
Arsi keluar dari restoran, selera makannya sudah hilang.
"Arsi!!! " panggil Viki.
"Apa lagi sih" bentak Arsi jengah, Viki terus mengikuti nya.
"Loe pergi sama gue dan harus pulang sama gue! " Ucap Viki.
"Udah deh gue mau ke rumah Meri loe gak perlu ikut" ucap Arsi, lalu pergi begitu saja.
"Gue kan mau ikut karena gue gak bawa mobil" gerutu Viki menggaruk asal kepalanya. Mau tak mau Viki menghubungi seseorang untuk menjemputnya di restoran ini.
Sementara Arsi mengendarai mobil nya ke arah yang berbeda dengan rumah Meri. Arsi ingin menenangkan dirinya, ia sangat butuh ketenangan saat ini.
"Ternyata wanita tua tadi yang sudah menghancurkan keluarga ku" geram Arsi kesal mengingat pertemuan nya dengan Yuli.
Citttttt..... Citttttt.....
Arsi menghentikan mobilnya ketika beberapa orang pria menghadang didepan, takut menabrak maka Arsi menginjak rem mendadak.
"Sial, mau mati mereka! " dengus Arsi kesal, di tatap nya ketiga pria itu dengan seksama.
Wajah sangar dan menyeramkan mirip penampilan preman membuat Arsi bergidik ngeri. Arsi langsung mengunci pintu mobilnya agar mereka tidak bisa membukanya.
Suasana jalan terlihat sangat sepi, Arsi tidak sadar jika ia melewati jalan ini.
"Daerah mana aku ini" batin Arsi.
"Hei!! keluar kau!!! " teriak salah seorang preman itu sembari menggedor gedor kaca mobil Arsi.
Arsi menggeleng kuat, ia tak akan keluar dari mobil ini. Tangan Arsi sedikit bergetar, sekarang ia baru menyesali mengapa ia meninggalkan Viki di restoran.
"Hei gadis manis, cepat buka pintu nya!! " teriak pria besar dengan tubuh di penuhi tato.
"Kau ingin keluar secara baik baik, atau kami paksa?? " teriak preman itu lagi.
Arsi melihat kebelakang, ingin memundurkan mobilnya untuk menghindari mereka.
"Sial! " umpat Arsi.
Sebuah dahan kayu besar sudah berada di belakang mobilnya. Entah kapan mereka mengangkat kayu itu kesana.
"Kau mau lari kemana nih? " ucap mereka tertawa remeh.
"Ya Tuhan... bagaimana ini, gue bakal celaka kalo sampe mereka menghancurkan kaca mobil gue!! " batin Arsi.
"Hei... jangan menguji kesabaran ku yah! " teriak preman yang sejak tadi hanya diam, mereka terlihat mulai tidak sabar menunggu Arsi keluar dari mobilnya.
Bug!!!
Bug!!!
Salah satu dari mereka mencoba memecahkan kaca mobil Arsi.
"Kaca ini sulit di hancurkan" ucap nya mengadu pada preman yang bertubuh tinggi dan di penuhi oleh tato.
Arsi menangis di dalam mobil, ia bersyukur karena Viki sudah membuat mobilnya seperti ini. Ia yakin Viki memperketat pengaman mobilnya.
Mengingat itu Arsi jadi om teringat Viki. "Tolong bantu gue.... " lirih Arsi mengotak atik ponselnya mencari kontak Viki.
3 x dering, Viki langsung menjawab panggilan Arsi.
"Hallo Arsi, loe dimana? " tanya Viki.
"Gue... hiks hiks... " tangis Arsi.
"Hallo dek!! jawab gue, katakan loe dimana sekarang!! " desak Viki semakin khawatir mendengar tangis Arsi.
"Hei!! cepat keluar!!! " teriak preman sembari mengetuk kuat kaca mobil Arsi.
