My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
75. Di manfaatin kakak sendiri [Bayu]



Drrtttt.... Arsi melirik ponselnya yang bergetar diatas meja. Nama Meri terpapar jelas di layar ponsel Arsi. Sejak tadi menunggu Viki selesai bekerja membuat Arsi bosan.


"Hallo Meri" sapa Arsi.


"Iya Ci, gue cuma mau nanya nih"


"Nanya apa? "


"Tugas yang di kasih pak Viki udah siap belum? " tanya Meri di seberang sana.


Arsi terdiam sejenak, ia tampak memutar otak nya mengingat tugas mana yang Meri maksud.


"Jangan bilang loe lupa" tebak Meri.


"Heheh.. kok loe tahu si Mer" nyengir Arsi ketahuan oleh Meri.


"Dah pasti dah tu, entah apa yang bisa loe inget" dengus Meri.


"Yasudah, besok datang lebih awal ya. Kalau gue udah kelar ntar gue bantu lo" kata Meri.


"Uuuu sayang akoh. muahhhh love you" balas Arsi.


Viki yang mendengar omoiArai menjadi penasaran, Dengan siapa Arsi mengungkap perasaan seperti itu. Viki menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat lagi, agar ia bisa menhintrogasi Arsi.


"Nelfon sama siapa tadi? " tanya Viki.


"siapa? aku? " tunjuk Arsi pada dirinya sendiri.


"Kang komang, yah elu lah" cibir Viki.


"Bukan siapa siapa" kata Arsi kesal karena Viki menggunakan embel elu bukan kamu.


Viki duduk di samping Arsi, menarik tubuh Arsi agar lebih dekat padanya. Arsi tak menolak, ia membiarkan Viki memeluknya.


"Ayo ngaku, nelfon siapa tadi? " bujuk Viki.


Arsi tak langsung menjawab, sebuah ide terlintas di benaknya.


"Kak, besok ada mata kuliah kakak kan? " tanya Arsi.


Viki mengangguk, "Emang kenapa? "


"Aku mau ngasih tahu kakak siapa yang menghubungi ku tadi, dengan satu syarat" kata Arsi.


"Apa itu? " bisik Viki.


Wajah Viki begitu dekat dengan nya, membuat Arsi terdiam merasakan hangatnya hembusan nafas Viki.


"Hei.. kenapa diam? "


Arsi mengedip ngedip kan matanya, mendorong tubuh Viki agar sedikit lebih jauh darinya.


Merasa bisa mengusai dirinya lagi, Arsi kembali menatap Viki dengan tatapan misterius nya.


"Bantu aku mengerjakan tugas" kata Arsi enteng.


"What?? tidak bisa, aku tidak mungkin mengerjakan tugas mu" tolak Viki.


"Oh ayolah kak, aku tidak mengerti" bujuk Arsi.


"Aku tidak mau, kau harus mengerjakannya sendiri" titah Viki.


"Aku mohon...... " pinta Arsi memasang wajah imutnya.


Viki tetap tak luluh, di dorong nya tubuh Arsi sedikit jauh dari nya, lalu bangkit dari duduknya.


"Kak Viki..... " rengek Arsi.


Pantang menyerah, Arsi mengikuti kemana Viki melangkah. Sampai Viki menyetujui permintaannya, maka Arsi akan terus merengek.


"Oke baiklah" Kata Viki jengah mendengar rengekan Arsi.


"Yeee, terimakasih sayang" ucap Arsi spontan.


"Apa? coba ulang lagi? " titah Viki kaget mendengar perkataan Arsi barusan. Ia tidak salah dengarkan? Arsi memanggilnya sayang?


Arsi kembali ke sofa, belum sempat beranjak, Viki sudah menarik lengan Arsi hingga jatuh ke dalam pelukannya.


Mata Arsi tak berkedip, ia benar-benar syok saat ini. Wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak beberapa centi saja.


