
"Gak mau ngaku sih... " sindir Viki.
Arsi melirik tajam, mereka sudah di dalam mobil saat ini. Viki langsung membawa Arsi pulang setelah Dinda membentak dan ingin memukul Arsi.
"Aku tuh bukan gak mau ngaku, males aja banyak penjilat nantinya " gerutu Arsi, Viki hanya menggeleng kepalanya mendengar gerutuan Arsi. Viki udah membujuk Arsi untuk membuka pada public siapa Arsi sebenarnya.
"Sekarang mau kemana? mau ke rumah oma atau gimana? " tanya Viki menatap Arsi.
"Langsung pulang aja" kata Arsi.
Viki langsung melajukan mobilnya pulang, tak ada pembicaraan lagi antara Viki dan Arsi.
"Eh kok marah ke aku sih!! " kata Viki cepat cepat keluar mobil mengejar Arsi yang lebih dulu masuk ke rumah.
"Mama..... " teriak Arsi.
"Sayang, kenapa teriak teriak sayang" sahut Sakira tersenyum lembut.
Arsi mengerut, air mukanya berubah melihat seseorang bersama mamanya duduk di sofa.
Viki melambat, tatapannya seketika berubah dingin. Nisa yang melihat perubahan air muka Viki tersenyum kecut.
"Viki Arsi sini" panggil Sakira.
"Aku mau mandi dulu" kata Arsi langsung berlari ke kamarnya. Ia sangat benci kehadiran Nisa berada di sekitar rumah nya.
"Ada apa ini? " tanya Viki.
"Katanya orang tua Nisa ke Singapore, melakukan perobatan. " jelas Sakira.
"Papa mama menyuruh aku menginap disini, mereka tidak percaya aku sendiri di rumah" sambung Nisa.
"Kenapa harus di rumah ini? " tanya Viki ketus.
"Viki... kamu tidak boleh seperti itu sayang" tegur Sakira tak enak pada Nisa.
"tidak apa apa tante, aku sudah terbiasa dengan sikap Viki" kata Nisa tersenyum.
"Papa sama mama hanya percaya sama kami, makanya aku di minta kesini" kata Nisa menatap Viki.
"Aku bisa mengirim bebrapa penjaga" kata Viki lagi.
"Aku.... " kata Nisa ingin menjawab lagi.
"Viki.. gadis sendirian di rumah bahaya lo. Mama juga merasa senang kalo Nisa di sini" bela Sakira.
"Terserah mama deh" putus Viki, lalu pergi menyusul Arsi ke kamarnya.
Sementara Arsi langsung menelungkup ke ranjang, ia sangat sangat kesal sekarang. Di kampus dinda, di rumah Nisa. Memang hidup Arsi tak pernah tenang.
"Dek.. " panggil Viki.
Arsi tak bergeming, ia malah menenggelamkan kepalanya di dalam selimut.
"Bereskan semua barang barang kita" kata Viki.
Arsi langsung duduk, menatap Viki yang sudah mengambil koper.
"Serius mau pergi?? kemana? " tanya Arsi mulai mendekat.
"Aku tahu istriku tersayang tidak akan nyaman di rumah ini" kata Viki mengelus rambut Arsi penuh kasih sayang.
2 koper sudah berdiri berdekatan di depan pintu kamar Arsi. Mereka bersiap akan pindah dari rumah ini. Viki yakin jika istri nya tak akan nyaman serumah dengan Nisa.
"Loh Viki, Arsi. Kalian mau kemana? " tanya Sakira keget melihat Arsi menarik koper kecil dan Viki menarik koper yang besar.
Nisa yang baru keluar dari kamar tamu mendekat, ia kaget melihat Arsi dan Viki sahabat nya membawa koper besar.
"Saatnya kami mandiri ma, Viki akan ajak Arsi ke apartemen Viki" jelas Viki.
"Loh kok tiba-tiba? "
"Sebenarnya tadi mau bilang ke mama, tapi karena mama lagi ngobrol sama wanita itu" sahut Arsi.
"Hmm... Arsi gak boleh gitu" kata Sakira menegur Arsi.
"Yaudah kami berangkat dulu ma" kata Viki pamit.
"Viki... " lirih Nisa. Arsi menatap Sinis.
"Apa karna aku di sini kamu pergi? " tanya Nisa sendu.
"kamu bisa di sini, aku dan Arsi emang mau mandiri. Jadi kamu gak perlu sungkan. " Kata Viki datar.
Viki dan Arsi pindag ke apartemen Viki, jarak nya lumayan jauh dari rumah. Apartemen yang mereka tempati adalah Apartemen Davin dulu, ketika merawat Viki sebelum menikah.
"Wahh... ini kok beda apartemen nya dari sebelum sebelum nya. " kagum Arsi. Mereka memasuki ruang Apartemen yang terlihat sangat luas. Kamarnya ada 2,yang satu sudah di renov menjadi ruang kerja Viki.
"Eh ada foto mama dan papa" kata Arsi, lalu mendekati sebuah tembok yang berdekatan foto foto kenangan mereka bertiga.
"Eh anak kecil itu apa kak Viki? " tanya Arsi.
"Lucu kan" kata Viki memuji diri sendiri.
"Lumayan" kekeh Arsi.
Viki membiarkan Arsi menjelajah seisi apartemen, ia mengikutinya dari belakang sembari menjawab pertanyaan yang di lontarkan Arsi.
"Aku iri banget, pasti seru di masa masa kak Viki kecil" lirik Arsi.
"Seperti nya begitu, ketika aku kecil, aku sudah merasakan kehilangan, merasa cemas. Merasa seperti mayat hidup" jelas Viki.
"Mayat hidup? emang kenapa? " tanah Arsi. Mereka sekarang duduk di sofa ruang tamu.
"Masa itu, mama menghilang. Tak ada yang tahu jejaknya kemana. Aku yang sangat membutuhkannya merasa sangat hampa. hingga bertahun tahun mama baru muncul" jelas Viki.
"Karena itulah Uncle kevin menjadi kerabat kita, karena aku mereka lah ya g merawat mama ketika amnesia" lanjut Viki.
"Pantes gak ada miripnya mama dan uncle" pikir Arsi.
"Lalu kemana oma sama oppa sebelah mama?, dan sebalah papa juga aku tidak tahu" keluar Arsi sedih, ia sangat ingin bertemu dengan mereka.
"Jika kluarga sebelah mama, sudah tidak ada lagi kecuali aunty seila, sementara sebelah papa masih ada oppa dan omma. Tapi aku tidak tahu mereka di mana. Sudah sangat jarang oppa datang berkunjung" jelas Viki lagi.
"Sejak aku kecil, aku tidak pernah bertemu dengan nha. Melihat wajahnya, bermanja manja pada kakek dan nenek adalah impianmu" kata Arsi.
"Maaf, kita memiliki nenek yang tidak Seprekuensi dengan kita"
"Tapi knpa nenek tidak menyukai kita? "