
Pagi ini terlihat sangat berbeda bagi Arsi, tatapan aneh dari para mahasiswi membuatnya risih. Berusaha untuk tetap acuh, Arsi berjalan dengan santai menuju kelasnya.
"Arsi!!!" panggil Meri, lalu berlari mendekat pada sahabatnya.
"Hai.. " sahut Arsi melambaikan tangan.
"Tumben cepat dateng" ujar Meri menatap penuh selidik.
"Aduh Mer Mer, kan akhir akhir ini gue emang dateng cepat muluu" dengus Arsi jengah.
"Oh iya, sejak Viki jadi tunangpmmmpp... " belum sempat Meri menyelesaikan ucapannya Arsi langsung membekap mulutnya.
"jangan keras keras, nanti kalo yang lain dengar gimana!!! " bisik Arsi masih membekap mulut Meri.
"Ihhh apaan sih Arsila putri Ricardo!!! " teriak Meri kesal dengan apa yang Arsi lakukan, percuma juga di tutupi kalau mereka semua melihat semua kejadian kemarin.
"Ihh jangan keras keras!!! mereka kan nggk tahu kalo gue ketut Ricardo" kesal Arsi menatap Meri sengit.
"Lah kan mereka tahu kalo lo tunangannya pa Viki! " ucap Meri memberitahu.
"Coba deh lo pikir, kalo gue tunangannya trus loh manggil gue dengan nama lengkap! " dengus Arsi. Meri bengong sejenak, lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Ohh iyaaaa, maafin gue Ci..... " cicit Meri.
"Au ah, kesel gue! " Arsi pergi begitu salah meninggalkan Meri yang merasa bersalah padanya.
"Arsiiii tungguin gue!!! " teriak Meri mengejar Arsi yang semakin mempercepat langkahnya ketika Meri semakin dekat dengan nya.
Brak! ~
"Ups,,, gak sengaja" ucap Maya yang sengaja mengangkat kakinya ketika Arsi lewat di depannya.
"Loe apa apaan sih Mau! " bentak Meri membantu Arsi berdiri.
"Loe gak papa Ci? " tanya Meri khawatir.
"Udah Mer gue gak papa" jawab Arsi pelan.
"Yah gak papa lah, orang kayak loe pantesnya duduk di lantai kotor itu!! " ucap Maya menatap Arsi remeh.
"Jaga mulut loe yah!! " bentak Meri menunjuk Maya geram.
"Maya benar kok, kan si wanita ular ini emang pantes di tempat kotor gitu! " timpal angle.
"Diem loe!! " bentak Meri membuat angle surut kebelakang.
"Loe sengaja kan deketin semua pria kaya di kampus ini agar koe bisa hidup enak! " cibir Maya. Ia semakin geram karena Arsi tak melawan sedikitpun, malahan Arsi tersenyum mendengar setiap ucapan yang di lontar kan oleh mulut Maya.
"Udah ngomong nya? " ucap Arsi dingin.
Mahasiswa lain sudah berkumpul melihat pertengkaran mereka. Arsi tidak terlalu ambil pusing, toh sudah biasa baginya menghadapi pandangan aneh dan tatapan kebencian mereka.
"Dasar wanita penggoda!! " geram Maya melayang kan tangannya ingin menampar Arsi, namun dengan sigap Arsi menangkis tangan Maya.
"Kenapa?? gue yang goda kenapa lo yang anget? Gak mampu lakuin apa yang gue lakuin??? atau loe nya gak laku? " balas Arsi menghempaskan tangan Maya. Lalu pergi begitu saja.
"Huh, gak laku" ledek Meri pada Maya yng menatap Arsi kesal, lalu ia mengejar Arsi yang sudah hampir mencapai kelas.
"Huhuuu, malu sendiri!! " sorak mahasiswa lain pada Maya yang kalah telak oleh Arsi.
"Ih apaan sih, bubar bubar!!!! " Usir Angle melayangkan tangannya seperti mengusir kerbau.
"Huuuuu" sorak mereka sembari bubar.
"Awas aja loe nanti! " geram Maya menghentakkan kakinya berjalan menuju kelasnya juga.
Di sisi lain seseorang tengah mempersiapkan rencana untuk menghancurkan keluarga Davin.
"Apa semua sudah siap? " tanya seorang wanita dengan pakaian serba hitam dan menggunakan kaca mata hitam.
"Sudah boss, semua nya sudah siap" jawab anak buah wanita itu.
"Oke, lakukan semua nya sesuai rencana. Jangan sampai gagal!! " titah wanita misterius itu, lalu pergi meninggalkan ruangan. Anak buahnya menunduk hormat melepas kepergian bosnya.
Kembali ke para tampan tampan ku, Viki dan bayu berjalan beriringan di Koridor Kampus. Tatapan mata memuja tertuju pada kedua anak manusia yang di karuniai kesempurnaan yang haqiqi.
