
"Mommy! Mau Es!" Pekik seorang anak kecil yang bernama Angkasa Brayudha.
Angkasa merengek kala sang ibu tengah menyusun skripsi, "Sayang... Sabar ya. Mommy lagi ngerjai banyak tugas. Sebentar lagi selesai. Tapi bentar dulu ya..." Pinta sang anak.
Sang Ayah tersenyum melihat anak lelakinya ini yang begitu rewel. Dia tau sebenarnya Angkasa tak terlalu menyukai eskrim, dia lebih menyukai coklat dan permen, namun Angkasa merasa sepi jika mommynya sibuk terus dengan pekerjaannya tanpa memperdulikan.
"Ya udah sama Daddy aja. Ayuk." Ajak Steve pada anak tunggalmya ini.
Angkasa menggeleng tegas, "Gak! Maunya sama Mommy! Mommy... Ayo... Sekarang juga... Mommy..." Manja anaknya mau tak mau membuat Venus menutup laptopnya.
"Ya udah ayo." Ajak sang Ibu dengan senyuman.
Angkasa senang sekali dan akhirnya menggandeng tangan Venus, "Ayo!"
Steve hendak mengikuti mereka namun di tahan Angkasa, "Tidak! Daddy gak boleh ganggu waktu mommy sama Angkasa." Omel sang anak pada ayahnya.
Soalnya setiap hari asal saja sang ayah dan ibunya sudah berduaan pasti dia akan di kacangi.
Ayahnya selalu memeluk ibunya sampai tak memberikan kesempatan untuknya bermanja manja dengan ibunya. Padahal ibunya selalu memiliki sedikit waktu karena akan berkutat di laptop ntah untuk apa Angkasa pun tak tau.
Steve sedikit kesal, ntahlah anaknya memiliki sifat pencemburu seperti sang ayah. Well, namanya juga bibit unggul sang bapak.
Tapi tetap saja, jika dia orang lelaki pencemburuan ada dalam satu atap akan sering terjadi kegaduhan bukan.
"Kenapa Daddy gak noleh ikut Kasa? Daddy kan harus menjaga kalian. Gimana sih kamu."
"Gak. Angkasa bisa jaga mommy dad. Daddy di rumah aja."
"Daddy ikut."
"Gak."
"Ikut."
"Gak."
"Huaa... Mommy lihat! Daddy gak mau mengalah! Kan Daddy udah sering sama mommy! Dasar Daddy nyebelin!"
"Seringan sama kamu tau! Daddy kadang jadi gak dapat jatah malam karena kamu." Steve tak mau kalah namun segera di tatap tajam oleh Venus.
Angkasa tak mengerti maksud sang Daddy tapi dia juga tak mau kalah. "Gak pokoknya gak mau!!!! GAK MAUUUUU" Angkasa menjerit kuat. Dia harus mendapatkan apa yang dia inginkan!
Venus dan Steve menutup telinga mereka.
"Iya iya... Mommy sama kamu sayang. Daddy gak ikut." Venus menengahi pertikaian antara ayah dan anak ini.
Angkasa tersenyum miring meledek sang Daddy.
Sedangkan yang di ejek melah memalingkan wajahnya kesal. Steve mendekati Venus dan memeluknya, "Sayang... Ikut..." Rengek Steve.
Angkasa yang melihat sang ayah mulai dengan taktiknya segera memeluk Venus, "Mommyy... Gak mau Daddy ikut..."
Venus stres sendiri, bagaimana bisa ayah dan anak sangat copy paste seperti ini?
Bagaimana pun dia tak mungkin membuat angkasa jadi merengek karena akan sulit menenangkannya, tapi Steve akan jadi pemurung dan tidak akan mau bicara sepanjang hari bahkan berhari-hari jika dia kesal.
Venus melihat sang Suami, "Aku jalan sama Angkasa dulu ya sayang."
Angkasa memekik riang saat sang Ibu memilih keinginannya sedangkan Steve menatap Venus kecewa, "Sayang..."
Venus mendekatkan bibirnya ke telinga Steve, "Nanti malam aku milikmu seutuhnya." Bisik Venus membuat Steve tersenyum kecil dan menatap sang istri dengan manja sambil hendak mencium bibirnya.
Venus menahan Steve, "Nanti malam. Nanti malam.." Venus kembali mengingatkan.
Steve menghela nafas panjang. Ah setidaknya beberapa jam lagi malam bukan? Sabarlah Steve.. Batin Steve menenangkan.
Venus melepaskan pelukan Steve dan menggendong Angkasa, "Kita mau beli apa tadi? Es krim?"
Angkasa mengangguk riang, "Es krim rasa coklat! Angkasa suka rasa itu Mommy.."
Venus mengangguk, "Baiklah! Tapi sebelumnya ada satu syarat."
