My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
71. Terlambat



Semua persiapan telah di persiapkan, Arsi sudah dandan sangat cantik menyambut acara pertunangannya dengan Viki, pria yang sampai saat ini masih menjadi idolanya meskipun selalu berantem.


"Apa semuanya udah siap? " tanya Sakira.


Arsi pun menganggu senang, lalu arsi berjalan menuruni tangga bersama mama Sakira.


"Hellooo ini keponakan cantik ku" puji Seila menatap Arsi berbinar.


"Tentu saja, lihat papanya yang tampan ini" sahut Davin percaya diri. Semua keluarga sudah berkumpul kecuali Viki.


Pertunangan ini hanya di hadiri oleh kerabat kerabat dekat saja.


"Ma.. " panggil Arsi lirih.


"Iya sayang? " sahut Sakira berjalan mendekat pada putrinya.


"Oma Mina dan Oppa Jidan di undang gak? " tanya Arsi takut takut.


Sakira menghela nafas, mereka sudah menghubungi ayah mertuanya itu. Namun belum bisa di pastikan mereka hadir, mengingat Mina masih belum bisa menatap wajah Viki.


"Kita berdoa saja yah sayang" kata Sakira mengusap pipi gembul Arsi.


Sudah pukul 2 siang, sebentar lagi acara akan di mulai. Namun Viki belum memperlihatkan tanda tanda kehadirannya.


Desta dan Bayu sudah berusaha menghubungi Viki, namun tidak satupun yang di jawabnya.


"Kemana bocah itu! " dumel Davin.


"Kak Viki kemana pa? kenapa belum pulang? " tanya Arsi kesal, make up nya pun sudah hampir luntur keseringan di lap pake tisu.


"Papa juga gak tahu, ini lagi di hubungi" jawab Davin.


"Sayang, kamu istirahat aja dulu. Mungkin Viki ada kerjaan sebentar lagi pasti pulang" bujuk Cindy.


"Iya oma" jawab Arsi.


Sementara di sebuah kafe Viki duduk dengan gelisah. Orang tua Nisa tiba-tiba menghubungi Viki dan meminta Viki untuk membujuk Nisa pulang. Karena itu Viki duduk di kafe menunggu Nisa datang dan langsung berbicara agar Nisa pulang.


"Hai Viki" sapa Nisa tersenyum.


Nisa duduk di depan Viki, senyum di bibirnya tak pernah pudar.


"Aku pikir kamu gak akan pernah bertemu dengan ku lagi" ujar Nisa.


"Nisa aku ajak kamu kesini di suruh mama papa kamu. Mereka menyuruh mu untuk pulang! " kata Viki to the point.


"Jadi karena itu kamu nemuin aku? " tanya Nisa.


Viki mengangguk, lalu berdiri dari duduknya.


"Aku ada urusan, kamu jaga diri baik baik! "


"Aku mencintaimu Viki!! " teriak Nisa.


Viki berbalik menatap Nisa, lalu berjalan mendekati Nisa lagi.


"Kita sudah sepakat Nisa, kita hanya sahabat. Tidak ada cinta di dalam nya" ucap Viki.


"Gak Viki, aku gak bisa" tolak Nisa.


"Kami pasti bisa! hari ini aku tunangan dan aku sangat mencintai gadis ku" ucap Viki.


Bagai di sambar petir, hati Nisa hancur mendengar penuturan Viki.


"Sama siapa? "


"Itu kamu gak perlu tahu, aku harus pergi sekarang"


Viki melangkahkan kakinya meninggalkan Nisa dengan hati yang hancur. Gadis itu ambruk di lantai dan mulai terisak.


"Astaga, sudah jam 2 " gumam Viki panik.


Mobil Viki pun melaju, ia sudah terlambat sekarang, arsi pasti marah pada nya.


Viki tiba di rumah, ia langsung berlari memasuki rumah.


"Maaf aku terlambat" ucap Viki merasa tak enak.


"Dari mana saja kamu Viki? " tanya Sakira.


Viki berjalan mendekati mama dan papanya untuk menjelaskan semuanya.


"Tadi Nisa... "


"Apa? Nisa? " ulang Arsi terkejut.


Arsi tak percaya Viki melupakan pertunangan nya hanya karena wanita ular itu.


