
Arsi masih menangis di balkon kamarnya. Meski sudah tak sekeras tadi, isak tangis masih tersisa.
Drttt Drttt
Arsi meronggoh tas nya yang berbunyi dan bergetar, Arsi cepat cepat menghapus air matanya dan merapikan penampilan wajahnya.
Mata sembab sudah ia tutupi dengan beberapa make up.
"Halo.. ada apa? " tanya Arsi mengangkat panggilan Video dari Alex.
"Loe gak papa kan? " tanya Alex terlihat khawatir.
"Gue baru liat berita kampus" lanjut Alex.
"Gue gak papa kok, santai aja" jawab Arsi memaksa tersenyum ia tidak ingin orang lain melihat kerapuhan nya.
"Ada waktu gak?" tanya Alex berniat mengajak Arsi dinner.
"Ada, kenapa? " tanya Arsi mengerut.
"Gue mau ajak loe makan malam berdua, mau gak? " tanya Alex penuh harap.
Arsi berpikir sejenak, dengan hatinya yang masih berantakan, Arsi sangat butuh hiburan.
"Boleh deh" jawab Arsi mengangguk menerima ajakan Alex. Pria itu terlihat senang saat ini.
"Gue jemput yah" ucap Alex yang langsung di jawab gelengan kepala dari Arsi.
"Jangan!! " teriak Arsi cepat. Ia tidak mau Alex tahu siapa dia sebenarnya.
"Kenapa? " tanya Alex bingung.
"Kita ketemu di tempat biasa aja" jawab Arsi langsung memutuskan panggilannya. Ia tidak mau jika Alex terus membujuknya untuk datang menjemputnya ke rumah.
Arsi menghela nafas pelan, hidup kaya seperti ini juga tidak menyenangkan baginya. Bukan ia tak bersyukur, tetapi terkadang Arsi merasa ingin hidup sederhana seperti orang orang di luar sana yang terlihat sangat bahagia dengan kesederhanaan nya.
Arsi mandi terlebih dahulu sebelum bergegas menemui Alex. Setidaknya hatinya terhibur jika bersama Alex. Pria yang lucu dan bisa membuat mood Arsi berubah.
"Mau kemana? " tanya Viki.
Arsi tak menghiraukan nya, ia terus berjalan melewati Viki yang berdiri di ruang tamu.
Merasa di abaikan, Viki mengejar Arsi dan mencekal lengannya.
"Lepas! " bentak Arsi menatap Viki tajam.
"Gue nanya, mau kemana? 'ulang Viki.
" Bukan urusan loe! "balas Arsi ketus berusaha melepaskan cekalan kuat di lengannya.
"Kalo loe gak mau jujur, gue gak bakal ngasih loe ijin! " ancam Viki masih tak melepaskan Arsi.
Arsi menatap Viki lekat, matanya menatap Viki tajam, lalu memajukan wajah hingga beberapa cm dengan wajah tampan Viki.
"Gue gak peduli! " ucap Arsi tepat di depan wajah Viki, membuat Viki sedikit terkejut dengan apa yang Arsi lakukan, sehingga membuat perhatiannya teralih dan cekalan tangannya melemah.
"Arsi!!! Gue bilang berhenti!!!! " teriak Viki memanggil Arsi keras, matanya menatap lurus adiknya yang sudah berlari keluar rumah tanpa memperdulikan panggilannya.
"Sial!! " umpat Viki kesal!. Ia tahu Arsi akan kemana dan bertemu dengan siapa. Terdengar jelas di telinganya pembicaraan Arsi dengan pria yang ia lihat duduk di samping Arsi ketika di kafe kemarin.
Bukan Viki berhenti di situ saja, ia malah mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo"
".... "
" Ikuti mereka dan awasi terus" titah Viki lalu memutuskan panggilan nya. Tatapan sulit di artikan terlihat di mata Viki, ia masih menatap pintu, meski sudah tak terlihat Arai di sana.
30 menit berlalu, Arsi tiba di kafe yang biasa ia kunjungi bersama Alex. Hubungan mereka cukup dekat, Arsi sudah menganggap Alex sama seperti saudara laki-laki nya. Berbeda dengan Alex yang sudah sejak lama mencintai Arsi.
