My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
63. Berdua



Setelah dari kampus Viki langsung menuju ke rumah sakit, meskipun di mata Arsi Viki sangat menyebalkan. Namun Viki sangat peduli dan menyayangi Arsi.


"Sayang kamu sudah pulang? " tanya Sakira.


"Iya ma" jawab Viki. Pria itu meletakkan tas kerja nya di atas meja secara perlahan agar tidak mengganggu tidur Arsi.


"Arsi baru tidur, mama mau pulang dulu. Besok mama dan papa datang kesini lagi" ucap Sakira pamit.


"Baik ma, hati hati" sahut Viki menyalamin mama nya.


"Jaga Arsi yah sayang" pinta Sakira sebelum benar-benar keluar dari ruang rawat Arsi.


"Iya ma " jawab Viki lagi.


Kini tinggal Viki sendiri yang menjaga Arsi, entah sengaja atau bagaimana keluarga nya membiarkan mereka berdua saja di sini.


Viki berjalan mendekati Arsi yang tertidur lelap di ranjang, tampak polos dan menggemaskan.


"Loe cantik kalo diem begini" lirih Viki lalu duduk di kursi jaga samping ranjang Arsi.


Tepat pukul 10 malam Arsi terbangun dari tidurnya, panggilan alam tak dapat di hindari.


"Aduh... kebelet" gumam Arsi membuka matanya. Terasa ada yang menindih tangannya, Arsi melirik kebawah apa yang memberatkan tangannya saat ini. Terasa hangat dan menenangkan, Viki tertidur dengan kepala menindih tangan Arsi yang masih di genggamnya.


Perlahan Arsi menarik tangannya agar Viki tidak terbangun, susah payah mendudukkan tubuhnya dan berusaha agar tidak menimbulkan suara dan pergerakan yang kuat.


"Gue tahu loe sangat tampan" puji Arsi mengusap pipi Viki lembut.


Teringat akan niatnya terbangun, Arsi pun perlahan turun dari ranjang.


"Mau kemana? " tanya Viki mencegat tangan Arsi.


"Astaga.. loe bikin gue kaget aja" serga Arsi kaget.


"Kaya ketangkep maling aja loe" cibir Viki.


"Udah deh diem, gue mau ke toilet" ketus Arsi perlahan menuruni ranjang. Masih ngilu, Arsi meringis menahannya.


Sleesss~ "Akh!!! " teriak Arsi tiba-tiba tubuhnya melayang.


"Turunin gue!! gue bisa sendiri" gonta Arsi meminta Viki menurunkannya.


"Diem! atau loe gue cium! " ancam Viki membuat Arsi langsung menutup bibirnya dan tidak bersuara lagi.


Viki tersenyum, ancamannya masih berlaku pada Arsi. Di dalam toilet, Viki menuruni Arsi agar Segera menyelesaikan hajatnya.


"Buruan!! " desak Viki.


"Yaudah keluar sono!! " usir Arsi, bagaimana mungkin ia bisa buang air kecil jika Viki masih ada di dalam bersamanya.


"Ribet amat, buruan!! gue gak bakal nafsu" ketus Viki tak mau keluar.


"Gak nafsu tapi khilaf ntar" jawab Arsi mendorong Viki keluar.


"Body triplek juga, gak bakalan berdiri si jago" gerutu Viki keluar dari toile.


Blam!! ~ Arsi menghempaskan pintu toilet kuat menjawab dumelan Viki.


5 menit berlalu, pintu toilet pun terbuka. Arsi kaget melihat Viki masi ada di depan pintu toilet.


"Udah? " tanya Viki.


"Udah" jawab Arsi berjalan pelan ke ranjang.


"Sini gue bantu" tawar Viki.


"Gue bisa sendiri! " tolak Arsi, gadis itu berjalan perlahan menuju ranjang yang jaraknya tak jauh dari toilet. Hanya saja karena perutnya masih terasa ngilu Arai merasa ranjang itu sangat jauh.


"Dasar keras kepala! " gerutu Viki kembali mengangkat Arai lalu membaringkan nya keatas ranjang.


"Gu-" ucap Arsi terpotong.


Cup~ Viki mengecup bibir Arsi sekilas. Matanya menatap lurus ke dalam mata Arsi.


Arsi yang masih syok tak berani bersuara lagi, ia membiarkan Viki membaringkan nya hingga menyelimuti tubuhnya.


