
"Dari mana aja? "
Arsi yang baru saja melewati pitu Kamar Viki berhenti sejenak, lalu menoleh menatap Viki yang bersandar di pintu kamarnya.
"Bukan urusan loe! " balas Arsi masuk ke dalam kamarnya.
"Loe harusnya-" ucap Viki terhenti ketika ia hendak menyusul Arsi masuk ke kamarnya, gadis itu malah menghempaskan pintu tepat di depan Viki.
Blam~
Viki menggigit bibir nya menahan kesal, mau tak mau ia harus menahan sesuatu yang akan meledak tadi.
"Awas saja nanti" geram Viki menendang pintu kamar Arsi, lalu kembali ke kamarnya.
*
*
*
Seperti sebelumnya, Arsitektur sudah terbiasa bangun pagi sejak Viki kembali ke Indonesia.
Terlihat sekarang Arsi sudah duduk manis di dalam kelas.
Satu earphones menyumbat daun telinga Kirinya dan satu pena berkutat menari nari di atas sebuah buku mungil yang selalu ia bawa.
"Ci.. " panggil Meri pelan, ia berniat untuk meminta maaf atas perlakuannya pada Arsi kemarin.
Arsi tak bergeming, ia masih merasa kesal dengan sikap sahabat nya. Meskipun sebenarnya ia juga yang salah karena masih berbohong tentang dirinya yang sebenarnya.
"Loe masih marah? " tanya Meri lagi, mencoba untuk mengajak Arsi bicara dengan nya.
Meri menarik sebuah kursi untuk ia duduki di dekat Arsi. Matanya menatap Arsi penuh penyesalan, kemarin ketika Arsi pergi Meri merasa sangat bersalah dan terlalu egois.
"Maafin gue ci..... " rengek Meri sembari menarik lengan Arsi dan menggoyangkan nya seperti anak kecil meminta uang jajan pada ibunya.
Tak dapat di pungkiri, Arsi memang tidak membenci Meri tetapi ia merasa kesal dengan sikap temannya ini. Melihat ekspresi Meri yang sangat menggemaskan, akhirnya Arsi menoleh pada Meri dan langsung memeluk nya.
"Yeeee" sorak Meri girang membalas pelukan Arsi.
"Jangan gitu lagi loe! " peringat Arsi.
"Siap!!!! " sahut Meri senang, akhirnya Arsi tidak marah lagi.
Tak lama kemudian jam kuliah pun di mulai, terlihat kelas sudah penuh di duduki oleh mahasiswa lain yang tanpa Meri dan Arsi sadari mereka melihat adegan uwuuu yang baru saja Arsi dan Meri lakukan.
Bayu dan Egi yang juga sudah datang hanya menggeleng melihat tingkah kedua sahabat mereka yang memang masih seperti anak kecil itu.
"Malu gue" rutuk Arsi tag masih dapat di dengar Meri.
"Gue juga" sahut Meri berbisik pada Arsi yang menutup wajahnya dengan buku.
Mata kuliah pertama pelajaran nya tidak terlalu rumit, hanya butuh hafalan dan pemahaman membaca buku. Arsi mampu menjalani mata kuliah pertama ini dengan santai.
"Siang ini mau makan apa? " tanya Meri pada Arsi ketika jam kuliah pertama selesai.
Arsi yang masih mengemasi barang barang nya berhenti sejenak sekedar berfikir.
"Gue mau makan semuanya!! 'ucap Arsi semangat.
" Boleh" jawab Meri penuh semangat juga, merasa seperti orang konyol, Arsi dan Meri tertawa lepas.
"Apaan sih" ketus Meri menatap Egi tajam.
"Ih sewot aja lu Mer, PMS yah" cibir Egi kesal pada Meri.
"Udah udah, ayuk cabut. Laper nih" lerai Arsi menarik kedua tangan sahabat nya itu keluar dari kelas. Jika di tunggu pembicaraan mereka kelar, maka cacing yang berada di dalam perutnya bakal mati kelaparan.
Sementara Bayu, yang merupakan pengawas untuk Arsi sebenarnya malah terkekeh melihat tingkah ketiga manusia yang sebenarnya sangat aneh di mata Bayu.
"Kok bisa sih mereka bersikap seperti ini" batin Bayu menatap Egi dan Meri. Mereka merupakan putra dan putri conglomerat tapi bergaya dan berpenampilan ancur banget. berbeda dengan dirinya yang selalu mengutamakan penampilan.
Begitu juga dengan Arsi, selalu berpenampilan sederhana, tetapi barang yang di pakenya itu tak ada yang murah.
"Arsi!! "teriak seseorang.
Dengan malas Arsi pun berhenti vdan menoleh pada sumber suara. Meri dan dan Egi menatap bingung Viki yang berjalan cepat mendekat pada mereka. Lebih tepatnya pada Arsi yang berada di antara Egi dan Meri.
" Ada apa? "tanya Arsi menatap Viki malas.
" Bapak ada perlu sama teman saya? "tanya Meri polos.
" Kami gak ada mata kuliah bapak loh, hari ini" sahut Egi. Viki sedikit bingung menjawab pertanyaan dari kedua sahabat Arsi, Viki melirik Bayu yang tak jauh dari mereka bertiga, berharap Bayu bisa menolong nya untuk mencari alasan. Namun sayangnya Bayu malah mengalihkan pandangan nya ketika matanya bersirobok dengan mata tajam Viki.
"Saya ada urusan dengan gadis ini" ucap Viki dingin.
"Urusan apa lagi sih! " ketus Arsi.
Meri dan Egi menoleh kaget pada Arsi yang berani membentak dosen killer yang semua mahasiswa takut padanya.
"Arsi, tahan emosi loe, ini dosen penting di jurusan kita" bisik Meri mengingatkan Arsi agar tidak terlalu membuat masalah dengan Viki.
Arsi tak memperdulikan apa yang Meri ucapkan, ia benar-benar malas berurusan dengan Viki hari ini, di tambah lagi tadi malam perlakuan Arsi sangat buruk. Arsi berpikir jika Viki pasti ingin membalasnya.
"Udah deh yuk cabut" ucap Arsi pergi begitu saja, melangkah lebih dulu dari teman temannya yang hanya bisa nyengir pada Viki, lalu berlari mengejar Arsi.
"Ci tunggu!!!!!!! " teriak Meri dan Egi. Sementara Bayu menepuk pundak Viki agar tetap bersabar.
"Gak usah sok nguatin loh! " ketus Viki mendelik pada Bayu yang sudah tertawa lepas. Pria itu turut mengikuti Arsi dan kedua temannya dan meninggalkan Viki dengan wajah cemberut.
Sementara dari tempat lain seseorang menajamkan telinganya berharap dapat mendengar semua percakapan dosen baru dan juga ke empat musuhnya.
Gadis itu menduga jika antara dosen baru dan juga Arsi memiliki hubungan. Senyum licik terukir di sudut bibirnya yang terlihat merah mereka karena lipstik yang begitu merona.
Gadis itu berlalu begitu saja tanpa ada yang menyadarinya.
"Pasti ada sesuatu" gumam gadis itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo semuanya, maaf yah lama aku up, soalnya lagi kerja.
Oh iya, author mau ucapin selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kalian sehat walafiat yah, di mudahkan rejeki nya. Selalu dukung Arsi yah๐๐ Vote!! komen!! dan juga Likenya.
Aku bakal usahain buat up tiap hari, tetapi selain kerja, author juga lagi sakit doain aku sehat yah, biar aku bisa up terus๐
Love you.
...T E R I M A K A S I H...