My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
70. Berdamai dengan takdir



Arsi termenung di balkon kamarnya, meratapi semua perjalanan hidupnya dan keluarga nya.


"Semuanya berkaitan secara kebetulan" lirih Arsi.


"Namanya juga takdir, yah seperti itu" sahut Viki dari balkon kamarnya.


Arsi mengerut kesal, "Gak usah ikut campur deh"


"Gimanapun loe menolak takdir, loe tetap gak akan bisa" lanjut Viki.


"Jadi maksud loe, nikah sama loe itu adalah takdir gue? huh? " teriak Arsi berdiri menatap Viki yang juga menghadap pada nya. Meskipun mereka di batasi oleh dinding.


"Yah pikir aja ndiri" balas Viki.


"Ngarep aja lu nikah sama gue"


"loe kali yang ngarep" balas Viki tak Terima.


"Yeeee najis"


"Yang nangis ketika gue gak pulang siapa? yanga ngamok ngamok?? " ucapViki sengaja membuat Arsi merasa malu dengan sikapnya yang manja sewaktu kecil dulu.


"Ihh nyebelin!! " teriak Arsi kesal. Lalu beranjak dari balkon masuk ke kamarnya.


Viki pun ikut masuk lalu keluar dari kamar menuju kamar Arsi.


Ceklek. pintu kamar Arsi yang tidak terkunci langsung terbuka.


"Ngapain? " tanya Arsi menatap Viki sinis.


"Mau ketemu calon istri" goda Viki.


"Ngarep loe! "


"Udah deh kita gak bisa ngelak, lagian mama sendiri yang buat perjanjian ini" jelas Viki duduk diatas ranjang Arsi.


"Perjanjian apa? " tanya Arsi masih dengan nada ketusnya. Terjadilah Viki menceritakan semua yang terjadi ketika Sakira mengucapkan janji itu.


"Kenapa? " tanya Viki melihat Arsi diam setelah mendengar cerita darinya.


"Gue gak papa, yaudah gue setuju nikah sama loe" kata Arsi.


"Yah emang harus setuju, emang ada di beri kesempatan menolak? " cibir Viki.


"Ihhhh nyebelin banget sih loe! " teriak Arsi menarik rambut Viki keras.


"Aduh aduh aduh.... Sakit dodol!!! " teriak Viki mencoba melepaskan jambakan tangan Arsi di kepalanya.


"Belum nikah aja udah kaya gini, apalagi udah nikah" gerutu Arsi melepas rambut Viki.


"Loe sih jadi cewe kasar banget"


"Bukan kasar, tapi loe pantes dapetinnya" balas Arsi mendelik kesal.


Prok!! prok!! suara tepuk tangan dari arah pintu.


"Jadi kalian sudah setuju untuk menikah" kata Davin tersenyum senang.


"Papa! Mama!! sejak kapan berdiri di situ? " tanya Arsi kaget, begitu juga dengan Viki. Mereka tidak sadar jika sejak tadi papa dan mamanya menonton aksi mereka.


"Sejak adegan romantis" Sahut Sakira.


"Ihh apaan, iuuuu" cibir Arsi jijik.


"Oke, 2 hari lagi akan kita adakan acara pertunangan" ucap Davin.


"Eh pah" sela Arsi pelan.


Arsi berjalan mendekat pada papanya dengan kepala menunduk.


"Ada apa Arsi? "


"Papa kan tahu kalau Arsi di kalangan umum adalah rakyat biasa, jadi.... " ucap Arsi menjeda ucapannya.


"Umumkan saja semuanya" potong Viki.


"Bagaimana bisa! mereka pasti akan menjelek jelekan Arsi, papa pasti malu punya anak kaya Arsi" rengek Arsi.


Viki melangkah mendekati Arsi, berdiri di samping Arsi. Di genggamnya tangan mungil Arsi erat, seolah menyalurkan kekuatan dan meyakinkan Arsi jika dirinya tidak sendiri.


"Loe gak sendiri, kan ada gue! "


Mereka Saling menatap, Arsi hampir meleleh dibuat nya. Wajah tampan Viki semakin bersinar dimata Arsi ketika Viki menatapnya dengan serius dan tatapan itu penuh dengan cinta.


"Cieeee" goda Sakira membuyarkan lamunan keduanya.


"Sok nolak, padahal sama sama mau" sindir Davin.


" Papa!!! jangan begitu, nanti Arsi malu. Dia kan emang oengen nikah Sama Viki" serga Sakira pada Davin yang kemudian Sakira ikut menggoda Viki dan Arsi.


