
Victor membuka matanya. Senyuman kecil terlukis di wajahnya saat melihat Melodi yang masih tertidur di pelukannya.
Rasanya sangat panas dan nikmat malam itu. ******* Melodi begitu mempesona bahkan liuk tubuh Melodi membuatnya menggila hingga Victor tak mau berhenti melakukannya kemarin.
Ya walaupun di awal tadi terasa sangat kesal karena Melodi terus saja mencari alasan agar mengulur waktu, mulai dari menyuruh mandi, makan bahkan minum susu di malam hari.
Astaga, memang ada-ada saja.
Tapi itu malah membuat Victor semakin bertenaga dan berenergi bukan? Haha, Melodi salah taktik.
Victor mengelus rambut Melodi dan turun ke lehernya perlahan sampai pinggang Melodi. Lelaki itu tersenyum dan menarik Melodi melekatkan tubuhnya dengan Melodi.
Melodi merenggangkan kedua tangannya dan melenguh baru bangun tidur. Rasanya lelah sekali kemarin malam.
Victor terkekeh, pemandangan Melodi di pagi hari sangat menggemaskan dan menggoda tentunya.
Victor mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya lembut, membuat Melodi merasa malu dan menutup wajahnya.
Victor terkekeh dan memeluk wanitanya itu dengan hangat, "Melodi aku sangat mencintaimu."
Melodi tersenyum, "Aku juga sangat mencintaimu."
***Beberapa tahun kemudian
Steve kini sungguh sehat total dan dapat melakukan aktivitas seperti biasanya setelah dulu sempat di rawat sampai 1 tahun lebih di rumah sakit.
Pagi ini Steve akan melakukan pekerjaannya seperti biasa.
"Jangan terlalu kecapean Steve, jaga kesehatan." Venus mengingatkan.
Steve tersenyum dan mengangguk, "Iya sayang."
Lelaki itu mencium bibir istrinya selama beberapa detik, sampai sebuah batuk menghentikan aktivitas mereka, "Dad cepatlah. Angkasa bisa terlambat." Kesal Angkasa dengan wajah dinginnya.
Steve terkekeh singkat dan mencubit pipi anaknya itu, "Dasar kau anak menyebalkan. Ayo berangkat."
Angkasa meringis dan melepaskan cubitan di pipinya, "Dad. Angkasa bukan anak anak lagi." Kesal Angkasa.
Angkasa tak mau di pandang menjadi anak anak sekarang. Walaupun dia baru umur 12 tahun tapi dia merasa dia sudah cukup umur untuk menjadi serius.
Venus terkekeh dan mengusap pipi anaknya lembut, "Baiklah, hari hati si jalan ya, jangan lupa makan bekalnya." Kata Venus dengan perhatian.
Angkasa mengangguk, "Iya mom."
Mereka pun berangkat meninggalkan Venus yang berkutat dengan urusan rumah tangga.
Yang pertama kali Steve lakukan adalah mengantarkan anaknya sampai ke sekolah dengan aman.
Citt
Steve mengentikan mobilnya saat tepat di depan sekolah Angkasa, Angkasa melepaskan sabuk pengamannya dan menyalam ayahnya, "Angkasa berangkat."
Steve mengangguk, "Belajar yang bener."
"Iya dad."
Lelaki muda itu pun masuk ke dalam kelasnya yang tergolong masih sepi. Angkasa memang selalu datang pagi pagi sekali karena dia sangat tak suka dengan keterlambatan.
Angkasa keluar ruangan kelasnya hendak kekamar kecil untuk buang air kecil dan setelahnya dia pergi ke perpustakaan yang masih kosong tentunya.
Angkasa tak suka keramaian, karena itu membuat telinganya sakit mendengar pembicaraan orang yang sangat tak bermanfaat.
Angkasa duduk di kursi dengan tenang dan membaca buku fisika kesukaannya.
Angkasa pun membuka buku catatan kecilnya yang ada di kantong untuk menjawab pertanyaan yang ada, hitung hitung dia sedang gabut.
Beberapa soal dapat di kerjakan olehnya, tapi ada satu soal yang tak bisa di pecahkannya. Angkasa pun bangkit berdiri untuk mengambil buku lainnya untuk menjawab pertanyaan itu.
Saat kembali ke kursinya Angkasa melihat seorang. Bertubuh kecil dengan wajah datarnya melihat ke depan dengan kosong.
Angkasa tak memperdulikan dia dan kembali pada bukunya itu,
"7 m/s," kata anak itu tanpa melihat Angkasa membuat Angkasa menatap tajam anak itu. Apakah maksudnya jawaban ini?
