My Different Wife

My Different Wife
Musuh Pertama



Terdengar suara kekehan dari balik telpon saat Venus merepet panjang lebar, "Dini! Kau kok ngak datang datang sih?! Ini dosen bentar lagi masuk!"


"Santai sis... Santai. Ini juga bentar lagi sampe."


Venus menggaruk jidadnya, pusing memiliki kawan yang tak ada niat sama sekali untuk kuliah. Kalau gitu untuk apa dia kuliah.


Wait. Bukannya Venus dulu juga begitu? Bukankah sama saja dia menghina dirinya sendiri.


Venus mendekatkan telponnya ke bibirnya, "Awas aja kalau kau terlambat. Kau harus push up-"


"Hai!" Sapa seseorang dari depan pintu masuk kelas dan juga dari telponnya bersama, "I'm comming!" Dini terkekeh dengan cengiran seperti orang yang tak berdosa padahal udah buat temennya naik darah tinggi pagi pagi.


Venus mematikan ponselnya dan duduk bersender di kursi kelas dengan tangan terlipat di dada. Sedangkan Dini datang dengan santai ke bangku sebelah Venus masih tak melepaskan cengirannya.


"Santai besti, jangan marah mulu. Ntar cepat tua." Ledek Dini bercanda.


Dini mengeluarkan 2 bungkusan roti siap saji dari tasnya, satunya dia tawarkan ke Venus, "Mau?"


Venus menggeleng, "Udah sarapan tadi."


Dini mengangguk dan kembali memasukkan satu nya ke dalam tas, sedangkan yang lain di buka dan di makannya, "Btw kan, ngapain kau datang cepat cepat Ven?" Tanya Dini penasaran.


Venus melihat ke arah Dini, "Din aku malas jumpa seseorang makanya aku datang cepat."


"Oy ya. Kau hindari sapa?" Dini mendekatkan wajahnya serius.


Venus mendorong wajah Dini dengan satu jari, "Jangan dekat dekat. Bau jigong." Ejek Venus.


Dini menaikkan salah satu alisnya dan mengerucutkan bibirnya, "He'em... Macamlah." Kesal Dini yang membuat Venus terkekeh.


Venus terkekeh.


"Tapi jawab dulu. Siapa sih Ven. Ngak pernah cerita cerita. Oh... Jangan jangan kau ingin menghindari ku ya?!" Tuduh Dini dengan membolangkan matanya, "Tak ku sangka, kau begitu kejam menjauhi sahabatmu sendiri besti. Sungguh terlalu..." Ucap Dini berlebihan.


Ktok


Venus menokok kepala Dini, "Ya enggak lah. Kalau aku mau menjauhimu mana mungkin aku telpon kau tadi pagi biar datang cepat dan sekarang aku nelpon lagi di mana keberadaanmu. Ck." Kesal Venus.


Dini memegangi jidadnya yang di tokok dengan meringis kemudian mengangguk sadar, "Iya juga... Jadi siapa dong?"


"Ada deh manusia nyebelin. Dan aku juga lagi malas bahas dia. Buat mood aku jadi jelek aja." Venus menghela nafas panjang.


Dini mengusap bahu Venus, "Udahlah gak usah di pikirin."


Venus mengangguk kemudian mendongak dan melihat Dini antusias, "Din. Aku lagi butuh cowok nih!"


Dini menyerngitkan dahinya kaget, "Ih. Kenapa lagi besti?"


Venus menggaruk tengkuknya, "Mau balas dendam soalnya aku."


Dini tampak berfikir sejenak kemudian melihat Venus penuh curiga, "Balas dendam sama yang membuat mu seseorang yang nyebelin yang baru kau ceritain itu?"


Venus mengangguk, "Ho'oh. Dendam kesumat aku sama dia." Venus memukul mukul telapak tangannya kesal membayangkan Steve.


Dini terkekeh. "Gini say. Kalau kau minta cowo dari aku, kau salah orang. Deket sama seorang cowok aja ngak pernah aku."


Venus memutar bola matanya dan menghembuskan nafas berat, "Huh! Sudah juga ya." Ucap Venus.


"He'em. Tapi kan gini. Kau kan cantik Ven. Masa ngak ada yang deketin. Ya kali ngak ada?" Kata Dini. Dia yakin Venus pastilah banyak cabang bukan?


Wajahnya saja begitu cantik dan manis, belum lagi kulitnya yang putih dengan tubuhnya yang ideal. Siapa yang tak akan tergila gila dengan Venus?


Tapi kemudian Dini kembali berfikir, "Eh. Tapi kayanya sudah juga. Kau kan selama ini sungguh mengesalkan dan sombong. Siapa juga yang mau deketin ya kan? Wkwkw" Dini tertawa.


"Aw aw aww..." Cubittan Venus membuat Dini terhenti dan berganti jadi meringis.


"Makanya. Jangan ngeselin."


"Hehe,"


Venus melihat Dini serius, "Dan kau sendiri... Kenapa sih mau berteman sama orang yang ngeselin kaya aku? Kan aku juga pasti sering menyakitimu hatimu, kenapa kau malah masih mau berteman denganku?"


