My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
16 Tersinggung



Arsi duduk sendirian di sebuah cafe yang sudah biasa ia kunjungi bersama teman-teman nya.


"Tumben cepet banget loe dateng" ucap Meri menatap Arsi penuh tanya. Gadis itu terlihat kesal, ingin bertanya Meri takut jika pertanyaan terlalu mendalam nantinya.


"Gabut gue di rumah" balas Arsi sekenanya.


"Yahh gitu emang, kalo dah gabut baru deh ajak ngumpul" ucap Meri sengaja menyindir Arsi yang selama ini sering sibuk bersama Alex.


"Apaan sih, kapan gue kaya gitu" elakkan Arsi melirik Meri kesal.


"Yah mana ada pencuri ngaku" balas Meri lagi.


"Eh sudah sudah!! " lerai Egi duduk tepat di antara Arsi dan Meri. Mereka duduk berhadapan, dan Egi duduk di antaranya.


Arsi dan Meri saling membuang muka, sementara Egi menghela nafas gusar.


"Loe pada kenapa sih, ribut mulu, heran gue" omel Egi.


"Loe juga Si, sejak kuliah loe emang sibuk sama si siapa itu namanya" ucap Egi menatap Arsi.


"Alex" sahut Meri.


Arsi tak menjawab, ia memilih untuk diam saja. Ucapan sahabat nya memang benar, dunianya sedikit teralihkan oleh Alex.


"Dan sekarang loe juga sibuk kan?, sama tu dosen. " Tuding Meri lagi, membuat emosi Arsi tersulut.


"Loe pikir gue apaan sih Mer, gue bukan jalang yah Mer" balas Arsi tak habis pikir dengan ucapan Meri. Seolah olah Meri percaya dengan gosip yang tersebar.


"Gue gak bermaksud begitu" lirih Meri menyesal dengan ucapannya tadi. Arsi menatapnya tak percaya, ia tak menyangka jika sahabat nya sendiri berpikir seperti itu.


"Gue kecewa sama loe! " balas Arsi bangkit dari duduknya beranjak dari cafe.


"Lalu siapa yang gendong loe ke apartemen itu! " ucap Meri tak tahan lagi, ia ingin tahu tentang Arsi, ia tak ingin menduga duga lagi.


Arsi menghentikan langkahnya, tapi tak berniat untuk berbalik.


"Apa itu penting bagi loe? " balas Arsi dengan nada datar.


"Buktikan jika loe memang bukan seperti itu," ucap Meri lagi.


"Karena.... loe gak harus tahu" balas Arsi, ingin rasanya Arsi mengatakan yang sebenarnya pada Meri dan juga Egi yang hanya diam mendengar kan perdebatan kedua wanita yang berstatus sebagai sahabatnya.


"Loe bersikap seperti ini seolah loe mengakui semuanya" teriak Meri, namun tak di hiraukan oleh Arsi, gadis itu terus melangkah meninggalkan cafe.


"Ahhkk!!!! " teriak Meri kesal, bukan seperti v yang ia inginkan. Meri hanya bermaksud untuk mengetahui apa masalah sahabat nya, ia juga bermaksud ingin membantu Arsi yang terus di pandang remeh oleh teman teman kampus sejak berita palsu itu tersebar.


"Loe sih main serobot ajah, berantem kan jadinya" serga Egi pada Meri, namun tak di gubris nya.


Arsi berjalan cepat menuju mobilnya, ucapan Meri sungguh membuat hatinya tersinggung.


Karena kekesalan hati Arsi tidak terlalu memperhatikan jalannya.


Brukkk


"Eh sorry sorry" sesal Arsi membantu seseorang yang di tabrak nya memungut barang barang nya.


"Ini, maaf gue gak sengaja" ucap Arsi tulus pada Seorang pria yang tersenyum membalas ucapan Arsi.


"Tidak apa apa, gue juga salah kok" jawab Mark, pria tampan yang tak sengaja di tubruk Arsi. Matanya menatap Arsi dari bawa hingga atas. Senyum manis terukir menambah tingkat ketampanan wajahnya.


"Egm yaudah gue permisi, sekali lagi gue minta maaf" pamit Arsi meninggalkan Mark yang masih menatap kepergiannya dengan senyum miring.


"Cantik juga, Bunda emang gak salah ngasi tugas" gumam Mark tersenyum. Lalu melanjutkan langkahnya yang ingin masuk ke cafe itu, karena akan menemui client.


"Huh, untung tu cowo gak ribet kaya di novel novel" ucap Arsi membayangkan kisah kisah romantis pada novel yang pernah ia baca. Gadis yang kadar kecantikannya berlebih itu melajukan mobilnya meninggalkan cafe.


Tanpa di sadari Arsi tiba di rumah Oma Sindi. Arsi butuh pengalihan pikiran, banyak masalah yang menghampiri Arsi saat ini, di tambah lagi kecurigaan Meri padanya.


