My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
80.Wedding



Arsi menatap pantulan dirinya di cermin, senyum bahagia terlihat di wajah mungilnya.


Tuk! Tuk! Tuk!


"Masuk! " teriak Arsi.


Sakira masuk menghampiri putrinya, wajah bahagia terlihat di raut wajah Sakira.


"Sayang" panggil Sakira.


"Ma.. " Lirih Arsi.


"Kamu sudah besar sekarang, mama yakin putri mama akan jadi istri yang baik" kata Sakira memeluk Arsi, sedikit berjarak karena konde Arsi sedikit besar.


"Aduh, berat ma" adu Arsi.


Sakira terkekeh, tingkah anaknya sungguh lucu.


"Yaudah yuk, semua orang sudah menunggu kita" ajak Sakira.


Sakira menuntun Arsi menuruni tangga, rumah yang sudah di sulap jadi pesta pernikahan Arsi dan Viki terlihat begitu mewah dan megah. Arsi sengaja tidak ingin menyewah gedung, ia berpikir buat apa punya rumah besar kalau pesta tak bisa di pergunakan.


"Wah cantik sekali"


"Astaga itu anak Davin? "


"Baru tahu putri tunggal keluarga Ricardo secantik ini"


Banyak pujian pujian terlontar dari para tamu, Arsi tersenyum percaya diri. Matanya menatap Viki yang tak berkedip melihat penampilan nya.


"Cantik banget" batin Viki, tak sadar Viki sudah berada di depan Arsi, menyambut Arsi yang diserahkan oleh Davin.


"Kamu cantik sekali" puji Viki.


"Terimakasih" balas Arsi tersenyum manis.


Acara pun dimulai, Viki mengucapkan akad dengan lancar. Akhirnya mereka Sah menjadi suami Istri.


"Alhamdulillah" syukur mereka semua. Arsi mengecup punggung tangan Viki, di balas kecupan di kening Arsi oleh Viki.


"Selamat untuk istri ku" kata Viki.


"Selamat juga untuk suami ku" balas Arsi.


Acara pernikahan di hadiri oleh orang orang tertentu, rekan rekan bisnis dan juga keluarga terdekat.


"Selamat yah Viki, Arsi" kata tamu bersalaman memberi doa.


"Iya"


"Selamat Viki, Arsi"


"Iya terimakasih"


Arsi merasa sangat pusing, konde di kepalanya terasa begitu berat.


"Apakah masih lama? " kata Arsi mengeluh.


"Kenapa? "


"Ini berat tahu" kelu Arsi. Viki memijat kepala Arsi berharap membantu menghilangkan sakit di kepala Arsi karena konde.


"Cieeee tahan dulu brother, tinggal beberapa jam lagi" kata Bayu berbisik mengatakan jamnya.


"Apan sih loe, mau gue potong gaji? " ancam Viki pada Bayu.


"Enak aja, gue kerja di perusahaan gue sendiri." cibir Bayu.


"Eh tapi gue ada kado untuk kalian berdua"


Bayu memberikan bingkisan berbentuk kotak, entah apa isinya mereka tidak tahu. Arsitektur mengguncang guncang mendengarkan apa isi dari kotak kado itu.


"Apaan sih isinya? " tanya Arsi penasaran.


"Selama Arsi.. " kata Meri memeluk Arsi, lalu salim dengan Viki.


"Terimakasih Meri ku sayang" balas Arsi.


"Nah, kado dari gue" kata Meri lalu mendekat pada Arsi.


"Bukanya dalam kamar yah" bisik Meri.


"Memangnya apa isinya? " tanya Arsi bingung.


Viki menggeleng, ia sudah bisa menebak apa yang di berikan Meri pada Arsi.


"Daleman tu" tebak Bayu.


"Bayu!!! " bentak Meri.


"Benarkah? " kata Arsi meneliti hadiah dari Meri.


"Nanti saja di buka, jangan sekarang" cegah Meri ketika Arsi ingin membukanya.


"Baiklah" sahut Arsi meletakkan hadiah dari Meri dan Bayu.


"Egi mana? " Sejak tadi Arai tidak melihat kehadiran sahabat nya satu itu.


"Egi tidak bisa hadir, mamanya masuk rumah sakit" jelas Meri.


"Gue juga gak tahu, tadi Egi menelfon gue makanya gue tahu" kata Meri.


Nisa naik ke pelaminan, senyum manis terukir di wajahnya. Arsi yang memang tak menyukai Nisa menatapnya sinis.


