
Sudah 3 hari Arsi terbaring di rumah sakit, seharusnya gadis itu sudah siuman. Tetapi hingga saat ini Arsi masi belum membuka matanya.
"Bagaimana ini dok, kenapa Arsi masih belum sadar juga? " tanya Viki.
"Saya juga tidak tahu tuan, seharusnya nona sudah sadar. " jawab Dokter Doni ikut bingung. Kondisi Arsi sudah normal, tidak ada yang salah dengan tubuhnya.
"Lalu mengapa anak saya masih belum sadar dok" sahut Sakira.
"Seperti nya nona Sakira tidak memiliki keinginan untuk bangun, terlihat dari kondisi yang normal dan luka yang sudah mulai membaik. Kita hanya bisa berdoa dan berharap nona Arsi segera siuman" jelas Dokter panjang lebar.
"Bagaimana mungkin Arsi tidak ingin bangun" gumam Sakira lirih.
"Kalau begitu saya permisi" pamit dokter.
Viki mengangguk, aurah wajah nya terlihat sangat menyedihkan.
"Kamu yang sabar yah sayang, mama yakin kok Arsi bakalan siuman" ucap Sakira menyemangati putranya.
"Iya ma" jawab Viki.
Di dalam ruangan Arsi hanya ada Sakira dan Viki, Sedetik pun Viki tak beranjak dari Arsi.
"Sayang, kamu harus istirahat. Biar mama yang jaga Arsi yah" bujuk Sakira.
"Gak ma, Viki gak mau ninggalin Arsi. Viki ingin jadi orang pertama yang dilihat Arsi" jawab Viki.
"Tapi kamu butuh istirahat juga sayang" bujuk Sakira lagi.
"Gak papa ma, aku gak papa kok" jawab Viki menggenggam jemari Arsi. Matanya tak bosan bosan menatap wajah pucat Arsi.
"Huhh.. yasudah kalau begitu mama mau ke kantin dulu. Beli makan untuk kamu yah" ucap Arsi yang mendapat anggukan kecil dari Viki.
"Kok loe gak bangun bangun sih. Nyenyak banget. Gue dah bolos ngajar sama ke kantor loh, gak kasian apa sama gue" lirih Viki menunduk menempelkan wajahnya pada tangan Arsi yang terus di genggamnya.
"Kok loe gak mau buka mata sih" gerutu Viki mulai kesal.
"Loe sangat keterlaluan, ceroboh, keras kepala! "lirih Viki lagi. Ia sudah seperti orang gila berbicara dengan orang tidur.
" Aku capek tahu, ngomong sendiri" dengus Viki seperti memaki maki Arsi, agar Arsi terpancing dan segera bangun.
"Loe harus bangun dan tanggung jawab atas semua kekacauan ini!! " tekan Viki mengangkat wajahnya lalu kembali merebahkan nya.
"Kasian Viki" lirih Sakira tak kuasa melihat kondisi Viki yang sangat kacau.
"Yang sabar yah ma, Papa yakin Arsi akan segera siuman" ucap Davin meyakinkan Istrinya.
"Arsi!!! loe harus bangun!!! Loe akan mendapat hukuman jika loe lebih lama lagi tidur. tunggakan rumah sakit harus loe bayar sendiri!! " ucap Viki kesal.
"Buat apa harta orang tua gua banyak, kalo gue harus susah payah mencari uang untuk tagihan rumah sakit" jawab Arsi pelan namun masih terdengar jelas di telinga Viki.
Perlahan Viki mengangkat Kepala berharap apa yang baru saja di dengarnya bukan hanya halusinasi nya.
"Gue gak salah denger kan? " tanya Viki.
"Loe pikir aja sendiri" jawab Arsi ketus, ia mengerut menahan ngilu di kepalanya.
"Kamu beneran siuman? " tanya Viki masih tak percaya. "Pelan pelan" ucap Viki langsung membantu Arsi duduk.
"Di mana aku? " tanya Arsi menatap sekeliling nya.
"Loe gak liat, ini di rumah sakit" jawab Viki ketus, Aura dingin dan juteknya kembali.
"Kalo gue tahu, gak bakal deh gue nanya" jawab Arsi sinis.
"Arsi... kamu sudah bangun sayang? "
"Mama... ini beneran mama? " tanya Arsi tak percaya.
