My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
55. Tak sengaja bertemu



Arsi menuruni tangga santai, gadis ini masih kesal sama kakaknya yang masih saja dekat dekat dengan wanita ular.


"Mau kemana? " cegat Viki di ujung tangga.


"Bukan urusan loe! " balas Arsi ketus.


"Ini jadi urusan gue, loe itu tanggung jawab gue! " jawab Viki.


"Loe kan bukan saudara kandung gue, jadi loe gak ada tanggung jawab apapun terhadap gue! " sahut Arsi dengan nada sinis, tatapannya tajam menatap lurus ke mata Viki.


Tak menjawab, Viki hanya diam menatap balik Arsi.


"Kenapa? udah nyadar kan sekarang? " ucap Arsi semakin kesal.


Cup~


Mata Arsi melotot dengan apa yang Viki lakukan barusan.


"Loe!! "


Cup~


Cup~


Cup~


Viki terus mengecup bibir Arsi selagi Arsi ingin mengomel dan mengeluarkan kata kata yang tidak enak di dengar.


"Kenapa? mau lagi? " tanya Viki dan entah kapan tangannya berada di tengkuk Arsi.


"Stop!! " teriak Arsi.


Viki yang hendak mencium Arsi lagi terhenti, jarak wajah mereka saat ini sangat dekat. Hanya berjarak beberapa centi saja, bahkan Arsi dapat merasakan hembusan nafas Viki menerpa wajahnya.


"Gue pengen" bisik Viki dan sengaja meniup wajah Arsi.


Bukannya tersadar, Arsi malah semakin terlalu melihat keseksian bibir Viki yang sengaja meniup wajahnya.


"Sadar Arsi..... Loe gak boleh tergoda" ucap Arsi dalam hati menyadarkan dirinya agar tidak terlena. Arsi menggeleng kuat, lalu mendorong dada Viki kuat.


"Minggir! " Ucap Arsi.


"Mau kemana? " tanya Viki menahan lengan Arsi.


"Mau cuci mata" jawab Arsi menghempas tangan Viki, lalu melanjutkan langkahnya.


"Gue ikut.... " teriak Viki menyambar jaketnya, lalu berlari mengejar Arsi.


Di dalam Mobil. Arsi masih saja mengerut menatap Viki duduk manis di kursi kemudi mobilnya.


"Udah, senyum aja" ucap Viki nyengir sembari mengendarai mobil Arsi.


"Mau kemana nih? " tanya Viki.


"Serah deh, gue ngikut" jawab Arsi kesal, lalu menghempaskan tubuhnya ke jok mobil sembari menutup matanya.


"Viki.. Viki... kok loe jadi bucin gini sekarang" ledek seseorang dari belakang. Arsi yang menutup mata spontan membuka matanya.


Citttttttt..... cittttt......


Viki menginjak rem mendadak hingga Arsi berteriak kaget. Desta yang tadinya duduk di belakang terhempas ke depan.


"Aduh!!! loe bisa nyetir gak sih! " bentak Arsi mengusap dadanya, untung ia mengenakan sabuk pengaman, jadi tubuh Arsi tidak terhempas ke depan.


"Uncle! kok bisa di sini? " tanya Viki kesal, ia mengabaikan bentakan Arsi.


"Aduhhh sakit loh... kenapa harus berhenti mendadak sih Viki" ringis Desta mengusap jidatnya yang terhempas ke jok Viki.


"Uncle juga sih... ngapain coba di mobil aku" sahut Arsi.


"Tadi Seila nyuruh cari lipstik kesayangan nya jatoh di mobil kamu" jelas Desta.


"Trus kok gak bilang tadi, pas kita masuk" balas Arsi lagi.


"Lihat kalian yang saling mengerut uncle jadi kepo" kila Desta yang memang benar adanya. Awalnya Desta ingin menyapa keduanya, namun Awai yang terus mendumel dan Viki yang senyum senyum mebuat Desta menjadi penasaran dan tetap diam di belakang. Bahkan Desta sengaja menyembunyikan dirinya agar tidak ketahuan.


"Dasar tua bangka" dengus Viki kesal.


"Aku mendengar nya" sahut Desta, namun tidak menarik perkataannya. Viki malah kembali menjalankan mobilnya.


"Udah deh gak usah berisik lagi" lerai Arsi.


Keduanya terdiam setelah mendengar ucapan Arsi.


"Kita makan disini? " tanya Arsi yang di jawab anggukan oleh Viki. Masih kesal, Viki terlihat tak terlalu banyak bicara.


"Oke, uncle pergi dulu" ucap Desta ketika mereka sudah turun dari mobil.


"Gak sekalian makan bareng? " tawar Arsi.


"Tidak usah, kasian uncle melihat wajah bangsat ini" ucap Desta mengusap pipi Viki yang langsung di tepis olehnya.


