My Different Wife

My Different Wife
Sama Sama Berubah



Victor berjalan melalui koridor kampus dan mendapatkan Venus tengah bercengkrama dengan teman sekelasnya.


Jantung Victor berdebar kencang dan begitu bahagianya berjumpa dengan Venus. Dia sangat bahagia.


Victor berjalan ke arah Venus dengan seluruh mahasiswi mengarahkan pandangannya pada Victor.


Tentu saja, sangat jarang lelaki tampan dengan segudang pesona datang menghampiri mereka bukan?


Venus heran melihat Dini yang tersenyum melihat ke arah belakang Venus, Venus mengikuti arah pandangan Dini dan kemudian mendapati Victor berasa di belakangnya, "Pagi Venus."


Venus segera membalikkan badannya melihat Victor. "Kenapa?" Tanya Venus seakan lupa dengan kekesalannya pada Victor.


Hm. Venus hari ini merasa senang dan bahagia hari ini, ntah kenapa dia lupa akan kelakukan Victor yang menciumnya beberapa hari lalu.


"Venus. Apa kabar?" Tanya Viandro balik.


Venus terkekeh, "Aku yang nanya kamu malah nanya balik. Kenapa sih memangnya?"


Victor tersenyum melihat Venus yang tampaknya sudah melupakan kejadian yang membuat Venus marah besar itu.


"Em. Venus, ini malam Minggu kan? Gimana kalau kita jalan?" Ajak Victor antusias.


Venus berfikir sejenak kemudian menggeleng, "Hari ini aku mau bergadang ngerjai tugas. Gak bisa kemana mana."


Victor merenggut dan kemudian kembali tersenyum, "Kalau gitu pulang nanti aku yang anter ya?"


Lagi lagi Venus menggeleng, "Aku pulang bareng Steve Vic, dia akan segera menjemputku nanti." Jelas Venus.


Steve?


Kenapa si sialan itu selalu muncul huh?!


Sungguh menjengkelkan!


Victor tersenyum kecil terpaksa. Dia tak bisa terlalu menekankan Venus sekarang, itu sama saja membuat Venus akan semakin membencinya saja. "Okelah kalau begitu.."


Viktor hendak pergi kemudian kakinya terhenti saat melihat seseorang yang tampak tak asing. Itu ayahnya.


Untuk apa diam ada keperluan apa? Gany Victor dalam hatinya sendiri.


Sang ayah melihat Victor untuk kemudian dia berdiri di hadapan. Victor dengan tersenyum, "Nak. Apa kabarmu?"


Victor tersenyum singkat, "Baik pa." Kata Victor seperti biasanya. Datar.


Sangatlah tersenyum. "Nak. Semuanya sudah papa selesaikan. Semuanya hak yang kamu mau sudah papa pindah alih atas nama kamu. Gimana? Kamu senang kan?" Tanya Video sambil tersenyum miring. "terimakasih pa."


Sang ayah mengangguk dan kemudian tersenyum. "Baiklah papa tinggal dulu. Kamu belajarlah dengan baik hari ini. Pulang dari kantor kamu datang ya ke rumah papa. Ada yang mau papa sampaikan tapi tidak sekarang."


Victor mengangguk. "Baik yah." Kata Victor mengakhiri kalimatnya dengan sang ayah pun mengangguk tanda mengerti dan kemudian pergi.


Setelah itu Victor kembali melihat Venus yang kini melihat dirinya.


'Venus lihat saja. Aku akan memilikimu. Tidak ada yang lain yang cocok untukmu kecuali aku, kau jsri tau itu.' batin sambil tersenyum kecil licik.


"Aku luan ya." Pamit Victor sambil tersenyum kecil.


Venus dan Dini mengangguk terkhusus Dini yang mengangguk antusias.


Victor pergi meninggalkan mereka dengan berbagai ide gila yang akan di buatnya nanti untuk mendapatkan Venus seutuhnya.


***


Victor dengan mengendarai moge dengan kecepatan sedang melintasi jalan raya yang sepi dengan kendaraan yang melintas di sana.


Lampu lalu lintas yang berwarna hijau membuat semua kendaraan melaju dengan santainya tanpa ada gangguan. Saat Victor tengah melaju ada seseorang dengan menggunakan celana selutut dan Woody coklat melintasinya hingga Victor mengerem keretanya spontan membuat dia tergelincir dan berakhir pada jatuh di aspal.


Victor mengumpat dan kemudian bangkit berdiri dengan cepat menarik tangan orang itu.


Ntahlah dia laki laki apa perempuan. Matanya terlihat seperti mata elang Sans sangat padu dengan alisnya yang tebal. Wajahnya tampan namun kadang bisa terlihat cantik seperti wanita.


Namun karena memakai Woody yang kebesaran dadanya tak terlihat seperti wanita dan juga tadi langkah berjalannya sama sekali tak feminim. Victor tak yakin buang di hadapannya adalah wanita.