"Tadi itu... " Kata Viki terhenti ketika melihat Arsi berjalan ke meja, lalu mengambil cincin pertunangan mereka.


"Sekarang kami resmi bertunangan" lirih Arsi.


Arsi berlalu meninggalkan acara, Sakira dan Davin tercengang melihat apa yang di lakukan putrinya.


Viki berlari mengejar Arsi, ia tak akan membiarkan Arsi salah paham.


"Arsi!!! Arsi!! gue bisa jelasin! "


Viki terus berusaha membujuk Arsi agar mau mendengar kan nya.


Blam~ bunyi hempasan pintu kamar Arsi.


"Arsi!!! dengerin gue dulu!!!! ini gak seperti yang loe bayangin!! " teriak Viki mengebor ngedor pintu Arsi.


"Bagaimana ini? " ucap Seila. Mereka bingung harus melakukan apa, Arsi yang merajuk dan Viki yang keterlaluan.


Viki kembali ke ruang tamu dengan muka muram.


"Kenapa bisa sih kamu lupa dengan acara istimewa ini! " omel Seila.


"Aku gak lupa aunty! "


"Lalu apa? tidak ingat? " sahut Celly.


Viki menjambak rambutnya kasar, ia benar-benar bingit sekarang.


"Bapak tega banget! " tutur Meri, lalu pergi menyusul Arsi ke kamarnya.


"Jelaskan! " titah Davin dingin.


"Orang tua Nisa nelfon Viki, meminta Viki untuk membujuk Nisa pulang" jelas Viki geram.


"Nisa siapa? " tanya Celly, ia tidak kenal siapa wanita yang Viki cerita kan.


"Kalian tabu sendiri, Nisa sangat dekat dengan ku! Aku tidak bisa menolak permintaan kedua orang tua nya, karena mereka memohon! " jelas Viki panjang lebar.


Sementara di kamar Arsi memukul mukul bantal melampiaskan kekesalannya.


"Kenapa gue berharap dia benar-benar menyukai ku!!! " teriak Arsi terus memukul mukul bantal.


Satu bantal pun hancur, Arsi memukul, melempar, bahkan menyobek bantal itu hingga kapas bantal berterbangan ke mana mana.


Tuk! Tuk!


Arsi menoleh ketika pintu kamarnya diketuk.


"Arsi ini gue!! apa gue boleh masuk? " bujuk Meri.


Tak bergeming, Meri terus mengetuk pintu kamar hingga Arsi membukanya.


Ceklek~


Pintu kamar pun akhirnya terbuka, Meri langsung masuk kedalam kamar tak menyia nyiakan kesempatan.


Meri melotot melihat keadaan kamar Arsi yang sangat berantakan.


"Kau baru saja selesai mengamuk? " tanya Meri tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Bersihin cepet" titah Arsi seenaknya.


Meri berkacak pinggang mendengar perintah Arsi yang tak masuk akal. Mana mungkin dirinya yang membersihkan kamarnya.


"Loe gila? " kata Meri.


"Yaudah keluar! " ucap Arsi acuh.


Meri pun menghela nafas berat, lalu duduk di samping Arsi. Meri tahu bagaimana perasaan Arsi saat ini.


"Loe pasti sedih banget yah" kata Meri.


"Tidak! aku tidak sedih" sangkal Arsi.


"Lalu? kenapa mengamuk seperti ini? " tanya Meri lagi.


"Aku hanya kesal! aku tidak Terima pria brengsek itu melupakan acara ini" kata Arsi dengan nada kesal.


"Mungkin pak Viki punya alasan" bujuk Meri berpikir positif.


"Gak, gue tahu siapa Nisa. Gue yakin ini semua pasti rencana dia! " tutur Arsi kembali menggebu gebuh.


"Nah tu loe tahh wanita itu yang salah, Trus kenapa marah ke pak Viki? "


"Yah jelaslah, pria bodoh itu mau mau saja di bodohi wanita ular itu" ucap Arsi lagi.


"Aku tidak mengerti" ungkap Meri mengusap kepalanya yang berdenyut. Kisah sahabat nya ini sungguh rumit, Meri sebagai sahabatnya saja pusing memikirkannya.


...T E R I M A K A S I H...