My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
41. Kesedihan Arsi



Arsi masih saja menangis di kursi tunggu, menunggu kabar dari orang tuanya. Arsi tidak mau pulang sebelum memastikan orang tuanya baik baik saja.


"Dek, pulang yuk" ajak Viki, di bandara tinggal mereka berdua, Bayu Egi dan Meri sudah di suruh pulang oleh Viki.


"Gak kak, aku gak bakalan pulang sebelum mama papa selamat" tolak Arsi sesegukan.


"Sebenarnya ada apa? kenapa loe tiba-tiba kaya anak kecil gini??? " bentak Viki, ia sudah tak bisa bersabar lagi. Arsi tidak menjawab dan menjelaskan apa yang sedang ia pikirkan. Viki sudah seperti orang gila melihat kondisi adiknya yang sudah terlihat seperti orang gila. Rambut berantakan, mata sembab, ditambah lagi sepatu Arsi sudah tak terpasang di kakinya.


"Dek!!! " panggil Viki geram, Arsi tak kunjung menjawab nya.


"ARSILA PUTRI RICARDO!! " panggil Viki menyentak kedua bahu Arsi agar tatapan gadis itu terarah padanya.


"Gue... hikss... mama.. papa.. " jawab Arsi terbata bata dalam tangisnya.


"Katakan biar gue tahu" mohon Viki.


"hiksss gue.. " Mata Arsi membulat ketika melihat ke layar informasi Bandara,l.Di dorong nya Viki, lalu berjalan lebih dekat melihat berita yang memilukan hati.


Selamat sore, di kabar kan sebuah pesawat yang bertujuan ke Amerika mengalami kecelakaan, di kabarkan Pesawat hilang kontrol dan terjatuh kedalam lautan. Sebelum terjatuh, pesawat di kabarkan meledak di udara.


(monnaaf kalo salah beritanya, sekiranya begitu hayalan author😅)


"Mamaaa!!!!!! Papaa!!!!!!! " teriak Arsi histeris.


Viki yang kaget melihat apa yang baru saja di tampilkan di layar informasi hanya bisa bengong. Ia baru paham apa yang sejak tadi di tangisi adiknya.


"Kak!! gue udah bilang!! mama papa gak boleh pergi!!! " teriak Arsi memukul mukul dada Viki. Ia benar-benar tak tahan dengan semua ini. Arsi merasa bersalah karena terlambat mencegah mama dan papanya.


"Dek loe tenang dulu yah!! kita pulang dulu" bujuk Viki membopong Arsi yang sudah lemes.


"Kak... mama papa!! " rancau Arsi dalam tangisnya.


"Mama papa pasti baik baik aja kok dek, kita balik dulu yah" bujuk Viki.


"Kakak... ma-"


"Dek!! Arsi!! Arsi!!! " panggil Viki ketika Arsi tiba-tiba tidak sadarkan diri, Dengan sigap Viki langsung menggendong Arsi menuju mobilnya, lalu membawanya pulang kerumah, Viki yakin Arsi pingsan karena syok dengan keadaan ini.


Setelah menempuh perjalanan dari bandara menuju rumah selama 1 jam, akhirnya mereka sampai si kediaman Ricardo. Di sana sudah menunggu semuanya anggota keluarga, Kayla dan Desta juga sudah ada di sana.


"Nak.. kenapa bisa begini? " tanya Sindi khawatir melihat Viki menggendong Arsi ke dalam rumah.


"Arsi syok melihat berita itu oma" jawab Viki. Ia membaringkan tubuh Arsi secara perlahan ke sifa di urat tamu. Kayla dan Celly dengan sigap mengusapkan minyak angin agar Arsi lebih cepat sadar.


"Seperti nya Arsi mengetahui hal ini akan terjadi" ujar Viki.


"Maksud kamu? " tanya Desta tak mengerti.


"Setelah Arsi tahu papa mama akan ke Amerika, Arsi langsung berlari mengejar mama papa ke bandara, ia menangis dan terus menunggu ke pastian papa mama tiba di sana" jelas Viki panjang lebar. Kevin dan Desta berfikir sejenak setelah mendengar penjelasan Viki.


"Dari mana Arsi tahu? " gumam Kevin.


"Itu dia uncle, Arsi tidak menjelaskan apa apa, ia hanya menangis dan merutuki kesalahan nya yang terlambat.


" Engg... mama... papa... "Rancau Arsi dalam mimpinya. Air mata terus membanjiri pipi chubby nya.


" Sayang, bangun sayang, oma disini... "panggil Sindi lembut sembari mengusap air mata yang terus mengalir.


" Mama!!!!!!!!!!!!!! "teriak Arsi kuat langsung terbangun, nafasnya terengah seperti baru saja selesai maraton.


" Sayang, kamu gak papa? "tanya Keyla.


" Ini minum dulu" ucap Celly menyodorkan segelas air pada Arsi.


"Mama aunty... papa.... " rengek Arsi kembali berkaca kaca.


"Iya sayang, kamu tenang yah, minum dulu" bujuk Celly menenangkan Arsi.


Tak sampai 2 teguk, Arsi kembali meraung meratapi nasib orang tuanya. Secara spontan Celly yang berada di samping Arsi langsung memeluknya. Di tambah oleh Keyla mengusap sayang punggung Arsi.


"Kamu tenang yah, semua nya akan baik baik saja" bujuk Keyla.


"Arsi, sekarang kamu cerita, bagaimana kamu bisa tah" ujar Kevin membujuk agar keponakan kesayangan nya mau berbicara.


Ddrrrrtttt


Bukannya menjawab Arsi malah langsung meraih tasnya yang di letakkan Viki di atas meja. Mereka hanya memperhatikan apa yang di laku oleh Arsi.


Arsi membuka ponselnya, sebuah pesan dari no yang sebelumnya mengiriminya pesan aneh. Arsi paham sekarang, apa tujuan orang aneh itu. Arsi tak lagi bisa mengacuhkan semua itu.


"Ada apa? " tanya Viki melihat Arsi hang terdiam menatap layar ponselnya.


"Bajingan!!!!! " teriak Arsi melempar ponsel ke dinding.


"Papa!!!! mama!!!!! " panggil Arsi histeris.


"Sayang.... " Celly dan Keyla langsung memeluk Arsi agar tetap tenang dan tabah.


sementara Viki langsung mengambil ponsel Arsi untuk mengetahui apa yang sedang di lihat nya.


"Sial! " umpat Viki.


"Ada apa? " tanya Kevin, lalu menerima ponsel Arsi dari Viki.


"Keparat!!!! " umpat Kevin dan Desta bersamaan.


"Mereka terlalu keji mengincar Arsi sebagai sasaran menghancurkan keluarga kita! " bentak Kevin.


"Kita harus lakukan sesuatu" ujar Viki yang langsung di angguki oleh Kevin dan Desta.


"Tolong jaga Arsi dulu oma, aunty" pinta Viki.


"Iya sayang, kami akan menjaga adik kamu" jawab Sindi.


Lalu Viki menatap Arsi yang masih menangis di dalam pelukan Celly.


"Jangan khawatir, semua akan baik baik saja" bujuk Viki namun tak di sahuti oleh Arsi.


"Ayo uncle" ajak Viki. Desta dan Kevin mengangguk mengikuti Viki.


...T E R I M A K A S I H...