
Setelah 2 hari cuti, akhirnya Arsi kembali masuk kuliah. Mengingat sebentar lagi ada ujian akhir semester, Arsi harus lebih rajin belajar agar mendapatkan IPK tinggi.
"Cieeee pengantin baru udah masuk ni" Goda Meri menyambut Arsi masuk ke dalam kelas. Cepat cepat Arsi menutup mulut Meri, Arsi tidak mau mahasiswa mahasiswi yang lain mendengar nya.
"ihh Arsi, sakit tahu" Dengus Meri meraba bibirnya yang terasa sakit karena bekapan dadakan dari Arsi.
"loe sih, kalau yang lain dengar gimana? " Omel Arsi.Bisa bisa semuanya jadi kacau kalau sampe mereka semua tahu, termasuk Maya.
ngomongin maya, gadis itu tidak terlihat lagi sejak Bayu menolak nya. Arsi tak perlu repot repot menyiapkan tenaga untuk menghadapi maya.
Bu dinda masuk ke ruangan, hari ini 2 jam adalah mata kuliah bersama bu dinda.
Arsi yang masih jengkel, bu dinda masih menggilai Viki.
"Baik adek adek semua, kita hari ini agak cepat selesai yah. Soalnya saya ada urusan " Kata Dinda dengan gaya mentel nya.
"Urusan apa bu? " Goda mahasiswa iseng.
"Kalian tahu, saya ada urusan dengan pak Viki. Dosen tampan itu" Kata Dinda kegirangan.
"Wah beruntung banget ibu nya.. " Pekik mahasiswi yang juga merupakan penggemar Viki.
Arsi memutar matanya bosan, mereka terlalu menggilai suaminya. Ada rasa penasaran dengan cerita bu dinda.
"Ada urusan apa mereka? " Pikir Arsi.
"Yaudah yah, saya permisi dulu. Jangan lupa kerjakan tugasnya. Itu untuk nilai akhir kalian" Kata bu dinda.
"Kamu Arsi, gadis yang paling banyak kasus semester ini" Tunjuk dinda pada Arsi.
"Saya? " Ulang Arsi menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu, gadis banyak kasus" Gerutu Dinda, lalu berlalu keluar dari kelas.
"Lah, gue buat kasus apa? " Gumam Arsi bertanya pada diri sendiri.
"Yaelah, palingan ibu itu merasa bersaing karena loe kemarin deket sama pak Viki. " Kata Meri.
"Wah ngajak gelut tu" Sahut Bayu menghampiri kedua sahabat nya.
"Apaan, kemana kemana menang juga gue dari ibu perawan tua itu" Gerutu Arsi kesal.
Mereka keluar dari kelas menuju kantin, Arsi benar-benar pusing menghadapi fans Viki.
"Tenang aja, Viki hanay milik loe" Bisik Bayu mengedipkan mata menyemangati Arsi. Mereka tersenyum, lalu bergandeng tangan menuju kantin kampus, mengingat sebentar lagi masih ada mata kuliah susulan.
Sementara di kantor Viki sibuk mengurus dokumen dokumen yang sudah 2 hari ia tinggalkan.
"Baru 2 hari saja, udah sebanyak ini. Apa lagi 1 minggu, 1 bulan?? " Pikir Viki mengacak ngacak rambutnya kesal.
Tuk!! Tuk!!!
"Masuk" Sahut Viki dari dalam.
Nisa masuk ke dalam ruangan Viki lalu kembali nutup pintu. Senyum manis terukir di wajah cantik Nisa.
"Ada apa? " Tanya Viki kaget melihat Nisa yang masuk ke dalam ruangannya.
"Aku hanya ingin mampir" Balas Nisa berbohong.
"Apa boutique loe gak rame? " Kata Viki lagi dengan nada datar. Nisa mengangguk pelan, hatinya terasa terbakar mendengar Viki masih dingin pada ny.
"Viki.. " Lirih Nisa.
"Hmm.. " Jawab Viki hanya berdehem tanpa menoleh.
"Kamu kenapa dingin sama aku? " Tanya Nisa menahan tangis, hatinya terasa sakit banget dengan sikap dingin Viki.
"Aku gak dingin, aku bersikap biasa saja" Kata Viki.
"Gak, kamu dulu gak seperti ini sama aku, kamu sekarang dingin, kamu mengacuhkan aku" Kata Nisa menggebuh gebuh.
"Sudah cukup nis! " Bentak Viki. Lalu berdiri menatap Nisa yang mulai berkaca kaca.
"Aku sudah peringatkan kamu sejak awal kita berteman, sejak kita awal memutuskan untuk bersahabat! " Kata Viki tegas. Nisa sudah terisak.
"Kita hanya sebatas teman nis, Hanya Sahabat!!! " Ucap Viki menekankan kata sahabat, agar Nisa mengerti posisi dirinya.
"Aku menyukai kamu tulus Viki! Aku tahu kamu menikahi gadis itu karena balas budi sama orang tua nya kan! " Kata Nisa .
"Cukup Nisa!!! Cukup!! " Bentak Viki.
"Aki tahu Viki, kamu gak tulis mencintai dia!! " Kata Nisa lagi membuat Viki benar-benar marah!.
"Di hati aku cuma ada Arsi, loe hanya sahabat aku!! Itu pun jika kamu mau berubah! " Kata Viki memalingkan wajahnya, muak dengan sikap Nisa yang terlalu terobsesi padanya. Viki lebih suka dengan sikap Nisa dulu, tidak seperti ini.
"Viki... " Lirih Nisa dalam tangisnya.
"Pulang lah, aku masih banyak pekerjaan" Kata Viki, lalu kembali melanjutkan memeriksa berkas berkas yang menumpuk di atas mejanya.
"Aku hanya ingin kamu kembali sepet dulu" Lirih Nisa lagi.
"Aku tak akan bisa bersikap seperti dulu, jika kamu masih seperti ini. Persahabatan kita mungkin juga akan hancur!! " Balas Viki dingin.
"Gak Viki, aku gak mau!! Aku gak mau persahabatan kita hancur! " Kata Nisa memohon pada Viki, Nisa mendekat dan menggebrak meja kerja Viki.
"Aku gak mau persahabatan kita Viki, kamu satu satunya teman aku" Mohon Nisa.
"Aku udah gak kenal sama Nisa sahabat aku, bukan Nisa yang terobsesi seperti kamu" Kata Viki datar, lalu keluar meninggalkan Nisa di dalam ruangannya.
Perlahan Nisa ambruk ke lantai, hatinya benar-benar hancur. Nisa sangat mencintai Viki, sejak mereka dekat Nisa sudah memendam rasa. Takut Viki akan menjauhi nya jika Nisa terlalu cepat mengungkapnya.
Lama kelamaan Nisa tak dapat membendungnya lagi, rasa cinta nya semakin besar. Hingga Viki pulang ke Indonesia meninggalkan Nisa di Paris.
Nisa menghapus air matanya, lalu keluar dari ruangan Viki. Sungguh menyedihkan dirinya saat ini.
Viki tak benar benar pergi, ia berada di ruangan sekertariat yang berada di depan pintu ruangannya.
"aku hanya ingin kamu seperti Nisa, sahabat ku dulu" Kata Viki dalam hati, Menatap Nisa dari jendela kecil yang di khususkan untuk melapor.