"Aku ingin mendengar kata kata yang kamu ucap tadi" pinta Viki.


"Kata... Kata. kata yang mana? " tanya Arsi gugup.


Cup~ satu kecupan mendarat di bibir Arsi. bukannya menolak, Arsi malah menutup kedua matanya.


"Kau juga menginginkannya? " bisik Viki membuat Arsi tersadar dan membuka matanya kembali.


"Ti... ti-ti-tidak"


"Emangnya mau apa? " kata Viki lagi menggesek gesekan hidungnya pada hidung Arsi.


"Kak Viki..... " rengek Arsi jengkel.


"Aku tidak akan melepaskan mu, sebelum aku mendengar kata itu terucap" kata Viki kembali mengecup bibir Arsi.


"Kak Viki.... jangan ambil kesempatan yah!! " pekik Arsi kegelian ketika Viki mengendus lehernya.


Arsi tak bisa bergerak, Viki menahan tubuhnya begitu erat, tentu saja Arsi tak sekuat Viki.


"Kak Viki sayang, lepaskan aku" bujuk Arsi pasrah memanggil Viki dengan sebutan kakak.


Viki pun tersenyum lebar, di renggang kan nya pelukannya agar Arsi bisa bergerak, namun masih tidak di lepaskan.


"Lepas loh Kak, aku kan udah lakuin apa yang kakak minta"protes Arsi.


" Tapi aku tidak ingin melepaskannya" balas Viki.


"Kau sudah berjanji" peringat Arsi.


"Oke baiklah"


Viki melepaskan Arsi, meski gejolak di dalam dirinya masih sangat menggebu rebut. Viki menginginkan Arsi saat ini juga, andaikan sudah menikah maka Viki tak akan menjamin Arsi bisa lepas begitu mudah.


Aroma tubuh Arsi sungguh membuat jantung Viki seakan meledak, jiwa kejantanannya teruji saat ini.


Sebelum benar-benar melepaskan Arsi Viki sempat sempat nya merenas gunung Arsi.


"Ahw!! " pekik Arsi kaget.


Arsi melotot pada Viki yang dengan sengaja meremas Gunung nya yang selama ini belum pernah di sentuh oleh siapapun.


"Aku gemes" kekeh Viki.


"Dasar mesum! " gerutu Arsi menyilang kedua tangannya di depan dadanya, melindungi dari kenakalan dosen sekaligus calon suaminya ini.


"Awas saja kalau sudah nikah! sampe subuh full goyang!! " kata Viki tersenyum sinis.


"Gila!!! " teriak Arsi menjauh dari Viki, Membuat Viki tertawa semakin keras. Ia sangat senang menjahili Arsi, melihat wajah sebal Arsi merupakan kesenangan baginya.


Di dalam kamar, Bayu mengomel tak jelas setelah menerima sebuah pesan. Ingin sekali bayu memblokir nomor tersebut.


"Andai saja bukan kakak ku, kau sudah ku cincang dan ku makan! " geram Bayu.


Viki mengirimi Bayu sebuah pesan yang berisi, Bayu harus membuatkan tugas double. Untuk siapa lagi kalau bukan Arsi.


Mau tak mau Bayu harus membuatkannya, jika tidak siap siap lah di geprek oma dan juga kedua orang tuanya. Bayu masih sangat ingat ketika Viki meminta Bayu menolak mengantar map yang seharusnya Viki lah melakukannya. Entah bagaimana caranya, malah Bayu yang menjadi yang bersalah.


"Dasar licik, memanfaatkan aku yang lugu ini" balas Bayu mengirim pada Viki.


Lalu beberapa detik kemudian, Viki membalas pesan itu.


"Selagi bisa di manfaatin, manfaatin aja dulu. Jadi kakak itu emang enak banget" kata Viki dalam sebuah pesan suara.


"Viki!!!!!!!!! " teriak Bayu kesal.


...T E R I M A K A S I H...