"Bagus deh, dasar pengganggu" sahut Viki kesal. Desta, Kevin dan papa nya menurut Viki sama saja. Ketiga pria itu adalah biang semua masalah yang hanya ingin mengacau kesenangan dirinya.


"Dasar bocah nakal, gak aa berubahnya" dengus Desta tersenyum senang. Ia juga merasa sedih karena tidak berhasil melindungi sahabatnya. Desta berharap Sahabat nya masih hidup dan bisa bertemu lagi.


"Yuk masuk" ajak Viki menarik tangan Arsi yang bengong melihat sikap Desta dan Viki masih saja sama. Bermusuhan tapi saling melindungi, begitulah para pria di sekeliling Arsi ini. terkadang Arsi merasa bingung melihat tingkah mereka.


"Mau makan apa? " tanya Viki.


"Terserah deh" jawab Arsi.


Viki menatap satu persatu menu yang tertulis di buku menu, lalu mengatakan sesuatu pada pelayanan agar, menulis semua pesanannya.


Disisi lain, seorang wanita paru baya menyelesaikan makannya.


"Udah selesai? " tanya Alex putra Yuli.


"Udah, kamu mau nambah? " tanya balik Yuli.


"Gak mah. Aku udah kenyang" jawab Alex tersenyum.


"Mama ke toilet bentar yah, abis tu baru kita pulang" ucap Yuli pada putranya.


"Oke ma" jawab Alex mengangguk, lalu meraih ponselnya melihat notif apa yang ia Terima selama ia makan bersama mamanya tadi.


Yuli berjalan memasuki toilet, ia merasa ingin membuat air kecil.


Setelah selesai Yuli pun mencuci tangannya di wastafel sembari menatap pantulan dirinya pada kaca.


"Sudah sedikit menua" lirih Yuli pada dirinya sendiri. Mata YulI terangkat ketika melihat seorang gadis memasuki toilet.


Arsi yang baru saja memasuki toilet sedikit kaget melihat pantulan wajah wanita yang selama ini ia cari dan sangat ia benci. Keterkejutan terlihat di raut wajah Arsi, karena tidak ada persiapan diri untuk bertemu dengan musuh keluarga nya.


Tidak dengan Yuli, wanita itu malah tersenyum sembari berbalik agar lebih nyata menatap Arsi.


Lama mereka saling menatap, akhirnya Arsi memutuskan tatapan mereka lalu berjalan lurus masuk kedalam kamar mandi.


Yuli ingin menyapa Arsi, sungguh keberuntungan baginya bertemu gadis yang menjadi target kehancuran musuhnya. Belum sempat sapaan itu terucap, ponsel Yuli berdering.


tring~~


"Sial" umpat Yuli. Alex menghubungi nya.


Bukannya mengangkat, Yuli malah mengabaikan ponselnya itu lalu keluar dari toilet dengan kesal.


Sementara Arsi sedikit gemetar didalam bilik toilet sembari menggenggam ponselnya. Arsi bersiap menelfon Viki jika wanita itu melakukan sesuatu padanya.


Arsi keluar dari bilik toilet setelah mendengar langkah kaki Yuli menjauh meninggalkan toilet.


"Huh... sungguh mengerikan" lirih Arsi menarik nafas lega. Ia benar-benar belum siap menghadapi Yuli saat ini.


"Ada apa Alex? " tanya Yuli dengan nada tidak suka.


"Aku ingin kekantor mah, dan aku fikir mama terlalu lama di toiletnya" ucap Alex beralasan. Sebenarnya Alex melihat Arsi berjalan menuju toilet, Alex khawatir sesuatu terjadi jika mamanya bertemu dengan Arsi. Karena itu Alex menghubungi Yuli lebih cepat.


"Yaudah, ayo" ucap Yuli melangkah lebih dulu.


Mereka melangkah keluar, tidak disadari Viki melihat mereka.


"Sial, Yuli ada disini" umpat Viki. Cepat cepat Viki bangkit dari duduknya untuk mencari Arsi. Ia takut terjadi sesuatu pada Arsi yang katanya berada di toilet.


Viki berlari menuju toilet dan tak sabaran menunggu Arsi keluar.


"Loh kakak kok disini? " tanya Arsi kaget, Viki sudah berada di depan toilet wanita.


"Huh.. syukur lah loe gak papa" ucap Viki lega, sembari memeluk Arsi.


"Ih kakak kenapa sih" dengus Arsi lagi menggunakan embel embel kakak.


"Loe udah manggil gue kaka lagi? " goda Viki membuat Arsi tersadar dan malu.


"Ih apaan sih loe, minggir" bentak Arsi mendorong tubuh Viki, lalu berjalan terlebih dulu meninggalkan toilet menuju meja mereka tadi.


...T E R I M A K A S I H...