"Selamat yah Viki, akhirnya loe Nikah juga" kata Nisa memeluk Viki, hatinya tercabik cabik, tak rela karena Viki bukan milik nya.


"Terimakasih Nisa, semoga cepat nyusul" balas Viki melepaskan pelukan Nisa.


Beralih ke Arsi, Nisa tersenyum sinis, "Selamat yah Arsi loe berhasil rebut hati Viki" kata Nisa.


"Gue gak rebut, hati dia memang milik gue" balas Arsi.


"Iya iya gue tahu, intinya selamat yah" kata Nisa lagi, ia mendekat ingin memeluk Arsi.


"Jaga suami loe baik baik" bisik Nisa, lalu menegakkan tubuhnya namun di tahan Arsi.


"Jika ingin jadi pelakor di rumah tangga gue, lebih baik loe mikir 2 kaki" balas Arsi.


Nisa turun dari pelaminan, tangannya mengepal mendengar kata kata Arsi. Seakan menantang, Nisa merasa di remehkan saat ini.


"Loe lihat aja nanti" kata Nisa dalam hati sembari menatap Viki dan Arsi tertawa bersama Meri dan Bayu.


"Kalian kapan nyusul? " tanya Arsi iseng.


Viki kaget, ia tak mengerti maksud dari istrinya. Sementara Bayu dan Meri menjadi salah tingkah.


"Kali gua mah main lanjut aja Si" sahut Meri.


"Wah sikat yu, dah ada lampu hijau tu" sahut Desta yang baru saja naik ke pelaminan. Bayu semakin mati kutu sekarang.


"Lemah tu uncle, Bayu gak berani" sindir Viki memanas manasi.


"Iya Ma.. Bayu ke sana sekarang" ujar Bayu mencari alasan untuk kabur, padahal Celly tidak ada memanggilnya.


"Dasar cemen" ledek Desta.


"Yaudah neng, sama om aja" gurau Desta.


"Ihhh gak mau, entar ada mama garong" balas Meri memperagakan ala ala kucing, gak sadar Seila sudah berada di belakang mereka.


"Ooo jadi aunty kucing garong nya dong? " sahut Seila di belakang.


"Alamak, kucingnya datang" kata Meri kaget.


"Sorry yah semua nya, aku harus pergi" ujar Meri kabur sebelum Seila mengamuk.


Arsi dan Viki memegangi perutnya melihat tingkah Meri kabur dan langsung di kerja Seila.


"Jangan kabur anak nakal" teriak Seila. Meri sudah biasa dengan keluo Arsi, sejak Arsi jujur soal siapa dirinya sebenarnya, Meri jadi sering kerumah nya menemani Arsi ketika sedih.


Para tamu sudah mulai bubar, Arsi menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah melepaskan konde yang terasa berat di kepala.


"Akhirnya aku bebas" kata Arsi merenggangkan tubuhnya.


"Capek banget yah? " bisa Viki.


"Capek banget" balas Arsi.


"Masih ada yang buat lebih capek" goda Viki dengan mata mengedip satu.


"Apa? " tanya Arsi polos.


Viki mengisyaratkan pada Arsi agar mendekat lebih dekat lagi. "Buat anak" bisik Viki.


Bug!


Bug!


Arsi langsung memukul muluk Viki dengan bantal, Viki benar-benar keterlaluan mengatakan hal itu.


"Sakit tau dek" ringis Viki mengusap punggung nya yang di pukul pukul Arsi tadi.


"Yah kan emang bener" kata Viki terkekeh melihat wajah merah Arsi.


Viki dan Arsi tak sadar jika Aksi mereka di lihat oleh banyak orang.


"Wah, penganten barunya mesra yah" cibir kevin.


"Hehhe... " kekeh Viki.


"Lupa, kalau ini di ruang tamu" lirih Arsi.


"Kalau gak di ruang tamu empat kenapa? " tanya Bayu.


"Yah enak enak" sahut aldi dan aldo.


"Hust!!! anak anak kok dah tahu enak enak" sanggah Cindy. Aldo dam aldi langsung menunjuk Bayu.


"Hehe... enak makan maksudnya" lirih Bayu.


Sakira memeluk suaminya, akhirnya semua permasalahan selesai. keluarga mereka kembali damai dan bahagia.


"Apa kabar mama yah? " gumam Sakira


...T E R I M A K A S I H...