"Tenang, sekarang loe jangan nangis, gue kesana sekarang. gue udah nemuin alamat loe" ucap Viki berusaha membuat Arsi tenang.
Viki juga mengirim lokasi Arsi ke beberapa anak buahnya, Bayu,Desta dan kevin juga bergerak kesana.
"Loe tenang, jangan keluar dari mobil, tetap di dalam dan abaikan mereka. " Bujuk Viki, ia geram mendengar teriakan seseorang dari telfon Arsi.
Preman itu terus berusaha membuka pintu mobil, bahkan mencoba memecahkan kaca mobil Arsi dengan batu besar.
Prank!!!
"Akkk!!! " ringis Arsi ketika kaca mobilnya akhirnya pecah, masih untung kaca yang pecah bukan kaca di dekat Arsi.
"Buka pintunya!! atau kami bakar mobil ini! " teriak preman itu menatap tajam Arsi.
"Baiklah, gue keluar! " teriak Arsi.
"Jangan!! lo jangan keluar!!! " teriak Viki dari dalam telfon. Viki yang sudah mengendarai mobilnya kini melaju mengikuti petunjuk Arah.
Arsi tak mendengar kan ponselnya lagi, perlahan ia membuka pintu mobilnya, dengan tubuh gemetar Arsi menatap mereka.
"Apa yang kalian ingin kan! " tanya Arsi berusaha terlihat kuat dan tidak ketakutan.
"Bagus, kau akhirnya keluar juga! " ucap pemimpin preman itu.
"Jangan sentuh aku! " bentak Arsi ketika mereka menarik tangan Arsi ingin menyeret gadis itu.
"Hei.. galak juga" gumam mereka tertawa remeh.
"Ayo bawa dia! " ucap Pemimpin preman memerintah dengan suara besarnya.
"Jangan sentuh aku!! aku tidak mau ikut bersama kalian!! " teriak Arsi memberontak, namun tenaga mereka terlalu besar di banding kan dengan tenaganya.
"Lepaskan!!!! mmmpppp... mpmmmm" mereka menyumpal mulut Arsi dengan sapu tangan yang sudah di beri bius.
"Terlalu berisik" ucap preman itu.
ketiga pria itu membawa Arsi masuk kedalam mobil hitam. Tinggalah mobil Arsi yang sudah pecah dan seperti mobil tua. Mereka sengaja menimbun semak dan daun daun kering pada mobil itu.
Sementara Viki kini melaju menuju lokasi Arsi. "Sabar dek, gue pasti menyelamatkan loe! " ucap Viki kembali berusaha menghubungi Arsi yang terputus tadi.
Akhirnya Viki menemukan mobil Arsi di tengah jalan yang sangat jarang lewati oleh otoritas orang.
"Sial!!! " umpat Viki menendang ban mobil Arsi. Ia terlambat menyelamatkan Arsi.
"Mana Arsi?? " tanya Desta, ia baru tiba di lokasi bersama Bayu dan Kevin.
"Arsi udah di bawa mereka" ucap Viki dingin. Rahang nya mengeras menahan amarahnya.
"Siapa yang berani melakukan ini!! " geram Kevin.
"Kenapa Arsi melewati jalan ini? " sahut Bayu bingung.
"Aku juga gak tahu, tadi Arsi marah ke aku, trus 1 jam kemudian Arsi menghubungi aku meminta tolong" jelas Viki.
"Argghhh!!!!! " erangan Viki kesal.
"Sudah sudah, sebaik nya kita pulang sekarang. Aku yakin ini ulah yuli" ucap Desta.
"Loe benar, kita tidak boleh gegabah. Sekarang kita pulang dan menyusun rencana" sambung Kevin.
"Ayo" ajak Desta.
Kira kira siapa yang melakukan semua ini? yuk vote duluu dan berikan hadiah muuu.
ikutin terus yah kisahnya๐๐๐
...T E R I M A K A S I H...