"Sekarang loe tidur" titah Viki membuat Arsi langsung menutup matanya. Namun beberapa detik kemudian Arsi kembali membuka matanya, ia pikir Viki tidak menatap ke arahnya.


"Kenapa? mau gue cium lagi? " ancam Viki, Arsi pun langsung menggeleng dan menutup matanya rapat. Entah kemana larinya keberanian Arsi, jingga menjadi gadis penurut seperti ini pada Viki.


Viki mengulum senyum melihat Arsi yang patuh padanya. "Gini kan manis" puji Viki di dalam hati.


"Aduh, kenapa gue jadi berdebar gini sih.. " gerutu Arsi di dalam hati. Ia berharap mama atau papanya cepat datang dan membuat nya tak canggung berdua saja dengan Viki.


Sesekali Arsi mengintip melihat Viki udah tidur atau belum. "Jangan ngintip ngintip! " peringat Viki memergoki Arsi.


"Gue gak ngintip kok! " bantah Arsi membela diri.


Cup~ Viki kembali mengecup bibir manis Arsi. Bukan sebuah ancam sebenarnya, Viki sengaja melakukan hal itu agar bisa mengecup bibir Arsi lagi.


"Kok loe cium gue!! " bentak Arsi tak Terima.


"Hukuman buat loe yang ngebantah gue! " jawab Viki dingin.


"Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan yah! " serga Arsi menutup bibirnya dengan selimut.


"alah, bilang aja loe senang gue cium" cibir Viki percaya diri.


"Enak aja loe, najis" sahut Arsi.


"Mana ada maling ngaku" sahut Viki lagi.


"Mama!!!!!!! " teriak Arsi tak tahan lagi, lama lama berada di dekat Viki bisa berakibat fatal untuk dirinya. Selain luka yang tidak sembuh, malah jantung Arsi yang ikut meledak nanti.


"Gak ada mama loe di sini! " ucap Viki tersenyum miring.


"Lama lama berdua sama loe di sini buat gue semakin sakit" teriak Arsi.


"Pelan kan suara loe, ini rumah sakit! " ucap Viki mengingatkan Arsi.


"Bodo amat!. "ucap Arsi tak peduli.


" Hiks!!! hikss!!! mama!!! aku mau pulang!! "teriak Arsi semakin mengeraskan suaranya.


" Sttttttt pelan kan suara loe!! "peringat Viki memberi isyarat agar Arsi diem.


" Huaaaaaaa mama!!! "teriak Arsi semakin menjadi jadi.


Cup~ Viki membungkam bibir Arsi dengan bibirnya agar tidak berteriak lagi. Bukan hanya sekedar kecupan, Viki tak melepaskan bibir Arsi.


Arsi yang kaget langsung menutup kedua matanya, ia benar-benar syok sekarang. Jantung nya bertak tak beraturan.


Perlahan Viki mulai menggerakkan bibirnya ******* bibir Arsi. Tak ada balasan, Viki terus mengecup dan sesekali mengisap bibir bawa dan atas Arsi secara bergantian.


" Akhh.. "lenguh Arsi ketika Viki dengan sengaja menggigit kecil bibir bawa Arsi agar terbuka, sehingga dengan leluasa Viki bisa masuk dan mengakses setiap inci mulut Arsi.


Mulai terlena Arsi mulai berani membalas kecupan dan ******* bibir Viki.


Merasakan adanya balasan dari Arsi membuat Viki semakin menjadi jadi, kini pria itu sudah tidak berdiri di samping ranjang Arsi lagi. Entah sejak kapan, Viki sudah berbaring di samping Arsi.


" Loe pinter juga kalo ciuman" ucap Viki melepaskan tautan bibir mereka. Arsi tak menjawab, ia sangat malu karena terlambat oleh permainan bibir Viki. Arsi malah menyembunyikan wajah pada dada bidang Viki, membuat si empunya tertawa keras.


"Dasar " densus Arsi, namun tak berani menatap wajah Viki.


Akhirnya mereka tertidur bersuara diatas ranjang Arsi dalam kondisi saling berpelukan.


Arsi merasa sangat nyaman dan tertidur pulas, meskipun jantung nya berdetak tidak normal.


"Selamat tidur honey" brisik Viki, entah masih terdengar oleh Arsi entah tidak Ia sudah terlanjur masuk ke dunia mimpinya.


Tak lama kemudian Viki pun ikut masuk ke dalam dunia mimpi yang hanya dia yang tahu.


...T E R I M A K A S I H...