"Hei kau! Kenapa kau melintasi jalan sembarang?! Kau harus tanggung jawab. Dan lihatlah, kenapa kau dengan santai malah pergi huh? Merasa hebat?!" Tekan Victor dengan tatapan mengintimidasi.


Dia tersenyum miring dan menunduk dengan penutup woodynya semakin di surukkannya ke depan. "Maaf." Kata sedatar mungkin namun tersenyum miring seperti meledeknya.


Victor mencengkram lebih erat lengannya dan kemudian mendorong dia, "Apa maksudmu?! Kau menghinaku?!"


Dia melepaskan tangan Victor, "Tak usah banyak bicara. Jika kau mau melaporkanku ya laporkan saja. Kantor polisi ada di sana, lebih baik kita langsung saja ke sana." Kata wanita itu sambil berjalan santai menuju kantor polisi.


Victor kembali bingung di buatnya. "Hei!"


Srekk, brumm


Terdengar suara dari belakang dan terlihat kereta Victor telah di larikan oleh orang lain membuat dia terbelalak. "Woy!!"


Victor menjambak rambut kesal. Bukan karena dia tak mampu untuk membeli motor lagi, hanya saja itu masih sangat baru dan masih sangat di sayang sayang oleh Victor.


Victor menoleh ke belakang melihat Wanita yang baru saja mau di tabraknya tadi.


Victor di buat dua kali terbelalak akan kejadian yang mengejutkan.


"Kemana dia?!" Jerit Victor saat tak mendapati wujud wanita itu.


Victor menepuk jidatnya dan baru menyadari apa yang terjadi. Ini pasti kasus pencurian dengan modus kecelakaan bukan?


Ini sudah di seting oleh wanita biru dengan kawanannya dan sekarang mereka menang.


"F*UCK!" Umpat Victor dengan emosi yang meledak meledak.


Dia terpaksa menggunakan ojek online untuk pulang. "Lihat saja, jika aku kembali melihatnya aku akan membunuhnya, tak perduli siapapun dia. Dia harus bertanggung jawab." Tekan Victor.


***


Venus berada di dalam mobil bersama Steve, "Kamu nggak mau beli sesuatu Venus?" Tanya Steve sambil tetap mengendarai mobilnya dengan kecepatan konstan.


Venus menggeleng, "Gak deh. Aku mau langsung pulang aja."


Steve mengangguk.


Venus melirik ke arah Steve. Ingatannya dulu mengenai kematiannya makin ke mari makin berubah. Steve tampak sangat berbeda dari Steve yang di kenalnya dulu. Steve yang dulu tak pernah menyayanginya kini bahkan sangat perduli dan juga sangat memanjakannya.


Venus kembali melihat ke arah depan dan tersenyum. Apakah hidupnya kini sudah berubah? Apakah ada akhir bahagia yang terjadi mulai hari ini sampai mereka tua nanti?


"Cantik." Kata Steve tiba tiba membuat Venus menoleh ke arahnya dan berhenti tersenyum.


"Huh?" Tanya Venus bingung. Cantik? Apa maksudnya kepadanya? Apa mungkin Steve memujinya?


Venus melihat ke arah luar jendela mobil mana tau menemukan hal cantik yang di katakan Steve tadi.


"Yang mana Steve?" Venus celingak-celinguk melihat jendelanya dan juga kaca mobil depannya.


"Kamu cantik kalau tersenyum. Aku menyukainya." Steve tersenyum memandangi Venus dan kembali melihat ke depan.


Jelas saja kalimat itu membuat jantungnya berdegup kencang. Steve memujinya.


Venus tersipu malu dan terkekeh, "Belajar gombal dari mana kamu?"


Steve terkekeh, "Siapa yang gombal. Kamu memang cantik, tapi..." Steve menjeda kalimatnya dan menciut kanĀ  jari telunjuk dan jempolnya seperti menunjukkan semakin sedikit, "Kalau merengut cantiknya jadi berkurang."


Venus tersenyum, "Terus kalau aku makin jelek. Ya udah cari wanita lain aja yang sering tersenyum. Pasti mereka lebih cantik."


Steve menggeleng, "Tentu tidak. Secantik apapun mereka, tapi kamu tetap yang terindah bagi aku. Dan tidak ada yang lain selain kamu."


Steve tersenyum kecil dan mengenggam tangan Venus, "I love you." Kata Steve sambil mengangkat tangan Venus di angkat Steve dan mengecup punggung tangannya.


Venus tersenyum.


"Aw aw..." Pekik Steve sesaat setelah Venus langsung menyambar pipinya dengan cubitan. "Rasain. Dasar tukang gombal." Kekeh Venus.


Steve mengelus pipinya, "Sakit.." Steve mengadu. Padahal rasanya tak sesakit itu.


Venus yang terkekeh jadi merasa kasihan dan menghentikan tawanya, "Sakit banget ya."


Steve mengangguk,


Venus mengelus pipi Steve, "Maaf ya Steve."


Steve tersenyum mendapatkan perhatian itu. Dan mengangguk, "Iya... aku gak apa sayang."


Venus tersenyum sambil tetap mengelus pipi Steve.