"Kangen... " rengek Arsi membalas pelukan aunty nya.


"Kamu sih gak main main lagi kesini" gerutu Celly.


"Mentang mentang Viki udah balik tuh, jadi lupa jalan kerumah oma" sahut Sindi yang mendengar percakapan menantunya dengan cucunya.


"Is oma, malahan Arsi makin risih kalo ada Si es batu itu" balas Arsi beralih memeluk oma Sindi.


"Loh kenapa? bukannya kamu seneng banget kalo kakak kamu pulang" tanya Celly kaget, biasanya Arsi paling seneng kalo Viki pulang dan bermain bersamanya.


"Au ah Aun Arsi malas bahas dia" elak Arsi merajuk, ia malah memilih duduk di sofa sembari mengemil cemilan aunty Celly yang tergeletak di atas meja. Memang Celly tadi sedang santai di sembari menonton TV.


"Ih ni bocah" ucap Celly gemas liat tingkah keponakannya ini. Celly mengusap perutnya ketika ingin melampiaskan ke gemesannya pada Arsi.


"Kenapa?" tanya Arsi menatap aunty Celly mengusap perutnya.


"Yah, berdoa agar adik gue gak kaya loe lah! " jawab Bayu yang baru saja turun dari kamarnya, ia sempat mendengar percakapan mama dan juga sepupu jauhnya ini.


"Kupret loe, lu pikir sikap gue amit amit apa! " serga Arsi melempar bantal yang langsung di tangkap oleh bayu.


"Yah kan emang amit amit" jawab Bayu lagi.


"Oma..... " rengek Arsi menatap oma sindi memelas meminta pembelaan.


"Bayu.... " ucap oma sindi memperingati agar tidak mengecoh Arsi lagi. Sementara Arsi menjulurkan lidah nya pada Bayu setelah di bela oleh oma.


"Gitu ajah bangga" ledek Bayu.


"Biarin" balas Arsi tak mau kalah.


"Ihhhhh udah deh, kalian ini yah gak bisa Damai barang sebentar saja" ucap Celly tak tahan lagi, tak ada satupun yang mau ngalah di antara keduanya. Hingga Celly mengeluarkan tenaga supernya untuk melerai kedua kakak adik ini.


"Iya iya maaf" ucap Arsi dan Bayu serempak.


"Paan sih ngikutin gue!! " serga Arsi tak terima Bayu ngikutin ucapannya,Celly dan Sindi menepuk jidat melihat perdebatan terjadi kembali.


"Siapa juga yang ngikutin lu" balas Bayu menatap Arsi tajam, begitu juga sebaliknya.


"Lah itu tadi, lu kompaan bilang iya maaf " ucap Arsi mengulang apa yang mereka ucapkan tadi.


"Gue emang mau bilang itu tadi Arsi yang paling Jelek!!! " geram Bayu menjelaskan.


"Apaan pokoknya gue gak mau tahu?! loe harus bikinin gue mie goreng special!! " perintah Arsi seenaknya. Apa hubungannya coba kompak tanpa sengaja malah di suruh masakin dia mie goreng. Tentu saja Bayu tak terima dengan perintah tak masuk akal itu.


"Apaan, loe pikir gue babu loe! " balas Bayu malah merebahkan tubuhnya di atas sofa di samping oma.


"Ih cepetan Bayu..... " rengek Arsi berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Bayu dan menggoyang goyang kan tubuh Bayu hingga mau membuatkannya mie goreng.


"Suruh bibi sana.. " tolak Bayu.


"Tapikan, gue mau masakan elo!! " Pinta Arsi dengan nada memelas.


Celly dan Sandi hanya menggeleng melihat tingkah kedua anak dan cucunya. Arsi terlihat lucu ketika sedang mencoba membujuk Bayu agar mau memasakkan nya mie goreng.


Sementara di kediaman Ricardo, terlihat sanaya riuh karena keberadaan si kembar yang terus saja mengusili Viki. Bukan karena mereka tak suka Viki, tetapi karena Viki memang tidak mau mengalah pada adik adik kembar nya itu. Sehingga mereka begitu semangat jika sudah menyangkut mengganggu Viki.


Sudah pukul 8 malam, Arsi masih belum pulang. Sesekali Viki melirik jam dinding kamarnya. Suara mobil Arsi masih belum terdengar di telinganya.


"Kemana tuh bocah? " tanya Viki dalam hati. Tadi Bayu sudah memberinya kabar bahwa Arsi ada di sana, tetapi juga sudah memberikan kabar jika Arsi sudah pulang sejak jam 5 sore tadi.


Perasaan Viki tak karuan, antara khwatir dan juga marah. Ia khawatir jika sesuatu terjadi pada Arsi, dan juga marah karena Arsi tidak memberinya kabar. Padahal Viki adalah saudara satu satunya Arsi.


Viki bergegas menuju balkon kamarnya ketika suara mobil Arsi terdengar memasuki perkarangan rumah.


...T E R I M A K A S I H...