"Kak, ini buat kakak" ucap seorang gadis yang memberanikan diri memberikan hadiah pada Bayu.
"Terimakasih" jawab Davin menerima hadiah itu dan memberikan senyum manis pada si pemberi hadia.
"Wahhh banyak banget coklat kalian" ucap Egi menatap coklat yang di pegang Viki dan Bayu. Setelah mendengar cerita dari Bayu dan Meri, akhirnya Egi tidak terlalu canggung lagi dengan Viki.
"Ini buat loe ajah" ucap Bayi dan Viki serentak memindahkan semua hadiah kenangan Egi.
"Ega gila, ini buat gue?? " tanya Egi tak percaya, bisa gendut dirinya jika makan coklat sebanyak ini.
"Udah loe makan semua nya" ujar Bayu kemudian ikut Viki masuk ke dalam kelas, karena hari ini mereka masuk mata kuliah Viki.
Sebelum memulai pelajaran nya, Viki sempat melirik Arsi yang terlihat kesal dan acuh dengan kehadiran nya. Ia penasaran apa yang membuat Arsi sebete itu.
Setelah 2 jam menghabiskan waktu mendengar kan celotehan Viki, Akhirnya mereka selesai juga.
Arsi dengan malas merapikan semua peralatannya kedalam tas. Entah kenapa pikiran nya sangat kacau saat ini.
" yuk pulang"ajak Viki pada Arsi.
"Gue sama Meri" jawab Arsi malas.
"Loe harus balik sama gue, mama papa gak dirumah! " jawab Viki. Membuat Arsi langsung menoleh pada nya.
"Kemana mama sama papa? " tangan Arsi penasaran, kecemasan mulai menghampiri hatinya.
"Ada urusan mendadak di Amerika" jawab Viki santai.
"Kapan mereka berangkat? " desak Arsi mulai panik.
"Kenapa?? kok loe sepanik ini? " tanya Viki bingung, Meri dan Bayu juga ikut bingit melihat reaksi Arsi.
"Jawab gue!!! " bentak Arsi, pesan aneh dan gambar pesawat hancur berputar di kepalanya.
Viki mengangkat pergelangan tangannya melihat arloji nya. "berangkat 30 menit lagi"
"Astaga!! " teriak Arsi histeris ia langsung berlari keluar kelas.
"Mau kemana?? " panggil Viki mengejar Arsi, di ikuti ketiga temannya.
"Arsi!! " panggil Viki meraih tangan Arsi
"Aduh gue gak punya waktu, mama papa gak boleh pergi! " teriak Arsi sudah berlinang air mata. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Viki di pergelangan tangannya.
"Loe kenapa sih! ada apa? cerita ke gue! " bujuk Viki masih menahan tangan adiknya.
"Gue gak punya banyak waktu kak!!! mama papa gak boleh pergi!! " teriak Arsi menghempaskan tangan Viki, lalu berlari masuk ke dalam mobilnya dan melaju begitu saja.
"Ayi ikuti dia! " ucap Bayu sudah siap dengan mobilnya, Meri dan Egi langsung ikut masuk ke bangku belakang, sementara Viki dudul di samping Bayu.
Meri sempat kaget melihat Bayu sudah siap dengan mobil nya. Ingin rasanya Meri bertanya kapan Bayu mengambil mobilnya, namun kebingunganbya di simpan erat oleh Meri, bukan saat yang tepat untuk bertanya sekarang.
"Wah, Arsi jago juga nyetirnya" ucap Egi berdecak kagum.
"Arsi itu pembalap" jawab Meri langsung menutup mulutnya ketika Viki menoleh ke belakang.
"Maksud gue, Si arsi suka mengemudi" jawab Meri takut takut. Ia baru sadar jika Arsi adalah pembalap liar tanpa di ketahui siapapun.
"Sejak kapan?" Tanya Egi penasaran membuat Meri menggigit bibirnya takut.
"Mampusss, si Egi malah menggali kubur buat gue" runtuk Meri membatin.
"Gue gak tahu" jawab Meri singkat.
Tiba di bandara, Arsi langsung turun dari mobilnya berlari memasuki Bandara. Kepalanya celingak celinguk mencari keberatan papa dan mamanya.
"Mbak.. pesawat tujuan ke Amerika sudah berangkat? " tanya Arsi pada petugas yang menjaga pintu menuju ruang tunggu.
"Sudah nona, baru saja berangkat" jawab petugas wanita itu.
"Gak... gak boleh!!! " teriak Arsi.Membuat petugas itu mengerut kaget.
"Arsi!... loe kenapa? " tanya Viki langsung menarik Arsi ke dalam pelukannya.
"Gak boleh kak!! mama gak boleh pergi!! " teriak Arsi sudah menangis sejadi jadinya.
Tak mampu menahan tubuhnya Arsi malah merosot kelantai. Viki tak tahu harus melakukan apa, ia sangat bingung dengan keadaan Arsi sekarang.
...T E R I M A K A S I H...