
Bayi laki-laki yang berumur 7 hari itu tampak menggeliat di atas kasur bayi berwarna biru. Arsi sudah keluar dari rumah sakit setelah 2 hari menginap.
"Wahh anak bunda lagi apa tu... " ucap Arsi menggendong bayinya ke pangkuannya, Arsi meluruskan kakinya karena sedang masa ida.
"Ululuuu anak bunda, si tampan bunda ini... "
Bayi yang masih belum tau apa apa itu hanya menatap lurus, sesekali menggerakan kepalanya.
Arsi yang pertama kali mempunyai bayi tampak biasa mengganti dan membedong bayi.
"Anak papa udah bangun yah"
Viki berjalan mendekat ke ranjang, mengecup pucuk kepala Arsi, kemudian mengecup pipi Arkan.
"Dia tampan sekali" puji Arsi tersenyum menatap sang putra.
"Tentu saja, dia manis dan lucu" sahut Viki.
Tanpa Viki dan Arsi sadari ada 2 bocah tengah bersembunyi mengawasi mereka berdua.
Prang~~~
"Siapa itu? " tanya Viki kaget.
Pria itu berjalan mendekati serpihan kaca vas bunga. Aldo dan Aldi menongol dari balik pintu.
"Hehehe... maaf kak" lirih Aldi takut takut, begitu juga dengan Aldo.
"Ngapain kalian di situ? "tanya Viki garang.
Aldo dan Aldi menggigil ketakutan, mereka saling menyalahkan sampai ketahuan seperti ini.
" Kami.... kami.. cuma... "
"Cuma apa? " potong Viki.
"Sudah sudah, Aldo Aldi sini deh" lerai Arsi lembut. Kedua bocah kembar itu pun berlari mendekati kakak tercinta yang selalu di lindungi nya.
"Anak nakal, harus di hukum" kata Viki.
"Kak Arsi.... " rengek mereka memegangi kaku Arsi meminta pertolongan. Arsi tersenyum, lalu menoleh pada suaminya yang tampak sangar itu.
"Sekarang kakak tanya, kalian ngumpet di situ ngapain? " tanya Arsi meletakkan Arkan kembali ke kasurnya.
"Kami di suruh kak Meri untuk ngawasin kalian" jawab Aldo jujur langsung mendapat jitakan dari Aldi.
"Kenapa loe bilang sih!! " bentak Aldi.
"Apa?? jelas jelas kita sedang di ujung tanduk, liat tu.. " tunjuk Aldo dengan matanya ke arah Viki yang masih menatap mereka sangar.
"Jadi ini ulah Meri? "
"Iya kak, mereka suami istri menghasut kami untuk mengawasi kalian agar tidak enak enak" timpal Aldo lagi.
"Aduhhh" lenguh seseorang.
"Keluar lah!!!! " teriak Viki.
Meri dan Bayu muncul di balik guci besar, sudah ketangkap basah sekarang.
"Bagus yah, bocah bocah tengil ini sudah di ajarin yang begituan" omel Viki.
"Maaf Pak, saya hanya takut bapak khilaf hehehe" kekeh Meri.
Viki tak merubah tatapannya, matanya semakin mengkilap tajam pada keduanya.
Glep~ Meri dan Bayu menelan salinannya susah payah. Lampu kewaspadaan mulai menyala sekarang.
"Gini kaka, kan Arsi masih dalam masa nifas, Dan kita takut kalian khilaf. Bisa aja kan kalian terlena dan yang menanggung akibatnya kalian juga. Jadi kami di sini bermaksud untuk mengawasi dan juga menyadarkan kalian yang hampir khilaf nantinya" jelas Bayu berusaha meyakinkan Viki.
"Arsi... bantuin dong " lirih Meri menatap Arsi dengan tatapan memohon.
"Aldo Aldi, kira kira hukuman apa yah yang cocok untuk mereka? " kata Arsi menyeringai.
Bayu dan Meri saling pandang, sudah tak bisa mengelak lagi, hari ini akan menjadi hari kesialan mereka jika Aldo dan Aldi yang akan menghukum mereka.
"Eh pada ngumpul di sini semua? " Sakira menghampiri cucunya yang sedang tertidur lelap.
"Aunty... kak me-_" Bayu langsung membekap mulut Aldo ketika ingin mengadukan perbuatan mereka.
"kenapa? " tanya Sakira bingung.
