
-Flashback-
"Halo Langit. Ibu sama Ayah hari ini gak bisa pulang ya sayang, ada kerjaan mendadak. Tapi ibu janji pagi pagi besok akan pulang sama Ayah. Bi Minah juga ibu suruh tinggal di rumah sampai kami balik ya sayang. Jaga diri baik-baik baik. Kalau ada apa apa telpon saja langsung ya... Love you."
Masih terlalu pagi untuk Langit mendapatkan telpon dari kedua orang tuanya mengenai hal yang memberatkan hatinya ini.
Mereka akan pergi untuk satu malam ini.
Langit menghembuskan nafasnya, "Love You too."
Tangan Langit kembali mengigil namun segera dia masukkan ke dalam kantong. Dia tak ingin membuat pengganggunya berbangga hati.
Sambungan telepon terputus, Langit melihat bi Minah dengan wajah datar, wanita ini memang baik dan pasti akan menjaganya dengan baik pula.
Sang bibi memeluk Langit dengan hangat. Namun itu tak membuat dinginnya keramaian malam ini menjadi hangat bukan?
-And Flashback-
Langit...
Seorang gadis dengan memiliki segudang kejadian yang ajaib.
Lahir dengan dengan keadaan prematur, berat badannya 1.900 gr dengan diagnosis asfiksia neonatorum membuat tubuh Langit begitu ringkih saat lahir dengan berbagai peralatan medis yang melekat pada dirinya dalam inkubator sebagai tempat dia bersemayam saat setelah lahir.
Pada saat dia berumur 7 tahun dia mengalami henti jantung atau dalam bahasa kasarnya mati suri. Setelah mendapatkan CPR sebagai pertolongan pertama dan kemudian di bantu oleh alat medis lainnya Langit dapat bertahan hidup.
Dan semenjak kejadian itu dia mendapatkan suatu keistimewaan yang tak bisa dia terima hingga sekarang, dia dapat melihat sosok tak kasat mata.
Sejak kecil Langit selalu menangis, matanya sulit untuk menutup karena selalu mendapatkan gangguan dari roh halus. Saat di bawa ke dokter mereka menyatakan bahwa Langit menderita Charles Bonnet Syndrome (CBS) yang menyebabkan dia selalu melihat hal aneh dalam imajinasi alam bawah sadarnya. Dengan penjelasan dokter itu membuat Victor dan Melodi terus menjaga Langit dalam keadaan buruknya itu.
Awalnya Langit mempercayai semua ungkapan yang di jelaskan oleh dokter dengan perantaraan ibunya itu, tapi semakin kesini dia mengetahui satu hal. Yang di deritanya ini bukanlah penyakit, melainkan suatu suatu hal relegius atau sering di sebut dengan indigo.
Langit selalu berusaha untuk menjauhkan diri dari mereka yang selalu mengajak dirinya untuk bermain bersama di tempat yang mengerikan, membawa Langit ke dalam suatu ketakutan yang teramat dalam hingga membuat tangannya mengigil setiap kali mendengar suara mereka. Sialnya mereka akan semakin berulah di malam hari dengan membawa teman teman mereka untuk menakuti Langit.
Hal yang bisa dia lakukan adalah meminum obat yang di berikan oleh dokter setiap kali penyakitnya itu kambuh, itu pun Langit meminumnya saat dia sungguh merasa ketakutan ini sangat menganggu, namun jika dia dapat mengatasinya dia akan menahan untuk tidak meminum obat pahit itu. Dia membencinya.
Itulah setiap hari kegiatan yang di lakukan Langit. Menahan diri untuk terus berani walaupun itu terlalu berat untuknya.
Namun ada hal yang aneh yang baru dia rasakan setelah dia menginjakkan kakinya menuju sekolah barunya ini. Itu membuat dia terkejut bukan main.
Saat menyentuh remaja yang di anggapnya bodoh ini para pengganggunya menghilang menjadi debu dan angin.
Angkasa
Apa yang ada di dalam dirinya?
Apakah dia memiliki keistimewaan juga?
"Ayo pacaran!" Ucapan lelaki lain yang tiba tiba merangkup pipinya yang sedikit cabi.