"Gue akan mencoba berdamai dengan takdir" batin Arsi tersenyum melihat keluarga nya bahagia. Mungkin memang ini takdir yang tertulis untuk nya.


*


*


*


"Alex!! "


"Alex!!! "


Yuli mengejar putra nya, ia sudah memanggilnya Alex tapi tidak di sahut ataupun di lirik Alex.


"Kamu kenapa sih Alex!! " bentak Yuli berhasil menggapai tangan Alex.


"Ma! Alex capek!! Alex capek ngikutin semua ini. Hanya karena dendam dan keegoisan mama aku tidak mendapatkan kebahagiaan. " kata Alex penuh emosi, ia sudah tidak tahan lagi.


"Maksud kamu apa? "


"Udah deh ma, aku udah tahu semuanya!! mama adalah wanita yang paling jahat di dunia ini! " teriak Alex melepaskan tangan Yuli.


"Alex!! Alex!!! " panggil Yuli kembali mengejar Alex yang berlari menuju kamarnya.


"Kamu mau kemana? "


Alex tak menghiraukan mamanya, ia terus memasukkan seluruh pakaiannya kedalam kopor.


"Kamu kenapa sih!! " tanya Yuli mengeluarkan semua barang yang sudah di masukkan Alex.


"Ma!! apa gak cukup membuat papa meninggal? gak cukup membuat aku hidup kekuranga kasih sayang? "


"Alex!!!! " bentak Yuli.


"Apa ma?? mama tahu??? aku yang mendapat karmanya. Tak gak bisa di lawan mah!! mama harus sadar!!! " ucap Alex dingin kembali memasukkan barang barang nya.


Bruk~ yuli ambruk di lantai. Kakinya tak sanggup lagi menopang dirinya.


"Mama yang salah!!! mama yang salah karena tidak bisa menerima semua ini!!! " lirih Yuli mulai terisak.


"Hiks... aku yang salah memperjuangkan cinta yang salah! "


Alex menghela nafas berat, ia tak sanggup melihat kerapuhan mamanya. Semarah apapun, se kecewa apapun ia pada mamanya, Yuli tetaplah mamanya dan Alex sangat menyayangi mamanya.


"Udah mama, aku hanya ingin mama sadar. Hidup bahagia dan menikmati hari tua "


"Mama udah berusaha lex, mama udah berusaha tapi.. rasa sakit itu seakan memaksa mama membuat mereka ikut merasakan apa yang mama rasakan" ungkap Yuli memukul mukul dadanya yang terasa begitu sesak.


"Gak ma, mama pasti bisa, semua itu hanya obsesi"


Alex ikut ambruk di lantai, lalu memeluk mamanya.


"Kita pasti bisa melewatinya ma, kita pasti bisa berdamai dengan takdir" lirih Alex, Yuli mengangguk di pelukan putranya.


"Sekarang kemasi seluruh barang mama" tutur Alex membuat Yuli bingung.


"Kita mau kemana? " tanya Yuli.


"Kita akan kembali ke Amerika, untuk memulai hidup baru" jawab Alex tersenyum, ia juga harus meninggalkan negara ini untuk melupakan Arsi.


"Kuliah kamu bagaimana? "


"Mom, come on, aku ini anak konglomerat, bisa melakukan apapun" ucap Alex songong.


"Yalah yalah, terserah kami saja"


Akhirnya mereka pindah dan menghilang dari keluarga Ricardo. Yuli mencoba berdamai dengan takdir, begitu juga dengan Alex yang harus pergi jauh dari Arsi yang semakin membuatnya jatuh cinta.


"Kamu yakin? " tanya Yuli menatap putranya yang terlihat murung. Yuli merasa bersalah, karena keegoisannya Alex menjadi korban nya.


"Alex yakin ma" jawab Alex.


Merek sekarang berada di bandara, menunggu jadwal penerbangan 30 menit lagi. Alex terus menatap ponselnya, seperti ada keraguan di sana.


"Hubungi saja dia, untuk yang terakhir kalinya" usul Yuli.


"Gak ma, itu hanya membuat Alex sulit pergi" tolak Alex memasukkan ponsel ke dalam kantong celananya.


Note:


Menjalani hidup bahagia, terkadang membutuhkan ke ikhlasan. Takdir seseorang tak akan bisa di rubah. Berbeda dengan nasib, jika seseorang berusaha keras di jalan yang benar, mungkin nasibnya akan berubah. Berbeda dengan Takdir. Cobalah untuk berdamai dengan takdir, maka hidup akan Damai.


...T E R I M A K A S I H...