
Victor masih mencoba menelaah apa yang di katakan Melodi, "Kamu gak cinta sama dia?"
Melodi mengangguk dan melipat kedua tangannya di dada.
"Terus kenapa bisa pacaran?" Tanya Victor lagi.
Melodi menghembuskan nafas panjang, "Aku tak terlalu paham mengenai cinta dan pacaran, dan Andreas datang. Dia selalu berusaha meyakinkanku dia juga melakukan berbagai hal yang kadang membuatku salut padanya. Dia juga bilang dia akan berubah menjadi lelaki yang lebih baik dan bertanggung jawab, semenjak itu aku menerimanya jadi pacarku."
Victor ternganga, "Jadi, kamu sama sekali tak mencintainya bahkan sekecil apapun? Kalian sudah pacaran cukup lama, tidak mungkin kamu tak merasakan apapun bukan?"
Melodi mengangguk, "Aku merasa nyaman dekatnya. Dan juga menyukai sikapnya yang selalu baik padaku. Namun menurutku itu bukanlah cinta, tapi hanya sekedar suka."
Melodi menyandarkan tubuhnya di sofa dan menatap langit langit, "Ada sedikit rasa kecewa saat aku melihatnya berselingkuh, aku pikir dulu dia sungguh berubah menjadi lelaki yang baik, tapi aku salah."
Melodi menghembuskan nafasnya dan melihat Victor, "Untuk apa bukan mempertahankan cinta orang seperti itu. aku pun yakin dia bukan mencintaiku, hanya sekedar penasaran. Mending langsung putus saja." Jelas Melodi dengan santai dan lagi lagi membuat Victor ternganga.
"terus, kenapa waktu lihat Andreas selingkuh kamu langsung ke Bar? Itu karena emosi cemburu kan?"
Melodi menggeleng, "Aku banyak pikiran pekerjaan, di tambah lagi dengan perjanjian pembayaran hutang, itu semua buat aku kesal. Kata orang minum minuman keras bisa membuat pikiran lebih tenang, makanya aku mencobanya."
Victor menggeleng tak percaya. Pikiran Melodi sungguh tak terjangkau olehnya,
"Intinya aku tidak mencintainya," sambung Melodi lagi.
Victor tersenyum kecil, rasanya dia senang sekali mendengar pengakuan Melodi bahwa ternyata dia tidak mencintai Andreas.
Melodi menoleh ke arah Victor, "Kau ngak pulang. Sudah jam segini." Melodi mengingatkan Victor.
"Oh iya, sampai lupa pulang."
Melodi menggeleng melihat tingkah laku Victor yang selalu saja aneh bin ajaib.
***
Hari ini seperti biasa Victor bekerja di kantornya. Bekerja dengan propesional dan kemudian pulang tepat pukul 5 sore. Dia sama sekali tak merasa lelah dan malahan sesampainya di rumah Victor masih sanggup mengerjakan beberapa tugas lain.
Malam Minggu ini ntah apa yang membuat Victor ingin mengajak Melodi jalan jalan. Gak tau mau ke mana intinya dia mau berduaan dengan Melodi.
Victor menelpon Melodi, "Mel, kamu di rumah?"
"Iya, kenapa?"
"Jalan yuk. Bosan di rumah," ajak Victor.
"Mau ke mana?"
"Gak tau sih mau kemana. Pingin keluar rumah aja, sumpek di rumah mulu. Temenin lah," bujuk Victor.
Melodi berfikir sejenak, dia juga bosan di rumah, "Ya udah."
Victor tersenyum sumringah mendapatkan jawaban iya Melodi. "Aku segera ke sana, tunggu sebentar," Victor segera mengganti pakaiannya dan keluar rumah untuk menjemput Melodi.
Victor mengetuk pintu rumah Melodi dan kemudian keluar lah Melodi dengan terlihat begitu manis membuat Victor terpukau.
"Ya udah ayo." Kata Melodi membuat Victor tersadar.
"Oy ya, ayo."
Mereka pergi mengelilingi kota. Makan makanan pinggir jalan dan tertawa ria bersama.
Sangat bahagia.
Melodi terlihat sangat senang dan terhibur untuk malam ini. Dan sampai akhirnya mereka pun pulang, Victor mengantar Melodi pulang dan sekarang mereka sudah sampai di depan rumah.
