My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
61. Jangan tinggalkan aku [Arsi]



Dua orang bocah yang memiliki wajah kembar tengah main di ruang tamu. Satu duduk di lantai, dan yang satunya lagi berbaring di sofa bermain game di ponselnya.


"Do, hidupin hotspot loe" titah Aldi tanpa menoleh pada Aldo.


"Buat apa? kan wifi ada" ketus Aldo, Aldo selalu saja meminta datanya padahal jatah kuota sama banyak dari papanya. Jika dirumah mereka menggunakan Wifi, entah bagaimana cara Aldi menghabiskan kuotanya.


"Buruann!! " desak Aldi.


"Udah, makan tu darah gue " sungut Aldo.


Tak bersuara lagi, Aldi langsung menghubungkan ponselnya dengan hotspot Aldo. Tiba-tiba kening Aldi mengerut, sebuah perangkat yang tidak di ketahui nya tengah terpasang di rumah nya.


"Ini perangkat siapa Do? " tanya Aldi menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan deretan nama perangkat yang terdeteksi ponselnya.


"Ini bukan HP atau laptop kayanya" ujar Aldo.


"Jangan jani ada yang masangin perangkat lain di rumah ini" tebak Aldi.


"Jangan sembarangan loe, mana ada yang berani masuk kerumah ini selain orang orang tertentu" bantah Aldo.


"Eh cok, musuh itu terkadang adalah orang terdekat kita" ucap Aldi lagi.


"Bener juga, tumben otak loe berguna" cibir Aldo yang langsung mendapat tabokan dari Aldi.


Peletak!!


"Au sakit " ringis Aldo mengusap kepalanya.


"Udah ayo kita cari, perangkat apa itu" Aldi melirik kiri dan kanan, memperhatikan setiap sudut, setiap barang yang ada di ruang tamu.


"Aku yakin ada di ruas tamu ini, karena singal nya sangat kuat di sini" ucap Aldi.


Mereka terus memeriksa ruang tamu, meski masih bocah, mereka sudah mengetahui banyak hal. Terlahir dari keluarga kaya dan memiliki usaha yang melegit membuat para anak pewaris mempelajari banyak hal sejak dini, karena musuh tidak mengenal tua dan muda, yang terpenting bagi mereka tujuan tercapai.


"Do.... seperti nya benda ini" ucap Aldi menemukan sebuah kamera CCTV yang ukuran nya mini, sehingga di selipkan pada barang barang pajangan tidak akan terlihat.


"Ini CCTV di" sahut Aldo menatap benda itu yang sudah berada di tangan Aldi.


"Lagi ngapain? " tanya Seila.


"Ma, CCTV ini siapa yang punya? " tanya Aldi menyodorkan kamera CCTV pada mamanya.


"Dimana kalian menemukan nya? " tanya Seila kaget.


"itu mah di balik foto itu" tunjuk Aldi pada bingkai foto pernikahan Davin dan Sakira.


"Ini bukan milik keluarga kita kan mah? " tanya Aldo.


"Iya, ini bukan milik kita" jawab Seila menatap kamera mini itu.


"Yasudah nanti kita tanyakan pada papa mu dan kak Viki. Sekarang mama mau buru buru" jawab Seila menyimpan kamera CCTV itu ke dalam tasnya.


"Mama mau kemana? " tanya Aldi.


"Mama mau ke rumah sakit, Kak Arsi sudah di temukan" jawab Seila singkat lalu bergegas pergi.


"Mama tunggu!!! " teriak Aldo menyusul Seila.


"Mau kemana? " tanya Aldi.


"Mau ikut lah" jawab Aldo singkat.


"Aku juga!! " teriak Aldi tak mau ketinggalan.


"Buruan... " sahut Seila agar kedua bocah kembar itu bergegas.


*


*


*


Di rumah sakit.


Viki berjalan mondar mandir di depan ruang UGD menunggu dokter selesai menyelamatkan Arsi.


"Duduk deh" ucap Bayu, ia pusing melihat kakaknya ini mondar mandir seperti itu.


Viki terus mondar mandir mengabaikan ucapan Bayu, ia benar-benar khawatir saat ini.


"Viki!!! " panggil Sakira.


"Mama" gumam Viki kaget mendengar suara mamanya, ia pikir panggilan itu hanya di dalam pikiran nya saja.


"Bagaimana keadaan adik kamu? " tanya Sakira khawatir, Viki tak langsung menyahut, ia masih belum sadar jika ini benar-benar Sakira.


"Ini beneran mama? " tanya Viki memastikan.


"Iya sayang, ini mama" jawab Sakira memeluk Viki.


"Bagaimana bisa? " tanya Viki tak bingung.


"Cerita nya panjang sayang" jawab Davin.


"Papa juga ada disini? " ucap Viki kaget.


Desta dan Kevin bernafas lega, dugaan mereka benar Sakira dan Davin masih hidup.


"Cerita nya panjang, sekarang keadaan Arsi bagaimana? " tanya Davin.