Semua kelas hening menunggu jawaban Langit yang masih berkutat dalam pikirannya terhadap Angkasa.
Langit melihat ke arah Angkasa, lelaki itu pun turut memperhatikan. Satu hal yang pasti, Langit harus membuat Angkasa selalu berada di dekatnya, tak perduli dia suka atau tidak. Dia membutuhkan Angkasa untuk melawan ketakutan yang dia alami sejak kecil ini.
"Aku menyukai Angkasa." Ucap Langit membuat Angkasa menganga.
Pasalnya wanita ini sedari tadi menghinanya dan tiba tiba mengatakan bahwa dia menyukai dirinya. Sangat tidak waras.
Angkasa menggeleng, "Aku tak akan pernah menyukaimu. Kau sangat menjijikan."
Angkasa kembali pada bukunya.
Langit menghela nafas panjang dan melepaskan tangan Angga, "Jangan menyentuhku." Tekan Langit membuat Angga terdiam. Kemudian lelaki itu kembali tersenyum, "Aku akan membuatmu mencintai Langit. Aku pastikan itu." Bisik Angga di telinga Langit sebelum dia akhirnya pergi meninggalkan Langit.
Langit menggeleng, yang satu itu mengganggunya saja.
Karena kejadian itu kelas masih saja terdiam. Mereka bahkan bingung dengan kejadian tembak menembak itu, seperti cinta segi tiga di antara mereka. Kemudian muncullah suara bisik bisik di antara mereka membicarakan mereka bertiga tadi.
Oh God, Angkasa membenci ini. Dia jadi topik gosip sekarang dan itu semua karena ulah Langit.
Angkasa memukul meja dan menatap tajam Langit tajam, "Luar biasa kau ini. Baru masuk hari kedua sudah membuat onar! Aku akan melaporkan mu ke kepala sekolah!"
Langit mengedikkan bahunya acuh, "Laporkan saja. Katakan aku menembakmu. Dan kau akan menjadi pusat perhatian baru di ruang guru selain di dalam kelas ini."
Ucapan Langit membuat Angkasa mengepalkan tangannya geram. Sial sekali gadis ini! Dia malah memainkan kata yang membuat Angkasa pun tak mungkin melakukan hal yang mau di lakukannya tadi.
Ck. Kurang ajar!
Jam pelajaran telah selesai dan bel sekolah pun berbunyi, semua murid kelas keluar untuk pulang ke rumah masing-masing atau mungkin berjalan jalan. Angkasa pun bangkit berdiri hendak meninggalkan kelas.
Sedikit melirik ke arah Langit yang masih diam di tempat duduk sambil membaca buku. Angkasa mengalihkan pandangannya ke arah lain, rasanya ilfil sekali dengan Langit yang terkesan begitu rendah sebagai wanita.
Angkasa pun pergi meninggalkan Langit.
Langit melihat kepergian Angkasa ketika lelaki itu pergi dari tempatnya. Dia tak tau bagaimana cara menaklukkan seseorang agar terus bersamanya, keuntungannya akan lebih besar jika bisa menaklukkan Angkasa bukan, ketakutannya akan hilang dan dia akan lebih mudah untuk bertahan dalam kondisi mentalnya.
Langit menghembuskan nafasnya.
Srett
Seorang segera duduk di sebelah Langit membuat Langit menoleh, "Hai, pulang bareng?" Kata orang tersebut.
Lelaki ini sangat menganggu Langit. Kenapa dia. Terus terusan menempel padanya? Ck.
Langit hanya diam dan tak menggubris Angga.
Angga yang merasa di anggurin pun mencolek pipi tembam Langit, "Kamu dengar? Ayo pulang sama." Angga semakin mendekatkan dirinya pada Langit dengan wajah cengengesan.
"Sekali lagi kau menentuhku akan ku pastikan kau mati," tekan Langit dengan nada mengancam. Namun terdengar sangat imut di telinga playboy cap kakap ini.
Ya ampun... Ini orang marah kenapa malah imut banget.
"Oh ayolah, ayo pulang sama..."
Langit segera memasukkan bukunya dalam tas dan pergi meninggalkan Angga.
Angga tersenyum miring, "Semakin kamu jauhi aku, aku akan semakin mendekati mu. Lihat saja."