"Gak ada aunty, si Aldo ngaur" ucap Bayu beralasan. Meri ikutan nyengir, hampir saja aunty mertuanya tahu.
Sakira menggeleng, keponakan keponakannya terlihat aneh sekarang.
"Arkan sayang, waktunya kita mandi yah sayang" ucap Sakira menggendong Arkan lalu meletakka..ya di atas ranjang Sakira dan membuka bajunya.
"Wahh kecil sekali" kekeh Aldo ketika melihat perkutut Arkan.
"Dasar bodoh, jelas dia masih kecil" komentar Aldi.
Viki memutar matanya jengah dari tingkah adik adik nya. Entah kapan Viki akan bisa tenang tanpa gangguan dari mereka.
"Mau kemana kalian? " kata Viki menghentikan langkah Bayu dan Meri yang hendak mencoba kabur.
"Gakkk kemana mana, kita cuma lagi senam aja" kila Meri pura-pura merenggangkan tubuhnya, begitu juga dengan Bayu.
Aldo dan Aldi menutup mulutnya menahan tawa melihat ekspresi bete keduanya.
Sakira sudah membawa Arkan ke kamar mandi di ikuti oleh Arsi untuk belajar memandikannya
.sekarang tinggal Bayu Meri dan kedua bocah itu yang menghadap Viki.
"Ikuti gue! " titah Viki berjalan lebih dulu keluar dari Kamar.
"Ngapain kesini kak? " tanya Aldi menatap taman belakang rumah yang luas dan penuh dengan rumput yang mulai panjang, sudah jadwal untuk di potong.
"Aldo, tolong ambilkan gunting besar 2,dan sapu lidi 2" titah Viki tanpa ekspresi.
"Buat apa kak? " tanya Aldo.
"Sudah jangan banyak bertanya! " kata Viki dingin. Aldo langsung bergegas masuk ke dalam rumah mancari gunting dan sapu lidi. Setelah menemukan di gudang, Aldo langsung balik ke taman belakang dan menyerahkan barang barang yang di minta Viki tadi.
"Ini buat loe, yang udah merencanakan semua hal konyol ini! " kata Viki memberikan gunting berukuran sedang ke tangan Bayu.
"Dan loe, sapu semua sampa dan bersihkan setiap sudut taman. Jangan sampai tersisa sehelai daun pun! " kata Viki.
"Huh?? taman seluas ini kak?? loe bercanda? " protes Meri.
"Mau lebih parah lagi?? " Meri menggeleng cepat.
"Aldo gabung sama Meri, dan Aldi sama Bayu" kata Viki tak terbantahkan.
Bayu menatap gunting yang berada di tangannya, ia tidak mengerti untuk apa Viki memberinya gunting.
"Lah gunting ini untuk apa? "
"Bener, gunting ini untuk apa? " sahut Aldi.
"Gunting semua rumput yang sudah mulai panjang itu" kata Viki santai.
"What?? loe gila? masa loe suruh gue motongin rumput pake ini" protes Bayu menatap gunting dan rumput bergantian.
"Baiklah, kalau tidak mau aku tinggal bilang ke aunty celly, Seila dan mama" ancam Viki tersenyum devil.
"Ehh jangan jangan, kami pasti ngerjain kok" cegat Bayu menerima semua perintah Viki saat ini.
"Jika mama dan yang lain tahu, maka akan semakin runyam masalahnya" batin Bayu. Omelan dari sang mama adalah hal yang paling Bayu hindari, apalagi aunty celly. Bayu lebih baik kabur dari pada mendengar omelan yang disertai dengan cubitang cubitan dari mereka.
Mereka mulai mengerjakan tugas yang sudah Viki buat, Semua ini salah mereka, batu dan Meri mengakui hal itu, Namun yang tidak bisa mereka terima adalah hukuman yang tidak masuk akal ini.
"Sejam lagi gue bakalan cek hasil kerja kalian" kata Viki lalu beranjak dari taman belakang.
Sementara Arsi tersenyum puas melihat putranya semakin nakal saja.
halloooo, udah aku end, soalnya tinggal konflik ringan dan khusus untuk hubungan keluarga Viki dan Sakira saja.Jangan lupa Vote!!!! like!!! coment!!! Masukan dari kalian adalah semangat bagiku adalah pikiran pikiran dari kalian, Terimakasih semuanya, salam hangat, Love you.
...T E R I M A K A S I H...