My Different Wife

My Different Wife
Ketahuan



Victor tersenyum miring, "I got you..." Ucap lelaki itu saat mendapatkan alamat Venus yang dia inginkan setelah mengikuti wanita itu diam diam dari taman.


Victor sangat bahagia setelah melihat bahwa ada kemungkinan besar dirinya akan lebih meraja lela di dekat Venus.


Victor pun pulang dengan hasil yang lumayan. Setidaknya jalan jalan sore ini dia mendapatkan sesuatu yang baik.


Victor melihat ke arah jalanan yang padat akan manusia dengan kendaraan bermotor membuat dia mendengus kesal, dia pasti akan terkena macet nanti.


Tapi tak apalah.


Victor menuju motornya dan kemudian pergi menyusuri jalan raya padat.


Tak di sangka di perjalanan pulang dia melihat Melodi tengah berjalan santai ntah mau kemana.


Kebetulan sekali bukan?


Victor menepikan keretanya, "Mel!"


Melodi menoleh dan melihat Victor dengan wajah datar alanya.


Victor memarkirkan kendaraannya di dekat situ dan mengunci stang. Setelahnya mengejar Melodi yang berdiri menunggunya.


"Aku antar kau pulang. Sekaligus ada yang mau aku-"


"Tidak. Katakan saja sekarang." Tolak Melodi singkat padat dan jelas.


Ck. Apakah mulut wanita ini selalu di asahnya setiap hari? Kata katanya selalu saja menusuk dan pedas.


"Aku menemukan alamat Steve. Dan kali ini-"


"Dasar lamban. Aku bahkan sudah dapat info itu dari kemarin dan bahkan mengetahui tempat kerjanya."


Cela Melodi.


"Ck. Kalau gitu kenapa tidak langsung kau dekati." Kesal Victor.


"Kau bahkan belum mengurus mengenai perkuliahanku dan hal lainnya. Bagaimana aku bekerja tanpa di bayar?"


Skak mat!


Kata katanya kembali menekan.


"Sudah sudah ku urus. Kau bahkan Sudah bisa berkuliah besok." Jelas Victor.


"Apa buktinya?"


Victor memberikan Hp baru dan menunjukkan sesuatu pada Hp nya sendiri, "Ini hp barumu dan kartunya, jadi kita bisa terus berhubungan. Dan ini bukti pembayaran UKT perkuliahan mu beserta NIM yang membuktikan bahwa benar kau sudah bisa menjadi mahasiswa aktif." Jelas Victor.


Melodi mengangguk, "Hm." Dia menerima HP dan juga langsung pergi meninggalkan Victor.


"Heh mau ke mana?!" Panggil lelaki itu.


"Pulang. Sampai berjumpa besok." Ucap wanita itu dengan santai tanpa menoleh melihat ke arahnya.


Baik Victor, bersabarlah dan kini kau harus memikirkan rencana untuk besok saja. Tak perlu masukkan ke dalam hati perbuatan menyebalkan manusia yang satu itu. Tenang saja, intinya Venus akan menjadi milikmu.


***


Melodi memeluk gilingnya. Rasanya senang sekali bisa berkuliah besok,


"Kedokteran," gumam Melodi dengan senyuman.


"Aku akan menjadi dokter sukses. Aku pastikan itu terjadi." Yakin Melodi.


Melodi sekarang menutup matanya.


***


Steve tersenyum puas setelah mendapatkan pelepasannya. Venus begitu membuat dirinya terbang dalam segala hal yang di lakukannya.


Venus tersenyum dengan mata sayu yang menatapnya Steve yang ada di atasnya.


Steve memeluk Venus dan berbisik, "Enak banget sayang..."


Venus terkekeh singkat sambil mengelus rambut Steve yang mulai tertidur pulas, begitu pun Venus.


Segala pergumulan mereka membuat dia sendiri merasakan kelelahan yang sama.


Malam harinya setelah membersihkan diri mereka makan malam dengan tenang dan setelah makan malam Steve terus melihat Venus yang berada di sebelahnya. Steve mengelus perut Venus, "Jangan nakal sama ibumu hm? Cepatlah besar dan aku akan memberikanmu sesuatu yang hebat." Jelas Steve dengan ekspresi lucu.


Yang benar saja. Steve harus lebih banyak meluangkan waktu untuk berpuasa tidak berhubungan dengan Venus. Kadang terasa sedikit tersiksa, namun itulah anjuran dokter untuk kesehatan istri dan anaknya pada trimester pertama saat kehamilan.


Venus terkekeh geli dan mencubit pipi Steve, "Yang nakal itu Papanya tau."


Steve mengerucutkan bibirnya dan memeluk Venus, "No... I'm a good boy..." Steve malah memuji dirinya sendiri membuat Venus terkekeh.


Ah sudahlah,


Venus mengangguk, "Baiklah sayang. Aku akan tetap di rumah."


Steve mengangguk.


