamu mau langsung pulang? Gimana kalau kita jalan jalan dulu?" Tanya Andreas lagi.


Melodi menaikkan wajahnya menatap Andreas, "Tadi katanya mau pulang juga, sekarang malah tanya lagi."


Andreas menghembuskan nafas berat, "Yang... Aku mau berduaan sama kamu malam ini. Udah ganteng gini masa cuma makan malam doang." Ungkap Andreas.


Melodi mengangguk, "Ya udah kita ke taman aja. Sekaligus lihat pemandangan." Jawab Melodi.


Andreas mengangguk pasrah. Pacarnya ini memang tidak bisa so sweet sama sekali. Kenapa harus ke taman? Kenapa ngak ke rumahnya saja biar lebih mesra?


Akhirnya mereka pun pergi ke taman dan memandang pemandangan di sana.


Melodi melihat ke arah bintang, terlihat sangat indah. Andreas melihat ke arah pandangan Melodi.


"Cantik." Kata Andreas.


Melodi mengangguk, "Iya."


Andreas menggeleng, "Bukan, bukan bintangnya."


Melodi mengerutkan keningnya dan melihat ke arah Andreas.


Andreas mendekatkan wajahnya ke Melodi dan berbisik di telinga Melodi, "Kamu yang cantik."


Melodi tersenyum kecil, "Iya Andreas..."


Andreas memeluk Melodi dan bergelayut manja, "I love you."


"Love you too."