
Percayalah. Beberapa hari ini terasa begitu berat bagi Victor. Dia selalu melihat Venus namun Venus sama sekali tak melihatnya. Lihatlah bagaimana sekarang Venus tampak begitu bahagia berangkat bersama Steve. Sungguh lelaki itu membuat semua kebahagiaan dan cinta Venus menjadi terhalang darinya.
Brengsek!
Tep
Victor menahan tangan Venus saat berjalan menuju kantin. "Venus, kita perlu bicara." Kata Victor.
Venus mengerutkan keningnya dan kemudian melepaskan tangan Victor. "Baiklah, katakan saja sekarang." Jawab Venus.
Victor menghela nafas panjang kemudian menarik tangan Venus ke tempat yang sedikit sepi.
Victor memeluk Venus yang sudah lama di dambakannya. "Aku merindukanmu sayang... Sungguh aku merindukanmu. Kau tau beberapa malam ku terasa begitu berat tanpamu. Kamu tak pernah menghubungiku. Bahkan sama sekali tak berjumpa denganku di kampus. Apa kamu tidak rindu padaku hm?"
Keluh Victor.
Victor melihat wajah Venus.
D*amn!
Kenapa wanita ini selalu saja membuatnya merasa ingin lebih dari pada pelukan. Dia ingin mencium dan melum*at bibirnya dan membawanya di bawah kungkungannya.
Venus melepaskan pelukannya seketika membuat Victor kecewa.
"Maafkan aku Victor. Sebelumnya aku sangat berterima kasih padamu, akan semua kebaikan dan pengertian kamu padaku. Namun ada satu hal yang perlu kamu ketahui dan ingat, aku sudah menikah Victor, aku tidak bisa sebebas dulu." Venus menunduk dan kemudian menatap Victor, "Aku sepertinya sudah menerima Steve sebagai suamiku. Segalanya telah berubah dan kini terasa lebih baik. Aku-"
Victor menutup mulut Venus dengan tangannya, "Jangan katakan Venus jika kamu bahagia dengannya. Itu hanya tipu muslihat. Bagaimana kamu bisa mempercayainya? Bukankah dia sendiri yang terlebih dahulu selingkuh dengan wanita lain selama pertunangan kalian, bagaimana bisa dia berubah dan meninggalkan wanita buang di cintainya itu dalam beberapa waktu singkat. Itu sangat di luar logika."
Victor memegang kedua bahu Venus dengan tatapan tajam, "Dia itu bukan mencintaimu Venus. Dia hanya sekedar pemasaran dan tidak lebih dari itu. Kamu harus ingat bagaimana dia selalu saja mencoba menjauh dari kamu dan bahkan berbicara sangat tajam seakan akan kamu adalah orang asing baginya."
"Sayang... Itu hanya sementara saja. Dia akan bisa dan meninggalkan kamu dengan mudah nantinya. Percayalah padaku karena aku adalah pria sama dengannya. Aku tau bagaimana cara dia berfikir." Jelas Victor menjelaskan bagaimana pola pikirnya terhadap Steve.
Venus menunduk membuat Victor tersenyum merasa kemenangan. Tampaknya Venus mempercayainya.
Victor menarik Venus dalam pelukannya, "Aku dan cuma aku yang paling mengerti kamu Venus. Bukan dia yang selama ini meninggalkan kamu. Jadi percayalah pada-"
"Victor." Potong Venus dan melepaskan pelukannya, "Jangan katakan itu. Setiap orang pernah mengalami dilema percintaan, tapi memiliki cara yang berbeda pula dalam menangani segalanya. Jadi jangan samakan dia dengan pola pikir kamu. Aku yakin Steve sudah berubah. Aku yang merasakannya Vic, dia berubah sebagaimana kami berdua sama sama berubah." Kata Venus membuat hati Victor seakan terbakar.
Bagaimana Venus membela dan membanggakan Steve membuat dia geram dan dongkol. "Apa yang kamu pikirkan Venus? Kamu tak mempercayaiku lagi? Apakah kamu lupa segalanya karena dia?"
Victor terkekeh menyedihkan, "Wah... Venus sekarang sudah sangat mencintai suaminya hingga kini melupakan seseorang yang lebih menyayanginya. Dia lupa bagaimana suaminya itu begitu pahit padanya hanya karena beberapa tindakan manis suaminya lakukan padanya dalam beberapa hari."
