
Arsi melotot pada kedua pria yang menurutnya menyebalkan hari ini. Bayu dengan seenaknya menariknya masuk kedalam mobil, bukan hanya itu Arsi juga kaget melihat adanya Viki di dalam mobil Bayu.
"Jalan pak! " perintah Viki, matanya tak lepas dari Arsi yang duduk di depannya. Mobil yang di mereka gunakan adalah mobil keluarga yang jok nya saling berhadapan.
"Kalian apa apaan sih! "Arsi menatap keduanya kesal.
"Mulai kambuh deh budeknya" lirih Arsi karena tak ditanggapi oleh mereka.
Arsi memilih mengeluarkan ponselnya yang langsung direbut oleh VVik, lalu menyimpannya ke dalam saku jas. Viki tahu jika Arsi ingin mengabari pria tadi.
"Eh loe apa apaan sih!! " bentak Arsi berusaha mengambil kembali ponselnya, tapi tak bisa bisa. Karena Bayu ikut serta membantu Viki untuk menghalangi Arsi agar tak bisa menjangkaunya yang duduk di samping Bayu.
Begini nih kalo mereka sudah gabung, aurah dingin tak luput dari keduanya.
Tak dapat melakukan apa apa Arsi menyerah, melipat kedua tangannya di depan dada. Ia benar-benar kesal sekarang, entah apa yang merasuki keduanya sehingga memperlakukan nya seperti tahanan sekarang.
"Loe pada... " Arsi kembali menutup bibirnya kesal, bertanya pun pada kedua es batu ini juga tak ada gunanya, lebih baik ia memilih diam saja.
Arsi pasrah mengikuti kemana kedua saudaranya ini membawanya. Hingga mereka tiba di sebuah apartemen yang berbeda dengan yang terakhir Arsi kunjungi.
"Kalian mau buat gue di kira pelacur lagi? " tanya Arsi menatap kedua pria yang kini membuka pintu lalu keluar dari mobil. Mau tak mau Arsi mengikuti mereka keluar.
"Bawa! " titah Viki pada Bayu yang langsung menarik lengan Arsi pelan. Mereka terpaksa menyeret wanita kesayangan mereka ini mengikuti mereka.
"Gue merasa jadi tahanan " gerutu Arsi mengikuti tarikan tangan Bayu.
Tiba di dalam apartemen, Arsi di duduk kan di sofa.
"Kalian ini kenapa sih.... bingung gue" ucap Arsi, ia benar-benar bingung sekarang. Kedua es batu itu tak ada yang mau menjawab pertanyaan nya, mereka terlihat begitu misterius hari ini.
"Yu... " panggil Arsi menatapnya memelas meminta jawaban.
"Sedekat apa loe sama dia? " tanya Bayu to the poin. Arsi mengerut bingung, ia gak mengerti siapa yang di maksud Bayu.
Viki hanya memperhatikan Bayu menginterogasi adik nya. Tatapannya sulit di artikan, entah marah atau apalah, yang pasti Arsi tak mengerti.
"Siapa?? loe kan tahu teman teman gue, kok malah nanya sih" kesal Arsi.
"Gue tahu semua, kecuali 1 orang" balas Bayu.
"Siapa? " tanya Arsi semakin bingung, ia mencoba mengingat semua teman teman yang dekat dengan nya.
"Alex! " jawab Viki tiba-tiba membuat Arsi langsung menoleh. Awalnya Arsi mengerut, lalu tiba-tiba tawa Arsi langsung meledak.
"Bhaahahahhaa,,,, jadi kalian seperti ini karena gue deket sama dia? " tanya Arsi di sela sela tawanya.
Viki dan Bayu menatap Arsi datar, sempat sempat nya Arsi tertawa di saat mereka serius.
Suasana kembali canggung, Arsi menghentikan tawanya, menatap kedua pria dingin itu dengan cengiran tak bersalah.
"Dah puas tertawa? " tanya Viki membuat Arsi mendeliki ngeri. Tatapan Viki sangat tajam padanya, terasa seperti menusuk ke jantung nya.
"Ka.. kalian kenapa sih? " cicit Arsi mulai menciut.
"Jauhin bocah itu! " peringat Viki lalu berjalan meninggalkan Arsi dan Bayu yang masih menatap Arsi datar.
"Kak... " panggil Arsi sudah berdiri menatap Viki yang menghentikan langkah nya tanpa menoleh menunggu Arsi bicara.