"Syarat?" Tanya Angkasa dengan tatapan bingung dari mata bulat bersihnya.
"Cium Daddy kamu dulu. Kalau gak karena Daddy mengizinkan tadi pasti Mommy sama kamu gak mungkin bisa jalan." Jelas Venus. Tentu saja dia ingin sang Ayah dan anak ini semakin akur bukan?
Venus mendekatkan Angkasa dengan Steve, "Ayo.."
Angkasa kesal melihat ayahnya ini, begitu pun Steve. Tapi ini terpaksa karena Venus bukan?
Angkasa mencium pipi sang Daddy membuat Steve sedikit tersenyum, walaupun dia merasa jengkel pada anaknya tapi ikatan batin itu ada bukan? Lagi pun pipi Angkasa yang memerah membuat Steve merasa gemas.
Hap
Steve malah balik mencium pipi anaknya bertubi tubi dan sedikit mengigitnya gemas.
"Ah Daddy!! Daddy sangat menyebalkan!!" Angkasa memegang pipinya yang di cium sang Ayah dengan tidak manusiawi itu.
"Mommy lihat Daddy!!" Adu Angkasa yang malahan membuat kedua orang tuanya tertawa.
Angkasa melipat kedua tangannya di dada kesal dan segera memeluk sang Ibu, "Ayo Mommy!! Angkasa kesal lihat Daddy!! Blee"
"Biarin Blee!" Ledek Steve balik.
"Udah udah... Ayo kita pergi. Bye Daddy..." Lanjut Venus.
Steve melambaikan tangan dan tersenyum jahil pada Angkasa membuat Angkasa semakin kesal.
Ya begitulah kira-kira mereka berdua yang selalu bertengkar sesama lelaki.
But well, that's great. Haha
***
Venus melihat ke arah Angkasa yang melompat lompat girang ke sana ke mari dengan eskrim nya di taman bermain.
Angkasa melihat ada seseorang anak perempuan yang pendiam membuat dia penasaran dan duduk si sebelahnya, "Kenapa?"
Anak perempuan yang duduk di ayunan itu menoleh ke Angkasa, "Kau... Bisa melihatku?" Tanya anak itu sontak membuat Angkasa membolangkan matanya.
Bagaimana pun angkasa tau kalau seseorang yang tak dapat di lihat itu hantu bukan?!
Terutama Angkasa pernah sangat trauma tidak sengaja melihat gambar Hantu di komik horor.
Angkasa menjatuhkan eskrimnya dan tak dapat bergerak.
"Raya!" Panggil seseorang membuat anak perempuan itu menoleh. Dan bangkit berdiri.
Anak itu tersenyum jahil pada Angkasa dan meledeknya, "Haha! Dasar lemah, penakut! Ble ble!" Anak itu segera meninggalkan Angkasa yang kaget.
"Di bohongi aku?! Ishh... Hei kau!!"
Angkasa yang tak terima mengejar anak itu. Sedangkan anak itu bersembunyi di belakang seorang wanita dewasa,
Angkasa mendongak kepalanya melihat wanita itu. Lagi lagi angkasa menganga, 'Kakak itu cantik sekali,' batin Angkasa.
Wanita itu berlutut menyamakan tingginya dengan Angkasa, "Hai.. Maafin adek kakak ya, memang dia sedikit nakal. Tapi dia baik kok." Angkasa tidak jadi marah dan segera mengangguk dan tersenyum.
"Kak Melodi. Ngapain sih bicara sama dia. Ayo pulang..." Ajak anak kecil perempuan itu.
Melodi mengangguk, "Kakak pulang dulu ya. Adek kakak rewel soalnya." Ledek melodi pada adiknya itu sambil menjewer telinga Raya.
Raya kesal dan kembali menarik tangan sang kakak, "Ayo pulang!"
Melodi pun pulang bersama Raya.
Venus mencari keberadaan Angkasa dan menemukan anaknya tengah berdiri sambil terus tersenyum melihat ke depan.
Venus mendekati Angkasa, "Ada apa Angkasa? Kamu mendapatkan teman baru hm?" Goda Venus.
Angkasa tersenyum, "Kakak cantik." Angkasa masih melamun.
Venus terkekeh. Bagaimana bisa bocah yang belum genap 5 tahun sudah tau mana wanita cantik.
Venus menoel hidung Angkasa. "Siapa yang cantik?" Tanya Venus.
Angkasa tersadar, "Eh mommy. G-gak ada kok. Hehe." Angkasa malu malu.
"Em. Mommy ayuk pulang, Angkasa kangen Daddy." Mengalihkan pembicaraan.
Venus semakin terkekeh, "Tapi tadi bukannya kamu..."
"Gak kok. Angkasa beneran kangen Daddy. Rindu... Hehe." Jelas Angkasa.
"Baiklah, ayo." Ajak Venus.