"Masih di tangani pa" jawab Viki.


"Iya, setelah mendapat kabar kami langsung ke sini" jawab Davin.


Viki mengerut, banyak pertanyaan menghinggapi pikiran nya. Namun Viki mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih banyak lagi.


Sementara Bayu dan Desta memilih untuk mendengar dan memperhatikan mereka saja.


Ceklek~


Pintu ruang UGD tempat Arsi di tangani terbuka, lalu menampilkan seorang dokter.


Viki langsung mendekati dokter, di ikuti oleh Sakira dan yang lain.


"Bagaimana kondisi nya dok? " tanya Viki khawatir.


"Nona Arsi baik baik saja, luka tusukan nya lumayan dalam, namun kalian tidak perlu khawatir. Sekarang kita tunggu nona Arsi sadar. " jelas dokter doni.


"Syukurlah" gumam Davin, Sakira langsung bernafas lega menyeder pada dada bidang suaminya karena kakinya terasa lemes sekarang.


"Sayang, putri kita baik baik saja" ucap Davin menenangkan istrinya.


"Syukur lah dia baik baik saja" gumam Sumi.


Mark yang sedari tadi diam saja, bernafas lega karena wanita yang menarik perhatian nya tidak apa apa.


"Kami sudah bisa melihatnya dok? " tanya Bayu.


"setelah Nona Arsi di pindahkan ke kamar inap nya, Kalian baru boleh melihat nya" jawab Dokter. Bayu dan yang lain mengangguk mengerti.


"Kalau begitu, saya permisi" pamit Dokter.


"Terimakasih sudah menyelamatkan putri kami dok" ucap Davin.


Arsi menatap sebuah cahaya, ia benar-benar tidak tahu di mana ia sekarang. Cahaya itu semakin dekat dan semakin menyilaukan.


"Cahaya apa ini? " batin Arsi. Cahaya itu semakin menyilaukan hingga Arsi menutup matanya.


"Papa" lirih Arsi, ia melihat papanya berdiri tak jauh darinya. Setelah cahaya itu menampilkan papa nya yang tengah tersenyum padanya.


"Papa... " panggil Arsi menghampiri Davin.


"Iya sayang, ini papa" jawab Davin.


"Dimana mama pa? " tanya Arsi.


"Mama mu ada di sana" tunjuk Davin pada Sakira yang duduk di tepi tebing. Sakira pun menoleh pada suami dan putri nya.


"Arsi.. " lirih Sakira.


"Mama... " sahut Arsi berlari memeluk mamanya.


"Aku seneng bertemu mama dan papa lagi" ucap Arsi.


"Kamu harus kembali sayang" ucap Sakira.


Arsi menggeleng, ia tidak mau berpisah dengan mama dan papanya lagi.


"Gak ma, Arsi mau disini bersama mama dan papa"tolak Arsi.


" Sayang, kalau kamu mau bersama mama dan papa. Kamu harus kembali" ucap Davin meyakinkan putrinya.


"Arsi mau pergi jika mama papa ikut sama Arsi" rengek Arsi memelas.


"Sayang, mama pernah bohong gak sama kamu? " tanya Sakira. Arsi pun menjawab dengan gelengan kepalanya.


"Percaya kan sama mama? " tanya Sakira menatap putrinya penuh kasih sayang.


"Tapi ma... "


"Tidak sayang, kamu harus kembali" ucap Davin meyakinkan.


"Arsi pengen sama mama papa, gak mau kembali kalau gak sama mama papa" lirih Arsi.


"Kita akan berkumpul kembali sayang" ucap Sakira mengusap rambut Arsi lebut.


"Ma sama papa harus pergi, kamu harus kembali yah sayang" ucap Davin menggandeng tangan istri nya mulai menjauh dari putri mereka.


"Gak mah, pa. Jangan tinggalin Arsi. " rengek Arsi berusaha mengejar nya. Namun seakan tak berarti, langkah kaki Arsi semakin lambat dan orang tuanya semakin jauh. Cahaya terang menyilaukan kembali muncul dan menelan kedua orang tuanya.


"Mama!!!!!! " teriak Arsi histeris.


"Papa!! jangan tinggalin Arsi!! " teriak Arsi berharap keduanya kembali.


"Arsi takut disini" lirih nya dalam tangisnya.


"Mama... hiks hiks.. papa... " lirih Arsi terisak.


"Arsi!!! Arsi!!!! " panggil seseorang.


Arsi yang terduduk menangis mendongakkan kepala nya ketika mendengar suara Viki.


"Kak Viki? " gumam Arsi, lalu bangkit dari duduknya.


"Kak!!! aku di sini!!! " teriak Arsi mencari cari sumber suara.


Tiba-tiba Cahaya mengkilau itu datang lagi, semakin terang dan semakin menyilaukan mata Arsi hingga gadis itu menyembunyikan wajahnya di balik lengannya.


...T E R I M A K A S I H...