My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
78. Pingit



Arsi turun langsung menuju ruang makan. Tumben sekali Aris bangun sendiri dan bangun lebih awal lagi.


"Wah hari apa ini, Arsi bangun lebih awal" kata Desta meledek.


"Ih apaan sih uncle" balas Arsi cemberut.


"Kamu masuk kuliah sayang? " tanya Cindy.


"Iya oma, hari ini ada 2 mata kuliah, kemungkinan Arsi pulang sore" jelas Arsi.


"Loh, 4 hari lagi kan, kalian menikah. Kamu gak boleh keluar" kata Cindy.


"Huh? kok cepet banget" kaget Arsi.


"Loh, ini kan udah di luar, kesepakatan, seharusnya kalian menikah minggu lalu" sahut Seila.


"Jadi kamu harus di pingit" kata Cindy.


"Viki akan tinggal bersama kami menjelang hari pernikahan" ujar Sumi.


"Iya jeng, Viki akan tinggal di sana sementara" Sahut Sakira menyetujui nya.


Davin dan Kevin hanya mangut mangut mendengar pasmar wanita bebicara.


"Apa? pingit? Arsi gak masuk kuliah lagi? " tanya Bayu yang baru masuk ke ruang makan.


"Iya sayang, 4 hari lagi mereka akan menikah" jelas Celly.


"Auto begadang lagi" lirih Bayu lesuh.


"Hahaha... gue gak salah yah" kata Arsi tertawa.


"Jadi aku dan kak Viki gak boleh bertemu? " tanya Arsi.


"Iya sayang, untuk sementara kamu dan Viki di pingit dulu yah" kata Sakira lembut.


"Ngomong ngomong Viki nya mana? " tanya Mark tidak melihat Viki sejak bangun tidur tadi.


"Apa dia belum bangun? " tanya Arsi tersenyum misterius. Aris sudah berdiri dari duduknya hendak ke kamar Viki.


"No Arsi, biar Bayu yang bangunkan Viki. Kamu tidak boleh terlalu berinteraksi dengan Viki sekarang" cegah Seila.


"Lahh gak bisa balas dendam" pikir Arsi kembali duduk ke kursinya.


"Kenapa? mau balas dendam? " cibir Viki.


Viki mencubit pipi Arsi sebelum duduk di kursinya, Bayu belum sempat membangunkan Viki, eh Viki sudah turun. Ternyata pria itu memeriksa laporan terlebih dahulu baru turun kebawa untuk sarapan bersama yang lain.


"Apaan sih" dengus Arsi menepis tangan Viki mencubit pipinya.


"Gitu aja marah" balas Viki.


"Apalagi malam pertama"bisik Viki membuat Arsi merinding mendengar nya.


" Viki... "tegur Davin.


" Hehe Sorry "


Mereka sarapan dalam diam, tidak ada lagi yang bicara selain dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Setelah selesai sarapan Viki langsung di bawa ke rumah Sumi, begitu juga yang lain, mereka kembali pulang kerumah masing-masing.


Davin pergi kerja, Sakira pergi arisan. Tinggalah Arsi seorang di rumah.


"Benar benar sepi" gumam Arsi menatap ksong rumah nya.


Berbagai kegiatan sudah di lakukan Arsi untuk menghilangkan kejenuhan. Ingin menelfon Meri, tentu saja Meri sedang belajar.


"Apa yang harus aku lakukan menghalau kejenuhan ini" pikir Arsi memutar otaknya.


Jauh berbeda dengan Viki yang menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor dan juga memeriksa hasil kerja mahasiswa/i nya. Tak merasa begitu bosan, Viki sama seperti biasanya, hanya saja ia melakukan semua pekerjaan di rumah.


"Arsi pasti bosan" pikir Viki.


Viki memutuskan untuk menghubungi Arsi melalui video call. Hanya butuh 3 kalo dering, Arsi langsung menjawab panggilannya.