"Iya sayang, ini mama dan Papa" jawab Davin berdiri di samping Arsi.
"Hikss... Arsi Viki mimpi itu kenyataan, papa sama mama meninggalkan Arsi hiks.. hikss" Tangis Arsi pecah, ia benar-benar bersyukur karena semua yang terjadi itu hanyalah mimpi.
"Tidak sayang, semua itu tidak mimpi" jawab Sakira.
"Tapi... "
"Jangan tinggalin Arsi ma, pa Arsi gak mau sendirian" ucap Arsi memohon.
"Sayang, kami tidak akan pernah meninggalkan mu sendiri" Ucap Sakira meyakin kan Arsi hingga tenang dan tidak khawatir.
"Manja" cibir Viki yang sudah terlupakan, sejujurnya jauh didalam lubuk hatinya ia sangat bersyukur karena Arsi sudah siuman.
"Gak usah sibuk loe, tadi aja loe nangis nangis" cibir Arsi.
"Siapa yang nangis, Gak mungkin gue nangis " elak Viki.
"Viki, itu air matanya belum ke lap semua" ucap Davin mengerjai Viki, spontan Viki langsung menyapukan telapak tangan nya pada matanya.
"Hahaha..... katanya gak nangis" Ciburial Arsi mengejek.
"Udah deh, buruan sembuh. Tugas Kuliah loe sudah menunggu" ucap Viki datar.
"Gue masih Sakit tahu, udah loe beri tekanan" bantah Arsi.
"Siapa suruh loe gak sadar 3 hari" balas Viki.
"Lah kan itu bukan maunya gue!!! " bantah Arsi, tubuhnya yang sudah berbaring tadi, kini sudah kembali terduduk menghadap Viki dengan tatapan tajam.
"Gue gak mau tahu, dan gak peduli mau itu mau loe atau nggk" balas Viki lagi.
"Ma..... " Adu Arsi karena tak mampu melawan Viki lagi. Sakira hanya nyengir di tatap Arsi meminta pertolongan.
"Maaf sayang... " ucap Sakira tak enak.
"Papa." Alih Arsi menatap papanya meminta pertolongan.
"Sorry" jawab Davin mengangkat tangannya.
"Siapa lagi? " ledek Viki tersenyum miring.
"Aku! " ucap seseorang.
Glek~Viki menelan liurnya susah payah.
"Aunty.. " Panggil Arsi kegirangan melihat Seila berkacak pinggang menantang Viki.
"Aku gak ikutan yah... " ucap Desta angkat tangan.
"Jangan coba coba ganggu keponakan aku!! kalau berani lawan aku dulu!! " ancam Seila garang.
"Gak kok Aunty, gak berani" jawab Viki mengangguk takut.
"Apa lo? berani sama gue!! " cibir Arsi tersenyum mengejek.
"Sayang, kamu udah siuman? ini aunty bawakan Buah" ucap Seila mengangkat tentengan yang ia bawa.
"Loe gak boleh makan dulu sebelum di periksa" ucap Viki dingin.
"Sedari tadi loe gak panggilin dokter" ketus Arsi.
"Lah kok gue! " ucap Viki menunjuk dirinya.
"Trus siapa lagi, gak mungkin gue kan?. jelas jelas gue sakit" balas Arsi tak mau kalah, ia semakin kesal dengan Viki yang sejak tadi marah marah padanya. Bukannya di manja, eh malah di giniin,pikir Arsi.
"Aduh.... udah deh gak usah berantem, ini rumah sakit loh" lerai Sakira.
"Arsi kamu baru sadar loh nak, Dan kamu Viki adik kamu baru sadar jadi tunda dulu berdebat nya" lanjut Sakira mengomel.
"Dia loh ma nyebelin" adu Arsi.
"Apaan, loe itu yang ngeselin" bantah Viki.
"Mohon maaf yah, saya ijin ingin memeriksa nona Arsi dulu" ijin Doni pada mereka, Viki melirik semua orang seolah berantanya siapa yang memanggil dokter.
"Gue yang panggilin" jawab Bayu.
Davin dan Desta menggeleng melihat tingkah kedua anak itu, mereka memilih untuk duduk di sofa di bandingkan melihat perdebatan Viki dan Arsi yang tidak ada habisnya.