Dini mengangguk. Kini keseriusan Venus menular ke Dini, "Emang sebenarnya dari dulu aku ngak pernah mau berteman dengan mu Ven. Tapi, aku pernah lihat sesuatu yang paling mengejutkan dari orang yang super songong sepertimu dulu, aku sangat tersentuh. Aku melihat mu membantu seorang nenek tengah kesulitan merapikan belanjaannya yang berhamburan di jalan karena di senggol oleh kendaraan yang kabur begitu saja. Orang lain ngak ada yang mau bantu, tapi kau jauh jauh lari dari tempat yang sedikit jauh dari kebenaran di nenek dan membantunya dengan suka rela."


Dini menghembuskan nafas perlahan sebelum memulai kalimatnya lagi, "Orang yang dulunya aku anggab sombong dan gak punya hati malahan jadi orang yang paling berbaik hati pada sesama. Sejak saat itu aku mempelajari jangan menilai orang dari tampilannya dan dari perkataan orang lain, tapi nilailah orang dengan kenyataan yang kau lihat bukan dari omong kosong orang."


Venus tersentuh dengan kata kata Dini membuat matanya berbinar. "Uuu... Makacii..."


Dini mengerutkan bibirnya sambil mencubit pipi Venus gemas, "Ucu ucu... Lebay deh. Biasa aja kali."


Venus mengelap hidungnya seperti baru menangis, "Heem."


***


Jam berlalu cepat dan Venus memutuskan untuk memilih istirahat ke perpustakaan. Bukan tanpa alasan, Venus malas menjadi obat nyamuk di antara Dini dan gebetannya.


Ingin sekali Venus menyoraki Dini. Baru saja dia mempercayai Dini tak memiliki teman cowo sama sekali, dan sekarang malahan dia melihat Dini di ajak makan sama seorang lelaki. Kan ngeselin! Boong banget!


Ck.


Venus memilih untuk membaca buku novel di perpustakaan. Bosan juga melihat buku pembelajaran mulu.


Membaca buku romantis Cinderella membuat siapa saja merasa tersentuh dan baper. Berbeda dengan apa yang di rasakan Venus, "Kayaknya ini cerita nyindir aku deh. Kaya tokoh antagonisnya mirip mirip gitu samaku. Suka nindas."


Venus kembali berfikir, "Iri juga sebenarnya memang sama si cinder, bisa bisanya dia nikah sama pangeran tampan. Kan aku mau juga.." gumam Venus.


"Yah... Tapi sudah lah. Ini mah cuma ada di cerita novel. Mana mungkin ada di dunia nyata." Venus mengedikkan bahunya acuh.


Venus meletakkan bukunya dan mengambil ponselnya dari sakunya, mencoba membaca novel yang lebih beragam dari aplikasi membaca.


Venus memilih cerita dan membacanya. Venus mendesis kesal membaca cerita novel online ini. "Iih. Ngeselin. Kenapa cerita di sini selalu nyindir tokoh antagonis sih. Kan ngak semuanya antagonis buruk. Bisa aja kan antagonisnya insyaf." Venus mematikan ponselnya muak.


"Eh copot!" Venus terkaget bukan main saat melihat seseorang ada di hadapannya.


Seperti tak asing..


Oo. Cowo freak kemarin. Ngapain dia ke perpus? Dan kenapa liatin aku kaya gitu?! Sinis amat.


"Biasa aja kali matanya." Ungkap Venus menyindir.


Lelaki itu kembali membaca bukunya dan tampak acuh dengan Venus.


"Cih." Decih lelaki itu singkat.


Venus mengerutkan keningnya, songong bener nih cowo.


Tapi lebih baik Venus menghiraukannya. Toh juga gak ganggu.


Krukk


Perut Venus berbunyi, tanda dia kelaparan sekarang,


Aha! Venus kan selalu punya persediaan makanan.


Tapi, ada lelaki yang ada di hadapannya. Takutnya malah di laporin lagi ke petugas perpus dan kena denda.


Venus sedikit melirik ke arah lelaki itu. Lelaki itu tampak masih fokus pada bacaannya.


Venus mengambil satu bungkus krekers sachetan dan membukanya perlahan. Makan diam diam kemudian kembali melirik ke lelaki itu. Dia masih diam dan tidak perduli.


Venus tersenyum, syukurlah kalau begitu.


Venus kembali memakan krekersnya hingga habis dan kemudian setelah cukup mengganjal Venus kembali duduk tegak dengan cengiran bodoh.


Victor Baskara, nama lelaki tampan nan menawan yang ada di hadapannya itu sedikit membuat Venus menyukai wajahnya. Pahatan Tuhan yang sempurna pikir Venus.


Mungkin ini bukan kali pertama Venus melihatnya, namun ntah kenapa Venus baru saja sadar akan pesona lelaki ini. Dan perlu di ingat, hanya menyukai wajah saja, tidak lebih.


Victor menunjuk giginya menampakkan deretan gigi rapi di hadapan Venus tanpa melihat Venus, "Ada cabe dan coklat. Jorok." Katanya.


Jleb... Wajah Venus memerah.


Rasanya sangat memalukan!


Venus segera mengatup giginya. Dia gak lihat kenapa malah tau?


Arh..


"Biarin. Emang apa urusanmu." Kata Venus tak mau harga dirinya di injak injak hanya karena cabai dan coklat di gigi. Maklum lah, cewe mah sensitif.


Victor menutup bukunya dan bangkit berdiri. Malas jika harus menjawab perkataan orang bodoh. Victor pergi begitu saja meninggalkan Venus.


Venus menggeleng tak percaya, "Iss... Dasar!" Kesal Venus.


Ck. Tidakkah hari ini bisa lebih buruk lagi?! Ck! Venus memukul angin dengan kesal.