
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, Viki keluar hanya menggunakan handuk. Arsi meneguk salivanya susah payah. Perut datar sedikit berbentuk kotak kotak itu tak luput dari mata Arsi. Batu kali ini ia melihat tubuh laki-laki tanpa di tutupi baju secara langsung.
"Ada apa? " tanya Viki menyadari tatapan Arsi.
"Kak Viki pake handuk aja? " tanya Arsi polos, matanya masih fokus pada otot perut Viki.
"Emang kenapa? " tanya Viki acuh berjalan santai di depan Arsi menuju Lemari. Mata Arsi ikut bergerak mengikuti kemana Viki bergerak, matanya tak berkedip sedikit pun.
Tubuh kekar Viki yang masih basah terlihat sangat sexy di mata Arsi.
"Baru liat ginian aja udah kaya gitu, gimana kalo liat semua" pikir Viki. Lalu memakai baju kaos.
"Jangan di tutup" kata Arsi tanpa sadar. Viki kaget, lalu menghentikan kegiatannya yang akan memakai baju.
"Apanya? " tanya Viki berdiri di depan Arsi.
"Ini nya" kata Arsi tanpa sadar mengelus perut kotak kotak Viki. Arsi menahan nafas ketika perut Viki bergerak karena Viki bernafas.
"Kamu suka? " kata Viki tersenyum menggoda.
"Tidak! " batin Arsi berontak, pikiran normal Arsi mulai kembali.
"Aku.. Aku aku tidak suka" kata Arsi gugup, berdiri, lalu masuk ke kamar mandi. Arsi merasa sangat malu sekarang. Pipinya memerah seperti kepiting.l rebus.
"Lucu sekali" gumam Viki lalu memasang baju kaos nya yang sempat tertunda. Viki keluar kamar, turun menuju dapur untuk mengambil Air.
Sementara Arsi masih berdiam diri di dalam kamar mandi, ia tak berani keluar. Arsi benar-benar sangat malu sekarang.
Merasa tak ada pergerakan di dalam kamar, Arsi membuka sedikit pintu kamar mandi, mengintip apakah Viki masih di dalam kamar atau sudah keluar.
"Ha.. syukur sudah keluar" kata Arsi bernafas lega. Ia keluar dari persembunyiannya, celingak celinguk siapa tahu Viki berbunyi di kamar.
"Cari siapa dek? "
"Ibu kau gilak! " kata Arsi spontan karena kaget.
"Bhahaha... sejak kapan istri cantik aku ini lata?" Viki tertawa terbahak bahak.
"Ihh kak Viki apaan sih! " sungut Arsi menghentak hentakan kakinya, lalu duduk di tepi ranjang. Bibir manyun dengan tangan dilipat di dada seperti anak kecil merajuk.
"Kamunya juga, celingak celinguk gitu. kaya cari maling aja" kata Viki.
Pipi Arsi memerah, kilasan tubuh toples Viki kembali berputar di benaknya. Arsi senyum senyum sendiri membuat Viki yang melihatnya mengerut bingung.
"Dek... Dek.. " panggil Viki mengibas ngibaskan tangan di depan wajah Arsi.
"Eh iya kenapa? " tanya Arsi gelagapan.
"Kamu aneh deh malam ini"
"kok aku sih" balas Arsi.
Arsi naik ke atas ranjang, menyibakkan selimut lalu berbaring di dalamnya. Belum sempat Arsi membaringkan seluruh tubuhnya terdengar grasak grusuk di depan pintu.
"Gantian dong kak, aku juga mau denger" gerutu Aldo berbisik, menarik Bayu agar memberinya ruang untuk menguping.
"Bentar kakak belum dengar apa apa" tolak Bayu menempelkan telinga pada pintu kamar Arsi, mendengar dengan seksama. Namun Bayu tidak mendengar apa apa.
"Kak... " bisik Aldi meminta gantian.
Viki melirik Arsi, bertanya melalui tatapan, bunyi apa di depan pintu kamar kita?.
"Apaan sih itu kak? " bisik Arsi.
