My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
36. Desa



"Apa!!!!! Arsi dan Viki kakak adek??? " Egi melotot tak percaya mendengar fakta yang mengejutkan bagi jantung nya.


"Iya, mereka itu kakak adek, Arsi putri tunggalnya Davin Ricardo. " Jelas Meri yang di angguki oleh Bayu.


Kini mereka sedang duduk di kafe biasa. Egi menggebrak meja tak menyangka dengan semua ini. Memang sih, dulu ia pernah curiga pada Arsi yang terlihat sederhana namun mempunyai barang branded, dan curiga dengan Bayu yang selalu perhatian pada Arsi.


"Lalu mengapa pak Viki ngaku tunangan Arsi? " tanya Egi lagi.


"Yah karna-" ucap Meri terpotong oleh Bayu.


"Mereka itu bukan kakak kandung, Viki adalah anak angkat aunty Sakira dan uncle Davin" jelas Bayu memotong ucapan Meri.


"What!!! " kaget Meri dan Egi bersamaan.


"Loe gak tahu? " tanya Egi.


"Kagak" jawab Meri jujur, Arsi hanya menceritakan jika mereka saudara, dan Arsi menyukai kakaknya sendiri.


"Jadi mereka beneran tunangan? " ulang Meri masih tak percaya.


"Iya, mereka sudah di jodohkan jauh sebelum Arsi lahir" jawab Bayu singkat.


"What??? berarti Arsi emang di takdirkan sebagai jodoh pak Viki" lirih Meri tersenyum membayangkan betapa beruntung nya Arsi.


"Maksud loe? " tanya Egi tak mengerti apa yang Meri bicarakan.


"Arsi sempat galau, karena ia mencintai kakaknya sendiri, di tambah lagi kemarin Viki membawa teman wanitanya ke apartemen" ucap Meri panjang lebar.


"Arsi sudah menggilai Viki sejak kecil, bahkan Viki sengaja menjauh dan pergi ke luar negeri agar rasa cinta Arsi berkurang dan tak terbaca oleh musuh" sambung Bayu.


"Maksud loe? " kini Egi sangat bingung dengan cerita kedua temannya ini. Masalah Arsi begitu rumit di kepalanya.


"Jadi Arsi di incar? " tanya Meri mengabaikan pertanyaan Egi.


"Viki tidak mau jika Arsi menjadi sasaran para pesaing bisnis, ia tidak mau jika Arsi di pandang sebagai titik kelemahan Viki" lanjut Bayu.


Meri dan Egi mengangguk mengerti, meski setengahnya masih belum bisa di mengerti.


"Jangan sampai semua ini bocor" ucap Bayu lagi memperingatkan kedua temannya.


"Tentu" jawab Meri cepat menatap Bayu dengan tatapan memuja, baru kali ini ia melihat Bayu berbicara, panjang lebar dan penuh ekspresi yang berubah ubah.


Sementara di dalam mobil Arsi sudah tertidur nyenyak, Viki mengulum senyum melihat Adik yang baru saja ia klaim sebagai tunangannya. Viki tidak peduli lagi dengan pandangan orang sekitar, ia sungguh tidak bisa menahan amarah ketika tangan lelaki lain menyentuh Calon istrinya.


30 menit kemudian akhirnya mereka tiba di sebuah perkampungan yang sering ia kunjungi selepas kuliah dulu.


Viki keluar dari mobil tanpa membangunkan Arsi, di pandangnya sebuah rumah yang terlihat sederhana namun sangat bersih.


"Anda mencari siapa? " tanya seseorang dari arah belakang Viki.


"Ibuu.... aku pulang" ucap Viki sembari berbalik menghadap pada wanita perubaya yang langsung berlari padanya.


"Putra ku" ucap Sumi ibu kandung Viki. Setelah bertahun tahun tidak mengetahui siapa ibu kandung nya, akhirnya di usia Viki yang ke 17 Davin menghadiahkan Viki seorang ibu yang melahirkannya.


"Ibu apa kabar? " tanya Viki selalu meme meluk ibunya dengan erat.


