My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
20. Gak tahu



Bagaikan libur panjang, Arsi benar-benar menghabiskan waktunya seharian untuk bersantai. Kini gadis cantik itu sedang menikmati drakor.


"Ihhh kok dia gitu sih!! " ucap Arsi geram mengomentari Drama Korea yang tidak sesuai espektasi nya.


Drrt Drrtt..


Di sela sela keseruannya menonton, Arsi menoleh sebentar pada ponselnya yang bergetar di atas meja.


"Gak di kenal? " gumam Arsi bertanya pada diri sendiri. Tak berniat untuk melihatnya, Arsi malh kembali fokus pada drakor nya.


"Tuh HP loe bunyi! " ucap Viki yang baru saja pulang dan langsung duduk di samping Arsi.


"Gak tahu tuh siapa" jawab Arsi acuh.


"Angkat aja, siapa tahu penting" suruh Viki lagi.


"Angkat aja kalo mau" jawab Arsi tanpa mengalihkan pandangannya dari TV.


Perlahan Viki menegakkan tubuhnya dan melirik pada ponsel Arsi. Memang tidak ada nama dari si penelfon. Viki penasaran, siapa yang berani menelfon adik nya.


"Kalo mau angkat yah angkat aja. gak usah ragu" cibir Arsi membuat Viki melotot padanya.


Malas untuk ikut campur, tapi dirinya penasaran. Itulah yang di rasakan Viki saat ini.


Ponsel Arsi berhenti berdering, Viki pun mendesah pelan, belum sempat mengangkat karena keraguan,panggilan nya sudah berakhir.


"Gengsi amat" cibir Arsi lagi.


"Ih siapa yang gengsi, gue tu malas aja campuri urusan loh. " elak Viki membela diri.


Ting~


Ponsel Arsi kembali berdering, tetapi bukan panggilan. Sebuah pesan masuk ke ponsel Arsi


. Rasa penasaran yang teramat, Viki langsung menyambar ponsel Arsi sebelum Arsi meraihnya.


"Loh kok loe ambil sih kak! " kesal Arsi mencoba merampas ponselnya lagi.


"Udah biar gue liat ajah" ucap Viki berusaha membuka pesan yang ia yakin dari si penelfon.


"Kembaliin kak... gue mau liat pesannya" rengek Arsi, mencoba meraihnya.


Viki tak memberi cela, ia terlebih dahulu membuka pesan yang barusan masuk. Pesan yang membuatnya penasaran sejak tadi.


08xxxx


Hai Arsi, angkat dong telfon gue.


by.Mark


"Mark? " gumam Viki.


"Sini ih!! " Arsi merampas ponselnya dari tangan kakaknya.


"Mark? " ulang Arsi bingung.


"Loh gak kenal? " tanya Viki yang di jawab celengan kepala dari Arsi.


"Kalo gue kenal, gak mungkin lah gue gak angkat telfon dia. " Jawab Arsi ketus.


"Yaudah abaikan aja" balas Viki tak kalah ketus nya.


"Siapa yang sewot? gila kali gue sewot sama loh" balas Viki.


Lalu keduanya sama-sama terdiam, Arsi berkelana dengan pikiran nya sedangkan Viki fokus pada ponselnya.


"Kak! " lirih Arsi ragu ragu. Ia memperbaiki posisi duduknya menghadap pada Viki. Matanya menatap lurus dengan sorot mata terlihat ragu.


"Apa? " sahut Viki masih fokus pada ponselnya.


"Mama sama papa kapan pulang? " ucap Arsi ragu ragu, ia sebenarnya tidak ingin menanyakan hal itu.


"Belum juga mama papa sampai, dah nanya kapan pulang" cibir Viki melirik Arsi sebentar.


"Nanya doang juga"


"Yah masuk akal dikit lah, lagian loe kan udah gede, kaya ga bisa pisah sehari 2 hari aja loe" balas Viki lagi menatap Arsi remeh. Arsi yang di katain seperti itu malah semakin kesal dan mengerut.


Sunyi lagi, setelah jawaban Viki Arsi tak berbicara lagi. Keduanya malah kembali terdiam tak bersuara. Hingga akhirnya....


"Kak.. "


"Dek.. "


Arsi dan Viki memanggil bersamaan, Arsi menggaruk keningnya, sementara Viki nyengir kuda melihat dirinya dan adiknya kompak seperti itu.


"Lu duluan" titah Arsi ketus.


"Yang tua ngalah, jadi lo duluan" jawab Viki.


"Oke fine" ucap Arsi pasrah.


"Sifat kak Viki kenapa berubah ke aku? " tanya Arsi lirih, suara yang tadi tegas dan ketus sekarang sudah berubah melemah dan tersirat kesedihan di dalamnya. Viki sempat tertegun mendengar pertanyaan Arsi, ehm bukan pertanyaan nya namun suara lemah Arsi yang membuatnya menatap Arsi semakin lekat.


"Kak.. " panggil Arsi lagi karena Viki tak kunjung menjawab, Viki malah bengong menatapnya.


"Eh iya, apa tadi? " tanya Viki gelagapan. Arsi memutar bola matanya jengah. Baru saja tadi ia merasa sedih, kini sudah kembali kesal di buatnya.


"Aduhhhh au ahhh malas gue ngomong sama loe! " kesal Arsi bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ke kamarnya.


Viki malah semakin diam, ia menatap kepergian Arsi.


"Gue lakuin itu demi loe! " jawab Viki yang masih bisa di dengar oleh Arsi. Hingga Arsi menghentikan langkahnya yang hampir menginjak anak tangga.


Arsi berbalik menatap Viki yang sudah berdiri dari duduk. Senyum miring tercetak di wajah imut Arsi.


"Demi gue? " ulang Arsi tersenyum getir.


"Loe gak bakal paham, karena semuanya terlalu rumit" jawab Viki lagi.


"Serumit itukah, hingga tak bisa aku mengerti?"tanya Arsi, Viki tak menjawab.


" Baiklah, aku mengerti " lanjut Arsi karena Viki tak kunjung bersuara. Arsi kembali berbalik dan melanjutkan langkah nya menaiki tangga dengan cepat lalu masuk ke kamarnya dengan menghempas kan pintu.


"Maafin gue dek" lirih Viki pelan, pria itu terhenyak ke sofa. Ia tak tahu harus menjelaskan pada Arsi tentang semua kisahnya. Ia juga tak bisa memberitahu pada Arsi sekarang, waktunya belum tepat untuk Arsi ketahui.


"Maafin gue... maafin gue" lirih Viki menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Sementara di dalam kamarnya Arsi terduduk di depan pintu kamar nya, air matanya mengalir deras. Entah apa yang di rasakan nya Arsi juga tak bisa mengerti. Rasanya begitu sakit ketika Viki selalu saja beralasan semua demi dirinya, namun yang dirasakan Arsi hanyalah kesepian dan kesakitan.


...T E R I M A K A S I H...