My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
72. Nasi goreng special



"Aku tidak bodoh! " sahut Viki dingin.


Arsi dan Meri terlonjak kaget, Arsi membalikkan tubuhnya lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya.


"Meri! " panggil Viki.


"Saya pak? " sahut Meri kaget.


Viki melirik Arsi yang tampak hanya selimut. Lalu memalingkan wajahnya ke sembarangan arah.


"Katakan padanya kalau aku minta maaf" ucap Viki.


Meri melongo, Viki memberi pesan untuk Arsi sementara Arsi ada di dekatnya. Ibaratnya Meri jadi perantara saat ini.


"Tapi.. "


"Sampaikan saja" potong Viki sedikit memaksa.


"Arsi, pak Viki ingin meminta maaf" kata Meri pada Arsi.


Arsi pun mengeluarkan kepalanya dari selimut, lalu menatap Meri tajam.


"Katakan padanya kalau aku tidak ingin memaafkannya dan tidak ingin melihatnya" ucap Arsi, lalu kembali menutup kepalanya.


"Katakan padanya aku terpaksa melakukan ini" kata Viki lagi.


"Katakan padanya jika dia terlalu bodoh! " ucap Arsi lagi.


"Katakan padanya Aku tidak bodoh! "


"Katakan padanya Jika dia tidak tegas menghadapi wanita ular itu! " teriak Arsi lagi. Kini gadis itu sudah berdiri di depan Viki. Mereka saling menyuruh Meri tetapi saling sahut tanpa Meri ucapkan.


Meri mengurut pelipisnya pusing melihat perdebatan kedua sejoli ini.


"Bagaimana aku harus tegas, aku sudah mengabaikannya tapi dia sahabat ku! ayah nya yang meminta ku untuk membujuknya bukan memujanya! " ucap Viki panjang lebar.


"Yah sudah pergi saja sama sahabat mu itu! " dengus Arsi.


Arsi melangkah keluar dari kamar namun di tahan oleh Viki.


"Aku minta maaf" lirih Viki.


Arsi tak bergeming, nafasnya naik turun menahan emosi yang tengah memuncak. Menarik nafas dalam kemudian melepaskannya perlahan.


"Aku lapar" lirih Arsi mengalah.


Viki berbinar, jika sudah begini berarti Arsi sudah tidak marah lagi.


"Aku akan memaksa yang enak" ucap Viki menarik tangan Arsi menuju dapur.


Meri yang menyaksikan semuanya hanya bisa melongo tak percaya.


"Gue yang gila atau mereka yang memang aneh? " gumam Meri menggeleng geleng kan kepalanya. Lalu Meri menyusul Viki dan Arsi ke dapur.


Di sebuah rumah, tampak seorang gadis pulang dengan penampilan yang sangat kusut.


"Nisa..... kamu kenapa nak? " tanya Mama Nisa memboyong putrinya masuk ke dalam rumah. Nisa tak merespon, tatapannya kosong.


Papa Nisa kaget melihat keadaan putrinya yang begitu kacau.


"Ma, Nisa kenapa? "


"Mama gak tahu pa, Nisa pulang sudah dalam keadaan seperti ini" ucap mama Nisa.


"Ya malum Nisa, kamu kenapa sih sayang"


Mereka membawa Nisa ke kamar, lalu membersihkan tubuh Nisa sebelum menidurkan Nisa.


"Hiks... hiks... " Nisa malah menangis, membuat kedua orang tuanya semakin bingung.


"Kamu kenapa sih sayang, jangan buat mama panik dong" kata mama Nisa ikut menangis.


"Viki ma... aku mau Viki... aku gak mau pisah sama dia" rengek Nisa.


"Tapi bagaimana mungkin Nisa, Viki sudah memiliki tunangan" jawab mama Nisa.


"Kalau begitu Nisa mati saja! " ancam Nisa bergerak mencari benda yang bisa membuat nyawanya melayang.


"Nisa!!! kamu jangan gila! Papa gak pernah ajarin kamu menjadi seperti ini! " bentak papa Nisa marah. Ia tidak mungkin memaksa Viki untuk bersama putrinya. Sementara keluarga Viki penolong perusahaan nya yang hampir jatuh.


"Hiks.... hiks.. aku cinta sama dia pa!! aku cinta" tangis Nisa.


"Tenangkan diri mu dan istirahat yang cukup! " ucap Papa Nisa Tegas, lalu keluar dari kamar Nisa.


"Ma... " lirih Nisa meminta pertolongan.


"Kamu istirahat yah sayang" bujuk mama Nisa menyelimuti tubuh nisa, lalu ikut keluar menyusul papa Nisa.


"Hiks... Hiks.... hiks.. " tangis Nisa semakin pecah.


Sementara diluar Mama Nisa mencoba membujuk suaminya untuk mencari solusi untuk anaknya. Hatinya ikut hancur melihat kondisi Nisa seperti itu.


"Gimana pa? apa kamu gak khawatir dengan anak kita? " desak mama Nisa.