"Belum beberapa menit" jawab Alex tersenyum.
"Maaf yah, gue baru tahu soal berita itu" ucap Alex membuka pembicaraan setelah beberapa menit mereka saling terdiam.
"Santai aja kali, gue gak terlalu memikirkan nya" jawab Arsi tersenyum manis, Alex yang melihat itu harus mengontrol dirinya agar tidak menyerang Arsi yang terlihat begitu manis dan memancing untuk segera ******* bibit sexi itu.
"Mau Pesam apa? " tanya Alex mengalihkan perhatiannya dari bibir Arsi. Ia lelaki normal, tergoda dengan yang bening bening.
"Biasa deh" jawab Arsi santai.
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka pun datang. Arsi menatap satu per satu makanan yang selalu menggugah seleranya.
Nasi goreng pedas dengan toping ayam bakar, membuat Arsi meneguk liurnya.
Tanpa aba aba lagi, Arsi langsung menyantap makanan di depannya, selain lapar Arsi juga butuh pelampiasan kesedihan di hatinya.
"Pelan pelan ci... " peringat Alex lembut mengambil tisu untuk membersihkan bibir Arsi yang berlepotan.
Arsi tak bergerak, ia membiarkan Alex memberikan bibirnya.
"Wahhhh ada jalang ni" cibir seseorang.
Arsi tak terima dengan ucapan yang ternyata adalah Maya dan gengsnya. Dengan malas Arsi menatap Maya yang tersenyum remeh padanya.
"Udah yah, Gue lagi gak mood" ucap Arsi malas.
"Kalian apa apaan sih" bentak Alex pada ketiga wanita yang menurutnya lebih pantas di katakan wanita penghibur. Penampilan menggoda mereka terlihat seperti jalan ya g berkerja di bar.
"Uuu pangerannya marah" Sahut Sintia di buat buat takut.
"Kemarin dengan dosen, sekarang dengan anak kampus, dan besok dengan siapa lagi yah??? " ucap Maya di sengaja lebih keras.
Pengunjung yang mendengar ucapan mereka mulai melihat ke arah meja mereka. Banyak yang sudah berbisik bisik sembari melirik ke arah Arsi.
"Jaga yah ucapan loe! " hardik Alex membela Arsi yang sedari tadi diam saja.
"Uuuuu jalangnya diem aja tuh" sahut teman Sintia satu lagi.
"Kan emang bener, yah diam lah dia" jawabaya lalu tertawa keras bersama teman temannya.
Byurr~
Arsi menyiram Maya dengan jus yang belum di minumnya sedikit pun. Hatinya sudah terbakar mendengar ucapan Maya yang semakin membuat nya malu. Musuh lamanya ini selalu saja membuat masalah dengan nya. Sejak SMA Maya selalu membuat onar dengan lawan main yaitu Arsi.
"Maya!!! " ucap Sintia melotot dengan apa yang Arsi lakukan terhadap bos mereka.
"Lo apa apaan sih!! " bentak Maya kesal karena wajah dan bajunya basa terkena jus Arai.
"Sory yah, jus nya dah gak enak, jadi gue buang deh pada tempat nya" ucap Arsi di buat buat seolah olah menyesali perbuatannya. Lalu memilih pergi dari sana.
"Loe kira Maya sampah apa! " bentak teman Maya satu lagi.
"Ups, mungkin Arsi kira sama" jawab Alex tersenyum miring menatap wajah masam Maya berlumuran jus alpukat.
Alex menyusul Arsi yang sudah lebih dulu keluar dari kafe itu.
"Awas loe!!! " teriak Maya tak terima di perlakukan seperti ini.
"Sabar yah Maya" ucap Teman Maya yang satu lagi yang benar-benar lola jika di bawa cerita.
Sementara di parkiran Arsi berjalan cepat menuju mobil Alex, ia berniat untuk menunggu Alex di mobilnya dan mengajak Alex ke tempat lain saja.
Ketika Arsi melewati sebuah mobil, tiba-tiba pintu mobil terbuka tepat di depan Arsi.
"Akh!!! " pekik Arsi kaget tiba-tiba tubuhnya di tarik masuk ke dalam sebuah mobil.
...T E R I M A K A S I H...