"Makasih ya buat malam ini." Kata Melodi.
Victor terkekeh, "Aku yang seharusnya berterima ke kamu. Kamu udah mau nemenin aku."
Melodi tersenyum, "Baiklah. Good night Victor," Melodi hendak keluar mobil namun Victor menahannya.
"Hm?"
Victor menunduk dan kemudian menatap Melodi dan tersenyum, "Mel, kamu tau gak, aku sangat amat teramat bersyukur bisa mengenalmu."
Victor menggenggam tangan Melodi, "Kamu adalah anugrah terindah yang di berikan Tuhan padaku. Dan aku sangat bahagia."
Melodi mendengar itu membuatnya tersenyum dan mengacak rambutnya, "Aku juga bersyukur punya teman sepertimu. Orang yang selalu pengertian dan baik. Walaupun kadang mengesalkan."
Victor terkekeh dan menarik Melodi dalam pelukannya, memeluk wanita itu erat erat. Melodi menerima pelukan itu dan membalasnya.
Apakah ini yang di katakan es kutub mencair? Pikir Victor dengan senyuman miring. Lagi lagi dia berfikir seperti orang bodoh, dan anehnya dia jadi seperti setiap kali bersama Melodi.
Melodi menepuk bahu Victor dan tersenyum, "Jangan lama lama. Aku sesak," Sindir Melodi dan di jawab dengan kekehan oleh Victor.
Gak lama kemudian hp Melodi bergetar, tertulis nama yang membuat dia terkejut, "Iya kak, ada apa?"
Bu Harri, bisanya ibu tersebut selalu menelponnya jika ada pekerjaan yang darurat terutama jika malam.
Terdengar suara riuh di sana, "Mel banyak pasien yang datang. Mereka kecelakaan pesawat dan kamu harus segera datang."
Wajah pucat pasih Melodi membuat Victor panik, "Ada apa?"
Melodi menoleh ke arah Victor, "Ada kecelakaan pesawat, dan mereka semuanya di bawa ke rumah sakit tempat ku kerja."
Victor mengangguk, "Baiklah, aku akan mengantarmu sampai ke rumah sakit."
Victor segera menghidupkan kembali mesin mobilnya dan segera berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Melodi segara masuk ke dalam sedangkan Victor menunggu di ruang tunggu.
Di sini begitu ramai keluarga yang datang dan di lingkup tangis dan ratapan. Terdengar sangat pilu.
Victor memilih untuk beralih ke ruangan lain, dia merasa menjadi orang yang paling tak bermanfaat jika dia ada di ruangan ini.
Brukk
Victor menabarak seseorang tak sengaja, "Maaf maaf," kata Victor dan kemudian melihat ke arah wanita yang di tabraknya.
Mereka sama sama terkejut.
"Venus?" Kata Victor membuat suasana semakin bertambah panik.
"Victor... Apa kau melihat suamiku? Di mana dia? Hu hu hu..." Tangis Venus pecah takut terjadi apa apa dengan suaminya.
Kemarin adalah kepulangan Steve ke Indonesia. Namun dalam perjalanan terjadi kecelakaan yang tak di sangka saat tepat di tengah perjalanan.
Pesawat itu terjatuh dan semua orang yang selamat dan yang tak selamat di bawa ke rumah sakit ini.
Jantung Victor berdegup kencang, napasnya tercekat membayangkan salah satu korban dari kecelakaan ini adalah Steve.
"A-aku tidak tau."
Venus segera melewati Victor dan mencari keberadaan suaminya.
Victor tak langsung pulang dan menunggu sampai Melodi meyelesaikan semuanya.
Lama menunggu Victor tertidur dan bermimpi aneh. Dia bermimpi melihat Steve, lelaki itu tengah bermain bersama anak dan istrinya sedangkan Victor hanya berdiri jauh dari posisi mereka.
Steve menoleh ke arahnya dan kemudian berjalan ke arah Victor,
Steve menepuk bahu Steve dan matanya tengah berlinang air mata menatap Victor, "Victor, maafkan aku yang selama ini membencimu. Tapi ku mohon jagalah mereka. Aku sangat mencintai mereka."
Deg!
Victor segera terbangun dengan nafas memburu. "Tidak, itu hanya mimpi. Itu hanya mimpi." Victor menutup wajahnya dan mencoba mengontrol dirinya.