"Baik, ibu sangat baik" jawab Sumi dengan suara bergetar menahan tangis.


"Syukurlah, maaf aku baru mengunjungi mu" ucap Viki lembut.


"Tidak apa apa, ayo masuk" ajak Sumi.


Brak!!!


"Siapa dia? " tanya Sumi menatap Arsi bingung.


Arsi menoleh, ia baru ingat jika ia di culik kakaknya sendiri dan melarikan ketempat yang sangat ia sukai.


"Dia adik ku bu, sekaligus tunangan ki" jawab Viki membuat Sumi tersenyum.


"Ayo kemari lah nak" panggil Sumi merentangkan tangan pada Arsi.


Awalnya Arsi tak mengerti, namun dengan ragu ragu akhirnya Arsi mendekat dan pasrah di peluk oleh wanita paru baya yang berpenampilan sederhana namun terlihat elegan.


"Siapa nama mu? " tanya Sumi mengusap pipi Arsi lembut.


"Arsi tante" jawab Arsi tersenyum simpul.


"Nama yang bagus" puji Sumi.


"Terimakasih"balas Arsi.


" Ayo masuk" ajak Sumi menarik Arsi dan Viki kedalam rumah nya.


Arsi memperhatikan seluruh isi rumah bu Sumi, tidak ada yang istimewa dari rumah ini, sederhana namun bersih. Arsi membandingkan dengan karakter ibu ini dengan kondisi rumah nya. Terlihat seperti wanita yang sudah terbiasa dengan kemewahan, namun mengapa tinggal di rumah sederhana dan kecil seperti ini.


"Maaf yah, rumah ibu kecil" ucap Sumi tak enak, ia tahu apa yang sedang di pikirkan Arsi.


"Tidak kok bu, di sini nyaman banget" jawab Arsi nyengir.


"Ibu ambilkan air dulu yah"


Arsi mendekat pada Viki setelah bu Sumi menghilang di balik pintu yang mungkin dapur di sebelahnya.


"Kenapa loe membawa gue kesini? siapa tante itu? " bisik Arsi pada Viki.


"Diem, ntar gue ceritain" jawab Viki ikut berbisik pada Arsi, ia sedikit mencondongkan tubuhnya agar Arsi mendengar bisikan nya.


"ihhhh jangan terlalu dekat ih" sergap Arsi mendorong tubuh Viki agar sedikit lebih jauh.


"Loe itu harum, pengen gue cium! " goda Viki sengaja mengerjai Arsi.


"Apaan sih loe! " bentak Arsi spontan menyilangkan kedua tangannya seolah menutupi tubuhnya dari pandangan Viki.


"Ada apa?? Viki mengerjai mu yah? " tanya Sumi terkekeh melihat tingkah lucu Arsi.


"Ia tante anak pungut ini emang seperti Akhh" Pekik Arsi tiba-tiba Viki mencubit pahanya


"Anak pungut?? " ulang Sumi pelanggan, hatinya berdenyut ketika mendengar kata kata yang seharusnya tak akan pernah di dengar oleh putranya


"Bukan apa apa kok bu, aku ingin mengajak Arsi berkeliling dulu " jawab Viki sembari berdiri dari duduknya, lalu menarik agar Arsi ikut berdiri bersamanya.


"Kemana? " Tanya Arsi merasa lelah, ia tak tahu Viki akan membawanya ke mana lagi.


"Air nya gimana?? gak di minum? " tanya Sumi ikutan berdiri.


"Iya bu, nanti bakalan di minum kok" jawab Viki memberikan alasan. Ia harus menjelaskan pada Arsi secepatnya sebelum Arsi semakin megaduh dan membuat ibunya sedih.


"Ikut gue! "


"Tapi.. _-" tolak Arsi tapi terhenti ketika Viki sudah menyeretnya keluar dari murah itu.


Suasana alam di desa ini masih sangat terasa asli. Mereka merasa sangat nyaman tinggal di daera sini.


...T E R I M A K A S I H...