"Mereka kan sahabat, mama yakin Viki memiliki rasa pada Nisa" kata mama Nisa yakin.


"Tidak ma, papa tidak akan lakukan hal itu. " tolak papa Nisa dingin.


"Tapi pa"


"Pantau Nisa! jangan sampai dia melakukan hal bodoh" titah papa Nisa dengan intonasi tegas tak terbantahkan.


Papa Nisa meninggalkan mama Nisa sendiri di ruang tamu, ia lebih memilih masuk ke ruang kerjanya. Bukan tak khawatir, Papa Nisa juga kasian melihat kondisi putri nya saat ini.


"Jika papa tidak mau, maka mama yang akan melakukan nya" batin mama Nisa penuh tekat.


Kembali pada Viki dan Arsi ya g berada di ruang makan. Viki sibuk dengan bahan bahan masakannya, sementara Arsi duduk di meja makan sambil menunggu Viki selesai memasak.


"Kalian aneh tahu gak" omel Meri.


Arsi tak bergeming, ia malah sibuk memperhatikan gerak-gerik Viki yang mondar mandir dan kadang tampak goyang goyang mengaduk ngaduk nasi di dalam wajan.


Para tetua memasuki ruang makan, menikmati aroma yang sangat wangi membuat mereka penasaran siapa yang sudah membuat aroma seharum ini.


"Loh Arsi, lagi ngapain? " tanya Sakira.


"Iya ih, wangi banget " sahut Celly dan Seila bebarengan.


Arsi tak merespon, ia malah tersenyum menatap Viki.


Bayu menatap aneh Arsi, matanya mengikuti kemana arah pandang Arsi.


"Pantesan..... ternyata tunangannya sedang masak" cibir Bayu.


"Viki? " tebak Davin.


"Nasi goreng special sudah siap!!!! " ucap Viki menyajikan sepiring nasi goreng special dengan toping lengkap ayam dan daging.


"Aku mau!!! " Bayu mencoba menyendoki nasi goreng buatan Viki, namun Viki menghindarinya.


"Ini khusus untuk tunangan ku" ucap Viki menatap Bayu tajam.


"Kamu cuma masak sepiring? " tanya Cindy.


"Iya oma, ini kan special" kata Viki.


Arsi berbinar menatap nasi goreng yang selalu di idam idamkan nya.


"Buat mama gak ada? " tanya Sakira penuh harap.


"Sorry mom, kali ini khusus untuk Arsi" jawab Viki terkekeh.


Arsi tak memperdulikan perdebatan mereka, tanpa basa basi langsung melahap nasi goreng itu.


"Bagaimana? " tanya Viki menunggu penilaian dari Arsi.


"Enak banget" jawab Arsi mengacungkan jempol membuat Viki tersenyum puas.


Semua mata menatap ke arah Arsi, Meri yang berada di sampingnya pun ikut ngiler melihat lahapnya Arsi makan.


Viki merasa senang, mood Arsi telah membaik. Ia juga berjanji didalam hatinya untuk tidak membuat Arsi kecewa lagi.


"Sungguh tidak adil" dengus Celly.


"Pilih kasih" Sahut Seila.


mereka merengut kesal pergi dari ruang makan, acara pertunangan yang kacau malah berganti dengan adegan seperti ini. Viki dan Arsi seperti hidup berdua di ruang makan. Arsi makan dengan lahap tanpa menoleh kiri kanan. Viki malah sibuk memperhatikan Arsi makan.


"Ternyata begini sikap pak Viki yang sebenarnya, di balik tampang dingin dan juteknya ada sikap manja dan kekanak-kanakan" kata Egi terkekeh.


"Bagitulah, sejak kecil Viki memang seperti itu" sahut Sakira.


"Eh tante" kaget Egi, ia pikir semuanya sudah pergi dari ruang makan kecuali dirinya, Meri dan bayu.


"Viki dan Arsi sama sama judes, nakal tapi saling membutuhkan dan melindungi" lanjut Sakira sebelum benar-benar meninggalkan ruang makan.


"Andai gue dapet cowo kaya gitu" kata Meri mulai mengkhayal.


"Ekhem" dehem Bayu tersenyum manis.


"Kok loe senyum senyum? "tanya Egi yang melihat perubahan aura wajah Bayu. Merasa ketahuan sama Egi, Bayu langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi kembali dingin dan datar.


" Dasar cowo" dumel Meri pada Egi dan Bayu. Gadis itu berlalu menyusul Sakira dan yang lainnya.


"Tungguin!! " teriak Bayu mengejar Meri.


"Ikut ah, dari pada jadi nyamuk" kata Egi.


tinggalah Arsi dan Viki berdua di meja makan, memang yah bak kata orang. Kalau sudah cinta yang berkata, orang sekeliling tak ada apa apa nya.


Cinta mampu membutakan seseorang, cinta juga yang merubah seseorang menjadi jahat. Hati-hati dengan cinta, jangan sampai cinta yang seharusnya membuat saling menyayangi malah menjadi malapetaka.


...T E R I M A K A S I H...