Venue bangkit berdiri dan menyiapkan bekal Steve, "Untuk hari ini dan seterusnya, aku akan menyediakan bekal untuk kamu. Biar kamu ngak makan diluar dan jadi sakit karenanya." Kata Venus.


Well, Steve tak mempermasalahkan itu. Malahan dia senang Venus bisa seperhatian ini padanya.


Setelah selesai Venus memberikan bekal itu dan juga tas Steve, "Semangat kerjanya sayang. Aku harap segala pekerjaan kamu semakin sukses dan maju." Venus menyemangati Steve.


Steve tersenyum lalu bangkit berdiri. Mengambil segala barangnya dan mencium pipi Venus, "Terimakasih istriku tercinta."


Venus tersenyum, "Sama sama sayang..."


Venus mengantar Steve ke depan pintu dan kemudian Steve pergi dengan mobilnya untuk pergi bekerja.


Venus kembali sendiri. Namun dia tetap bahagia.


Venus masuk ke dalam kamarnya dan memainkan hpnya. Tampaknya akan seru jika dia melakukan hal baru seperti membaca buku pembelajaran elektronik. Ya... Walaupun dia memang tak menyukainya. Setidaknya pembelajarannya akan berguna untuk kelanjutan studinya nanti setelah cuti kampusnya bukan?


Venus membaca perlahan buku dan kemudian semakin tertarik dan sesekali mencatat apa yang penting dalam buku catatannya.


Lama dia belajar tiba tiba terdengar suara hpnya yang berdering, Venus mengambil hpnya dan melihat ada pesan dari seseorang, bertuliskan, "Hai.. Steve milikku."


Venus menyerngitkan dahinya, "Ini pasti orang iseng." Kata Venus yakin. 


Kemudian hpnya bergetar lagi dan di lihatnya gambar Steve berpelukan dengan seseorang yang tidak dia kenal. Spontan Venus bangkit berdiri


Apa maksud dari foto ini?


Venus mencoba menelpon Steve tapi tak kunjung mendapatkan balasan dan membuat Venus semakin bertambah penasaran dan juga panik sekaligus kesal.


Apa benar Steve selingkuh?


Venus mencoba menenangkan dirinya.


Ah, tidak. Ini pasti unsur ketidaksengajaan dan pasti Steve akan menjelaskan ini setelah pulang nanti.


Venus kembali duduk dan mengangguk.


Venus kembali melanjutkan pembelajaran walaupun sedikit tidak konsentrasi, namun Venus tetap melanjutkannya.


Steve yang memeluk Melodi karena wanita itu tiba tiba tersandung di depannya, itu spontan di lakukan oleh setiap orang bukan.


Steve segera menjauhkan tubuh melodi menjauh dari padanya, "Kenapa kau begitu teledor. Dan untuk apa kau kesini?" Steve menatap wajah Melodi dengan tidak suka.


Sedangkan Victor sudah mendapatkan gambar mereka dan telah mengirimkan gambar itu pada Venus sebagai ucapan selamat pagi yang akan membuat Venus kalang kabut nantinya.


"Aku ingin berjumpa denganmu. Kau tau, aku kemarin itu bahkan belum sempat memperkenalkan diriku padamu dengan benar." Melodi mengulurkan tangannya, "Kenalkan aku Melodi- Hei!"


Steve segera meninggalkan Melodi kala wanita itu memperkenalkan dirinya pada Steve.


Melodi segera mengejar Steve dan menahan tangannya, "Hei, setidaknya perkenalkan diri dulu lah. Memangnya aku punya masalah apa dengan mu? Aku hanya ingin menjadi temanmu saja, apakah salah?"


"Tentu saja. Aku pria beristri. Tak perlu mendekatiku. Paham."


Deg!


Beristri?!


Melodi mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya emosi.


Victor! Bisa bisanya dia berbohong mengenai Steve!


Tanpa menunggu lama Melodi pergi meninggalkan Steve dan mencari keberadaan Victor.


Steve tak perduli dan masuk saja ke dalam kantornya. Dasar wanita aneh.


Melodi mencari Victor di tempat persembunyian Victor yang sebelumnya dia katakan,


Gotcha


Victor di temukan oleh Melodi. "Heh kurang ajar! Kau menyuruhku menjadi pelakor?! Udah gila kau ya!! Seharusnya aku menolaknya sejak awal! Aku-"


Victor menarik tangan Melodi dan memeluknya, "Thanks! Aku senang banget hari ini." Victor tak perduli apa yang di katakan Melodi tadi, bahkan dia tak mendengarkannya.


Melodi mendorong Victor, "Brengsek! Aku takkan mau lagi melakukan itu. Dasar gila!"


Melodi meninggalkan Victor dengan tatapan tajam dan menendang ************ lelaki itu,


Pakk


Victor meringis kesakitan, "F*uck!"


Menyesal sekali Melodi mempercayai lelaki itu. Seharusnya dia tau Steve takkan pernah melakukan hal bejat seperti yang di katakan Victor. Steve adalah orang baik, dan Victor pasti ingin mencelakakannya. Itu satu hal yang ada di mind set Melodi.