
Tuk!! Tuk!! Tuk!!
Viki mengetuk pintu kamar Arsi meskipun terbuka.
"Gue boleh masuk? " tanya Viki berdiri di ambang pintu.
Arsi tak menggubris nya, gadis itu malah merubah posisi tidurnya yang awal menghadap ke pintu, berubah menjadi membelakangi Viki.
Viki melangkah memasuki kamar Arsi, menatap arsi yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Apa loe marah sama gue? " tanya Viki.
"Mikir aja ndiri jawab Arsi.
Viki menghela nafasnya berat, lalu duduk di pinggir ranjang Arsi.
" Gue gak bakal deket dia lagi" ucap Viki.
Sebenarnya Viki melihat apa yang di lakukan Nisa pada Arsi. Namun Arsi memilih untuk diam dan seola membela Nisa.
Dengan kesal Arsi bangkit dan duduk di hadapan Viki, tatapan tajam bak menusuk ke dalam mata Viki.
"Loe bodoh atau gimana sih. Cewe ular kaya gitu jadi sahabat loe! " ucap Arsi geram.
"Gue mana tahu, dia baik sama gue" ucap Viki membela diri.
"Mengalahkan Mafia bisa, ular kecil kaya gitu aja gak bisa! " dengus Arsi kembali merebahkan diri.
Viki yang merasa bersalah karena sudah membentak Arsi tadi malah ikut merebahkan diri di samping Arsi.
"Maafin yahhhh" rengek Viki.
Arsi menepis tangan Viki yang menarik narik lengannya seperti anak kecil minta sesuatu pada ibunya.
"Ihh Viki loe bisa gak sih geseran dikit!! " teriak Arsi mencoba mendorong Viki agar menjauh dari nya.
"Maafin duluuuu" rengek Viki.
"Kaya bocah! " ucap Arsi.
"Biarin, pokoknya gue mau loe maafin dulu" rengek Viki memeluk lengan Arsi.
"Vikiii.... lepasin gak!! atau loe-" ancam Arsi terhenti.
"Atau apa? " ulang Viki.
Arsi tak menjawab, ia malah hanya berusaha melepaskan pelukan Viki.
"Lepas Abang gue yang paling tampan.... " ucap Arsi memuji Viki dengan terpaksa.
"Keliatan banget gak ikhlas nya" gerutu Viki, namun tetap melepaskan lengan Arsi.
Keduanya sama sama terdiam tak ada yang bersuara, hanya detak jantung dan deru nafas yang terdengar.
"Loe menyelidiki tentang pesawat itu? " tanya Viki memulai percakapan mereka.
Arsi tak menjawab, ia hanya diam mendengar Viki terus berbicara.
"Loe gak usah ikut dalam hal ini, gue mau loe fokus sama kuliah loe" ucap Viki lagi.
"Gue pengen tahu siapa yang melakukan ini pada orang tua gue! " sahut Arsi datar.
Viki memalingkan wajahnya menatap Arsi yang lurus menatap langit langit kamarnya.
"Tapi, ini bahaya banget untuk loe" ucap Viki.
"Gue gak peduli. Yang terpenting gue tahu siapa yang udah ngelakuin ini semua pada keluarga gue! " jawab Arsi menentang ucapan Viki.
Viki mendudukkan tubuhnya, lalu menarik Arsi agar ikut duduk bersamanya. Viki menarik wajah Arsi agar menghadap padanya dan menatap matanya.
"Masalah ini gak semudah yang loe bayangin Arsi... please dengerin gue" mohon Viki. Namun Arsi menggeleng, ia tetap akan mencari tahu semuanya.
"Apa Yuli yang loe takutin? " tanya Arsi.
Viki melotot kaget, dari mana Arsi tahu soal wanita yang sudah mengacaukan hidup mereka.
"Dari mana loe tahu tentang wanita itu? " tanya Viki.
"Aku udah tahu semuanya kak, ijinkan gue untuk mencari tahu siapa yang sudah mengobrak abrik keluarga kita" lirih Arsi, air matanya sudah mulai mengaliri pipinya.
"Baiklah, tapi loe harus janji" ucap Viki pasrah.
"Janji apa?? " tanya Arsi senang, ia langsung menghapus air matanya.
"Loe harus kabarin gue, apapun yang loe temui, apapun yang akan loe lakuin" ucap Viki.
"Baiklah" jawab Arsi penuh semangat.
"Maafin aku dulu!! " ucap Viki.
"Iyaaa aku maafin... " jawab Arsi tersenyum lebar.
"Cium akuuuu" ucap Viki menarik turun kan alisnya menggoda Arsi.
"Ihhh ogah!! "
Brak!!!!
Viki terjungkal ke belakang, secara spontan Arsi mendorong Viki terlalu kuat.
"Rasain, emang enak" ucap Arsi mengejek Viki sembari meleletkan lidahnya pada Viki.
"Sakit tahu.... Durhaka banget sama aku" gerutu Viki.
"Loe sih, genit banget" jawab Arsi.
Viki kembali duduk di atas Ranjang Arsi, ia kembali menatap Arsi dengan tatapan Serius.
"Hmm... " sahut Arsi dengan deheman nya.
"Kenapa loe takut ketika papa mama pergi? " tanya Viki.
Sebenarnya Viki sudah lama ingin menang akan hal ini pada adiknya. Namun ia belum menemukan waktu yang pas.
Arsi tak langsung menjawab pertanyaan Viki, Gadis itu malah mengambil ponselnya, lalu membuka pesan yang pernah ia Terima dari no yang tidak di kenal.
"Apa ini? " tanya Viki.