"Halo kak Viki" sapa Arsi sumringah.


"Halo... " sahut Viki.


"Bersabar lah, hanya 3 hari saja" kata Viki.


"Tapi ini sungguh membosankan, apa kak Viki tidak bosan? " tanya Arsi.


"Tentu saja tidak, di rumah atau di kantor sama saja. Pekerjaan ku menumpuk" jelas Viki.


"Wah enak sekali" sahut Arsi.


"Apa kamu ingin menghilangkan bosan? " kata Viki yang langsung di angguki oleh Arsi. Namun berubah menjadi sebuah gelengan,Arsi bisa menebak apa yang di sarankan Viki.


"Seperti nya aku tidak bosan" ICAO Arsi tertawa garing. Ia tidak ingin Viki memberinya tugas untuk menghilangkan rasa bosan.


"Tadi katanya bosan. "


"Sekarang gak lagi" sahut Arsi cepat.


Viki melakukan Video call bersama Arsi sambil memeriksa laporan. Hingga Viki tidak sadar Arsi sudah terkapar tak sadar. Arsi tertidur karena Viki tak kunjung bicara dan membuat Arsi mengantuk dan tertidur.


Sementara di kampus Bayu selalu saja menguap dan menguap. Penyiksaan untuk dirinya kembali terjadi.


"Mereka yang akan menikah kenapa gue yang teraniaya" lirih Bayu


"Loe harus sabar yu, mungkin di saat kita menikah nanti mereka akan menanggung hal yang sama" lirih Meri pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Bayu.


"Maksud loe? " tanya Bayu menatap Meri intens.


Meri menjadi gugup, ia menutup mulutnya yang tanpa sadar mengucapkan hal itu.


"Bukan apa apa" kata Meri datar.


"Dasar aneh! " gerutu Bayu.


"Huuu hampir saja" batin Meri.


Bukan hanya Arsi saja yang tidak masuk, Egi pun tidak masuk kuliah karena demam tinggi.


Bayu dan Meri kemana-mana berdua, biasanya berempat. Keadaan terasa sangat canggung, apalagi Meri yang sering salah tingkah di depan Bayu membuat suasana tak enak.


"Apa kita harus jenguk Egi? " tanya Meri.


"Seperti nya begitu, jarang jarang tu anak sakit" jawab Bayu.


Sesekali Bayu melirik Meri dengan skor matanya, mereka duduk sejajar di bangku taman.


"Apa Arsi masih menutupi identitasnya? " tanya Meri mwn coba mencairkan suasana.


"Dia itu hadis yang tidak suka menjadi pusat perhatian" jelas Bayu.


"Aku tahu" sambung Meri, bagaimana tidak, mereka sudah berteman sejak SmA.


"Bayu!! " panggil maya.


Dengan centilnya maya menghampiri Bayu dan Meri, maya memeluk lengan Bayu manja.


"Aku nyariin kamu dari tadi tahu" gerutu Maya.


. Meri memutar matanya risih dengan kehadiran Maya di sini. Suasana adem tentram m berganti dengan udah panas mencekam.


"He, kok loe di sini sih! " bentak Maya sinis pada Meri.


"Ihh, yang ada loe kali ngapain ke sini" balas Meri.


"Gue kan mau jumpa pacar gue" kata Maya mengakui Bayu sebagai pacaranya. Meri melotot tak pecaya.


"Enak aja" tolak Bayu melepaskan pelukan Maya di tangannya.


"Heh, loe pikir Bayu mau sama loe! " kata Meri mencibir.


"Tentu saja Bayu mau, iya kan sayang" kata Maya tersenyum manis pada Bayu.


"Kagak!! gue itu pacar Maya! " kata Bayu menjauhkan tangan Maya dari tubuhnya, lalu menarik Meri pergi dari sana.


"Bye... " kata Meri menjulurkan lidah pada Maya yang mencak mencak kesal.


...T E R I M A K A S I H...