Victor menatap tajam Venus, "Kamu akan menyesal Venus. Dia bukan seseorang yang bisa kau gantungan hati dan perasaan cintamu. Lihatlah nanti, dia akan menyakitimu lebih dari pada apapun hingga kamu akan merasakan neraka dalam rumah tanggamu sendiri."
Victor melepaskan pandangannya dan melihat ke arah lain, "Baiklah cukup itu saja. Aku sudah mengerti."
Victor mendengus dan menatap Venus dengan sungguh, "Tapi percayalah padaku, hanya aku yang paling mengerti kamu. Tidak ada yang lain." Victor meninggalkan Venus sendiri.
Lelaki itu memang kecewa dengan apa yang di katakan Venus. Namun dia yakin, beberapa hari kedepan Venus akan kembali padanya. Lihat saja.
***
Steve melihat ke arah Venus yang sedari tadi tidak bicara, "Apa ada masalah di kampus sayang? Kenapa raut wajah kamu sangat tak bersemangat?"
Venus menggeleng dan tersenyum, "Tidak ada apapun Steve. Aku hanya kesal dengan tugas yang bertubi tubi datang padaku." Kekeh Venus dengan pikiran bercabang.
Apakah benar apa yang di katakan Victor? Apakah semua pria berfikir dan seperti yang di katakan Victor?
Venus menggeleng, tidak. Victor pasti salah. Steve itu sungguh berubah bukan? Kenapa dia harus takut?
"Sampai." Kata Steve saat sudah memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Dan lihatlah Venus kembali melamun.
Steve menatap Venus dengan bingung, "Apa yang terjadi sayang? Sepertinya lebih rumit di bandingkan tugas kampus." Kata Steve sambil memeluk Venus.
Venus menggeleng dan kembali tersenyum, "T-tidak ada apapun Steve. Hanya masalah tugas doang kok."
Steve menatap Venus menelisik, "Sungguh?"
Venus mengangguk, "Tentu."
"Hm. Baiklah. Bagaimana jika kita makan malam nanti makan di luar?" Tawar Steve dengan senyuman hangat.
Venus mengangguk membuat Steve senang, "Baiklah." Dan terus memandangi wajah Venus dengan senyuman. Ntahlah, menatap Venus sungguh menjadi candunya setiap saat.
Venus terkekeh, "Apakah kita akan terus seperti ini? Berpelukan sepanjang hari seperti Teletubbies?" Ledek Venus membuat Steve jadi malu.
"Aku menyukainya Venus. Dan... Jika aku menciummu sepertinya lebih menyenangkan." Steve tersenyum nakal membuat Venus membelalakkan matanya.
Cup
Steve mencium bibir Venus singkat dan tersenyum, "Manis seperti orangnya."
Blush
Venus terkejut dengan pipinya kini merona. Steve terkekeh gemas melihat Venus, "Jangan menggodaku sayang."
Cup
Steve kembali mencium bibirnya dan kali ini tidak sesingkat yang pertama. Steve lebih memperdalam ciumannya dan meresapi setiap sentuhan yang memberikan sensasi bergejolak dalam dadanya.
Hanya Venus yang membuatnya bertingkah laku seperti bukan dirinya. Mampu membuat dirinya seperti berada di rollercoaster dalam sekali sentuhan maupun perhatian.
Tak tau mengapa dan bagaimana bisa dirinya seperti ini. Namun yang Steve tau semua bermula dari hatinya.
Steve melepaskan ciumannya dan menatap wajah Venus dengan matanya perlahan terbuka, "Jangan pernah tinggalkan aku Venus. Aku takkan bisa hidup tanpamu."
Steve memeluk Venus.
Venus tersenyum kecil dan membalas pelukan Steve.
Mereka tampak sangat bahagia.
Di sisi lain Victor duduk di kursi belajarnya. Dia melihat gambar Venus yang di pajangnya tepat di hadapannya sekarang, "Apa yang membuatmu mencintai lelaki menjijikan itu huh?" Victor memutar anak panah kecil di tangannya kemudian melemparkannya ke sebelahnya.
Syut
Tep
Tepat menusuk kepala Steve pada gambar lainnya di sebelahnya.
Victor menatap tajam gambar Steve dan tersenyum miring. "Aku takkan kalah semudah itu bodoh. Kau bermain main dengan orang yang salah."