"Sebenarnya kalian kenapa sih, Gue bingung sama tingkah kalian" lanjut Arsi penuh tekat, ia tak bisa menerima perlakuan keduanya seperti ini terus. Mereka bersikap seenaknya terhadapnya, posesif tanpa alasan yang dapat Arsi mengerti.
"Kalian itu kejam!!! " teriak Arsi lagi ketika Viki kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Di apartemen ini ada 3 kamar, karena memang apartemen ini di buat khusus untuk mereka bertiga, tetapi Arsi tidak mengenali apartemen ini karena memang ia belum pernah datang ke sini.
"Mau kemana?? " tanya Bayu.
Arsi tak menjawab, ia terus berjalan menuju pintu keluar, ia berharap bisa cepat cepat pergi menjauh dari keduanya.
Bayu tak melarang atau menahan Arsi untuk tetap di sini, ia malah beranjak menuju dapur untuk mencari air.
"Sial!! " bentak Arsi melempar sepatunya pada pintu. Arsi lupa jika semua apartemen yang di tempati Viki pasti di kunci menggunakan pin. Sialnya, Viki tidak menggunakan pin yang sama setiap apartemen nya.
"Kenapa balik lagi? " tanya Bayu dengan nada Reme.
"Bukan urusan loe! " balas Arsi kesal.
Gadis cantik yang masih kesal berjalan cepat menuju ke deretan pintu yang berderet 3.Salah satunya adalah kamar Viki dan di antara keduanya adalah kamar Bayu dan dirinya.
"Itu kamar gue! " teriak Bayu, ketika Arsi hendak membuka pintu paling ujung.
"Gue tahu" cibir Arsi langsung beranjak ke pintu tengah.
"Dasar.. "" cibir Bayu menggeleng melihat tingkah sepupunya itu.
Di dalam kamar Arsi cukup terkejut melihat isi kamar nya. Suasana kamar ini sangat mirip dengan suasana kamarnya di rumah.
"Sama persis dengan selera gue" gumam Arsi meletakan tas selempang nya di atas nakas, lalu duduk di pinggir ranjang.
"Siapa yang udah nyiapin ini yah?? " tanya Arsi meneliti setiap inci kamar nya.
Arsi merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang di balut sprey bermotif bintang bintang berwarna ungu. "Nyaman banget"
"Iyalah kan gue yang milihin sprei nya" ucap seseorang.
Arsi yang baru saja menutup matanya langsung membuka matanya kembali.
"Kok loe bisa masuk sih? " ucap Arsi kesal, sekaligus bingung. Arsi merasa sudah mengunci pintu kamarnya tadi.
"Loe gak bakal tahu apa apa" jawab Viki yang baru saja masuk melalui sudut yang berbeda dengan Bayu.
"Jadi sudut itu, dan sudut itu ada pintu? " tanya Arsi kaget. Ia malah berjalan mendekati dinding yang di sengaja di cat sama dangan dinding agar tak terlihat dari dalam kamar Arsi.
"Pinter banget kalian" decak Arsi membuka dan menutup pintu, ia benar-benar salut dengan kedua pria ini.
Bayu dan Viki malah duduk di atas ranjang Arsi, meski tak memiliki ikatan darah, mereka sangat menyayangi Arsi melebihi sebagai keluarga kandung.
"Eh udah gak dingin lagi? " tanya Arsi ikut gabung, duduk di antara kedua pria kutub itu.
"Kak.. yu... " lirih Arsi memanggil keduanya.
"Hm.. " jawab Bayu dan Viki bersamaan.
"Terkadang gue bingung sama kalian berdua" lirih Arsi menatap Viki dan Bayu bergantian.
"Kita lakuin ini semua demi loe kok" jawab Bayu mengusap puncak kepala Arsi.
"Yah tapi kenapa?? " desak Arsi.
"Kak... " lirih Arsi menatap Viki memelas, ia benar-benar ingin tahu alasan perubahan sikap kakaknya.
"Yu.... " alih Arsi menatap Bayu, sepupunya.
"Pokoknya loe harus jauhin Alex! " ucap Viki tak terbantahkan, lalu Viki pergi begitu saja ke kamarnya tanpa berkata lagi.
"Itu yang terbaik! " sambung Bayu ikut bangkit dan meninggalkan Arsi.
"Ahhrrreggg, mau bikin gue gila apa!! " teriak Arsi kesal.
Arsi menghempas kan tubuhnya kebelakang, ia kesal dengan keduanya yang terlalu kompak dalam hal membuatnya bingung.
Yukkk dukung terus ceritanya๐๐๐
...T E R I M A K A S I H...