Perlahan Arsi dan Viki mengendap endap berjalan mendekati pintu. Sekali putar, pintu kamar Arsi terbuka, Bayu yang menempel di pintu Arsi langsung terjatuh di lantai. Ia tidak tahu jika pintu kamar Arsi akan terbuka.
"Kak Bayu!! Aldo!! aldi! " kata Arsi kaget. Ternyata uang berisik di depan kamarnya dan kak Viki itu mereka.
"Kalian sedang apa di sini? " tanya Arsi garang. Viki memijat mijat kening nya yang terasa berdenyut, belum sempat malam pertama mereka sudah mengganggunya.
"Hehe... kami hanya memastikan tidak ada yang mengganggu malam pertama kalian" kata Bayu nyengir, seraya bangkit dari keterpurukan.
"Betul kak, karena ada di TV tuh tadi, pengantin baru di ganggu oleh tetangga" sahut Aldo mengarang cerita.
"Iya, tetangganya kalian! " seru Viki kesal.
"Hehe tau aja" kekeh Bayu.
"Udah ah, sana pergi! orang mau tidur juga, malah di ganggu" omel Arsi mendorong Bayu dan yang lain menjauh dari kamarnya. Lalu menarik Viki masuk ke dalam kamar.
"Ada ada saja, entah malam pertama atau malam kedua. Tetap saja mereka mengganggu" gerutu Arsi setelah mengunci pintu kamar.
"Yuk babe" kata Viki menuntun Arsi ke ranjang.
"Maksud kak Viki? " Arsi mulai gugup, ia pikir Viki ingin melakukan malam pertama dengan nya.
"Kak, maaf aku rasa aku belum siap" kata Arsi memohon.
Viki mengerut, ia ingin mengajak Arsi tidur karena seharian melayani tamu dengan berdiri seharian dan memakai konde besar itu.Arsi pasti capek, pikir Viki.
"Ayo tidur loh sayang, kamu pasti capek kan" kata Viki.
"Tidur? " ulang Arsi.
"Iya, emang mau ngapain? mau buat dedek? " goda Viki menoel pipi Arsi.
"Gak, gak... ayo tidur" kata Arsi langsung berbaring di ranjang, posisi membelakangi Viki.
Deg~ Viki memeluk Arsi dari belakang, jatung Arsi berdetak sangat kencang sekarang. Dengan posisi seperti ini Arsi dapat merasakan deru nafas Viki menerpa lehernya. Tentu saja hal itu membuat Arsi kesulitan untuk tidur.
"Aku senang, akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya" bisik Viki sembari menggesek wajahnya pada leher Arsi Seola mencari kehangatan di sana.
"Banyak yang sudah kita lewati, egoh dan sikap jutek" sambung Viki terkekeh mengingat dirinya dan Arsi selalu saja bertengkar.
Mendengar penuturan Viki, Arsi membalikan tubuhnya menghadap Viki. Mata mereka bertemu, senyum kebahagiaan tercetak di bibir keduanya.
"Aku mencintai mu"
"Aku mencintai mu"
kata Viki dan Arsi bersamaan, lalu mereka terkekeh bersama. Entah sejak kapan mereka menjadi kompak seperti saat ini.
Cup~ Viki mendaratkan kecupan di kening Arsi, berlanjut ke mata, lalu terakhir ke bibir. Sedikit lebih lama, Viki malah ******* sebentar bibir ranum Arsi yang selalu saja membuat jantungnya berdebar setiap kali melihat Arsi.
"Tidur lah" suruh Viki. Ia tahu Arsi sangat capek hari ini, tidak mungkin ia memaksa Arsi untuk melakukannya sekarang. Jika lebih lama lagi menatap dam mengecup Arsi, Viki tak bisa menjamin tidak meminta hak nya.
Arsi mengangguk, lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Viki. Mereka tidur dengan saling memeluk erat.
Tak menunggu waktu lama Arsi pun tertidur lelap, wajah polos dan damai Arsi di tatap lekat oleh Viki.
Cup~ kecupan kilat kembali mendarat, hanya sebentar, secepat kilat Viki mengecup bibir Arsi.
"Menunggu sedikit lebih lama tak apa" batin Viki. Lalu menyusul Arsi masuk ke dalam dunia mimpi.
...T E R I M A K A S I H...