Angkasa tak memperdulikannya dan kembali pada bukunya.
Beberapa menit mengerjakan dan Angkasa membelalakkan matanya,
7 m/s, dia benar.
Bagaimana dia dapat menjawab pertanyaan ini?
Dan lihatlah, dia bahkan masih tak melihat Angkasa sekalipun sudah menjawab pertanyaan Angkasa tanpa di minta.
"Bagaimana kau tau?" Tanya Angkasa penasaran.
Anak itu melihat Angkasa dengan tatapan sangat dinginnya, "Kau sangat bodoh."
Deg!
Angkasa mengeraskan rahangnya mendengar ucapan sialan anak kecil satu ini.
Heh! Apa dia tak sadar tengah berbicara dengan siapa huh? Angkasa! Anak pemenang olimpiade fisika yang mengharumkan nama sekolah di kanca nasional!
Anak itu mengalihkan pandangannya dan pergi begitu saja.
"Hei kau!" Panggil Angkasa tanpa di perdulikan anak itu.
Ish, menyebalkan sekali!
Angkasa tak mau ambil pusing. Itu palingan juga cuma keberuntungan saja, tidak lebih. Sudahlah, biarkan anak aneh itu pergi.
Lama berlalu di perpustakaan jam pun menunjukkan pukul 7.25, sebentar lagi masuk. Angkasa memilih untuk menyudahi pembelajarannya dan masuk ke dalam kelas.
Lelaki itu duduk dengan tenang dengan banyak sorot mata memandangnya kagum, terutama kaum hawa.
Belum lama Angkasa duduk guru pun masuk ke dalam kelas, membuat kelas yang tadinya ricuh menjadi diam seketika.
Ketua kelas menyiapkan para siswa untuk memberi salam dan juga dia pembuka. Setelahnya duduk kembali di kursi.
"Baik anak anak, ibu akan memperkenalkan teman baru untuk kalian, namanya Langit. Langit silahkan masuk,"
Hal itu membuat kelas semakin ricuh karena penasaran, namun tidak untuk Angkasa, dia hanya diam sambil terus menyelidiki agar dia tak menjadi saingannya nanti.
Mata Angkasa terbelalak melihat anak cebol itu masuk ke dalam kelas. Huh? Dia murid barunya?!
Angkasa kembali memasang wajah datarnya, sepertinya hari hari kedelapannya akan terasa sulit.
***
"Langit! Makan malam sudah selesai!" Panggil sang Ibu pada anak semata wayangnya itu.
Langit mendengus kesal, "Ibu aku sudah di sini."
Wanita paruh baya itu terdiam dan kemudian menahan tawanya, "Maafkan ibu sayang, kamu terlalu imut makanya ibu tak melihatmu."
Langit hanya diam tak menjawab lagi.
Sang ayah yang baru datang dari kantor pun segera memeluk istrinya itu, "Malam sayang. Oh ya, Langit mana?"
Sudah Langit duga, ayahnya pun tak melihatnya.
Segera istrinya menyikut suaminya itu dan menunjuk Langit dengan dagunya.
"Ah, sayang... Ayah terlalu lelah tadi. Jadi agak rabun."
Alasan.
"Langit lapar Bu," sambung Langit tak mau ambil pusing.
Sang ibu segera memberikan Langit makan malam, "Ini sayang. Tambah kalau mau tambah ya... Masih banyak makanan di sini."
Langit mengangguk.
Sang ayah pun duduk di sebelah Langit, dia bangga sekali memiliki anak seperti Langit. Anak yang sangat jenius sejak lahir hingga dia menjadi anak akselerasi dan lompat kelas beberapa kali. Mungkin ini keturunan dari ibunya yang juga merupakan wanita yang pintar dan juga keturunan dari kecerdikan ayahnya ini.
"Bagaimana sekolah mu nak?"
Langit mengentikan memakan makanannya sebentar, kemudian dia mulai berbicara, "Mereka semua bodoh."
Victor tertawa mendengar penuturan bidadari kecilnya itu, "Itu baru anak Ayah."
Sedangkan istrinya, Melodi, menjewer Victor dengan emosi, "Kenapa malah di puji hm?" Mendapatkan pelototan Melodi Victor langsung kicep dan mengusap usap telinganya tak berdaya.
"Sayang, kamu harus bisa bersosialisasi ya. Harus bisa membaur sama teman teman. Gak boleh sombong. Oke?" Melodi menasehati anaknya.
Langit hanya mengangguk. Padahal dalam hatinya dia sama sekali tak berasa salah.