"Awalnya gue gak paham, gue mengacuhkan begitu saja. Tapi... ketika loe bilang mama papa ke Amerika. Gue teringat pesan ini, karena itu gue mencoba mengejar ke bandara dan berharap bisa mencegah mereka pergi" jelas Arsi panjang lebar.
Viki menatap gambar itu dengan saksama, peswat yang di gambar sama persis dengan yang di tumpangi orang tua mereka.
"Dan loe tahu kenapa gue begitu khawatir sama loe, sampai sampai gue kaya orang gila nyariin loe. Hingga gue samperin loe ke kantor" jelas Arsi, lalu menggeser layar ponselnya hingga gambar berganti dengan gambar pakaian Viki terbakar.
Viki melotot, ia sangat mengenali barang barangnya.
"Ini barang barang gue! " ucap Viki.
"Karena itu gue khawatir banget" jawab Viki.
"Kok bisa mereka ambil sih" dengus Viki, sudah seperti orang bodoh komentar Viki🤣🤣.
"Karena loe itu bodoh! Musuh di sekeliling loe aja loe gak tahu" omel Arsi.
"Yah begitulah hidup, gak semua orang yang bisa kita percaya. " jawab Viki.
"Gue saranin loe jauh jauh dari Alex dan Mark! " peringat Viki.
"Kenapa? " tanya Arsi penasaran.
"Mereka berbahaya" jawab Viki.
"Siapa mereka sebenay?? " tanya Arsi sangat penasaran.
Viki tersenyum jahil, ia memikirkan sesuatu untuk menjaili Adiknya.
"Cium gue duluu" ucap Viki menunjuk pipinya.
"Kok loe malah genit sih, ambil kesempatan dalam kesempitan" ucap Arsi tak Terima.
"Yaudah kalau gitu" ujar Viki merajuk.
"Eh iya iya... " sahut Arsi cepat, mau tak mau Arsi harus melakukan hal ini agar kakaknya mau menceritakan padanya. Lagi pula Arsi tak keberatan jika ia mencium kakaknya yang juga ia sukai.
Perlahan Arsi mendekat, Viki menahan senyum menunggu Arsi menempelkan bibirnya pada pipinya.
"Mereka itu adalah musuh kita" ucap seseorang membuat Arsi menjauhkan dirinya dari Viki sekarang spontan.
Bayu tersenyum miring, sejak tadi ia memperhatikan dua anak manusia itu berbincang dan tak menyadari kehadiran nya.
"Kok loe di sini? " dengus Viki kesal, ia merengut kesal tak jadi mendapatkan kecupan dari Arsi.
"Maksud loe apa sih gue gak ngerti! " ujar Arsi bingung.
"Alex itu anak Yuli" jawab Bayu.
"What??? " kaget Arsi.
Ia tak menyangka selama ini berdekatan dengan musuh keluarga nya. Arsi benar-benar kaget sekarang. Ia pikir Alex tulus mendekatinya karena perlakuan yang tulus dan sangat menghargainya.
"Sekarang siapa yang bodoh? "Cibir Viki pada Arsi.
" Yeee, kalo gue mah karena gak tahu. Sedangkan elo? karena emang bodoh"balas Arsi kesal.
"Lalu mark gimana? " tanya Arsi teringat dengan pria yang cukup membuat hati Arsi berdebar.
"Masih dalam pantauan" jawab Viki datar.
Mood pria ini sudah hancur karena tidak jadi mendapat kiss dari Arsi.
"Sorry yah kakak gue yang paling ganteng" ucap Bayu sengaja agar Viki semakin kesal.
"Pergi sana loe!! " usir Viki.
"Heeee jangan duluu" cegah Arsi membuat Viki semakin merengut.
"Gue masih pengen tahu" lanjut Arsi.
"Intinya yah adek gue tersayang..... Jangan muda percaya sama orang lain, meskipun terlihat sangat baik sekalipun" Ucap Viki kembali mengingatkan Arsi agar selalu waspada pada orang sekitarnya.
Setelah mengatakan hal itu Viki langsung pergi begitu saja dari kamar Arsi. Arsi menatapnya bingung, kenapa Viki malah terlihat emosi gitu.
"Ada apa sama tu anak? " gumam Arsi.
"Yaiyalah, gagal cium elu.. " sahut Bayu, lalu ikut kelur menyusul Viki.
"Lahh kok pada keluar sihhhh!!! " teriak Arsi.
Gadis itu malah mencak mencak sendiri di atas ranjang karena kesal di tinggal oleh keduanya. Arsi masih sangat penasaran dengan apa yang mereka ketahui, siapa Alex, mark dan juga mereka yang sangaja mendekati Arsi untuk menghancurkan keluarga nya.
Notes.
Makasih yah parah readers ku😘udah ngikutin ceritanya. Makasih komennya.
Cerita aku emang banyak konfliknya, dan yahhh mungkin membingungkan. Author juga berfikir keras untuk melanjutkan nya. Maaf atas kekurangan Author yah. Tapi kalian tenang dan sabar yah.... jalan cerita setiap novel berbeda beda karena perbedaan pemikiran dan perbedaan haluya😅. Tapi tenang yah, semua nya akan jelas dengan seiring nya pertambahan episode. Author gak buat konfliknya datang satu satu, karena kadang di hidup itu maslah gak datang berurutan. Kadang datang bersamaan😅😅.
Terlalu mudah di tebak jika masalahnya, datang lalu di selesai kan. batu datang masalah lagi. Tapi author pengen nya masalah datang meski bersamaan, tapi kalo di hadapi, masalah itu akan selesai satu persatu. gitu loooo.
mungkin ceritanya gak jelas yah, bikin pusing. maafin author yang masih dalam proses belajar😖😖
...T E R I M A K A S I H...