
Setelah bebrapa jam ngobrol bersama Mark, Arsi memutuskan untuk pulang. Walapun baru kenal, mereka sudah terlihat begitu dekat. Arsi yang memang mudah bergaul, di tambah Mark yang juga humoris membuat mereka lebih mudah untuk dekat.
"Biar gue yang anter" tawar mark tak tega membiarkan Arsi pulang sendiri, di balik itu mark juga ingin tahu tempat tinggal Arsi.
"Gak usah, gue bawa mobil kok" tolak Arsi halus.
"Yah, padahal gue pengen tahu rumah loe dimana" desah mark menggelikan di mata Arsi.
"Lebai deh loe" ucap Arsi menatap Mark tak percaya dengan tingkahnya barusan. Arsi langsung masuk kedalam mobilnya dengan Mark masih setia menunggu nya di luar.
"Yaudah deh, hati hati di jalan" ucap mark melambaikan tangannya sembari tersenyum lebar. Jika gadis lain yang melihatnya mungkin mereka akan berteriak sekeras mungkin menahan hati yang meleleh melihat ketampanan Mark.
"Dasar cowo" densus Arsi geleng kelapa. Ia memaklumi sikap mark yang begitu manis padanya. Menurut Arsi sikap ini sering ia alami ketika para cowo mulai mendekati nya. Jadi Arsi tidak akan mudah terpengaruh.
"Tenn!! " Mark mengangguk ketika Arsi sengaja mengklakson, lalu melaju meninggalkan kafe.
"Awal yang bagus" gumam Mark masih menatap mobil Arsi yang sudah tak terlihat lagi.
Arsi tiba di rumah yang beberapa hari ini tidak di kunjungi nya. Arsi merasa rindu dan juga teringat pada papanya dan mamanya.
"Kapan mama pulang yah? " gumam Arsi bertanya pada diri sendiri. Ia berjalan memasuki rumah mewah ya g terlihat sepi itu.
Senyum Arsi mengembang ketika mendengar suara papanya sedang berbicara dengan seseorang di ruang tamu. Arsi pun melangkah lebih cepat untuk memastikan pendengaran nya benar.
"Ini sudah tidak bisa di biarkan!, Mereka semakin membabi buta. " ucap Davin keras. Sakira yang juga ada di sana hanya diam.
"Tapi Arsi masih muda, mama rasa belum saatnya Arsi tahu jika Viki bukan kakaknya" ucap Sakira dengn suara bergetar, hatinya sungguh kacau sekarang, keluarga nya dalam bahaya.
"Apa? kak Viki bukan kakak kandung Aku?? " ucap Arsi dalam hati,ia sungguh terkejut mendengar ucapan mamanya. Langkah yang tadinya cepat, perlahan melambat dan terhenti di balik tembok yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga.
"Tapi Ma, cepat atau lambat Arsi pasti akan tahu" sela Viki.
"Iya, tapi... " ucap Sakira terhenti karena kehadiran Arsi.
"Kami gak sodara kandung? kok Aki baru di kasih tahu? " tanya Arsi bertubi tubi, ia tak tahan mendengar pembicaraan keluarga nya.
Sakira langsung mendekati putrinya dan menarik mendekat pada mereka.
"Sayang, dengerin mama ya" bujuk Sakira menenangkan Arsi.
"Aku sama kak Viki gak saudara kandung? " ulang Arsi.
"Iya, kita gak saudara kandung" jawab Viki datar, ia masih duduk santai di sofa seperti tadi. Davin tak berkata lagi, ia tak sanggup melihat reaksi putri bungsu nya.
"Karena itu loe bersikap kaya gini sama gue?? " tanya Arsi menebak alesan sikap dingin Viki terhadap nya.
"Sayang bukan seperti itu" sela mama Sakira berusaha membujuk Arsi agar tetap tenang dan menceritakan semuanya. Tapi Arsi tak peduli, ia malah menepis tangan mamanya dan berdiri di hadapan Viki.
"Huh, apa ini alesan loe!! " bentak Arsi pada Viki yang dengan santai menengadah menatap pipih Arsi yang sudah mulai basa di banjiri air mata.
"kalau sudah tahu, kenapa malah nanya" balas Viki.
"Viki!! " serga Davin membuat Viki mengatup bibirnya lalu mengalihkan tatapan matanya dari Arsi. Sebenarnya ia juga tak sanggup menyakiti hati Arsi lagi.
"Tega loe sama gue!!! mama papa juga!!! " teriak Arsi, lalu berlari meninggalkan ruang keluarga menuju kamar nya.
"Arsi!!! " panggil Sakira ingin mengejar putrinya, namun ditahan oleh Davin.
"Biarkan dia sendiri dulu, nanti kita jelasin secara perlahan. " ucap Davin yang di angguk oleh Sakira. Suaminya benar, sekarang Arsi sangat kacau, pikirannya hatinya belum bisa menerima kenyataan ini.
"Seharusnya kan aku yang marah, bukan dia" gumam Viki.
"Kamu ngomong nya gak pake waktu. Main serobot aja" Sahut Sakira.
"Biar cepet mah" jawab Viki Enteng.
"Tapi gak boleh gitu" sanggah Davin sembari duduk di samping Viki.
Tanpa mereka sadari Arsi tidak benar-benar masuk kedalam kamarnya, ia menyaksikan keakraban orang tuanya dan Viki yang baru ia ketahui sebagai kakak angkatnya.
"Mereka sangat bahagia" Gumam Arsi menahan tangisnya, lalu melangkah cepat memasuki kamarnya dan menutup pintu dengan pelan.
Arsi menyandar pada pintu kamarnya, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Ia menangis tanpa suara, hatinya begitu sakit mengetahui fak ini.
"Gue salah apa??? kenapa nasib gue seperti ini" lirih Arsi dalam tangisnya. Kakaknya yang begitu ia kagumi ternyata bukan saudara kandung nya, dan hal itu yang membuatnya menjadi di gin dan cuek padanya. Arsi tak tahu harus melakukan apa, apa ia harus pergi dari sana atau malah berpura-pura tidak tahu saja.
...T E R I M A K A S I H...